NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Terperangkap

Livia berdiri mematung di balik tirai tipis jendela guest house. Ia bisa melihat siluet Rangga melalui kaca besar ruang tamu rumah utama—berdiri tegak, kaku, dengan punggung yang seolah memikul beban seluruh dunia.

Rangga baru saja menandatangani sesuatu. Livia bisa melihat gerakan tangannya yang tegas, namun ada keraguan yang tertangkap oleh mata tajamnya. Dari kejauhan, ia melihat ibunda Rangga, Ratna, memeluk putranya dengan emosional. Ada sesuatu yang salah. Udara di sekitarnya mendadak terasa lebih dingin daripada air hujan yang tadi mengguyurnya.

Dua puluh menit berlalu. Akhirnya, mobil hitam mewah milik Pak Broto meluncur meninggalkan pelataran rumah. Lampu teras rumah utama dipadamkan, menyisakan kegelapan yang mencekam.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki berat yang menginjak kerikil basah menuju guest house.

Pintu terbuka dengan debuman keras yang membuat Livia terlonjak. Rangga masuk. Ia tidak lagi tampak seperti predator lapar yang tadi menyerang Livia di lapangan. Kemeja putihnya yang tadinya rapi kini berantakan, kancing atasnya terbuka, dan dasinya sudah ditarik lepas hingga menggantung layu. Matanya redup, namun ada kilat keputusasaan yang liar di sana.

Livia berdiri di tengah ruangan, hanya dibalut jubah mandi (bathrobe) sutra berwarna merah marun yang tipis. Rambutnya masih lembap, wangi sabun mawar menguar dari kulitnya, kontras dengan bau tanah dan keringat yang tadi mereka bagi.

"Siapa mereka, Rangga?" suara Livia datar, tapi menuntut. "Dan jangan bohong soal 'urusan kantor' biasa. Aku lihat Mama Ratna menangis."

Rangga tidak menjawab. Ia berjalan menuju meja bar kecil, menyambar botol wiski dan meminumnya langsung dari mulut botol. Cairan amber itu tumpah sedikit di sudut bibirnya, membasahi kerah kemejanya.

"Papa kritis," kata Rangga akhirnya. Suaranya serak, pecah. "Gagal jantung stadium akhir. Singapura sudah angkat tangan."

Livia tersentak. Amarahnya yang tadinya meluap-luap mendadak surut, digantikan oleh rasa sesak yang aneh. "Rangga... aku nggak tahu. Maafkan aku."

Rangga membanting botol itu ke atas meja hingga isinya menciprat ke mana-mana. "Bukan cuma itu, Liv! Adiwinata Group sedang di ambang kehancuran. Saham anjlok, dewan komisaris mulai saling sikut. Pak Broto datang membawa kontrak mati."

Livia melangkah maju, tangannya ragu-ragu ingin menyentuh lengan Rangga yang menegang. "Kontrak apa?"

Rangga berbalik, mencengkeram pergelangan tangan Livia dengan kekuatan yang membuat wanita itu meringis. "Aku harus pulang ke Jakarta besok pagi. Bukan sebagai atlet. Bukan untuk turnamen. Tapi sebagai CEO. Aku... aku sudah menandatangani surat pengunduran diri dari pelatnas."

Keheningan yang menyusul kata-kata itu terasa lebih mematikan daripada petir di luar sana. Livia mundur selangkah, mencoba melepaskan tangannya. "Pengunduran diri? Kamu... kamu pensiun? Rangga, kamu peringkat lima dunia! Kamu punya kualifikasi Olimpiade bulan depan! Kamu gila?!"

"Aku terpaksa, Livia!" Rangga meraung, matanya merah karena menahan tangis dan amarah. "Pilihannya adalah aku menjadi penyelamat keluarga, atau kita semua jatuh miskin dan namaku dicoret dari silsilah Adiwinata. Mama memohon padaku... dia berlutut di depanku, Liv! Kamu mau aku jadi anak durhaka?!"

Livia menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang kembali. "Lalu bagaimana denganku? Kamu menang taruhan tadi. Kamu bilang aku nggak boleh ke Jakarta sendirian. Kamu bilang aku harus tetap di sini, nurut sama kamu."

Rangga merapat, menekan tubuhnya yang besar ke arah Livia hingga wanita itu terhimpit meja bar. "Kamu ikut aku ke Jakarta. Tapi bukan untuk bertanding. Mama bilang... seorang istri CEO tidak bisa keliling dunia hanya untuk berkeringat mengejar bola bulu angsa. Kamu harus berhenti juga, Liv. Kita mulai hidup baru. Hidup yang 'pantas' untuk keluarga Adiwinata."

Livia menampar wajah Rangga dengan keras. Bunyi plakk itu menggema di ruangan yang sunyi. "Hidup yang pantas? Kamu bercanda?! Bulutangkis itu hidupku, Rangga! Itu satu-satunya alasan aku bertahan saat kamu hampir meninggalkan aku di altar! Sekarang kamu mau membunuh mimpiku juga?!"

"Ini demi masa depan kita!"

