Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Sebuah Permohonan
Cahaya lampu kristal di ruang rapat utama Menara Alkimia Nusantara tampak bergetar pelan, seolah-olah atom-atom di udara sedang berteriak ketakutan menghadapi tabrakan dua dunia yang sangat berbeda.
Di satu sisi meja mahoni, berdiri barisan wanita cantik dengan aura kecerdasan dan wangi parfum mahal yang sanggup melumpuhkan logika; di sisi lain, berdiri Sang Macan Besi yang membawa aroma mesiu dan keringat jalanan, didampingi Sonia dan marco yang bersandar pada dinding dengan gaya santai namun mematikan.
Alisa sangat mengenal orang tersebut, ayahnya dan macan saling bermusuhan walaupun mereka sama-sama sahabat dari sang Mahendra, yaaa walaupun begitu, hubungan mereka tidak saling untuk membunuh ibarat rival yang berbeda jalan fikiran.
Bara berdiri di tengah-tengah mereka, masih dengan kaos partai kuning kebanggaannya yang kini dihiasi bercak saus kacang, mencoba memperkenalkan sang tiran bawah tanah seolah-olah ia sedang mengenalkan tetangga yang hobi meminjam obeng tanpa mengembalikan.
"Teman-teman, perkenalkan, ini adalah koleksi terbaru dari museum prajurit tua kita, Sang Macan Besi, pria yang lebih sering mematahkan tulang daripada mematahkan hati sang janda-janda muda." ucap Bara dengan nada riang yang sangat tidak selaras dengan suasana mencekam di ruangan tersebut.
Di samping sang tiran, Sonia melangkah maju dengan gerakan yang luwes layaknya kucing hutan, mengenakan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuh atletisnya dengan sangat berani.
Ia tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kejahilan saat ia sengaja berjalan mendekati Bara, mencondongkan tubuhnya hingga napasnya terasa di telinga Bara, memicu ketegangan instan yang membuat Alisa dan Viona secara bersamaan mengepalkan tangan di balik meja.
Sonia memang memiliki kegilaan tersendiri dalam metodenya mencari informasi; ia adalah perpaduan antara kecerdasan tajam dan godaan yang sanggup membuat pria paling suci sekalipun bersedia membocorkan rahasia negara demi satu senyuman.
Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, ia mengelus bahu Bara sambil membisikkan beberapa detail tentang pergerakan organisasi Arya di luar negeri yang ia dapatkan lewat cara-cara yang "sedikit tidak sopan" di klub-klub malam elit internasional.
Pemandangan ini membuat Rani, sang polwan yang kini sudah memiliki "aset" menonjol berkat pijatan Bara, mendengus keras sambil membetulkan letak seragamnya yang terasa semakin sesak di bagian dada, sebuah reaksi defensif yang justru membuat Sonia tertawa kecil karena berhasil memprovokasi para wanita di ruangan itu, hingga akhirnya Alisa meledak duluan.
"Heh... Sonia, Bara itu tunangan gw, tunangan gw ngerti gak lu, hus - hus jauhin tangan doyan ngupil lu itu dari Bara."
"Hahahah...Jangan terlalu tegang, gw hanya sedang memastikan apakah pahlawan bersandal Swallow ini masih bernapas atau sudah membeku jadi patung es karena pesonaku, lagian gak apa-apa kalau Bara nambah koleksi satu lagi kan ?," goda Sonia dengan suara serak yang mematikan. Bara hanya bisa nyengir kuda, sementara Alisa menatap Sonia dengan pandangan yang seolah bisa melubangi tembok beton.
Misteri tentang bagaimana Sonia mendapatkan informasi di luar negeri mulai terkuak lewat gaya bicaranya yang penuh dengan teka-teki sensual, sebuah senjata yang sangat efektif untuk menembus benteng informasi musuh yang paling ketat sekalipun.
Suasana berubah menjadi sangat serius ketika Bara melangkah ke arah Sang Macan Besi, meletakkan tangannya di pundak pria tua yang biasanya akan langsung mematahkan jari siapa pun yang berani menyentuhnya tanpa izin. "Kek, aku punya permintaan besar. Selama aku pergi ke luar negeri, aku ingin kau menjaga Menara ini dan mereka sebagai benteng pertahanan terakhir kita," ucap Bara dengan nada yang tidak lagi mengandung komedi, melainkan sebuah tanggung jawab yang berat.
Ia menatap wanitanya bergantian, menyadari bahwa meski mereka adalah ratu bisnis yang cerdas, mereka tetap membutuhkan pelindung yang sanggup menelan peluru tanpa berkedip di saat badai serangan mulai membabi buta.
Bara menginginkan Sang Macan Besi untuk menjadi "Kepala" di atas kertas, sebuah wajah baru yang akan muncul di setiap berita utama sebagai pemimpin perusahaannya, meskipun otak operasionalnya tetap berada di tangan Alisa dan Viona yang turun jabatan satu langkah secara administratif.
Rencananya adalah menjadikan sang tiran sebagai wajah publik yang menakutkan, sehingga musuh akan berpikir seribu kali sebelum mencoba melakukan sabotase atau penculikan terhadap para wanitanya.
Namun, permintaan ini bagaikan menyuruh seekor hiu untuk belajar cara menyeduh teh, sebuah kegilaan yang membuat seluruh pengawal di ruangan itu menahan napas menanti ledakan kemarahan dari sang penguasa bawah tanah.
