"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 09
Pagi di kediaman Barata terasa terlalu sunyi bagi Indira. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamarnya, namun tak mampu menghangatkan dada yang sejak semalam terasa kosong. Ia bangun dengan kepala sedikit pening, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya.
Teringat kembali olehnya percakapan ia dengan Seno semalam, kata- kata pria itu yang sebelumnya ia ingin anggap angin lalu rupanya malah terngiang di benaknya.
"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Ya, pernikahan mereka terjadi semata-mata hanya karena itu, dan Indira tahu betul, setiap kata yang keluar dengan wajah yang begitu santai, terkesan acuh namun tetap menggoreskan sesuatu di dalam sana yang di sebut hati.
Namun Indira memilih untuk tak memikirkan nya terlalu berlarut-larut, maka ia segera bangkit dari kasur dan beraktivitas seperti biasanya, seolah dia masih seorang gadis yang tinggal dirumah orang tuanya.
Ketika ia melangkah keluar kamar, aroma kopi dan suara langkah kaki pelayan memenuhi lorong panjang rumah itu. Semuanya bergerak teratur, seolah sudah hafal ritme rumah ini-- kecuali dirinya.
Ia sendiri sudah mandi dan memakai baju terusan berwarna peach, rambut se punggung nya diikat asal ke samping dan wajahnya tanpa riasan. Karena sebelumnya ia sudah cuti untuk menikah dari rumah sakit tempatnya bekerja, jadi ia masih libur sampai hari ini.
Rasanya masih sedikit canggung karena lingkungan nya serba baru, dengan gaya hidup yang baru tentu nya, ia tidak tahu apakah bisa terbiasa dengan semua ini atau tidak, yang pasti ia memang harus segera beradaptasi.
"Selamat pagi nyonya, " sapa seorang pelayan yang kebetulan lewat di depannya, dengan kepala tertunduk.
Indira tersentak kecil, sapaan itu sontak menariknya kembali dari lamunan panjangnya. Dan sapaan yang diberikan itu terasa asing di telinganya, berat dan penuh tekanan.
"Pagi, " jawabnya pelan, nyaris tak terdengar.
Pelayan itu berlalu lagi, masih dengan kepala tertunduk yang hanya Indira balas dengan anggukan singkat.
Indira lantas melanjutkan langkah nya, entah kemana-- hanya mengikuti insting dan kakinya melangkah. Sekonyong-konyong ia berpapasan dengan seseorang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Di sana, Ryan berdiri dengan sama terkejutnya. Laki-laki itu hendak pergi ke arah berlawanan namun berhenti begitu matanya melihat Indira di hadapan.
Deg! Indira merasakan jantungnya seperti berhenti bekerja untuk beberapa saat, matanya membelalak begitu melihat pria yang sudah menghancurkan hidup nya itu.
Tampaknya Ryan sama sekali tak merasa bersalah, terbukti dengan raut wajahnya yang begitu santai ia tunjukkan malah terkesan mengejek.
"Sungguh ironi yang aneh Indira, harusnya kamu menjadi istriku, tapi di hadapan takdir saat ini kita malah harus menjadi saudara ipar. "
Indira mengepalkan tangannya hingga buku- bukunya memutih. "Jangan bicara soal takdir dari mulut kotor mu itu Ryan! " sentaknya.
Ryan sampai terkejut karena Indira yang ia kenal lembut bisa berani berbicara selantang itu.
"Kenapa? kau terkejut karena aku bisa bicara seberani itu padamu?! "
Ryan masih terperangah namun sedetik kemudian senyum miring tersemai di wajahnya yang angkuh. "Baru menjadi nyonya Barata sehari saja kau sudah begitu sombong. " sindirnya.
Indira memilih untuk tak meladeni dan melanjutkan langkahnya, namun tanpa diduga Ryan malah menahan lengannya.
"Apa yang kau lakukan?! " Indira mendelik tajam, berusaha melepaskan tangannya namun cengkraman laki-laki itu lebih kuat.
"Jangan kau kira aku akan menyerah Indira. Meski sekarang status kita berbeda, tapi kau tetap wanita yang ingin ku nikahi, aku tetap akan memperjuangkan mu! tak peduli harus melawan siapa, atau resiko apapun yang harus kuhadapi. "
Setiap kata- katanya Ryan tekankan, seolah itu pernyataan mutlak yang tak bisa dibantah.
