Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Simpul Persahabatan dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Bus pariwisata yang membawa rombongan kami melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam yang menghubungkan Blitar dan Surabaya. Di luar jendela, lampu-lampu jalan berkelebatan seperti kunang-kunang yang terburu-buru. Namun, duniaku saat ini menyempit pada ruang kecil di antara kursi penumpang ini.
Vema duduk di sampingku, masih asyik bermain dengan Pippo—boneka yang baru saja kuberikan. Jari-jemarinya yang lentik menyisir bulu halus boneka itu dengan kelembutan yang jarang ia perlihatkan di sekolah. Sesekali, ia mengajak boneka itu berbicara dengan suara pelan, menciptakan skenario imajiner yang menggelitik hati. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Ada ketenangan yang menular setiap kali melihatnya tersenyum tulus seperti itu.
Tiba-tiba, Vema berhenti bermain. Ia menoleh ke arahku, lalu teringat sesuatu.
"Tunggu sebentar, Dra. Aku melupakan sesuatu yang penting," ucapnya sambil meletakkan Pippo di pangkuannya.
"Melupakan apa, Vem? Apakah ada barang yang tertinggal di lokasi wisata?" tanyaku sedikit cemas.
"Bukan, bukan itu. Ada di dalam tasku," jawabnya sambil mulai merogoh ke dalam tas ranselnya.
Aku memperhatikannya dengan sabar. Setelah beberapa saat mencari di antara tumpukan barang-barangnya, ia menarik keluar sebuah benda.
Itu adalah boneka babi berwarna merah muda yang sempat ia ceritakan melalui pesan singkat sebelum keberangkatan.
"Lihat, Dra. Ini dia," Vema menyodorkan boneka itu ke hadapanku dengan mata berbinar. "Imut banget, kan?"
Aku menatap boneka itu, lalu menatap wajah Vema yang penuh harap. Tanpa sadar, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulutku.
"Iya, sangat imut. Persis seperti pemiliknya."
Hening sejenak. Vema terdiam, tangannya yang memegang boneka sedikit gemetar. Rona merah mulai menjalar di pipinya, terlihat samar di bawah lampu baca bus yang redup. Ia menunduk malu, berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Kamu... bisa saja kalau bicara," gumamnya pelan, suaranya terdengar gugup namun senang. "Ini, aku berikan untukmu."
Aku terkejut. "Untukku? Bukankah ini boneka kesayanganmu yang kamu bawa dari rumah?"
"Iya," Vema mengangguk mantap. "Tapi aku ingin kamu menyimpannya. Anggap saja ini pertukaran. Kamu memberiku Pippo, dan aku memberimu ini. Anggap boneka kita berdua ini sebagai tanda persahabatan kita yang kuat, ya?"
Aku tertegun mendengar ketulusan dalam suaranya. Ada rasa hangat yang membuncah di dada, namun lidahku terasa keluh untuk merangkai kata-kata puitis.
"Vema... aku..." aku ragu sejenak, lalu menerima boneka itu. "Terima kasih banyak. Ini sangat berarti bagiku."
Vema tersenyum lega. "Jaga dia baik-baik ya, Dra."
"Tentu saja. Omong-omong, boneka ini kamu kasih nama siapa?" tanyaku sambil memutar-mutar boneka kecil itu di tanganku.
Vema menegakkan duduknya, tampak bangga. "Aku kasih nama Piggy. Sederhana saja, karena dia imut, lucu, warnanya pink, dan lihat pipinya... sangat nyempluk banget, kan?"
Aku tertawa kecil mendengar deskripsi 'nyempluk' itu. "Nama yang sangat cocok. Halo, Piggy. Salam kenal."
Aku mendekatkan Piggy ke wajahku untuk melihat detail jahitan boneka itu. Saat itulah, aku mencium aroma yang sangat familiar. Aroma stroberi lembut bercampur dengan wangi sabun bayi—aroma khas Vema. Wangi itu tertinggal di bulu-bulu halus boneka ini, seolah membawa kehadiran Vema secara fisik ke dalam genggamanku. Aku menyadari, mulai malam ini, Piggy bukan sekadar benda mati, melainkan representasi dari Vema yang bisa kubawa pulang.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri mencium boneka itu?" tanya Vema curiga.
"Tidak apa-apa. Aromanya menenangkan. Seperti aroma seseorang yang duduk di sebelahku," jawabku jujur.
Vema kembali salah tingkah. "Sudah ah, jangan menggoda terus. Aku jadi mengantuk."
"Tidurlah, Vem. Perjalanan masih panjang."
Vema menyandarkan punggungnya ke kursi, memeluk Pippo erat di dadanya. Perlahan, napasnya mulai teratur. Matanya terpejam, dan kesadarannya mulai hanyut ke alam mimpi.