Sang Macan Besi terdiam lama, kepulan asap cerutunya membentuk pola-pola aneh di udara seolah sedang merajut memori pahit tentang masa lalu yang ingin ia lupakan selamanya.
"Bara, kau benar-benar gila! Ayahmu dulu tidak pernah berani bicara sekonyol ini padaku, karena dia tahu aku lebih suka membakar gedung daripada mengurus laporan laba rugi di dalamnya," geram sang tiran dengan suara yang menggetarkan meja kayu mahoni di hadapannya.
Ia menatap tangannya yang penuh bekas luka, tangan yang diciptakan untuk memegang senjata dan mengendalikan distrik-distrik gelap, bukan untuk menjabat tangan para investor berdasi yang mulutnya lebih manis daripada madu hutan.
Penolakan itu sudah bisa diduga, mengingat reputasi Sang Macan sebagai tiran yang hanya tunduk pada hukum kekerasan dan tidak pernah sudi masuk ke dalam kotak birokrasi yang membosankan.
Namun Bara tidak bergeming; ia tetap berdiri tegak dengan sandal Swallownya, memberikan tatapan yang begitu dalam seolah-olah ia sedang melihat sisa-sisa kesetiaan yang masih tersimpan di hati sang tiran untuk mendiang ayahnya.
"Aku tidak menyuruhmu menghitung uang, atau melakukan hal-hal yang rumit menggunakan otak, Kek. Aku menyuruhmu menjadi hantu yang akan mencekik siapa pun yang berani menyentuh harta peninggalan orang tuaku ini," balas Bara dengan nada yang membuat Sang Macan Besi terdiam seribu bahasa.
Bara menyadari bahwa pasukan perlindungan dari pak Surya dan tim elit kiriman Letjen (ayah Rani) saja tidak akan cukup jika musuh menggunakan cara-cara yang lebih licik dan brutal di luar nalar hukum manusia.
Organisasi itu adalah ular-ular yang sanggup menembus sistem keamanan paling ketat sekalipun dengan uang dan pengaruh, sehingga dibutuhkan kehadiran sosok yang tidak mengenal aturan moral seperti Sang Macan Besi untuk menghadapinya.
Dengan Macan di posisi pemimpin, perusahaannya akan memiliki dua wajah: wajah cantik dan pintar dari Alisa serta Viona untuk dunia bisnis, dan wajah menyeramkan dari Sang Macan Besi untuk dunia bawah tanah.
"Nambah pasukan itu bagus, tapi punya 'Monster' sebagai pemimpin adalah pilihan terbaik untuk memastikan tidak ada satu pun rambut wanitaku yang jatuh ke lantai karena ulah mereka," tegas Bara sambil melirik ke arah Rani yang kini tampak lebih percaya diri dengan postur tubuhnya yang sudah "tobrut" (tobat brutal) berkat campur tangan medisnya.
Alisa mendekat, memegang lengan Bara dengan tatapan cemas namun penuh dukungan, menyadari bahwa kekhawatiran terbesar Bara bukanlah pada keselamatannya sendiri di luar negeri, melainkan pada keselamatan orang-orang yang ia cintai yang ditinggalkan di markas besar mereka yang kini menjadi incaran.
Sonia, yang melihat keraguan di wajah Sang Macan Besi, tiba-tiba tertawa nyaring sambil berjalan memutari sang tiran dengan gaya yang sangat menggoda. "Ayolah, Macan tua, anggap saja ini adalah liburan mewah di menara kaca setelah bertahun-tahun kau mendekam di lubang gelap yang berbau oli dan darah itu," godanya sambil mengedipkan mata ke arah Bara.
Ia tahu bahwa satu-satunya cara membuat Macan setuju adalah dengan menyentuh sisi sentimentilnya yang paling dalam terkait sejarah persahabatan ayahnya Bara yang tak pernah terungkap sepenuhnya ke publik.
Sonia sendiri tampak sangat antusias dengan ide ini, karena ia bisa lebih leluasa membantu Alisa sambil sesekali menggoda Bara nanti. Hubungan Alisa dan Sonia memang tampak buruk tapi tetap saja mereka adalah teman dekat waktu kecil yang tidak bisa terbantahkan.
Akhirnya, Sang Macan Besi menghela napas panjang, mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat langka dan sedikit mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Baiklah, bocah sialan. Aku akan menjadi wajah baru di berita-berita membosankan itu, tapi jangan salahkan aku jika nanti para investor itu lari ketakutan karena aku menaruh kepala musuh di atas meja rapat mereka," ucap sang tiran yang akhirnya menerima tawaran tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir pada sahabat lamanya.
Alisa dan Viona menarik napas lega, meskipun mereka tahu bahwa mulai besok, gaya kepemimpinan di Menara Alkimia akan berubah dari manajemen korporat menjadi manajemen militeristik yang penuh dengan aroma ancaman.
Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, Bara kini merasa sedikit lebih tenang untuk melangkah, di mana ia akan mulai melakukan persiapan alkimia yang jauh lebih gila sebelum terbang menuju sarang musuh, Ia tahu bahwa perjalanannya akan penuh dengan duri, namun dengan Menara Alkimia yang kini dijaga oleh perpaduan antara kecerdasan wanita-wanitanya dan keganasan Sang Macan Besi, ia bisa fokus seratus persen untuk mencari seperti apa musuh yang mereka hadapi.