NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkenalan

#16

Tak jauh dari tempat Biru kongkow dengan teman-temannya, sekelompok muda-mudi juga baru selesai dengan acara reuni sekolah mereka. 

“Mir, bareng siapa?” tanya Echa. Karena Miranda datang dengan taksi. 

“Nunggu asisten Papi, tadi udah janji mau jemput.” 

“Oke, deh, gue duluan, ya?” pamit Echa yang diantar pulang Bagaskara, kekasihnya. 

Tersisa Miranda saja, karena yang lain sudah pergi meninggalkan lokasi. “Gue antar, ya?” cetus seseorang yang ternyata masih berada di belakang Miranda. 

Miranda menoleh, “Nggak, makasih, gue nunggu Om Arman aja.” Miranda menolak. Apalagi yang menawarkan jasa adalah lelaki yang sejak SMA getol mengejar cintanya. 

“Kenapa, sih. Rumah elo, kan, searah sama rumah gue?” selidik Tian, karena Miranda selalu terlihat sinis bila ia mendekat. 

“Nggak papa,” desis Miranda jengah, sedikit mengambil jarak karena tubuhnya yang berdiri terlalu dekat dengan Tian. Tapi dasar Tian memang sudah ngebet mendekati Miranda sejak dulu, pria muda itu kembali mendekatkan jarak mereka. 

“Ih, apaan, sih. Jauh-jauh sana, lo!” usir Miranda. 

Kembali mendapat pengusiran, Tian jadi sedikit meradang marah, ditambah tadi ia meneguk alkohol walau tak banyak. “Emang, sejijik itu, ya, elo ke gue?”

Miranda menoleh ke sekitar, mencari-cari mobil yang katanya hendak datang menjemput, lagi pula ia pun malas menanggapi ucapan Tian. 

Srek! 

Tiba-tiba Tian menarik dengan kasar lengan Miranda, “Eh, apaan, nih. Jangan macam-macam loe!” pekik Miranda berusaha melepaskan tangan dari cekalan Tian. 

“Lihat mata gue! Gue paling nggak suka kalo gue lagi bicara, tapi dicuekin!” 

“Ya, siapa yang suruh loe ngebacot! Lagian gue juga gak ngerasa ajak loe bicara!” balas Miranda tak mau kalah dengan emosi Tian. 

Tiba-tiba Tian gelap mata, ia menarik Miranda ke pelukannya kemudian berusaha mencium bibir gadis itu. “Iihh apaan, sih, lepas, Tian! Dasar brengsek!” umpat Miranda seraya terus memberontak dari cekalan Tian. 

Namun Miranda kalah tenaga, hingga Tian Hampir saja berhasil melahap Bibir Miranda, tapi sebelum itu terjadi—

“Berhenti, atau besok video ini akan merusak reputasi bokap loe!” 

“Shit!” umpat Tian dengan wajah merah padam, setelah gagal menjalankan aksinya. Pria itu menoleh ke arah sang pengganggu, san hal itu dimanfaatkan Miranda untuk melepaskan diri dari cengkeraman Tian. 

“Apa urusan loe?!” bentak Tian. 

“Urusan gue? Nggak ada! Tapi melihat ada yang hendak melecehkan seorang gadis, ya gue nggak bisa tinggal diam,” jawab Biru tak gentar. 

Tian meradang, ia berusaha merampas ponsel milik Biru, namun, dengan gesit Biru berhasil menghindar. “Hapus, gak?!” 

“Oke, gue hapus, asal loe pergi dari sini!” Biru memperlihatkan layar ponselnya dan bersiap menghapus video. 

“Tapi kalo elo masih memperpanjang masalah, video ini akan langsung tersebar luas di sosial media.” Biru menatap Tian tanpa gentar sedikitpun, sementara Miranda bersembunyi di balik punggungnya. 

“Oke, gue pergi.” Tian mengangkat kedua tangannya. Dan Biru pun menepati janjinya akan langsung menghapus video tersebut. 

“Sudah gue hapus, ya?” Biru kembali menunjukkan layar ponselnya. 

Dengan bibir yang masih mengomel tak jelas, Tian pun pergi meninggalkan Miranda bersama Biru. “Sudah aman, kamu boleh pulang.” 

Miranda mengambil jarak, serta merapikan sedikit penampilannya yang berantakan akibat ulah Tian. “Loe aja duluan, gue nunggu dijemput.” 

“Baiklah, aku tunggu sampai jemputan kamu datang.” 

Diam-diam Miranda tersenyum tipis, kemudian iseng mengulurkan tangan, “Apa, ini?” alih-alih membalas uluran tangan tersebut, Biru justru bertanya. 

“Kita belum kenalan dengan benar, padahal kita sekampus, dan di beberapa mata pelajaran kita juga sekelas.” 

Biru menganggukan kepalanya, lalu membalas uluran tangan Miranda, “Biru.”

