"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IMPIAN
Rumah itu masih sederhana seperti dulu, namun bagi Bara, suasananya terasa dingin dan asing. Saat langkah kakinya menggema di lantai, Norma yang sedang duduk di sofa langsung berdiri. Wajah wanita itu tampak lebih tua, ada guratan kesepian yang tak bisa disembunyikan.
"Bara?" suara Norma bergetar.
Tanpa menunggu jawaban, Norma berlari dan menghambur ke pelukan putranya. Ia menangis terisak, mendekap Bara seolah takut putranya itu akan menguap lagi seperti asap.
"Kamu pulang, Nak... Kamu akhirnya pulang. Jangan tinggalkan Ibu lagi. Rumah ini seperti kuburan tanpa kamu," isak Norma.
Bara tidak langsung membalas pelukan itu. Ia membiarkan ibunya tenang sejenak sebelum perlahan melepaskan dekapan tersebut dan menuntun Norma untuk duduk.
"Aku pulang untuk bicara, Bu," ujar Bara dengan suara rendah yang stabil.
Norma menyeka air matanya, wajahnya berbinar penuh harapan.
"Ya, ya, kita bicara. Kamu pasti lelah di luar sana. Ibu akan siapkan kamar--"
"Aira sudah sembuh total, Bu."
Senyum di wajah Norma mendadak beku. Nama itu masih menjadi pemicu ketegangan di antara mereka.
"Dokter Faisal sudah menyatakan infeksi otaknya bersih. Aira sudah normal kembali, bahkan sekarang kembali bekerja di Panti. Dia bukan lagi wanita rapuh yang Ibu lihat beberapa bulan lalu. Dia sudah kuat, sehat, dan mandiri," lanjut Bara, mencoba menatap mata ibunya dengan penuh keyakinan.
"Sekarang tidak ada alasan lagi bagi Ibu untuk menolaknya karena alasan kesehatan."
Norma memalingkan wajah, jemarinya memainkan ujung blusnya dengan gelisah.
"Bara... kamu harus mengerti posisi Ibu. Selama kamu pergi, Ibu merasa sangat kehilangan arah. Dan dalam masa sulit itu, Pak Salim dan Bu Hani banyak membantu Ibu."
Bara menyipitkan mata. "Membantu apa maksud Ibu?"
Norma menarik napas panjang, matanya kini berkilat menunjukkan ambisi lamanya.
"Pak Salim menawarkan sesuatu yang luar biasa. Dia ingin kamu menjadi pewaris tunggal perusahaan tambangnya. Kamu tahu sebesar apa perusahaan itu, Bara? Itu seperti mendapat lotre! Syaratnya hanya satu... kamu harus menikah dengan Rasti. Pak Salim sudah tidak punya anak laki-laki, dia butuh orang sepertimu."
Bara merasakan rahangnya mengeras. Amarah mulai mendidih di dadanya, namun ia mengingat janjinya pada diri sendiri untuk tidak lagi menggunakan emosi meledak-ledak.
"Jadi, harga diriku di mata Ibu sekarang setara dengan saham perusahaan tambang?" tanya Bara, suaranya terdengar sangat dingin hingga Norma merinding.
"Ini demi masa depanmu, Bara! Kamu tidak perlu lagi bekerja keras dari nol. Semua sudah tersedia!"
"Bu," potong Bara tajam.
"Aku ini hanya pegawai biasa. Aku tidak terbiasa duduk di kursi empuk mengelola perusahaan tambang yang penuh intrik politik bisnis. Aku tidak bisa dan tidak mau mengelolanya. Jika aku memaksakan diri masuk ke sana hanya karena warisan, aku hanya akan menghancurkan perusahaan orang lain dalam sebulan."
"Kamu bisa belajar, Nak!"
"Tidak," tegas Bara.
"Aku menolak menjadi pengusaha lewat jalur 'hadiah pernikahan'. Aku lebih bangga menjadi pria yang membangun jalannya sendiri, meskipun sederhana, tapi di samping wanita yang aku cintai."
Bara berdiri, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat final.
"Dengar, Bu. Aku memberikan Ibu satu pilihan terakhir. Ibu bisa menerima kembali Aira sebagai menantu satu-satunya, dan kita kembali menjadi keluarga yang utuh di sini. Atau, aku akan pergi lagi, kali ini selamanya--dan Ibu bisa menikmati seluruh tawaran Pak Salim sendirian tanpa pernah melihat wajahku lagi."
Norma ternganga. "Bara, kamu mengancam Ibu lagi?"
"Ini bukan ancaman, Bu. Ini batasan. Aku mencintai Ibu, tapi aku tidak bisa membiarkan Ibu menjual hidupku demi ambisi yang bahkan aku tidak menginginkannya. Sekarang, keputusannya ada di tangan Ibu. Apakah Ibu memilih tambang milik Pak Salim, atau memilih anak kandung Ibu?"
Norma terdiam membisu, menatap punggung Bara yang kokoh. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa putranya tidak akan pernah bisa ditekuk oleh harta sebanyak apa pun.
***
Tepat pada hari ulang tahun Aira yang ke-22, suasana panti tampak ceria. Anak-anak panti sudah menyiapkan perayaan sederhana dengan tumpeng kecil. Namun, saat sore menjelang, sebuah paket sampai ke panti yang ditujukan pada Aira.
Tidak ada nama pengirimnya.
Aira membawa paket itu ke kamarnya. Tangannya gemetar saat membuka kotak kayu tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lapis kado yang ditata dengan sangat personal.
Sebuah album foto. Bukan foto masa lalu yang asing, melainkan foto-foto kebersamaan mereka sebelum menikah yang diambil secara diam-diam oleh Bara—saat Aira tertawa di dapur panti, saat Aira mendampingi anak- anak belajar di pekarangan dan saat mereka melihat matahari terbenam.
Didalam kotak itu juga ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat dikenal Aira.
Selamat ulang tahun, Aira. Dokter bilang pengobatanmu menunjukkan hasil yang luar biasa. Terima kasih sudah berjuang untuk sembuh. Hadiah ini bukan untuk memintamu kembali, tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu pernah sangat bahagia, dan kamu berhak bahagia lagi. Teruslah jaga kesehatan mu, teruslah tersenyum.
Bersama surat itu, ada sebuah liontin perak berbentuk kunci. Aira menggenggam liontin itu erat-erat. Tiba-tiba, sebuah kilasan memori melintas dengan sangat jelas di kepalanya.
Ia teringat saat Bara memberikan liontin serupa sebelum lamarannya. Bara berbisik.
"Hati Mas terkunci di sini, dan kuncinya ada padamu."
Aira menangis, tapi kali ini bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis harapan. Ingatannya tentang kehangatan Bara mulai kembali dengan utuh. Kado-kado itu bukan sekadar benda, melainkan stimulus yang memancing saraf otaknya untuk menyusun kembali kepingan memori yang hilang.
Siska masuk ke kamar dan melihat Aira sedang memeluk foto pernikahan mereka yang dikirim Bara.
"Dia tidak pernah benar-benar pergi, kan Bu?" tanya Aira dengan suara serak namun bahagia.
Siska tersenyum bijak, mengusap bahu Aira.
"Bara hanya sedang memberimu waktu untuk mencintai dirimu sendiri dulu, Aira. Dia tahu, kalau kamu belum sembuh, kamu akan selalu merasa menjadi 'beban'. Sekarang, lihat dirimu. Kamu sehat, kamu kuat, dan kamu sudah mengingatnya."
Aira menatap cermin. Wajahnya tidak lagi pucat.
"Aku akan menjaga kesehatan ku sungguh-sungguh, Bu. Jika mas Bara memang mengharapkan bertemu nanti, aku tidak lagi berdiri sebagai pasien yang malang, tapi sebagai wanita yang siap mendampinginya kembali."
Siska tersenyum lega. Tekad di mata Aira kini berpendar hebat. Ia yakin setelah ini Aira akan baik -baik saja. Bahkan Siska yakin, suatu saat Aira bisa menggantikannya mengelola panti.
Siska juga bertekad akan mengajari Aira manajemen mengelola panti dengan baik. Mencari donatur dan fokus mengembangkan keahlian anak-anak panti hingga bisa hidup mandiri di tengah masyarakat.