NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak yang Terbuka

Latihan berhenti ketika Safira akhirnya terduduk di tanah, kelelahan.

Nara duduk di depannya, menyerahkan botol air.

“Minum.”

Safira meneguk rakus.

Beberapa detik hening.

Lalu Safira berbicara pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Nara… waktu kecil aku cuma mikirin kuliah, nilai, hidup normal…”

Ia tersenyum getir.

“Sekarang rasanya hidupku berubah terlalu cepat.”

Nara menatapnya tajam tapi tenang.

“Kau takut?”

Safira mengangguk jujur.

“Iya. Takut kehilangan mereka… takut nggak cukup kuat… takut salah ambil keputusan.”

Ia menunduk.

“Tapi lebih takut lagi kalau aku cuma bisa diam dan menunggu.” ujar Safira hampir seperti putus asa ada rasa bersalah yang terus menghantuinya.

Nara terdiam sejenak. Ia tau sekali apa yang sedang di rasakan gadis di sebelah nya apalagi umur nya masih sangat muda untuk melewati semua ini. Itu bukan salah gadis itu atau pun ayah mereka, hanya saja takdir lah yang membawa mereka sejauh ini . Untuk perang , bertahan lebih parah nya lagi merengut nyawa jika memang tidak bisa di hindari.

Nara kemudian menatap Safira Lalu berkata pelan,

“Dulu aku juga begitu.”

Safira mengangkat wajah.

Nara menatap langit.

“Aku kehilangan keluarga karena aku ragu satu detik saja. Sejak itu… aku bersumpah tidak akan membiarkan keraguan membunuh orang yang kucintai lagi.”

Ia menatap Safira lurus.

“Kau masih punya kesempatan. Jangan sia-siakan.” ujar Nara. ia tau harapan masih bisa di raih oleh Safira

Kata-kata itu menancap dalam.

Safira mengepalkan tangan.

“I will not waste it.”

Nara yang mendengar itu pun tersenyum tipis kemudian ia pun berdiri lalu mengulurkan tangan nya ke arah Safira. Safira melihat sebentar lalu ia tersenyum dan membalas, kedua nya pun pergi meninggal kan arena latihan itu untuk membersihkan diri.

...****************...

Malam — Janji Dalam Diam

Malam kembali turun, mengantikan langit yang awalnya biru berawan kini menjadi gelap dan di hiasi bintang bintang dan cahaya bulan yang memberikan keindahan di tengah gelap nya malam.

Safira duduk sendiri di balkon kecil markas, memandangi lampu kota di kejauhan.Angin malam menyentuh rambutnya. Beberapa helai rambut panjang nya mengikuti irama angin yang berhembus.

Safira mengangkat tangan nya tepat di dadanya, ada rasa yang tak bisa di jelaskan.Ia mengeluarkan kalung kecil dari balik bajunya liontin yang di dominasi warna merah dan beberapa tambahan sederhana yang seakan mencengkram pemberian ibunya dulu.

Safira menggenggamnya erat. Seakan akan itu adalah hal yang tak boleh pergi, satu satu nya pengingat bahwa ia harus menemukan ibu mereka.

Tanpa sadar pandangan nya lurus kedepan sembari terus menggenggam liontin di tangan nya.

“Ayah… Ibu…”

suara lirihnya bergetar,

“aku belum bisa menyelamatkan kalian… tapi aku janji aku akan jadi kuat.”

Air matanya jatuh satu persatuan tanpa meminta persetujuan dari Safira.Namun matanya tetap menatap lurus ke depan.

Bukan lagi mata gadis ragu.Melainkan mata seseorang yang mulai menemukan apinya.

Namun tanpa Safira sadari sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan nya sejak tadi.Di balik dinding, Nara mengamati diam-diam.

“Api itu… mulai menyala,” gumamnya.

Dan jauh di luar sana… bahaya juga mulai bergerak mendekat.

...****************...

Pagi datang tanpa kompromi.

Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika halaman belakang bangunan persembunyian sudah berubah menjadi arena latihan. Tanah lembap, udara dingin, dan napas yang mulai berat sejak menit pertama.

“Pasang posisi!”

Suara Atlas menggema tegas.

Clarissa, Adrian, dan Safira berdiri saling berhadapan. Wajah mereka basah oleh keringat, tangan gemetar, otot menegang. Tidak ada lagi wajah mahasiswa, tidak ada lagi sisa kenyamanan hidup lama.

Hari ini berbeda dari latihan sebelum nya kali ini latihan nya adalah sesi satu lawan satu.

Tidak ada kata ampun.Mereka harus mengeluarkan kemampuan untuk menang ataupun paling tidak bertahan dari serangan para pelatih.

Raven maju lebih dulu, berdiri seperti tembok hidup.

“Siapa dulu?”

Adrian melangkah maju dengan percaya diri.

Raven yang melihat itu pun tersenyum tipis lalu berkata '' Aku suka semangat mu anak muda."

" Aku memang selalu bersemangat " ujar Adrian membalas dengan senyum narsis nya.

Setelah percakapan singkat itu kedua nya pun bersiap di posisi masing masing, hingga Adam pun memberikan aba aba mulai. Peluit panjang pun di tiup.

Benturan terjadi dalam hitungan detik. Adrian menyerang cepat, Raven menahan, membalas dengan tenaga brutal. Tubuh Adrian terpental ke tanah.

"Aish, Sial" ujar Adrian

“Bangun!” bentak Raven. “Kalau jatuh di medan nyata, kau sudah mati!”