“Nama yang unik, gue Miranda.”

“Aku gak butuh komentarmu.” 

“Sorry.”

Mereka berdiri bersisian di trotoar jalanan yang masih dilalui kendaraan dan juga beberapa pejalan kaki lainnya. 

“Sepertinya kamu mengenal si anak pak menteri itu?” cetus Biru. 

“Iya, kami satu SMA. Bahkan orang tua kami saling kenal.” 

“Bagus, dong, biasanya kalau orang tua sudah saling kenal, maka langkah berikutnya adalah perjodohan.” 

Miranda memiringkan bibirnya, “Amit-amit, jangan asal njeplak, deh. Jangan sampai gue berjodoh sama pria tengil seperti dia,” ucap Miranda geli. 

Tiba-tiba Biru tertawa renyah, sesuatu yang belum pernah Miranda lihat sebelumnya, senyum Biru terlihat menawan di matanya. Hingga sesaat mampu menyihir gadis itu, sesungguhnya pria idaman Miranda cukup rumit, tak perlu seorang hartawan, tak perlu juga memiliki rupa yang terlalu menawan. 

Justru sejak kali pertama bertemu Biru, Miranda sudah terpesona pada kesederhanaan pria itu. “Ternyata loe bisa ketawa, ya?” 

Tawa Biru tiba-tiba menghilang, “Ya, bisa, lah, aku normal, gak seperti Squidward yang kehilangan kantung tertawa,” celetuk Biru. 

Kali ini ganti Miranda yang tergelak, hingga ia memegangi perutnya yang terasa mulas. “Ternyata, loe bisa ngelawak juga. Sampai kenal Squidward segala. Jangan-jangan loe juga suka nonton si Patrick bintang laut dan SpongeBob celana kotak.” 

Biru kembali tersenyum simpul, ingat di masa kecilnya Mamaknya harus mengomel marah karena ia tak segera berangkat sekolah, hanya gara-gara film SpongeBob favoritnya belum selesai. Sedangkan di sore hari Biru tak bisa nonton TV karena selepas maghrib adalah jadwalnya mengaji di surau. 

Gurauan renyah yang singkat, karena tak lama kemudian, Asisten Gunawan pun tiba. “Nona, Maaf, tadi harus mengantar Tuan ke tempat pertemuan.” 

Walau ingin marah, tapi Miranda urung melakukannya, sebab asisten sang papi terlambat, ia jadi bisa berkenalan dengan Biru. “Biru, fashion show kemarin, loe keren banget.” Miranda mengacungkan kedua jempolnya. 

Biru hanya tersenyum kalem, tak ada yang spesial. 

Setelah mobil yang membawa Miranda berlalu pergi, Biru pun bergegas kembali ke motornya. 

•••

Kredibilitas Anjani sedang merosot tajam, semua karena kasus plagiat yang ia lakukan, hingga kondisi Official Store-nya semakin mengenaskan. 

Pemesanan merosot tajam, hingga ke titik nol, karena konsumen tak lagi respek dengan seseorang yang meluncurkan karya orang, namun diakui sebagai karyanya sendiri. 

Anjani keluar dari ruangannya, “Vin, kamu masih punya kartu nama Wartawan Agus?” 

“Sebentar, saya cari dulu, Bu.” Vina membuka laci mejanya dan mengangkat kotak berisi kartu nama para kenalan dan orang-orang penting yang berkaitan dengan MiJa. 

Setelah menemukan apa yang ia cari, wanita itu pun menyerahkannya pada sang atasan. 

Anjani langsung membuka ponselnya, dan melakukan panggilan pada Wartawan Agus. “Halo.” 

“Pak Agus, apa kabar?” sapa Anjani dengan senyum lebar dan suara yang mendayu samar. 

“Kabar baik, Bu. Ada perlu apa, ya?”

Anjani tersenyum sinis, “Aku punya bahan berita eksklusif untukmu.” 

“Berita?”

“Iya, seperti biasa buat yang spektakuler, maka sesuatu yang spektakuler menanti Anda.” 

“Siap, Bu. Semua bisa mulus asal ada fulus,” sahut Wartawan Agus dengan tawa lebar. 

1
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
Reni
biru g secerah namamu kau bikin kelabu ayu lagi dan lagi pola pikirmu melukai mamamu miris
Nar Sih
semoga biru bisa memberi kejutan pada mama ayu dgb segaja msuk firma hukum punya si gunawan
Siti Siti Saadah
asyyyyyyiiiiiikkkkk
Rahmawati
hmmm apa biru sengaja deketin Miranda biar bisa mencari bukti bukti ttg kebusukan gunawan ya
Rahmawati
kok gedeg ya sama biru😡
🌷Vnyjkb🌷
akuuuuu nungguin sampai ngilerrr,torrr,🤭🙏🙏🙏🤣🤣🤣😍😍💪💪💪💪💪
🌷Vnyjkb🌷: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!