NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Raka, seorang pria pasif yang jauh lebih kalem dari Magenta, sebenarnya memang bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan, terlebih jika berkaitan dengan atasannya yang galak itu.

Ia lebih suka mengamati, duduk santai, menyandarkan punggung ke kursi, memperhatikan hal-hal kecil yang jarang di-notice sebagian orang. Dan dari semua orang di kantor, Magenta adalah salah satu orang yang paling mudah ia baca.

Dari awal sinar matahari menembus gedung lantai 15 itu, Raka sudah menyadari ada yang nggak beres. Bukan dari cara Magenta berjalan masuk kantor, atau caranya melempar tas ke kursi, bukan pula dari celetukan aneh yang keluar dari mulutnya. Sebuah perubahan yang terlalu halus disebut mencolok, tapi cukup konsisten.

Magenta menoleh.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Ke arah yang sama, meja Cyan.

Raka menaikkan alisnya sedikit, pura-pura sibuk dengan membuka laptop. Namun dari sudut matanya, ia mengamati Magenta yang berdiri, merapikan lengan kemeja, lalu berjalan ke pantry, padahal botol minumnya masih penuh.

“Pagi,” sapa Magenta singkat ketika melewati meja Cyan.

Nada suara normal, gestur biasa saja.

“Pagi,” balas Cyan mengangguk singkat.

Magenta berhenti sepersekian detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu melanjutkan langkahnya.

“Semangat, Bu Cyan. Jangan tenggelam sendiri, ya. Saya tau Anda bisa meng-handle ini.”

Cyan menatapnya setengah tak percaya.

“Saya yakin Anda pasti bisa.” Magenta melanjutkan.

Cyan menarik napas, merasa sedikit lebih ringan, lalu kembali fokus pada layar. Seolah ucapan semangat dari Magenta tadi kembali membakar tekadnya yang sempat padam.

Raka menyandarkan dagu ke telapak tangan. Menarik. Biasanya, Magenta tidak berhenti di “selamat pagi”. Akan selalu ada komentar, sindiran, atau celetukan receh yang sengaja dilempar untuk memancing reaksi Cyan. Dan hari ini tidak.

Ia kembali ke mejanya, duduk, lalu lagi-lagi melirik ke arah Cyan.

Raka menutup laptopnya perlahan. Jelas ini bukan kebetulan.

Beberapa jam kemudian, suasana kantor mulai sibuk. Deadline menumpuk, suara keyboard bersahutan, dan beberapa staf mondar-mandir membawa berkas. Cyan tampak fokus di depan layar laptopnya, alisnya berkerut sempurna.

Magenta berdiri tanpa suara, mengambil alih satu tugas receh yang seharusnya bukan bagiannya.

“Saya bantu,” katanya pada Cyan bersuara halus menggoda.

“Saya nggak minta.” Cyan menoleh.

“Saya tahu, tapi kalau nggak ada saya, pasti kerjaan Anda akan melambat, ‘kan?”

“Ya udah, tapi jangan diacak ya.”

“Tenang. Saya bukan zombie lift yang asal-asalan kok.”

Raka yang menyaksikan dari kejauhan hampir tersedak oleh tawa yang ia tahan. Sejak kapan Magenta bisa tenang kalau urusannya menyangkut Cyan?

***

Saat jam rapat mendekat, Raka sengaja memperlambat langkahnya agar bisa berjalan berdampingan dengan Magenta. Mereka sama-sama stafnya Cyan, tapi Raka tahu perhatian berlebihan tadi itu nggak masuk jobdesk mereka sebagai staf.

“Lo berubah banget, ya, Mas?” kata Raka santai.

“Berubah apanya?”

“Lebih rajin, kalem, terus ... keliatan banget berusaha,” balas Raka memutar tangan di udara.

“Perasaan biasa aja dah.”

“Biasa versi siapa dulu?”

Magenta tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, tapi tidak bisa menahan senyum kecil yang terselip di sudut bibir.

“Nggak semua hal perlu diumbar.”

“Justru lo kurang mikir.”

Magenta berhenti tepat sebelum pintu ruang rapat. Ia menoleh cepat, setelah itu membuang muka.

“Lo kebanyakan mikir.”

“Kalo gue mikir, gue gak bakal ketinggalan aksi-aksi lucu lo, Mas.”

“Diem deh lo. Mending fokus kerja atau bantuin kerjaan gue.”

Rapat dimulai sedikit terlambat. Magenta dan Raka masuk beberapa menit setelah semua orang duduk. Biasanya keterlambatan itu akan disambut tatapan tajam Cyan dan komentar dingin yang menusuk, tapi hari ini?

“Silakan duduk, Genta,” kata Cyan datar.

Tidak bernada tinggi, apalagi sindiran. Dan hanya Magenta yang di sambut. Raka menoleh cepat ke arah Cyan, lalu ke Magenta, lalu kembali ke Cyan lagi. Ini semakin menarik.

Selama rapat, Magenta sesekali melirik ke arah Cyan sebelum berbicara. Ketika Cyan mencatat, Magenta memperlambat penjelasannya.

Raka pun mengangkat tangan.

“Sebentar. Bisa diulang bagian terakhir?”

“Ah iya. Supaya jelas dan supaya atasan cantik kita nggak bingung ya.” Magenta mengangguk lalu mengulangi penjelasan barusan.

Cyan menatapnya tajam, tapi menahan senyum dan Raka hampir tersedak liurnya sendiri.

“Sialan, adegan macam apa ini?” gerutu Raka protes dalam hati.

Setelah rapat selesai, Raka menepuk pundak Magenta. “Mas Maag.”

“Apa?”

“Lo sadar nggak sih, lo lagi apa?”