Wajah Indira memerah karena amarah. "Orang gilla! " ujarnya di hadapan muka Ryan.
Lalu matanya menangkap sosok Seno yang melangkah menuju mereka. Seno pun melihat Indira dan tatapan mereka bertemu. Terkunci.
Rahang Seno mengeras melihat adegan di depannya yang ia kira romantis dari sepasang kekasih yang tak bisa bersatu.
Indira seolah bisa menebak pikiran Seno dari sorot matanya, lantas matanya membara. Dan sebelum Seno mendekat, Indira dengan tekad bulat mengigit tangan Ryan yang mencengkram lengannya.
Tindakan cepat tanpa aba- aba itu membuat Ryan tidak sempat mengelak dan lantas menjerit karena gigitan Indira yang begitu kuat.
Seno memperhatikan semua itu dengan wajah terperangah dan tanpa menunggu reaksi pria itu Indira segera pergi dengan langkah cepat meninggalkan kedua pria tersebut.
Sementara Seno hanya bisa menoleh, memperhatikan Indira yang lewat dan sudah pergi menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di mansion besar ini, adalah rumah yang Seno dirikan atas kerja kerasnya sendiri. Seno hanya tinggal bersama Rania, kakaknya dan neneknya yang sudah sepuh.
Ayah dan ibunya bercerai ketika Seno masih kecil, ayahnya menikah lagi sementara ibunya meninggal tepat ketika hari ulang tahun Seno.
Setelah Rania menikah, Seno mengijinkan suami kakaknya itu untuk ikut tinggal bersama. Alasannya karena Rania sendiri tak ingin jauh dari keluarga nya dan Ryan adalah pemuda biasa dari kalangan menengah yang beruntung bisa menikahi Rania dan bekerja di perusahaan keluarga nya.
Namun Ryan yang tak tahu terimakasih itu malah berselingkuh di belakang Rania, dengan alasan Rania yang tak bisa memberikan keturunan padahal usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun keenam.
Nyonya Athaya-- orang tua dari pihak ibu Seno adalah wanita yang lembut. Begitu melihat Indira untuk pertama kali, ia langsung menyukai nya.
Tubuh nya masih terlihat begitu bugar meski umurnya tak lagi muda, bahkan terbilang usia senja namun nyonya Athaya masih tampak begitu energik dan ceria.
Mereka kini sedang duduk di meja makan panjang, sedari tadi nyonya Athaya tak henti- hentinya memuji Indira-- menantu barunya tersebut..
"Kau begitu cantik dan tubuh mu juga bagus. Apalagi kamu adalah seorang perawat. "
"Bagaimana nenek bisa tahu? " Indira terkejut.
Nyonya Athaya tersenyum. "Sebelum kita bertemu pun, aku sudah lebih dulu mengenal mu Indira. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari Seno langsung. Tentang pernikahan kalian--" Wajah nyonya Athaya sedikit murung saat mengatakan itu, lalu menghela napas pelan.
"Walaupun terjadi karena alasan yang tidak biasa dan peristiwa yang tak terduga, tapi secara hukum negara dan agama, kamu telah sah menjadi istri Seno dan merupakan menantu wanita pertama di keluarga ini. Kalian belum melakukan resepsi, dan tentu harus ada dengan pesta yang megah sesuai tradisi keluarga kita selama ini. "
Nyonya Athaya kembali tersenyum, seraya mengusap punggung Indira dengan lembut.
Sekonyong-konyong suara Seno menggema menyahuti ucapan sang nenek. "Untuk apa melakukan resepsi megah nek? hanya membuang- buang waktu dan uang. "
Nyonya Athaya mendelik, tak suka. "Seno! "
Seno hanya menggidikkan bahu, acuh. "Aku benar kan. Toh selama ini keluarga kita selalu melakukan resepsi megah disetiap pernikahan, tapi tak ada yang pernikahan yang benar-benar rukun dan bahagia, contohnya ibu dan kakak. "
Semua orang sontak terdiam dengan ucapan Seno, terlebih Rania yang merasa tersinggung dengan ucapan adiknya yang blak-blakan itu.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah