Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Jerat Manis Sang Calon Suami"
"Iya, Sayang," jawab Galang dengan suara rendah yang terdengar begitu patuh sekaligus protektif.
Mendengar kata "Sayang" keluar dari mulut Galang, Mira tersentak seolah tersambar petir. Jantungnya mencelos, wajahnya yang tadi pura-pura sedih kini berubah menjadi pucat pasi karena terkejut. Selama ini Galang selalu bersikap kaku dan formal, tapi sekarang pria itu memanggil Fiora dengan sebutan yang begitu intim di depannya. Mira mengepalkan tangannya di balik tas, ia ingin sekali Galang menjadi miliknya, namun kenyataan di depan matanya berkata lain.
"Ayo Sayangg, cepat! Nanti Papa sama Mama kelamaan nunggu!" seru Fiora dengan nada manja.
"Cerewet banget kamu ini," balas Galang pendek sambil tersenyum.
Galang pun menggendong Fiora ke mobilnya. Fiora melirik ke arah Mira dan menjulurkan lidahnya. Mobil Galang melesat pergi meninggalkan lokasi, menyisakan kepulan asap dan Mira yang hanya bisa menatap nanar dengan rasa cemburu yang membakar. Pada siang hari ini, Fiora berhasil membuktikan bahwa ia tetaplah memiliki perhatian Galang.
Setelah menempuh perjalanan yang penuh drama, mobil Galang akhirnya memasuki halaman luas kediaman keluarga Dirgantara. Di ruang tamu yang mewah, suasana tampak sangat formal namun hangat. Sudah berkumpul formasi lengkap: Mama Lian dan Papa Baskoro (orang tua Fiora), serta Om Dirga dan Tante Maya (orang tua Galang).
Begitu melihat Fiora masuk dengan langkah anggun—dan tidak lagi tampak seperti orang linglung—Mama Lian dan Papa Baskoro saling menyenggol lengan satu sama lain. Mereka berdua adalah "sutradara di balik layar" yang membantu Fiora melancarkan skenario amnesia palsu itu agar Fiora bisa punya alasan untuk terus menempel pada Galang.
Fiora melangkah maju dengan senyum manis yang sedikit dipaksakan karena ia tahu "sidang keluarga" akan segera dimulai. Ia menyalami kedua orang tuanya dan calon mertuanya dengan sopan, diikuti oleh Galang di belakangnya yang bersikap sangat tenang.
"Siang, Pa... Ma... Om, Tante," sapa Fiora halus.
Mama Lian menatap putrinya dengan tatapan penuh arti, seolah bertanya melalui mata, "Gimana rencana kita? Berhasil bikin Galang takluk, kan?" Sementara itu, Papa Baskoro berdehem, berusaha menahan tawa melihat wajah putrinya yang tampak sedikit salah tingkah.
Om Dirga, ayah Galang, langsung membuka pembicaraan. "Duduk dulu semuanya. Tadi malam Galang bilang ke Om kalau ingatan Fiora sudah pulih total. Benar begitu, Fio?"
Fiora menelan ludah, ia melirik Galang yang duduk di sampingnya dengan ekspresi yang sangat santai, seolah pria itu sedang menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut "Ratu Drama"-nya. Pada siang hari ini, Fiora menyadari bahwa ia tidak hanya dikepung oleh Galang, tapi juga oleh orang tuanya sendiri yang kini siap menagih hasil dari drama panjang ini.
"I-iya, Om... syukurlah ingatan Fio udah pulih total," jawab Fiora agak tersendat, berusaha tetap dalam peran gadis baik-baik yang baru sembuh.
"Syukurlah kalau begitu! Berarti kita bisa segera mempersiapkan pernikahan kalian secepatnya!" sahut Om Dirga dengan antusias.
Uhuk! Uhuk! Fiora tersedak ludahnya sendiri, batuk-batuk hebat mendengar kecepatan rencana tersebut.
"Pernikahan?!" pekik Fiora kaget, menatap semua mata yang kini tertuju padanya.
"Iya sayang, bukankah ini yang kamu mau dari dulu?" kata Galang dengan senyum tipis yang penuh arti, sambil mengelus punggung Fiora dengan lembut—sebuah sentuhan yang membuat Fiora merinding.
"Emm, iya sih... tapi kenapa secepat ini?" jawab Fiora terbata-bata.
Dalam hati, Fiora membatin, 'Ya ampun, gue baru aja tadi pagi di "gituin" sama dia, sekarang langsung mau dinikahin cepat-cepat. Apa jangan-jangan ada udang di balik batu nih? Kok gue ngerasa aneh banget sih! Haisss, rencana gue makin mbulet nggak karuan!'
Mama Lian dan Tante Maya hanya saling pandang sambil tersenyum geli melihat kepanikan Fiora yang lucu di hadapan semua orang. Pada siang hari ini, tampaknya Fiora harus bersiap untuk babak baru yang jauh lebih nyata dari sekadar drama amnesia.
"Sudah, ayo makan dulu," potong Papa Baskoro mencairkan ketegangan. Mereka pun menikmati makan siang bersama yang penuh dengan obrolan rencana masa depan.
Setelah selesai, Mama Lian dan Papa Baskoro pamit untuk urusan bisnis, begitu juga Om Dirga dan Tante Maya yang sengaja memberikan ruang bagi calon pengantin ini.
"Aku akan ke butikku," ucap Fiora sambil merapikan tasnya.
"Aku ikut bersamamu. Aku ingin melihat bagaimana calon istriku ini mengelola bisnisnya," jawab Galang dengan nada yang terdengar sangat mendukung—namun tetap terasa posesif di telinga Fiora.
"Ya sudah, ayo!" Fiora menggandeng tangan Galang dengan bangga saat mereka memasuki area butik mewah miliknya.
Vanya dan Jojo yang sedang asyik mengecek stok baju langsung melongo melihat pemandangan di depan mata mereka.
"Wihhhh! Fio! Udah sembuh lo? Cepet banget!" seru Jojo dengan mulut tanpa saringan.
"Diem lo, peak!" sentak Fiora sambil melotot, memberikan kode agar Jojo tidak membongkar rahasianya di depan Galang yang sedang menyeringai.
"Iya, iya... ampun Nyai," balas Jojo sambil terkekeh, sementara Vanya hanya tersenyum penuh arti melihat tangan Fiora yang tidak lepas dari lengan Galang.
Pada sore hari ini, butik Fiora mendadak terasa lebih hangat. Fiora merasa bangga bisa menunjukkan kemandiriannya di depan Galang, meski dalam hatinya ia masih bertanya-tanya kejutan apalagi yang akan diberikan pria itu kepadanya setelah ini.
"Mbak-mbak semua, dengerin ya! Besok jam 8 pagi teng sudah harus kumpul di sini. Kita berangkat ke Taman Safari!" seru Fiora dengan nada riang namun tegas kepada seluruh karyawannya.
"Oke, Cece! Siap!" jawab mereka serempak, tampak antusias dengan rencana liburan mendadak itu.
Fiora menoleh ke arah sahabat-sahabatnya. "Ya udah ya, gue balik dulu."
"Lho, cepet amat? Baru juga sampai," tanya Vanya sambil mengangkat sebelah alisnya, heran melihat Fiora yang biasanya betah berlama-lama di butik untuk sekadar bergosip.
Fiora melirik Galang yang berdiri tegap di sampingnya, lalu kembali menatap Vanya. "Galang ada rapat hari ini katanya, jadi gue harus nemenin," jawab Fiora singkat, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Oalah, nempel terus kayak perangko ya sekarang," celetuk Jojo sambil tertawa kecil, yang langsung dibalas pelototan tajam oleh Fiora.
Galang hanya tersenyum tipis, menggenggam tangan Fiora dengan erat. "Mari, semuanya. Kami permisi dulu," ucap Galang dengan sopan namun penuh wibawa.
Fiora melangkah keluar dari butiknya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Berjalan bersisian dengan pria yang selama ini ia kejar terasa seperti awal dari babak baru yang semakin tidak terduga.