Beberapa menit berlalu. Karena guncangan bus, tubuh Vema perlahan miring ke arah lorong jalan. Posisi ini cukup berbahaya karena ia bisa saja tersenggol oleh penumpang atau guru yang lalu-lalang ke toilet di belakang.
Melihat itu, aku tidak bisa tinggal diam. Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkannya, aku meraih bahunya.
"Maaf ya, Vem," bisikku pelan.
Aku menarik tubuhnya perlahan mendekat ke arahku, membiarkan kepalanya bersandar di bahu kiriku. Kini posisinya jauh lebih aman. Untuk memastikan ia tidak terguncang lagi, aku memberanikan diri melingkarkan lengan kananku di bahu luarnya, merangkulnya dengan protektif. Ia menggeliat sedikit, mencari posisi nyaman, lalu kembali tenang dalam lindunganku.
Saat suasana hening dan damai itu tercipta, sistem audio bus memutar lagu berikutnya. Intro piano yang melankolis terdengar, disusul suara penyanyi Mahen melantunkan lirik Pura-pura Lupa.
"...Jangan datang lagi cinta, bagaimana aku bisa lupa..."
Lagu itu menghantamku telak. Ingatanku terlempar mundur ke masa SMP. Wajah mantanku kembali muncul di benakku. Dia, gadis yang dulu kupikir akan menjadi cinta monyet yang bertahan lama.
Aku teringat percakapan terakhir kami.
"Sarendra, kita putus ya. Aku ingin fokus belajar," katanya waktu itu.
Aku, yang naif, mempercayainya dan melepaskannya dengan berat hati demi masa depannya.
Namun, realitas menampar keras. Hanya dua minggu setelah ia meminta putus, aku melihatnya bergandengan tangan dengan siswa lain di kantin. Ia telah menemukan penggantiku secepat kilat.
"Kenapa?" tanyaku lewat pesan waktu itu.
Tidak ada jawaban. Satu hari, dua hari, hingga berminggu-minggu. Pesanku hanya dibaca, lalu diabaikan. Ia menghilang, memutuskan komunikasi sepihak tanpa penjelasan, meninggalkan aku dengan tanda tanya besar yang menggerogoti harga diriku. Sakitnya pengabaian itu membuatku sulit untuk percaya lagi pada komitmen.
"Padahal kau tahu keadaannya, kau bukanlah untukku" lirik lagu itu terus menyayat.
Aku menatap kosong ke kursi di depanku, tenggelam dalam kepahitan masa lalu. Apakah semua orang akan pergi pada akhirnya? Apakah ketulusan selalu dibalas dengan kepergian?
Tiba-tiba, sebuah sentuhan hangat membuyarkan lamunanku.
Tangan Vema.
Dalam tidurnya, tangan kanannya terangkat perlahan, meraba udara sejenak sebelum mendarat di pipi kiriku. Telapak tangannya terasa begitu lembut dan hangat di kulit wajahku yang dingin terkena AC. Jemarinya bergerak pelan, seolah sedang memastikan keberadaanku.
Aku menoleh, menatap wajah tidurnya yang terlihat gelisah. Bibirnya bergerak-gerak kecil.
"Dra... jangan..." racilaunya pelan, nyaris tak terdengar.
Aku mendekatkan telingaku sedikit.
"Jangan tinggalin aku..." bisiknya lagi, kali ini dengan nada yang terdengar begitu rapuh dan takut.
Jantungku berdegup kencang. Apa yang sedang ia mimpikan? Ketakutan macam apa yang ia simpan di alam bawah sadarnya hingga ia mengigau seperti ini? Apakah ia juga memiliki luka pengabaian yang sama sepertiku?
Tanpa ragu, aku mengangkat tanganku, menangkup tangan Vema yang masih menempel di pipiku. Aku menggenggamnya erat, menyalurkan rasa aman. Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, berbisik dengan sepenuh hati, seolah ia bisa mendengarku di alam mimpinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Vema. Aku di sini."
Vema tampaknya merespons suaraku. Napasnya yang tadi memburu kini mulai tenang kembali. Namun, bukannya melepaskan tangan, ia justru mengubah posisinya. Tangannya melingkar memeluk lenganku, dan kepalanya semakin membenam di bahuku.
"Ehehe... sayang banget, Dra..." guman Vema lagi dalam tidurnya, diiringi senyum tipis yang tulus.
Aku terpaku. Kata-kata itu... sayang banget. Aku tahu dia sedang bermimpi, dan mungkin dalam mimpinya, konteksnya berbeda. Namun, mendengar suara hatinya yang jujur tanpa filter kesadaran membuat dadaku sesak oleh perasaan campur aduk. Ada kebahagiaan, tapi juga kesedihan mendalam.
