NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: RUMAH DALAM ANGKA-ANGKA

Angin musim timur membawa kabar pertama: bengkel tempatku bekerja akan ditutup. Pak Hasan, bos sekaligus keluarga, memanggilku ke ruang kerjanya yang berdebu oleh cat dan oli.

"Dua bulan lagi, Ra," katanya sambil menyerahkan amplop putih. "Ini pesangon. Bukan banyak, tapi cukup untuk beberapa bulan."

Amplop itu terasa ringan di tangan. Terlalu ringan untuk menopang keluarga berlima, dengan Maya yang butuh obat rutin, tiga anak yang tumbuh, dan atap yang masih menuntut perbaikan.

"Kenapa, Pak?"

"Anak saya di Surabaya butuh bantuan. Saya pindah kesana. Dan bengkel... semakin sepi saja. Orang sekarang lebih suka bengkel besar."

Aku mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Pekerjaan ini bukan hanya sumber uang. Ini penghubung terakhirku pada normalitas. Pada ritme bangun pagi, pergi kerja, pulang pada keluarga. Sekarang, bahkan itu diambil.

Pulang ke rumah, aku melihat keluarga kecilku dengan mata baru sebagai tanggung jawab yang harus ditanggung, bukan hanya sebagai cinta yang dinikmati. Bima sedang membantu Kinan mengerjakan PR. Aisyah merangkak di lantai, mengikuti mainan berwarna cerah. Maya duduk di sofa, memandangi tangan kosongnya seperti selalu memegang sesuatu yang hilang.

Dan di kepalaku, angka-angka mulai berhitung.

Obat Maya per bulan: 1,2 juta.

Susu Aisyah: 800 ribu.

Listrik, air, internet: 700 ribu.

Makan sehari-hari: 2,5 juta.

Sekolah Bima dan Kinan: 1 juta.

Lain-lain: 1 juta.

Total: 7,2 juta per bulan.

Pesangon dari Pak Hasan: 15 juta. Cukup untuk dua bulan. Setelah itu... kosong.

"Mengapa wajahmu seperti langit sebelum hujan?" tanya Maya tiba-tiba. Dia masih sesekali mengeluarkan metafora indah seperti itu sisa-sisa kepenulisannya dulu.

"Aku kehilangan pekerjaan, Sayang."

"Ah." Dia mengangguk, seperti memahami. Tapi kemudian bertanya: "Pekerjaan apa yang kau lakukan?"

Aku menarik napas. "Di bengkel. Memperbaiki mobil."

"Apakah kau suka pekerjaan itu?"

Pertanyaan itu mengejutkan. Selama ini, yang ditanyakan selalu "berapa gaji" atau "cukup tidak". Tidak pernah "apakah kau suka".

"Tidak terlalu. Tapi itu memberi uang."

"Uang untuk apa?"

"Untuk kita. Untuk hidup."

Maya memandang sekeliling ruangan. "Hidup kita butuh banyak uang ya?"

"Sayangnya, iya."

Dia diam, lalu berkata: "Dulu, waktu kecil, kita hidup dengan lebih sedikit. Tapi lebih bahagia."

"Aku ingat," jawabku. Tapi itu dulu. Sebelum obat-obatan. Sebelum tiga anak. Sebelum penyakit yang memakan biaya seperti monster lapar.

---

Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku membuka laptop tua. Mencari lowongan kerja di Makassar. Tapi yang muncul hanyalah syarat-syarat yang tidak kumiliki: S2, pengalaman lima tahun, usia di bawah 35 (aku sudah 33), kemampuan bahasa asing.

Satu jam kemudian, ada email masuk. Dari Rangga.

"Raka, Bayu bilang kamu kehilangan pekerjaan. Saya punya tawaran: menjadi manajer gudang di perusahaan keluarga kami di Makassar. Gaji 12 juta per bulan. Tapi harus siap kerja shift, termasuk malam."

