NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Meja Makan

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit High Tower berpendar dingin, memantulkan cahaya pada deretan alat makan perak yang tersusun simetris di atas meja marmer hitam. Nayara duduk tegak, punggungnya kaku tanpa menyentuh sandaran kursi ukir yang terasa dingin menembus kain daster yang kini dilapisi syal sutra pemberian pelayan. Di hadapannya, sebuah piring porselen putih tulang kosong menanti, sedingin tatapan Nyonya Besar yang duduk di ujung meja sebagai pusat gravitasi kekuasaan.

"Di rumah ini, cara kita memegang garpu menentukan siapa kita," Nyonya Besar memecah kesunyian dengan suara yang halus namun setajam sembilu.

Nayara melirik Arkananta yang duduk tepat di seberangnya. Suaminya itu hanya menatap lurus ke depan, jemari mengetuk pelan jam tangan perak di pergelangan tangan kiri. Arkan tampak seperti patung yang sempurna, namun Nayara tahu ada badai yang sedang ditahan pria itu.

"Saya mengerti, Nyonya Besar," jawab Nayara pelan.

"Jangan panggil aku 'Ibu' jika mulutmu masih berbau asap dapur panti," Nyonya Besar mengangkat cangkir tehnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Setiap napas yang kamu ambil di ruangan ini adalah pinjaman dari reputasi putraku. Kamu harus sadar diri, Nayara."

Arkananta meletakkan tangannya di atas meja, otot rahangnya menonjol. "Ibu, kita berkumpul untuk makan malam, bukan untuk sesi persidangan etiket."

"Makan malam di keluarga High Council adalah persidangan, Arkan," Nyonya Besar menatap putranya dengan mata menyipit. "Lihat istrimu. Duduknya saja sudah merusak estetika ruangan ini. Dan aroma apa ini? Bau bawang dan minyak jelantah?"

Seorang pelayan masuk dengan langkah tanpa suara, meletakkan semangkuk sup kental di depan Nayara. Uap teh panas yang mengepul di samping piringnya kontras dengan udara AC yang diatur pada suhu ekstrem, membuat buku jari Nayara sedikit memucat. Saat Nayara mengambil sendok kecil di sisi kanan, porselen piringnya mengeluarkan bunyi denting yang sangat halus.

Kring.

Nyonya Besar meletakkan cangkirnya dengan hentakan kecil yang terdengar lebih keras dari denting tadi. "Angkat piringnya. Ganti dengan yang baru."

Nayara tertegun, tangannya menggantung di udara. "Maaf, saya tidak sengaja."

"Di rumah ini, kesunyian adalah harga diri," potong Nyonya Besar dingin. "Pelayan, ajari dia bahwa denting adalah kegagalan. Jika dia berbunyi lagi, buang makanannya ke tempat sampah. Aku tidak ingin meja ini terkontaminasi oleh kecerobohan rakyat jelata."

Di seberang meja, Arkananta tiba-tiba tersedak. Ia merasakan sensasi aneh di pangkal tenggorokannya. Cairan teh yang ia telan mendadak terasa pahit, seolah empedunya pecah dan menyebarkan getah pahit ke seluruh lidah. Perutnya melilit secara simpatetik, sebuah rasa nyeri yang tumpul yang ia tahu berasal dari tekanan psikologis yang sedang dialami Nayara.

"Kenapa, Arkan? Tehmu pahit?" tanya Nyonya Besar menyadari perubahan wajah putranya.

"Sangat pahit, Ibu. Seolah-olah ada seseorang yang menuangkan racun ke dalam cangkir ini," suara Arkan rendah, bergetar menahan tekanan batin.

"Mungkin itu hanya bayanganmu karena terlalu sering memikirkan masalah di wilayah pinggiran itu," Nyonya Besar kembali menatap Nayara. "Bagaimana kabarmu di panti asuhan dulu, Nayara? Apa kalian masih sering berebut nasi basi dengan garam?"

Nayara menarik napas manual, dadanya terasa sesak namun ia tetap menegakkan kepala, menolak untuk terlihat hancur. "Kami makan apa yang menjadi hak kami, Nyonya Besar. Dan di sana, kami belajar bahwa rasa syukur jauh lebih penting daripada jenis piring yang digunakan."

"Syukur tidak akan memenangkan suara politik di Astinapura," Nyonya Besar mendengus sinis. "Ibu Fatimah itu... dia masih hidup? Kudengar bangunan tua berlumut itu hampir digusur karena masalah pajak."