Adrian yang mendengar itu pun tak tinggal diam ia bangkit dengan cepat dan kembali menyerang Raven. Aduh kekuatan pun kembali terjadi, Adrian yang sudah memperhatikan pola gerakan dari Raven pun mulai bisa mengimbangi nya, meskipun terkadang beberapa kali ia masih kalah cepat dari Raven.

Clarissa dan Safira yang melihat nya pun mengepalkan tangan ada rasa khawatir dan rasa bangga saat adik laki laki mereka terus bangkit dan pantang menyerah.

Pertarungan antara kedua nya pun berjalan sekitar 30 menit di mana yang memenang kan nya masih Raven. Hampir saja seri namun bagaimana pun pengalaman bertarung bertahun tahun tak bisa di anggap remeh.

Adrian yang terduduk dan memiliki beberapa luka baru di tubuh nya di bopong oleh Raven

'' Aku kalah " ujar Adrian. Raven yang mendengar itu pun tersenyum tipis sangat tipis" kau mungkin kalah tapi kau sudah bertahan cukup lama, biasa orang lain akan langsung menyerah beberapa menit saja. Semuanya butuh proses anak muda jangan terlalu memikirkan kegagalan tapi belajar lah dari itu!" ujar Raven yang seketika membuat semangat Adrian kembali.

Setelah itu kini yang akan bertarung adalah Carissa. Atlas maju dan di susul oleh Carissa untuk beberapa saat mereka menundukkan kepala tanda penghormatan, lalu kembali ke posisi. Seperti biasa Adam dan Livia pun memimpin jalan nya pertarungan.

Clarissa menyusul melawan Atlas. Gerakannya cepat, cerdas, penuh perhitungan. Tapi Atlas selalu satu langkah di depan. Ia menjatuhkan Clarissa dengan kuncian yang membuat napasnya tertahan.

“Pikir cepat itu bagus,” kata Atlas. “Tapi medan perang tidak selalu memberi waktu berpikir.”

Clarissa yang mendengar itu pun mengerti apa yang di maksud oleh Atlas ia pun kembali bangkit dan gerakan presisi dan rapi ia kembali melawan Atlas, gerakan nya sempurna dan penuh presisi kini pertarungan imbang antara keduanya. Serangan mereka pun hampir semua memiliki pola yang sama.

Yang membuat mereka yang menonton merasa kagum terutama Adrian dan Safira mereka bersorak banga.

Pertarungan sengit terus terjadi dan di akhir dengan keduanya saling mengunci.Adam dan Livia yang melihat itu pun sejenak diam lalu memberi tanda untuk berhenti.

"Wah, kau belajar dengan cepat sekali nak " ujar Atlas

"Terimakasih. Aku juga tak dapat melakukan nya sendiri." ujar Clarissa yang sudah terlebih dulu berdiri ia pun membantu Atlas untuk bangkit.

Lalu… giliran Safira.

Nara maju menghadapinya, katana kayu di tangan.

Tatapan Nara tidak pernah lembut saat melihat Safira. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum terucap.

“Siap?” tanya Nara.

Safira mengangguk, meski jantungnya berdetak keras.

Serangan pertama datang cepat. Safira nyaris terlambat menghindar. Kayu menghantam bahunya, rasa panas menjalar.

“Aduh”

“Fokus!” tegas Nara. “Rasa sakit itu nyata. Biasakan.”

Safira menahan napas, mengingat gerakan yang diajarkan. Ia bergerak lebih rendah, lebih cepat, membaca arah serangan.

Untuk sesaat…

Nara berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Ada kilat pengakuan di mata Nara.

“Kau belajar cepat,” gumamnya.

Tapi tidak ada pujian. Hanya serangan yang lebih keras.

Safira jatuh, bangkit, jatuh lagi. Lututnya memar, telapak tangannya lecet. Tapi ia tidak menyerah.

Dari kejauhan, Adam dan Livia mengamati.

“Dia berbeda,” bisik Livia.

Adam mengangguk pelan.

“Instingnya… bukan hasil latihan. Itu bawaan.”

Tatapan keenam pelatih beberapa kali mengarah pada Safira bukan kasihan.

Melainkan… mengenali potensi.

Pertarungan antara Nara dan Safira semakin sengit gerakan cepat katana milik Nara dan insting tajam Safira yang ia sendiri tak tau kenapa itu bisa terjadi. Beberapa kali Nara mendapatkan serangan yang membuat nya mundur beberapa langkah.

Sekitar 30 menit pertarungan pun berhenti dengan katana kayu milik Safira terhempas ke udara.

'Ahh, aku pikir aku akan menang " ujar Safira tertawa kecil

"Ya seharusnya memang begitu, jika kau lebih cepat gadis manis" ujar Nara.

Latihan pun berjalan lancar hari itu dengan beberapa kemenangan dan tentu nya luka memar yang tak luput akan selalu ada saat latihan selesai.

...----------------...

Kurang dari satu minggu.

Dan satu malam… Safira tidak bisa tidur.

Ia duduk di ranjang, memegang liontin ibunya.

Wajah Elisabet kembali hadir dalam mimpinya pucat, berdarah, tersenyum paksa.

Ada sesuatu yang menekan dadanya.

Ibu tidak aman.

Perasaan itu bukan sekadar firasat.

Itu seperti panggilan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Lanjut ....
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Hadir untuk mendukung ceritamu, Thor ...😊
SAF.A.NAPIT: okay Thor makasih yah love deh buat kamu 😍
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!