NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Getar yang Tak Terduga

Zidan masih menatap jejak kaki Bungah dan bundanya yang perlahan tersapu air laut. Kehangatan singkat itu masih membekas di dadanya, membuat lamunannya tentang pernikahan tidak lagi terasa seberat sebelumnya. Namun, sebuah tepukan di bahu membuyarkan segalanya.

"Masih di sini, Dan? Aku cari ke masjid tidak ada, ke kamar juga kosong. Ternyata sedang asyik diskusi dengan ombak."

Zidan menoleh. Gus Malik, sepupunya yang paling akrab, sudah berdiri di sana dengan senyum khasnya yang sedikit jahil. Malik kemudian ikut duduk di atas batang kayu besar itu, melipat tangan di depan dada sambil menghirup udara malam yang lembap.

"Abah tadi cerita padaku," lanjut Malik tanpa basa-basi.

"Katanya kamu diam saja saat ditanya soal jodoh.

Kenapa? Masih menunggu bidadari turun dari langit?"

Zidan terkekeh hambar, matanya kembali menatap lurus ke depan. "Bukan begitu, Lik. Aku hanya merasa... hatiku ini seperti kutub utara. Dingin. Aku takut jika aku menikah sekarang, aku hanya akan memberikan kebekuan pada pasanganku. Aku belum menemukan alasan untuk mencair."

Gus Malik terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil. "Dingin itu bukan karena tempatnya, Dan, tapi karena kamu belum menemukan mataharinya. Tapi lihat wajahmu sekarang... sepertinya kutub itu baru saja terkena sedikit sinar matahari. Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri?"

Zidan tersentak. Ia tak sadar bahwa sudut bibirnya sedikit terangkat sejak kepergian Bungah tadi.

"Tadi... ada seorang gadis," ucap Zidan pelan, hampir seperti bisikan.

"Gadis? Di pantai malam-malam begini?" Malik menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik.

"Dia memakai seragam SMP yang penuh coretan warna-warni. Namanya Bungah. Orangnya polos sekali, suaranya lembut seperti anak kecil, tapi bicaranya... entahlah, dia menyuruhku jangan sedih karena ada dia."

Malik terbahak mendengar cerita itu. "Bungah? Maksudmu anaknya Pak RT yang rumahnya di dekat dermaga itu? Si gadis ceria yang baru lulus SMP?"

Zidan menoleh cepat. "Kamu mengenalnya?"

"Siapa yang tidak kenal dia di desa ini? Dia memang 'mentari' kecil di kampung ini, meskipun sering membuat bundanya senam jantung karena tingkah polosnya. Tapi Dan, dia masih sangat kecil. Baru lulus SMP. Jangan bilang kamu..." Malik menggantung kalimatnya, menatap Zidan dengan tatapan menyelidik.

Zidan kembali menunduk, memainkan butiran pasir dengan ujung sandalnya. "Aku tidak tahu, Lik. Tapi saat dia bicara tadi, rasanya seperti ada cahaya kecil yang menyapa jiwaku yang sudah lama kehilangan arah."

Gus Malik menyenggol lengan Zidan dengan sengaja, mencoba menggoda sepupunya yang biasanya dikenal kaku dan dingin itu.

"Hati-hati, Gus. Kalau benar itu Bungah anaknya Pak RT, dia itu ibarat angin pantai—tidak bisa diam dan sulit ditebak. Lagipula, dia masih mau masuk SMA. Kamu tidak takut dianggap menculik anak kecil?" goda Malik sambil tertawa.

Zidan tidak membalas candaan itu. Ia justru teringat kembali pada momen saat telinga Bungah dijewer tadi. Ada rasa lucu sekaligus kasihan yang menggelitik hatinya.

"Bukan begitu, Lik. Aku hanya kagum. Di saat kepalaku penuh dengan urusan beban pesantren dan tuntutan Abi, dia datang dengan wajah tanpa beban, hanya peduli apakah aku sedih atau tidak," ujar Zidan tulus.

Zidan kemudian berdiri, merapikan sarungnya yang terkena pasir. "Ayo kembali ke pesantren. Sebentar lagi waktu tahajud."

Keesokan harinya, matahari pagi menyinari jalanan desa dengan cerah. Zidan yang biasanya langsung kembali ke kamar setelah mengisi pengajian subuh, entah mengapa merasa ingin berjalan-jalan sebentar ke arah dermaga.

Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan kecil di depan sebuah toko kelontong. Di sana, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda sedang berusaha mengikat sebuah kardus besar di jok belakang sepeda jengkinya. Ia masih mengenakan kaos santai, namun wajah cantiknya tetap terlihat menonjol meski tanpa riasan.

"Aduh... ikatannya lepas terus!" gerutu gadis itu.

Itu dia. Bungah.

Zidan ragu sejenak. Jika ia mendekat, apa kata orang nanti? Seorang Gus mendekati gadis remaja yang bahkan belum genap berusia 16 tahun? Namun, melihat Bungah yang kesusahan dan hampir saja menjatuhkan kardusnya ke selokan, kaki Zidan bergerak dengan sendirinya.

"Perlu bantuan?" tanya Zidan lembut.

Bungah mendongak. Matanya membulat mengenali sosok pria di depannya. "Eh! Kakak yang sedih kemarin ya?"

Zidan hampir tersedak mendengar panggilan itu. "Nama saya Zidan. Bukan 'Kakak yang sedih'."

Bungah tertawa renyah, suara yang terdengar seperti denting lonceng di telinga Zidan. "Habisnya kemarin mukanya kayak mau hujan. Ini kak, tolong pegangin kardusnya, aku mau tarik talinya. Kuat-kuat ya!"

Zidan pun memegang kardus itu. Kulit tangannya sempat bersentuhan tak sengaja dengan tangan Bungah saat gadis itu menarik tali rafia. Dingin tangan Zidan bertemu dengan hangatnya tangan Bungah.

"Nah, selesai! Makasih ya, Kak Zidan yang ganteng tapi sedih!" Bungah naik ke atas sepedanya dengan lincah. "Aku duluan ya, mau antar pesanan Bunda. Jangan lupa makan biar nggak sedih lagi!"

Bungah menggenjot sepedanya sambil bersiul kecil, meninggalkan Zidan yang mematung di pinggir jalan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Zidan merasakan jantungnya berdegup tidak beraturan.

Jiwa yang kehilangan arah itu, sepertinya mulai menemukan kompasnya, batin Zidan dalam hati.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!