Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Putih
Levis mengangguk kecil. Bukan setuju. Bukan menolak. Hanya mencatat. “Kalau mereka sudah ukur jarak,” katanya, “berarti mereka juga ukur waktu.”
Jovan tidak menjawab. Ia menyalakan korek, bukan untuk rokok, hanya melihat api kecil itu menyala beberapa detik sebelum padam sendiri.
“Martin tidak akan kirim orang bodoh,” lanjut Levis.
“Dia kirim orang yang tahu apa yang mereka cari.”
“Ya,” jawab Jovan. “Dan mereka belum menemukannya.”
Levis menoleh. “Menemukan apa?”
Jovan berdiri dan mengucapkan satu kata. “Reaksi.” Ia membayar tanpa menunggu kembalian.
Di desa, sore datang seperti biasa. Anak-anak tetap bermain di ujung jalan. Warung tetap buka. Mika sendiri juga tidak melakukan aktifitas berat hanya duduk, masak dan mencuci piring.
Hanya satu hal yang berbeda.
Di tiang kayu dekat sumur belakang rumah, ada garis tipis berwarna putih. Hampir tidak terlihat. Seperti bekas kapur yang tersentuh jari. Tingginya kira-kira sejajar dada orang dewasa.
Mika melihatnya saat menimba air di sumur belakang.
Itu bukan bekas kapur anak-anak. Bukan juga goresan kayu biasa. Terlalu rapi.
Mika berdiri lebih lama dari biasanya. Ia mengingat pagi tadi saat mobil hitam itu berhenti terlalu lama.
Ia tidak menyentuh tanda itu dengan tangan kosong.
Ia masuk ke dapur dan mengambil pisau kecil yang biasa dipakai mengupas bawang.
Kembali ke tiang.
Pelan-pelan ia mengikis permukaan kayu tempat garis itu menempel. Serbuk kayu jatuh tipis ke tanah. Ia tidak berhenti sampai warna putih itu hilang sepenuhnya.
Kayunya kembali polos. Seolah tak pernah ditandai.
Pak Raka memperhatikan dari kursinya. “Mereka beri tanda?” tanyanya pelan.
Mika tidak menjelaskan panjang. “Supaya gampang dikenali lagi,” jawabnya singkat.
Pak Raka menarik napas pelan.
“Berarti mereka tidak cuma lewat. Telah merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui. Kita harus lebih waspada.”
Mika meletakkan pisau di ambang jendela. “Berarti mereka akan kembali.”
Mika sudah hampir masuk ke rumah ketika ia berhenti lagi.
Sesuatu terasa belum selesai.
Ia berjalan ke arah jalan kecil di samping rumah sekedar mengecek, jalur tanah yang biasa dipakai warga untuk memotong ke sawah.
Di batang pohon nangka dekat tikungan, ada goresan yang sama. Tipis. Pendek. Warna putih. Letaknya tidak sembarang.
Persis di titik orang bisa melihat langsung ke halaman depan rumah mereka tanpa terlihat dari dalam.
Mika menatap sekeliling. Keadaanya terasa sunyi. Tidak ada kendaraan lewat. Tidak ada suara asing.
Ia mendekat dan menggosok tanda itu dengan telapak tangan. Tidak hilang. Cat atau kapur keras.
Ia kembali ke rumah, mengambil pisau yang tadi, dan mengikisnya juga.
Serbuk kayu jatuh ke tanah lembap.
Pak Raka sudah berdiri sekarang, bertumpu pada tongkatnya. “Bukan cuma rumah kita ?” tanyanya.
Mika menggeleng pelan.
“Mereka juga ukur jalan masuk.”
Pak Raka memandang ke arah ujung desa, ke tikungan besar dekat pohon trembesi tua.
"Kalau ada satu tanda di tiang rumah, dan satu lagi di jalur masuk, berarti ada pola. Berarti bukan kebetulan."
Mika menancapkan ujung pisau ke tanah sebentar, seperti menandai sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Kita tidak boleh jadi titik yang mudah,” katanya.
Pak Raka tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan satu hal yang lebih mengganggu daripada garis putih itu.
Sejak pagi, tidak ada satu pun tetangga yang lewat menyapa.
Seolah-olah desa sudah lebih dulu tahu sesuatu yang mereka belum tahu.
Mereka masuk ke dalam dapur.
“Jika kita diam,” kata Mika pelan, “Jovan pernah bilang itu artinya kita ketakutan.”