“Lagi kerja.”

“Kerja sambil jaga nada suara lo yang sember itu?”

“Raka, gue cuma mencoba profesional,” kilah Magenta.

“Tenang lah, gak perlu menghindar juga. Gue cuma pengamat.” Seolah Raka tahu jokes spontan yang tidak lucu itu, sekadar menutupi perasaannya yang berencana ditutup rapat.

“Pengamat abal-abal.”

***

Mereka pergi ke kafe kantor untuk istirahat makan siang. Kali ini tanpa direncanakan, mereka duduk satu meja.

Cyan, Alya, Magenta, dan Raka.

Raka sengaja memilih kursi yang menghadap langsung ke Magenta.

Cyan membuka ponselnya, jelas ingin menikmati waktu istirahat tanpa interupsi. Namun, posisi Magenta justru condong sedikit ke depan.

“Kamu mau makan apa, Syan?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Biar nggak salah pesen. Aku nggak mau salah-salah lagi, terus kamu ngomel nanti,” jawab Magenta mengetuk meja pelan.

“Aku bisa pesan sendiri,” jawab Cyan sambil menahan senyum.

“Aku tahu kok.”

“Terus kenapa mau pesenin?”

Magenta mengangkat bahu. “Refleks aja.”

“Refleks dari mana, Mas?” Raka tiba-tiba menyeletuk.

“Diem, Rak.”

“Gue cuma pengamat.” Ia mengulangi kalimat tadi, sudah cukup membuat Magenta mengendus malas.

Alya yang duduk di samping Cyan hanya diam, matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain. Cyan dan Alya akhirnya berdiri untuk memesan makanan, lalu Magenta juga ikut bangkit menyusul.

“Aku temenin.”

“Aku nggak butuh. Lagian ada Alya.”

“Tapi aku mau ikut dong,” celetuk Magenta agak memaksa.

“Wuih.” Raka bersiul pelan, membuat 3 orang lain menoleh bersamaan.

Cyan menatap mereka berdua sebelum pergi menjauh. “Kalian berisik banget, bertiga aja kayak di kebun binatang.”

“Bukan kami, lho. Situasinya aja.”

Saat Cyan dan Alya menjauh, Raka langsung mencondongkan badan ke Magenta.

“Lo perhatiin nggak? Lo sekarang kayak satelit,” ucap Raka setengah berbisik.

Magenta mengernyit. “Apaan dah?”

“Lo cuma muter-muter terus di orbit yang sama.”

“Ngaco.”

“Nama orbitnya, Cyan.”

Magenta terdiam sepersekian detik terlalu lama, menahan senyum tipis yang lagi-lagi muncul. Raka berhasil menangkapnya, disimpan erat dalam benaknya sebagai momen yang langka.

“Oke dari aura muka lo. Berarti gue bener.”

“Gue cuma jaga sikap. Jangan kebanyakan asumsi.”

“Sejak kapan?”

“Kepo deh lo.”

Raka tersenyum lebar. “Nah, itu dia.”

Cyan kembali dengan makanannya. Magenta otomatis menarik kursi untuknya. Gadis itu berhenti, lalu memutar bola mata malas.

“Aku bisa sendiri, Genta.”

“Tapi aku siapin duluan. Biar nanti kamu gak ribut rebutan sendok.”

Cyan menatapnya nyalang, tetapi memilih diam enggan menimpali.

***

Setelah makan, Cyan dan Alya pamit lebih dulu, tersisa Raka dan Magenta. Dua sejoli yang saling bersahutan ketika Magenta mulai mengeluarkan jokes asbunnya. Raka pun menyandarkan punggung, menyilangkan tangan.

“Gue mau jujur.”

“Gue nggak minta.”

“Gue cuma mau tarik benang kesimpulan. Lo udah jatuh, Mas.”

“Jatuh apaan?”

“Perhatian lo bocor.”

“Ke siapa?”

“Ke orang yang sama tiap hari.”

Magenta terdiam, kali ini lebih lama. Senyum yang cukup berbeda dari biasanya, lebih dalam dan bermakna. Raka berdiri, menepuk bahunya pelan.

“Tenang. Gue nggak bakal ngomong ke siapa-siapa.”

“Kenapa?”

“Karena gue pengen lihat sejauh mana lo bakal pura-pura.”

“Gue nggak pernah pura-pura.”

Raka tersenyum, menatap Magenta sebentar.

“Gue tahu lo lagi pura-pura kalo ini semua cuma sandiwara. Iya kan? Padahal aslinya lo udah suka beneran sama Bu Cyan, betul?”

“Sandiwara apaan? Gue nggak ngerti apa yang lo maksud!”

1
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
Alessandro
adududu.... melting meleyot dlm 1 waktu 😍
Anisa Saja
capek emang ya kalau udah bahas "kapan nikah".
Anisa Saja
salut salut salut. percaya dirinya itu, lo, patut ditiru.
Alessandro
jomblo dari bayi 🤣
Shofiyya Nissa
gimana gimana? uninstall punggung? astaga. baru kerja gitu udh pgen uninstall punggung aja.
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣
Heni sarasvati
Seruu banget, romansanya dapet, komedinya juga, kocak kocak banget karakternya jadi bisa menikmati baca cerita ini
Heni sarasvati
heh ciuman tuh enggak masuk ke kategori 'doang' woy, ngadi ngadi lu😭
Heni sarasvati
Genta ini kalo gak jail ya modus mulu, tapi dia kalo lagi mode serius gitu keren juga ya
Heni sarasvati
ternyata pernah di tinggal nikah, kasian amat genta nasib lu😭
Heni sarasvati
kata gue lu berdua beneran pada confess dah cepetan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!