NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehebohan Di Rumah Sakit..

"Tau nih suami kamu, Put. Posesifnya ngalahin satpam bank," adu Arga pada Putri.

Putri yang bersandar di bantal hanya terkekeh melihat tingkah suaminya. "Udah Mas, kasih aja sebentar. Kak Arga kan udah jauh-jauh datang bawa kado."

Mendengar kata 'kado', mata Arga berbinar. "Nah! Mending kita unboxing kado dulu deh biar si Bapak Posesif ini luluh."

Arga merogoh paper bag besar yang ia bawa. Dengan gerakan dramatis ala pesulap, ia mengeluarkan sebuah topi rajut. Bukan topi biasa, tapi topi dengan telinga kelinci panjang yang bisa bergerak-gerak kalau talinya dipencet.

"Tadaaa!" seru Arga bangga. "Topi Bunny buat Arkanza!"

Mata Devan membelalak horor. "Apa-apaan itu?! Anak gue cowok, Arga! Cowok! Masa dipakein topi kelinci pink?!"

"Ini bukan pink, ini peach! Lagi ngetren tau!" bela Arga, "coba deh pakein, pasti lucu banget."

"Ogah! Harga diri anak gue turun nanti. Dia itu calon penerus Pradipta Group, masa cosplay jadi kelinci percobaan?" Devan menolak mentah-mentah.

"Ih, Mas Devan kok gitu?" Putri malah tertarik. "Sini coba, Mas. Lucu tau! Sekali aja buat foto kenang-kenangan."

"Putri..." Devan menatap istrinya dengan tatapan memelas. "Kamu tega anak kita jadi bahan ketawaan om-nya yang nggak ada akhlak ini?"

"Sekali aja, Mas. Please..." Putri mengeluarkan jurus mata berkaca-kaca andalannya.

Devan menghela napas panjang, ia kalah telak. "Oke! Sekali aja, awas kalau difoto terus disebar di grup kantor!"

Dengan hati-hati dan penuh omelan, Devan membiarkan Arga memakaikan topi itu ke kepala mungil Arkanza. Dan benar saja, saat topi itu terpasang, Arkanza yang sedang tidur terlihat seribu kali lebih menggemaskan. Pipinya yang gembul terhimpit tali topi, membuat bibirnya manyun lucu.

"Astagaaa! Lucu banget!" pekik Nindi gemas, langsung mengeluarkan ponsel untuk memotret.

"Tahan napas, Van. Gue pencet talinya biar kupingnya gerak." Arga memencet tali topi itu, telinga kelinci di kepala Arkanza naik-turun.

Klik! Klik! Klik!

"Hahaha! Muka Devan pasrah banget!" Arga tertawa puas melihat Devan yang pasrah menggendong bayi bertopi kelinci dengan wajah datar.

Pak Brahma ikut tertawa sampai batuk-batuk kecil. "Lucu, Van. Nanti papa cetak fotonya yang gede, pajang di ruang rapat direksi."

"Pa, jangan dong, Pa..." rengek Devan, wibawanya hancur sudah.

Tiba-tiba, di tengah gelak tawa itu, wajah Devan berubah panik. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah merembes di lengannya yang menopang pantat bayi.

"Eh... eh... kok anget?" Devan mematung, matanya melotot. "Put! Putri! Ini kenapa anget-anget basah?!"

Semua orang terdiam.

"Jangan bilang..." Nindi menutup mulutnya menahan tawa.

"Dia pipis, Mas?" tanya Putri santai.

"Kayaknya tembus popoknya! Atau miring makeinnya tadi!" Devan panik bukan main. Ia menjauhkan bayi itu sedikit dari tubuhnya dengan tangan lurus ke depan, persis seperti adegan di film kartun. "Arga! Ambilin tisu! Ambilin handuk! Woy, ini anak gue bocor!"

"Hahaha! Bocor apaan, emang genteng!" Arga ngakak guling-guling melihat kepanikan Devan. "Rasain lo! Itu hukuman buat bapak yang sombong!"

"Jangan ketawa doang! Bantuin!" Devan keringat dingin. "Ini gimana narohnya? Nanti kena sprei rumah sakit dimarahin suster!"

Di tengah kepanikan itu, bu Anggun yang sedari tadi diam akhirnya geleng-geleng kepala. Ia berjalan mendekat dengan tenang, mengambil alih Arkanza dari tangan Devan yang gemetar.

"Sini, Devan. Kamu ini, mimpin ribuan karyawan bisa, ganti popok aja heboh kayak kebakaran," celetuk bu Anggun datar tapi nyelekit.

Devan melongo melihat ibu tirinya dengan cekatan membuka bedong, mengecek popok, dan membersihkan bayi itu dengan tisu basah tanpa rasa jijik sedikitpun.

"Liat tuh, belajar sama mama Mertua," ledek Arga, "malu sama jas mahal lo, Van. Bau pesing tuh!"

Devan mencium lengan kemejanya. "Asem bener..."

"Itu namanya parfum surga, Mas," goda Putri sambil terkikik geli.

Keributan itu semakin menjadi-jadi ketika Arga mulai menirukan gaya panik Devan barusan.

Nindi dan pak Brahma tertawa terpingkal-pingkal, suara tawa mereka memenuhi ruangan VIP itu hingga terdengar sampai ke koridor.

Ceklek.

Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat senior dengan wajah tegas dan kacamata melorot di hidung masuk sambil membawa nampan obat, ia menatap kerumunan itu dengan tatapan tajam.

Seketika, tawa Arga terhenti. Devan langsung berdiri tegak, berusaha terlihat wibawa meski bau pesing, dan pak Brahma pura-pura batuk berwibawa.

"Bapak, Ibu..." tegur suster itu dengan nada sopan namun menekan. "Ini rumah sakit, bukan pasar malam. Suara ketawanya terdengar sampai nurse station di ujung lorong."

"Maaf, Sus. Teman saya ini emang suaranya kayak toa masjid." Devan langsung menunjuk Arga.

"Heh! Kok gue?" protes Arga tak terima.

Suster itu menggelengkan kepala, lalu menatap Putri yang terlihat lelah meski tersenyum.

"Ibu Putri baru saja melewati persalinan panjang. Beliau butuh istirahat total, bukan diajak begadang dan tertawa berlebihan. Nanti jahitannya nyeri kalau banyak ketawa," jelas suster itu tegas. Ia melirik jam dinding. "Jam besuk sudah habis dari satu jam yang lalu sebenarnya. Mohon Bapak-bapak dan Ibu-ibu selain suami pasien, dipersilakan meninggalkan ruangan agar pasien dan bayi bisa istirahat."

Arga dan Nindi saling pandang sambil nyengir kuda.

"Tuh kan, diusir," bisik Nindi.

"Iya, Sus. Maaf ya, Sus. Kami keasyikan lihat bayi kelinci," ucap Arga beralasan konyol.

Pak Brahma berdiri, merapikan jasnya. "Baik, Sus. Kami pulang. Ayo Anggun, Arga, Nindi."

Anggun meletakkan kembali Arkanza yang sudah bersih dan wangi ke dalam boks bayi. Ia menatap Putri sekilas.

"Istirahat, Put. Besok mama bawain sayur katuk," ucap Anggun singkat, lalu berjalan keluar.

Arga melambaikan tangan heboh. "Dah Putri! Dah Devan yang bau pesing! Besok gue balik lagi bawa mainan drum set buat Arkanza!"

"JANGAN BAWA DRUM SET!" teriak Devan tertahan.

"Pak Devan, tolong suaranya," tegur suster lagi

Devan langsung kicep. "Iya, Sus. Maaf."

Setelah rombongan sirkus itu keluar, keheningan yang damai akhirnya kembali. Devan menghela napas panjang, lalu menatap Putri yang masih tersenyum geli.

"Capek ya, sayang?" tanya Devan lembut sambil duduk di tepi ranjang.

"Sedikit. Tapi seneng," jawab Putri, "rumah sakit nggak akan kerasa serem kalau ada mereka."

Devan mengecup kening Putri lama. "Tidur gih. Aku jagain Arkanza. Sekalian... aku mau ganti baju dulu, bau banget ini."

Putri tertawa pelan. "Selamat menikmati tugas negara, papa Devan."