Angka 12 juta berkilau seperti mimpi. Cukup untuk semua kebutuhan, bahkan bisa menabung. Tapi... bekerja untuk keluarga Rangga? Setelah semua yang terjadi?

"Saya tahu ini rumit. Tapi pikirkan anak-anak. Dan Maya. Mereka butuh keamanan finansial. Ini bukan bantuan. Ini pekerjaan sungguhan. Kamu akan bekerja untuk itu."

Aku menutup laptop. Tidak bisa. Tidak setelah mereka mencoba mengambil anak-anak kami. Tidak setelah mereka menyakiti Maya dengan tuntutan hukum.

Tapi kemudian, tangisan Aisyah memecah keheningan. Dia demam lagi. Dan aku tahu: besok harus ke dokter. Dan dokter butuh uang.

---

"Jangan terima," kata Bibi Sartika keesokan harinya, setelah mendengar tawarannya. "Mereka akan punya kendali atasmu."

"Tapi uang, Bibi..."

"Uang bisa dicari. Tapi kemerdekaan tidak."

Tapi kemerdekaan apa yang kami miliki ketika terancam tidak bisa bayar listrik? Kemerdekaan apa ketika obat Maya hampir habis?

Bima, yang mendengarkan diam-diam, bertanya: "Om, kalau kita miskin, apakah kita masih bisa bahagia?"

"Bisa, Bima. Tapi... lebih sulit."

"Kemarin aku lihat iklan, ada kontes matematika nasional. Hadiahnya 50 juta." Matanya berbinar. "Kalau aku menang, bisa buat biaya Mama."

"Bima..."

"Tapi aku harus ke Jakarta untuk final. Biaya transportasi 5 juta."

Lingkaran setan. Butuh uang untuk mendapat uang.

Kinan, dengan polosnya, mengeluarkan celengannya kaleng bekas biskuit berisi koin-koin receh. "Ini tabungan Adek. Untuk Mama."

Isinya mungkin tidak sampai seratus ribu. Tapi maksudnya itu membuat tenggorokanku terasa sempit.

---

Tiga hari berlalu. Tekanan semakin besar. Tagihan listrik datang. Tagihan air. Obat Maya tinggal untuk seminggu.

Lalu telepon dari Bayu: "Sudah dipikirkan?"

"Aku masih ragu."

"Raka, dengar. Ini bisnis. Bukan permainan kekuasaan. Perusahaan butuh orang jujur. Dan Rangga... dia benar-benar ingin membantu. Sebagai permintaan maaf."

"Kenapa tidak beri saja kami uang kalau memang ingin membantu?"

"Karena kamu pria bangga. Dan kami menghormati itu. Jadi kami tawarkan pekerjaan, bukan sedekah."

Dia benar. Aku tidak bisa menerima sedekah. Tapi bisakah menerima pekerjaan dari mantan suami istriku?

Malam itu, aku bertanya pada Maya. "Rangga tawarkan aku kerja di perusahaannya. Gaji besar. Tapi..."

"Kamu tidak nyaman," tebak Maya dengan jernih yang mengejutkan.

"Iya."

"Tapi anak-anak butuh makan."

"Iya."

Dia memandangiku lama. "Dulu, waktu kita kecil, kau selalu pilih jalan yang sulit. Yang benar menurut hatimu. Sekarang?"

"Sekarang pilihannya antara harga diri dan tanggung jawab."

"Dan mana yang lebih penting?"

"Tanggung jawab," jawabku tanpa ragu. "Tapi..."

"Tapi kau takut ini akan mengubah dinamika kita. Takut mereka akan punya hak atas kita karena memberi pekerjaan."

Dia masih pintar membaca situasi. Masih Maya, meski ingatannya terfragmentasi.

"Kamu benar."

Maya memegang tanganku. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tapi buat perjanjian. Tertulis. Agar mereka tidak bisa memanfaatkan."

---

Pertemuan dengan Rangga dan Bayu diadakan di kafe netral. Rangga terlihat lebih sehat dari terakhir kali wajahnya tidak lagi pucat, matanya lebih fokus.