"Demi egomu dan perusahaanmu!" teriak Livia. "Tadi di lapangan kamu menghancurkan tubuhku, dan sekarang kamu mau menghancurkan jiwaku? Kamu mau mengurungku di menara gading Jakarta sebagai pajangan? Aku bukan boneka, Rangga! Aku bukan properti Adiwinata!"

Rangga merangsek maju, mencengkeram rahang Livia dengan jari-jarinya yang kasar. Gairah yang tadi sempat meredup kini berganti menjadi dominasi yang gelap dan penuh keputusasaan. "Kamu pikir aku tidak hancur?! Aku juga kehilangan segalanya, Liv! Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kamu akan di sampingku, di kantor itu, di rumah itu. Kamu milikku, secara hukum dan secara darah!"

Livia meludah ke arah kemeja Rangga, sebuah pembangkangan terakhir. Rangga hanya menyeringai dingin, matanya menggelap penuh amarah yang bercampur rasa lapar yang belum tuntas. Ia menyambar pinggang Livia, mengangkatnya dengan satu gerakan kasar dan membantingnya ke atas tempat tidur besar.

"Rangga, jangan... lepaskan aku!" Livia mencoba merangkak kabur, tapi Rangga sudah menindihnya, mengunci kedua tangan Livia di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang seperti borgol besi.

"Tadi di lapangan itu perang, Liv," bisik Rangga tepat di bibirnya, napasnya berbau wiski dan maskulinitas yang tajam. "Sekarang di sini... ini adalah penaklukan. Kamu akan ikut aku ke Jakarta, dan aku akan pastikan kamu tidak punya tenaga lagi untuk memikirkan raket sialan itu."

Rangga merenggut jubah mandi Livia hingga kain sutra itu robek di bagian bahu, menampilkan kulit Livia yang memerah. Tidak ada kelembutan kali ini. Hanya ada kekacauan—pergulatan antara benci, cinta, dan ketakutan akan masa depan. Livia memberontak, kakinya menendang-nendang, tapi setiap perlawanannya justru memicu kegilaan Rangga yang lebih dalam.

Di luar, hujan Solo kian menggila, seolah ikut menangisi kematian dua mimpi besar yang baru saja dikubur hidup-hidup. Di dalam guest house, di bawah temaram lampu yang berkedip, Rangga menjajah setiap jengkal tubuh Livia dengan amarah yang meledak-ledak. Setiap sentuhannya adalah klaim kepemilikan yang egois, setiap ciumannya adalah segel yang mengunci kebebasan Livia.

Livia menangis sesenggukan di bawah dekapan pria itu, bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena ia tahu—saat matahari terbit besok, hidup mereka sebagai atlet telah berakhir. Mereka akan menjadi orang asing yang terperangkap dalam setelan jas mahal dan gaun pesta, berpura-pura bahagia di depan kamera, sementara di balik pintu tertutup, mereka akan terus saling menghancurkan dalam penjara emas ini.

Saat Rangga mencapai puncaknya dengan geraman frustrasi, ia memeluk tubuh Livia yang sudah lemas dengan sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya, wanita itu akan menguap menjadi asap.

"Jangan pernah benci aku lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri, Liv," bisik Rangga parau di telinga Livia yang basah oleh air mata. "Karena mulai besok, dunia tidak akan peduli padamu. Hanya aku yang kamu punya."

Livia hanya bisa menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang tampak berputar, merasakan kehampaan yang luar biasa merayap di dadanya. Pemenang taruhan malam ini bukanlah Rangga, bukan juga dirinya. Pemenangnya adalah takdir yang bernama Adiwinata yang baru saja merenggut segalanya dari mereka.

1
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ngerinyee
Hafidz Nellvers
gak bahaya ta😂
Tulisan_nic
Badas kali Thor, tenang yang mematikan🫣
Tulisan_nic
wih promotenya keren nih ke Livia, tapi aku beda...🤭
Mentariz
Dari sinopsisnya aja udah menarik banget, terus pas baca bab 1 langsung masuk konflik seru abisss, dibuat penasaran terus sama bab selanjutnya, sangat rekomen 👍👍
Panda%Sya🐼
So far, semuanya menarik. Buat yang suka romance gelap dan, with a deeper meaning behind it. Di sini jawapannya.
Panda%Sya🐼
Kadang ini selalu jadi masalah, kalau enggak ceweknya pasti cowoknya. So damn proud of you, Rangga/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Takutnya nanti ada yang nangis, kan susah itu/Facepalm/
j_ryuka
wah bahaya ini
Tulisan_nic
Thats true Rangga, stand applouse buat kamu
Tulisan_nic
Body spek jam pasir apa gitar spanyol nih Livia🤭
chas_chos
rangga sedikit posesif ya
chrisytells
Malah jadi Berita Utama lagi
chrisytells
Mantap sekali Livia, sanggahan anda👍
chrisytells
Wah... wah... wah... gawat nih Livia!
Nadinta
LIVIA sumpah ya... bikin gregetan/Facepalm/
Mentariz
Panassss, kok panas ya bacanyaa 🤣
Mentariz
Aakkhh pengen teriakkk, aku mau ranggaaa 😍
Mentariz
Adududu~~~ berbahaya niihh 🤣
Mentariz
Badaasss sekaleee 😁👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!