Nayara merasakan tasbih kayu di saku daster di balik syalnya bergetar. Ia meraba butiran yang mulai terasa rapuh itu. "Panti itu akan tetap berdiri selama doa-doa kami masih sampai ke langit. Tidak ada pajak yang bisa menghapus harga diri kami."

"Harga diri?" Nyonya Besar tertawa sumir. "Kamu bicara harga diri di depan porselen yang harganya lebih mahal dari seluruh isi panti asuhanmu? Arkan, pastikan istrimu ini tidak membawa bau tanah basah panti itu ke konferensi pers besok. Aku tidak ingin media mengira kita memelihara pengemis di High Tower."

Arkananta merasakan denyut di pelipisnya semakin kencang. Rasa pahit di lidahnya berubah menjadi nyeri yang tajam di ulu hati. Ia tahu, martabat Nayara sedang diinjak-injak di bawah kakinya yang masih memakai sandal butut pemberian Mang Asep yang ia paksa ambil kembali pagi tadi.

"Dia bukan pengemis, Ibu," Arkan berdiri, membuat kursi kayunya bergeser namun tanpa mengeluarkan suara gesekan sedikit pun. "Dia adalah istriku. Dan jika piringnya harus diganti setiap kali berbunyi, maka piringku juga harus diganti."

Arkananta sengaja menjatuhkan sendok peraknya ke atas piring porselennya sendiri.

Krang!

Bunyi itu bergema keras di ruang makan yang sunyi. Wajah Nyonya Besar memerah seketika karena amarah yang memuncak.

"Arkananta! Apa-apaan ini?"

"Aku hanya ingin menyamakan kedudukan, Nyonya Besar," Arkan menatap ibunya dengan mata yang mendingin. "Bukankah keharmonisan adalah citra utama yang ingin Ibu jual ke publik? Jika istriku dianggap gagal dalam etiket, maka aku adalah suaminya yang paling gagal."

Nayara menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca, namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, menetralkan rasa dingin dari lantai marmer yang tadi sempat menyiksa kakinya.

"Kamu berani menentangku hanya demi gadis panti ini?" suara Nyonya Besar merendah, mengandung ancaman.

"Aku membela apa yang menjadi milikku, Ibu. Termasuk sisa napas yang kuterima pagi ini karena kehadirannya," Arkan menoleh pada pelayan di sampingnya. "Ganti piringku sekarang. Dan pastikan hidangan berikutnya disajikan dengan rasa hormat, atau meja ini tidak akan pernah melihatku lagi di jamuan mana pun."

Nyonya Besar mengepalkan tangannya di bawah meja, sementara Arkan kembali duduk dengan punggung tegak, mengabaikan keringat dingin yang mulai membasahi tengkuknya akibat resonansi rasa sakit Nayara yang mulai mereda.

Pelayan segera mengganti piring Arkananta dengan gerakan yang terburu-buru, menimbulkan hawa cemas yang menyebar ke seluruh ruangan. Hidangan utama disajikan: escargot dengan lumuran saus mentega yang harum namun asing. Alat makan khusus yang terdiri dari penjepit mungil dan garpu dua jari diletakkan di samping piring Nayara. Nyonya Besar memperhatikan setiap gerak-gerik Nayara dengan mata elang, menunggu kesalahan sekecil apa pun sebagai amunisi untuk serangan berikutnya.

"Silakan, Nayara. Jangan biarkan makanan ini mendingin seperti sambutanmu di rumah ini," Nyonya Besar menyindir seraya mulai mempraktikkan teknik makan yang sempurna.

Nayara menatap benda logam di tangannya. Ia belum pernah melihat alat makan sekompleks itu. Di panti asuhan, makanan adalah tentang bertahan hidup, bukan tentang seni memegang penjepit. Ia melirik Arkan, mencari petunjuk, namun Arkan sedang menatap tajam ke arah seorang pelayan senior yang berdiri di sudut ruangan.

"Ada apa, Nayara? Kamu tidak tahu cara menggunakannya?" Nyonya Besar meletakkan alat makannya, bibirnya melengkung sinis. "Inilah masalahnya jika kita membawa bunga liar ke dalam taman kristal. Kamu hanya akan menjadi beban yang memalukan."

Nayara merasakan panas merambat di lehernya. Telinganya mulai berdenging, dan ulu hatinya terasa seperti ditinju oleh kenyataan bahwa ia memang tidak berada di tempat yang seharusnya. Di bawah meja, jemarinya mencengkeram kain daster di balik syal hingga kuku-kukunya memutih.