"Terima kasih sudah datang," katanya, menjabat tanganku. Jabatan itu tegas, profesional.

"Dengar, aku akan terima tawaran ini. Tapi dengan syarat."

"Sebutkan."

"Pertama, ini murni hubungan kerja. Tidak ada campur tangan dalam keluarga kami."

"Setuju."

"Kedua, tidak ada pengurangan hak kunjungan yang sudah disepakati pengadilan."

"Justru kami ingin menambah," kata Rangga. "Tapi... dengan persetujuan anak-anak. Dan tidak memaksa."

"Ketiga, jika suatu hari aku mengundurkan diri, tidak akan ada konsekuensi pada hak kunjungan atau tunjangan anak."

Rangga mengangguk. "Masuk akal. Ada lagi?"

"Keempat... jangan pernah menyebut-nyebut ini sebagai 'bantuan' di depan anak-anak. Ini pekerjaan."

Bayu tersenyum. "Kamu keras, Raka. Tapi itu yang kami butuhkan di gudang. Orang yang tegas."

Kontrak kerja dibuat sederhana tapi jelas. Gaji 12 juta, bonus prestasi, asuransi kesehatan untuk seluruh keluarga (termasuk Maya). Dan yang paling penting: jam kerja fleksibel, jadi aku masih bisa mengantar-jemput anak-anak, masih bisa mengawasi Maya.

Tangan gemetar ketika menandatangani. Seperti menjual sebagian kemerdekaan. Tapi ketika memikirkan Bima yang bisa terus sekolah, obat Maya yang terjamin, listrik yang tidak akan diputus tanda tangan itu terasa perlu.

---

Hari pertama kerja di gudang keluarga Rangga aneh rasanya. Karyawan lain memandangiku dengan penasaran mereka tahu siapa aku. Suami baru dari mantan istri bos. Tapi tidak ada yang berkomentar. Profesional.

Gudangnya besar, teratur. Tugasku sederhana: memastikan stok masuk dan keluar tercatat rapi, mengawasi pengiriman, mengelola inventaris. Pekerjaan yang cocok untuk latar belakang akuntansiku.

Bayu yang menjadi atasan langsungku. Dan dia, seperti janjinya, bersikap profesional. Tidak ada pembicaraan tentang keluarga. Hanya angka, laporan, deadline.

Pulang pertama kali dengan gaji pertama di tangan (uang muka), aku belikan Kinan boneka baru yang dia idamkan, buku sains untuk Bima, baju baru untuk Aisyah, dan kain bagus untuk Maya.

Maya menyentuh kain itu. "Ini... mirip dengan yang ibuku pakai di pernikahannya."

"Kamu ingat?"

"Tidak. Tapi... terasa familiar."

Bima melihat bukunya, lalu menatapku. "Om terima kerja dari Papa?"

"Iya. Tapi ini kerja, Bima. Bukan bantuan."

"Apa Om tidak marah lagi pada Papa?"

"Aku masih marah pada apa yang dia lakukan dulu. Tapi... orang bisa berubah. Dan kita butuh uang."

Bima mengangguk, dewasa sebelum waktunya. "Aku akan menang kontes matematika itu. Biar Om nggak harus kerja di sana kalau nggak mau."

"Kamu tidak perlu"

"Tapi aku mau." Matanya bersinar dengan tekad. "Aku mau bantu. Seperti Om selalu bantu kita."

---

Bulan pertama berlalu. Pola baru terbentuk: pagi antar anak sekolah, kerja di gudang, pulang sore, urus keluarga. Rutinitas yang melelahkan tapi teratur.

Dan perlahan, sesuatu yang tidak terduga terjadi: aku mulai menghargai pekerjaan ini. Sistem yang rapi. Tanggung jawab yang jelas. Bahkan... menghargai profesionalisme Bayu dan Rangga.

Suatu hari, Rangga mengunjungi gudang untuk inspeksi rutin. Dia melihatku, menganggak.