Pak Raka menatap putrinya cukup lama. “Kamu bosan berdiam di rumah?” tanyanya akhirnya. Ia sudah hafal sejak kecil, Mika tak pernah bisa duduk tenang terlalu lama.
Mika mengangkat bahu, tapi matanya tidak menghindar.
“Bukan bosan,” gumamnya. “Aku cuma… ingin berjualan lagi ke pasar.”
Udara dapur terasa lebih berat dari biasanya. “Kamu tidak takut?” suara Pak Raka menurun. “Kalau mereka menculikmu lagi?”
Mika terdiam. Tangannya meremas ujung lengan bajunya sendiri.
“Aku takut,” jawabnya jujur. “Tapi kalau kita terus sembunyi, mereka tetap punya kuasa.”
“Takut itu wajar,” katanya pelan. “Tapi ayah tidak bisa kehilanganmu lagi.”
Mika tersenyum tipis. “Kalau kita berhenti hidup karena takut, bukankah itu sama saja seperti mereka menang?”
Pak Raka berdiri perlahan dari kursinya. Lututnya berbunyi pelan saat ia melangkah ke jendela, menyingkap sedikit tirai, memastikan halaman kosong. “Kamu memang tidak pernah bisa dikurung,” gumamnya.
Mika tidak menjawab. Ia tahu itu bukan pujian.
“Ayah tidak akan melarangmu,” lanjutnya akhirnya.
Mika menoleh cepat. “Benarkah?”
“Tapi ada syarat.”
Wajah Mika langsung berubah serius.
“Kamu tidak pergi sendiri. Kamu berangkat bersama Pak Darto dan rombongan sayur dari ujung desa. Kalian masuk lewat jalan sungai, bukan jalan raya.”
“Itu memutar,” kata Mika refleks.
“Justru itu.” Pak Raka menatapnya tajam. “Kalau ada yang mengawasi jalan utama, mereka tidak akan menunggu di sana.”
Mika mengangguk pelan.
“Dan satu lagi,” tambah Pak Raka. “Kalau kamu merasa diikuti, jangan pulang. Jangan bawa mereka kembali ke rumah.”
Ucapan itu menggantung di udara.
“Lalu aku harus ke mana?” suara Mika lebih pelan sekarang.
Pak Raka berjalan ke lemari dan mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kain.
Mika menahan napas.
Bilah logam tipis berkilat sesaat, bukan golok, hanya pisau kecil yang biasa dipakai di kebun.
“Ayah tidak ingin kamu menggunakannya,” katanya. “Hanya kalau benar-benar terpaksa.”
Ia lalu mengeluarkan benda kedua dari saku celananya.
Ponsel lama.
“Yang ini lebih penting.”
Mika menatap dua benda itu.
Satu untuk bertahan. Satu untuk meminta bantuan.
“Ayah ingin kamu pulang,” kata Pak Raka pelan. “Bukan jadi pahlawan.”
.
Di kota, Jovan tidak pulang ke apartemennya malam itu.
Ia menyetir mobilnya lurus ke kantor notaris yang lampunya masih menyala di lantai dua.
Jalan sudah hampir kosong. Hanya suara AC gedung yang berdengung pelan.
Notaris itu terkejut melihatnya datang tanpa janji.
“Pak Jovan?”
Jovan tidak duduk. Ia langsung meletakkan satu map cokelat di atas meja. “Beli tiga bidang tanah,” katanya tenang. “Radius seratus meter dari rumah itu.”
Notaris membuka mapnya. Peta desa. Titik merah melingkari satu rumah.
“Semua atas nama berbeda,” lanjut Jovan. “Bukan keluarga. Bukan perusahaan saya. Jangan ada yang bisa ditarik ke sini.”
Notaris menelan ludah. “Itu daerah terpencil.”
“Justru itu.”
“Untuk investasi?”
Jovan menatapnya sebentar. Tatapan yang tidak memberi ruang untuk rasa ingin tahu.
“Anggap saja begitu.”
Sunyi beberapa detik.
“Prosesnya bisa mulai besok pagi,” kata notaris akhirnya.
“Mulai sekarang,” jawab Jovan.
Ia berbalik sebelum percakapan berkembang lebih jauh.
Di luar, lampu jalan memantulkan bayangannya di kaca mobil. Wajahnya tetap datar. Tapi rahangnya mengeras.
Ia tidak membeli tanah.
Ia sedang membangun pagar.