Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekapan Cerita
Pagi itu dimulai dengan cuaca sejuk, tidak panas ataupun dingin, langit nampak mendung tapi tak hujan. Cahaya lampu jalan yang redup, butiran embun pagi pada dedaunan yang jernih, anjing yang lewat dijalanan, lalu Ikon yang sedang membantu Dani mengerjakan kembali rangka kayu untuk kebutuhan program kerja KKN, teman-teman ku perempuan sedang memasak dan aku merekam semua suasana itu. Hari itu memang tidak banyak rencana kegiatan yang akan kami lakukan, meskipun begitu bukan berarti kami banyak bersantai. Kami berniat untuk menyelesaikan pekerjaan itu agar bisa fokus dan lanjut pada program kerja berikutnya.
“Uaakkhh” suaraku meregangkan tubuh ku lalu ikut membantu teman-teman ku mengerjakan rangka kayu. Aku mendapatkan bagian untuk mengecatnya bersama Anwar lalu tak lama datanglah Eni dan perempuan lainnya. Mereka mengajukan diri untuk ikut membantu. Awalnya aku dan Anwar menolak karena tidak percaya tapi karena mereka memaksa sehingga kami pun mengalah dan Anwar pun mengizinkannya walau masih dalam pengawasannya. Agar tidak salah-salah kami memantau pekerjaan mereka dengan teliti dan beberapa kali memberi arahan yang benar.
Beberapa saat kemudian Sulis pun memanggil untuk sarapan, lalu kami pun menghentikan pekerjaan karena sudah waktunya untuk makan terlebih. Semuanya pun berkumpul didalam posko kecuali Putra.
“Mana Putra?” tanya ku
“Nggak tau tuh” jawab Anwar
“Dia pergi, katanya ada acara adat gitu” bicara Ruka
“Kok nggak ngajak kita” celetuk Ikon
“Entahh” balas lagi Ruka lalu kami mulai makan bersama-sama.
Sementara itu ditempat lain Putra sedang bersama warga, ada Kepala Desa, Ibu Desa, Pak Noman, Mama Hesty. Rio, Agus, dan masih banyak lagi. Mereka semua juga sedang makan bersama setelah selesai melakukan acara adat bersama. Saat itu Putra mengirimkan foto kedalam grup lalu kami pun melihatnya.
“Waahh nggak ngajak-ngajak” balas ku
“Datang sini kalau begitu” kata Putra namun itu cuman bercanda, dia kembali mengetik lagi
“Jangan, kalian nggak boleh ikut. Soalnya ini khusus hanya untuk kami saja yang dari asal yang sama” tulisnya
“Baiklah” balas ku lalu mengirimkannya juga makanan yang kami makan diposko lalu setelah itu aku lanjut makan kembali. Saat itu aku juga gak sengaja melihat story Putra tentang nama acara adat mereka yaitu Peringatan Hari Saraswati. Aku sempat terdiam ketika melihatnya karena merasakan sesuatu yang aneh. Aku seperti dejavu pernah melihat orang yang serupa dengan orang dalam postingan tersebut tapi aku gak bisa mengingatnya dengan jelas.
“Siapa yah?” pikir ku lalu beranggapan kalau itu mungkin cuman pikiran ku saja.
Beberapa saat kemudian setelah selesai makan kami pun melanjutkan lagi mengecat rangka kayu, namun karena teman-teman ku perempuanya ingin mengerjakannya lagi sehingga aku pun mengalah dan mengerjakan hal lain yaitu menggunting-gunting kertas huruf yang baru saja dicetak. Kami membagi tugas agar pekerjaanya lebih cepat selesai. Setengah hari berlalu dan tak ada yang aneh, mungkin itu untuk pertama kalinya kehidupan KKN kami normal tanpa ada sesuatu yang besar terjadi atau dalam sehingga menimbulkan konflik cerita yang panjang. Tapi jujur aku sudah lelah dengan semua keanehan dan masalah yang terjadi pada kami selama ini.Namun karena sudah terbiasa juga sehingga justru membuat hari itu menjadi membosankan. Aku gak tau harus melakukan apa,begitu juga untuk beberapa teman-teman ku yang lain.Namun bagi sebagian lagi, ada juga yang menganggapnya sebagai waktu istirahat setelah melalui hari-hari yang berat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kami bermasalah dengan Sang Hakim yaitu penjaga antara dunia imajinasi dan realitas. Aku belum bisa melupakan kejadian diluar imajinasi itu. Rasanya sulit untuk dipecaya tapi itu benar-benar terjadi dan kami mengalaminya sendiri.
Flashback...