"Penyesuaian sudah baik," katanya, melihat laporan yang kubuat. "Lebih rapi dari sebelumnya."

"Terima kasih."

"Dengar, Raka... tentang Maya. Bagaimana keadaannya?"

"Seperti biasa. Kadang ingat, sering lupa."

"Obat-obatan... cukup?"

"Cukup. Berkat asuransi dari sini."

Rangga mengangguk, wajahnya sedih. "Aku menyesali banyak hal. Tapi yang paling kusesali... tidak ada untuknya ketika dia mulai sakit."

"Itu masa lalu."

"Tapi masa lalu menentukan siapa kita sekarang." Dia menatapku. "Kau lebih baik untuknya dari aku. Dan untuk anak-anak. Itu yang akhirnya kubuat damai."

Percakapan itu singkat. Tapi ada sesuatu yang terlepaskan di udara. Bukan persahabatan. Tapi saling menghormati. Pengakuan bahwa kami berdua, dengan cara berbeda, mencintai orang yang sama.

---

Kontes matematika nasional tiba. Bima harus ke Jakarta untuk babak final. Biayanya termasuk pendamping 5 juta. Uang yang besar.

Aku bicara pada Rangga. "Bisa aku minta uang muka gaji?"

"Untuk apa?"

"Bima ikut kontes. Hadiahnya besar. Tapi butuh biaya ke Jakarta."

Rangga tersenyum. "Itu anakku. Biaya ditanggung perusahaan. Sebagai investasi pada bakat."

"Tidak, ini harus"

"Ini bisnis, Raka. Jika Bima menang, nama perusahaan ikut terkenal. Jadi anggap saja sponsor."

Aku hampir menolak. Tapi melihat semangat Bima... akhirnya menerima.

Di Jakarta, Bima tampil luar biasa. Dia tidak menang juara pertama (itu diraih anak dari sekolah khusus matematika), tapi dapat juara ketiga. Hadiahnya masih besar: 20 juta.

Di panggung, ketika namanya dipanggil, Bima melihatku. Dan di mata sembilan tahun itu, ada kebanggaan yang membuat air mataku hampir tumpah.

"Untuk Mama," bisiknya ketika turun panggung, memegang piala. "Dan untuk keluarga kita."

---

Pulang ke Makassar dengan uang hadiah dan gaji yang mulai stabil, untuk pertama kalinya sejak lama, kami tidak khawatir tentang akhir bulan.

Malam itu, kami makan malam spesial. Maya, yang sedang dalam kondisi cukup jernih, berkata: "Rumah kita... terasa berbeda."

"Bagaimana, Sayang?"

"Dulu... terasa seperti kapal di tengah badai. Sekarang... seperti kapal yang sudah menemukan pelabuhan."

Aku memandangi keluarga di sekeliling meja: Bima dengan pialanya yang dia tempatkan di tengah meja seperti pusaka, Kinan yang tersenyum puas dengan nasi goreng spesial, Aisyah yang asyik dengan sendoknya, Maya yang sesekali tersenyum padaku.

Dan aku sadar: rumah memang bukan hanya tentang dinding dan atap. Bukan hanya tentang uang dan tagihan. Rumah adalah tentang orang-orang di dalamnya yang memilih untuk tetap bersama, meski badai datang, meski peta hilang, meski ingatan memudar.

Kami mungkin bekerja dengan angka-angka sekarang gaji, hadiah, biaya, obat. Tapi di balik semua angka itu, ada sesuatu yang tidak terukur: cinta yang bertahan. Keluarga yang bertahan. Kisah yang terus ditulis, meski dengan pena yang kadang patah, di atas kertas yang kadang sobek.

Dan malam ini, dengan lampu yang tidak akan padam karena tagihan terbayar, dengan obat Maya yang tersedia untuk bulan depan, dengan senyum anak-anak yang lega...

Angka-angka itu akhirnya berhitung dengan benar.

Karena mereka semua bermuara pada satu jumlah akhir: kami, bersama.

Selamat.

Utuh.

Cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!