Sarendra: (Dalam hati) "Apa yang pernah terjadi padamu, Vem? Kenapa kamu begitu takut ditinggalkan? Siapa yang pernah melukaimu sedalam itu?"
Aku ingin mengabadikan momen ini. Momen di mana Vema merasa aman bersamaku, momen di mana pertahanan dirinya runtuh. Dengan tangan kiri, aku mengambil ponsel dari saku. Aku membuka kamera, lalu dengan hati-hati memotret kami.
Di layar ponsel, terlihat wajah Vema yang damai bersandar di bahuku, dengan tangannya yang memeluk lenganku erat. Ini adalah bukti. Bukti bahwa aku dipercaya.
Baru saja aku menyimpan foto itu, sebuah notifikasi pesan masuk dari Netta.
Netta: "Draa, gimana kabarmu di bus itu bareng Vema? Katanya kalian sudah berani dekat banget ya? Jangan macam-macam lho!"
Aku tersenyum kecut, lalu mengetik balasan dengan satu tangan.
Sarendra: "Eumm... kabarnya baik kok, Net. Vema sedang tidur sekarang. Suasana tenang."
Balasan Netta datang secepat kilat.
Netta: "PAPNYA DONG! JADI PENGEN LIAT VEMA KALO TIDUR GIMANA? Pasti lucu banget kan?"
Aku ragu. Memotretnya untuk koleksi pribadi adalah satu hal, tapi membagikannya? Apalagi posisinya seintim ini. Vema sedang memelukku.
Sarendra: "Aduh, Net. Posisinya agak sulit. Dia tidur miring."
Netta: "Ah, alasan saja! Pasti kamu lagi asik berduaan nih. Ayo kirim, kami penasaran sahabat kami aman atau tidak."
Akhirnya, dengan pertimbangan bahwa Netta adalah sahabat dekat kita, aku mengirimkan foto yang tadi kuambil. Namun, aku memilih foto yang angle-nya sedikit lebih sopan, meski tetap memperlihatkan Vema yang bersandar padaku.
Sarendra: [Mengirim Foto]
Centang dua biru. Netta sedang mengetik... berhenti... mengetik lagi... berhenti lagi. Dia butuh waktu 6 menit untuk membalas. Pasti dia sedang heboh memperlihatkan ini pada Nadin.
Ting!
Netta: "WOW! Gila sih ini. Udah mulai nempel banget nihhh. Apakah ini tanda-tanda atau kalian sudah resmi berhubungan secara diam-diam?"
Kemudian sebuah pesan suara (voice note) masuk. Aku mengecilkan volume dan mendekatkannya ke telinga.
Suara Netta: "Langgeng ya, sahabat! Jaga dia, awas kalau sampai lecet sedikit pun!"
Aku tidak bisa menahan senyum mendengar nada bicara Netta yang campur aduk antara menggoda dan mengancam.
Sarendra: "Doakan saja yang terbaik. Nanti kita bahas lagi."
Aku mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku celana. Vema bergerak sedikit, melepaskan pelukannya di lenganku, namun kini tangannya turun dan menggenggam jari-jariku. Ia tidak melepaskanku, hanya berganti cara memegang. Aku membiarkannya. Kehangatan tangannya adalah obat terbaik untuk melupakan lagu sedih yang masih berputar di bus.
Perjalanan semakin larut. Keheningan malam semakin pekat. Aku mulai merasa kantuk menyerang, namun aku berusaha tetap terjaga untuk menjaga kepala Vema agar tidak terbentur jendela jika bus berbelok tajam.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar panjang. Bukan pesan WhatsApp biasa.
Aku mengambilnya dengan hati-hati. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar kunci. Nomor yang tidak tersimpan di kontakku.
+62 812-XXXX-XXXX: "Haloo."
+62 812-XXXX-XXXX: "Apakah ini nomor Sarendra?"
+62 812-XXXX-XXXX: "Kamu kangen aku gak?"
Alisku bertaut. Siapa ini? Iseng sekali mengirim pesan malam-malam begini dengan nada sok akrab. Firasatku tiba-tiba tidak enak. Jantungku yang tadi tenang kini berdetak waspada.
Sarendra: "Iya, ini Sarendra. Maaf, ini siapa?"
Aku menunggu beberapa detik. Tanda 'sedang mengetik' muncul di layar, seolah sedang mempermainkan kesabaranku.
Ting!
+62 812-XXXX-XXXX: "Halo... aku mantan kamu. Masih ingat?"
Darahku berdesir hebat. Napasku tercekat. Kalimat itu membekukan seluruh kehangatan yang baru saja terbangun malam ini. Di sebelahku, Vema tertidur lelap dengan tangan menggenggamku, sementara di layar ponselku, masa lalu yang menyakitkan baru saja mengetuk pintu kembali.
ada apa dgn vema
lanjuuut...