Ketika itu kami baru saja keluar dari persidangan lalu mendapatkan peringatan dan Sang Hakim agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama dan lebih hati-hati lagi dalam bertindak karena segala sesuatu didunia ini memiliki aturan
“Bapa, bagaimana keadaan anak-anak” tanya ibu desa kepada suaminya yang juga baru keluar
“Kamu tanya aja sendiri sama mereka” jawab suaminya itu lalu pergi. Setelah itu bu desa pun menghampiri kami yang keluar paling akhir
“Kalian nggak apa-apa?” Tanyanya
“Nggak apa-apa kok bu” jawab Ruka lalu melanjutkan “Hanya saja Nadin” sambil melihat kearah temannya itu
“Ibu...” lirih Nadin berlari kearah ibu desa lalu memeluknya.Perempuan itu menangis lalu ibu desa pun menenangkannya dan juga mengobati rasa sakitnya karena hukuman sebelumnya.
“Nggak apa-apa, jangan sedih” kata bu desa
“Kalian nggak salah kok, hanya sedang kena musibah aja. Jadikan ini pelajaran saja untuk kalian kedepanya” ungkap beliau menasehati kami.
“Sang Hakim itu sebenarnya apa sih bu?” tanya Anwar
“A-anu, dia itu penjaga antara dunia imajinasi dan realitas” bicara Putra
“Benar, sesuai dengan namanya Hakim dimana tugasnya adalah mengadili dan memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat kejahatan atau melanggar aturan baik didunia imajinasi maupun realitas” tutur Ibu Desa lalu melanjutkan penjelasannya mengenai banyak hal tentang dunia.
...
“Jujur saja aku belum bisa melupakan kejadian itu. Cerita beliau terdengar sangat fantasi sehingga sulit dipercaya, namun jika itu benar maka beberapa kejadian selama ini jadi masuk akal” gumam ku
Beliau mengatakan kalau semua orang memiliki dunia mereka masing-masing dan itu berbeda-beda. Namun untuk kasus anak-anak, mereka punya dunia yang sama yaitu dunia imajinasi. Seiring bertambah dewasa, imajinasi akan berkurang lalu saat itu lah akan muncul dunia lain—dunia orang dewasa yang diberi nama “Dunia Realitas”. Dunia ini terbentuk dan tumbuh dari semua pengalaman hidup manusia. Dunia realitas jauh lebih kompleks dari dunia imajinasi maka dari itu lah banyak orang dewasa yang mengalami stres, terpuruk dan perasaan-perasaan buruk lainnya. Semua itu karena berbagai tekanan dari dunia realitasnya.
“Dunia realitas juga menggambarkan dirimu sendiri karena itu terbentuk dari semua pengalaman baik ataupun buruk kita dimasa lalu. Isi didalamnya juga nggak konsisten dan bisa berubah kapan saja—karena begitulah orang dewasa”
“Orang-orang biasa menyebutnya labil” ucap ku
“Semuanya jadi nyambung sekarang” batin ku sembari mengingat kejadian ketika kami diuji oleh warga desa waktu itu.
“Apa yang aku lihat waktu itu mungkin adalah dunia dari teman-teman ku” misalnya dunia Anwar dimana dia menjadi pasukan militer, lalu dunia Sulis yang dirinya menjadi relawan kesehatan, lalu dunia Ikon yang penuh banyak hal-hal beragam, dunia Eni yang hujan dan sebagainya. Aku menyaksikan semuanya waktu itu.
“Jika benar begitu maka, mereka ini bukan lah orang-orang biasa—mereka memiliki kekuatan aneh sama seperti ku” aku melihat teman-teman ku.
Waktu itu hari mulai gelap, namun Anwar, Putra, dan Ikon masih menyelesaikan mengecat rangka kayu, lalu Dani yang baru pulang dari bermain bola, Fatin yang sedang membersihkan tanganya, Dila yang sedang menggunakan laptopnya, sedangan sisanya itu menyiapkan makan malam. Aku sendiri berada di luar, berdiri sendirian
“Hhmm ariene” gumam ku baru saja menyadari sesuatu.
“Aku gak tau ini takdir atau bukan tapi aku selalu saja terjebak dengan hal-hal yang merepotkan—tapi gak apa-apa, aku akan menghadapinya lagi...seperti biasa” kata ku dalam hati lalu saat itu Zee melihat ku dan langsung memanggil
“Eii Kazen, apa yang kamu lakukan disitu?”
“Pulang, sudah mau masuk maghrib ini” Zee melambaikan tanganya
Aku sama sekali tak menjawabnya—aku berjalan menuju posko sambil bergumam “Benar-benar merepotkan” kalimat ini sering aku keluarkan setiap kali menyadari sesuatu yang menghubungkan antara masa lalu dengan masa yang sekarang.