Malam itu, di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Devan belajar satu hal, menjadi ayah mungkin akan penuh kekacauan dan bau pesing, tapi selama ia melakukannya bersama Putri, itu adalah kekacauan terindah dalam hidupnya.

**

Satu bulan telah berlalu sejak tangisan pertama Arkanza memecah dunia. Rumah mewah Devan kini tidak lagi hening dan kaku. Setiap sudut rumah dipenuhi aroma minyak telon, bedak bayi, dan tumpukan popok yang menggunung.

Devan Pramuditya, CEO yang ditakuti ribuan karyawan, kini memiliki rutinitas baru sebelum berangkat kerja.

Pukul enam pagi, Devan sudah rapi dengan setelan jas mahalnya. Namun, alih-alih memegang iPad untuk mengecek berita ekonomi, tangannya sibuk menepuk-nepuk punggung mungil Arkanza yang ada di gendongannya.

"Ayo, Jagoan papa... sendawa dulu. Burp," bujuk Devan sabar sambil mondar-mandir di kamar. "Kalau nggak sendawa nanti perutnya kembung, kalau kembung nanti saham papa

ikutan anjlok, karena papa nggak konsen kerja."

"Mas..." tegur Putri yang sedang menyisir rambut di depan cermin, ia tertawa kecil. "Anaknya jangan diajak ngomongin saham terus. Nanti kata pertamanya bukan 'Mama' atau 'Papa', tapi 'Dividen'."

"Biarin, biar dia tau cari duit susu itu susah," balas Devan, lalu tersenyum lebar saat Arkanza akhirnya bersendawa keras. "Nah! Pinter! Itu baru anak papa."

Devan mencium pipi gembul anaknya dengan gemas, lalu menyerahkannya pada Putri. "Papa kerja dulu ya, jangan nakal sama mama."

Namun, begitu Devan berangkat, kegaduhan yang sebenarnya baru dimulai.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jadi enak jamannya sapa Tam? omongan Reno betul toh?
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh putri klo tidak anggap cari kebahagiaan sendiri, percuma bertahan ya rasa sakit kamu dapatkan...
Dwi Winarni Wina
Putri hanya dijadikan isti pajangan aja sm devan, putri dah biasa keberadaannya tidak dianggap...
Dwi Winarni Wina
kasian malang bingit nasibnya putri sengsara terus, sabar ya putri kebahagiaanmu pastinya akan dateng nanti...
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
Dari sini keliatan nya julian itu cukup baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
owalah Julian kok Ogeb sih jngn langsung telan Jul, cerna dulu omongan Tamara
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ𓆪: sip🤣😭😭 nnti dicari tau
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
selidiki lah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
harus cari tau Jul, jangan percaya gtu ajah
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
Secara tidak langsung sifat tamara yg seperti ini adalah hasil didikan dari Anggun juga sejak kecil /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
dokter elena makin lama bisa setres dia kalo gini terus 🤣🤣
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
salah satu netizen kmu put, aku nih
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ𓆪: Duh, kena.. cakit🥺🤣🤣🤣😭
total 4 replies
APRILAH
penderitaan itu seolah-olah jurang yang tak berujung.
Panda
hmmmmm 🤔🤔

ku kira Devan bakal lebih keras kepala dari ini

ternyata gampang luluh juga baru liat lebam dan kejadian kopi doang

di sini putri Uda kurus banget dong kakkk???
Panda: curiga si putri bakal rebith
total 2 replies
Panda
waduh metafora nya bisa bikin salah persepsi ini 😏
Panda
gue dong kak 🤣
Serena Khanza
dih najis banget si anggun nuduh sembarangan awas tiati kena karma bu 😏🙄 trus pak brahma setidaknya empati dikit kek, inget tuh putri jamgan pernah nolongin atau baik2 in keluarga toxic kayak gitu, buang aja ke laut
Kaka's
bintang 5 yah sesuai alur cerita
Kaka's
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/waduh... sakit mas.. 🤭🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️
total 1 replies
Hunk
Masih aja lu bahas cewe yang gak jelas.
Hunk
Dokter aja ampe tau si putri hidup sebatang kara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!