"Saya bisa belajar, Nyonya Besar," jawab Nayara dengan suara yang diusahakan tetap stabil.

"Belajar membutuhkan waktu, dan waktu adalah kemewahan yang tidak dimiliki oleh posisi Arkananta saat ini," Nyonya Besar beralih menatap Arkan. "Besok, di konferensi pers Red Line, dia akan hancur jika media melihat kegagapanmu ini. Kamu adalah lubang di dalam perisainya, Nayara."

Arkananta mendadak meletakkan serbetnya. Lidahnya kembali terasa pahit, kali ini lebih getir dari sebelumnya. Ia bisa merasakan denyut jantung Nayara yang kencang, seolah jantung itu berada di dalam rongga dadanya sendiri. Sensasi terbakar muncul di telapak tangannya, manifestasi dari luka batin yang sedang ditelan Nayara dalam diam.

"Ibu, cukup," suara Arkan rendah namun mengandung otoritas yang tidak bisa didebat. "Nayara tidak perlu belajar menjadi orang lain untuk berada di sampingku."

"Dia harus, Arkan! Atau dia akan diseret keluar dari High Tower ini dengan penghinaan yang lebih besar," Nyonya Besar berdiri, menunjuk Nayara dengan jarinya yang berhias cincin permata. "Lihat dia! Bahkan bau melati murah dari bajunya masih memenuhi ruangan ini, mencoba menutupi bau parfum amberku yang mahal."

Nayara menutup matanya sejenak. Ia teringat bau uap nasi panti yang hangat dan tawa adik-adik pantinya. Di tengah kepungan parfum amber yang mencekik, ia membisikkan satu kalimat sholawat di dalam hati. Seketika, ketenangan yang dingin menyelimuti jiwanya. Ia membuka mata, dan kali ini, matanya memancarkan ketegasan yang berbeda.

"Nyonya Besar, parfum amber Anda memang mahal, tapi itu tidak bisa menutupi kedinginan di ruangan ini," ucap Nayara sambil berdiri. "Saya tidak akan memalukan Arkananta besok. Bukan karena saya mahir menggunakan penjepit perak ini, tapi karena saya tahu cara berdiri tegak di depan badai yang Anda ciptakan."

Nyonya Besar terperangah, wajahnya memucat mendengar keberanian itu. "Beraninya kamu..."

"Nayara benar," Arkananta ikut berdiri, melangkah mendekat dan berdiri di samping istrinya. "Meja makan ini sudah berakhir. Kami akan mempersiapkan diri untuk besok dengan cara kami sendiri."

Arkananta menarik tangan Nayara, membimbingnya keluar dari ruang makan yang megah namun terasa seperti penjara itu. Saat mereka melewati koridor menuju lift, Arkan tidak melepaskan genggamannya. Ia merasakan tangan Nayara yang dingin dan gemetar, namun ia juga merasakan kekuatan batin yang mulai menyatu di antara mereka.

"Jangan lepaskan lenganku, Nayara. Kamu tidak perlu memaksakan diri besok hanya untuk menyenangkan mata yang sudah buta oleh harta," bisik Arkan saat pintu lift tertutup.

"Saya harus, Arkan. Bukan untuk High Council, tapi untuk harga diri yang Anda bela tadi pagi saat memberikan jas itu di lantai marmer," jawab Nayara sambil menatap lurus ke depan.

Arkan terdiam, melihat pantulan mereka di dinding lift yang berkilau. Ia tahu, setelah malam ini, Nyonya Besar tidak akan tinggal diam. Strategi "Red Line" akan menjadi medan perang yang sesungguhnya bagi martabat Nayara. Namun, melihat tasbih kayu yang digenggam erat oleh Nayara, Arkan menyadari bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian di bawah bayang-bayang ibunya.

Di ruang makan, Nyonya Besar menatap piring-piring yang ditinggalkan dengan kemarahan yang meluap. Ia meraih botol kecil di dalam tasnya, lalu memanggil pelayan kepercayaannya. "Hubungi Kyai Hitam. Katakan padanya, bunga liar ini memiliki akar yang lebih kuat dari yang kubayangkan. Dia harus dicabut sebelum matahari terbit di Red Line."

Suhu di dalam High Tower seolah merosot drastis saat instruksi itu diberikan. Cahaya lampu kristal berkedip sesaat, menandakan bahwa serangan yang lebih gelap dari sekadar penghinaan verbal sedang dipersiapkan untuk menghancurkan Nayara hingga ke akar spiritualnya.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!