Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.
"Lepas...!" Naraya meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Farid, pria yang masih berstatus sebagai suaminya.
Namun, Farid tidak menggubrisnya. Dia justru semakin mencengkeram erat pergelangan tangan Naraya, menariknya menjauh dari keramaian.
"Lepasin, nggak!" Naraya mulai merasa sakit pada pergelangan tangannya.
"Berisik...! Bisa diam nggak, sih?" sentaknya, sambil terus menarik tangan Naraya.
Abiyan, yang menyaksikan kejadian itu, segera berlari mengejar mereka. Tidak peduli lagi dengan jadwal kerjanya yang seharusnya sudah dimulai. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Naraya dari pria itu.
Setelah berada cukup jauh dari kafe, Farid akhirnya melepaskan cengkeramannya. Dia berkacak pinggang, menatap Naraya dengan sorot mata tajam penuh amarah. "Katakan padaku, siapa pemuda itu?" tanyanya tanpa basa basi.
Beberapa hari lalu Farid sempat melihat Naraya berjalan dengan seorang pria. Hal itu membuatnya merasa penasaran sehingga dia nekad menemui istrinya itu.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Naraya ketus. Ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Farid.
"Raya, aku ini masih suamimu! Aku berhak tahu dengan siapa saja kamu dekat," ucap Farid geram, merasa harga dirinya terinjak-injak.
"Suami?" Naraya tertawa sinis sambil menatap Farid. "Kalau kamu merasa suamiku, tentu kamu nggak akan meninggalkan aku sendirian dalam keadaan apapun," balas Naraya sengit.
Tidak ada rasa takut sedikit pun pada Farid. Baginya, ini saat yang tepat untuk melampiaskan semua kekesalan yang selama ini ia pendam. Ingin sekali rasanya membalas perlakuan suaminya yang tak bertanggungjawab itu. Yang dengan tega melimpahkan semua kesialan padanya atas apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Mari kita bercerai," kata Naraya, suaranya datar, hatinya begitu sakit.
Farid terdiam. Apa yang dikatakan Naraya memang benar. Namun, egonya sebagai lelaki sangat tinggi. Dia tidak mau Naraya yang meminta cerai. Harus dirinya yang seolah membuang wanita tersebut.
"Baik... mari kita bercerai," sahutnya. "Lagipula aku sudah menemukan wanita yang jauh lebih segalanya darimu." Dia menatap Naraya seolah meremehkan.
"Aku tidak butuh wanita miskin dan tidak berguna sepertimu yang hanya menjadi benalu," lanjutnya, berusaha mengintimidasi.
"Satu lagi... jangan meminta harta gono gini dariku, karena aku tidak akan memberikannya," ucapnya tanpa perasaan.
Naraya tertawa sumbang. "Aku bahkan nggak butuh apapun darimu, karena aku bisa menghidupi diriku sendiri!" jawabnya ketus.
Ia lalu menyetop angkot dan naik ke dalamnya, meninggalkan Farid yang mengacak rambutnya kasar. Dia pun lantas pergi dari tempat itu menuju mobilnya.
"Si*l...! Aku pikir bisa mengendalikan wanita itu. Tunggu...!" Farid mengernyit tajam mengingat sesuatu. "Tadi perut Raya tampak membuncit, apa dia sedang hamil?" pikirnya sambil mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya.
"Apa bayi dalam kandungannya itu anakku? Atau anak selingkuhannya?" Farid menggeleng.
"Aah... aku tidak peduli. Aku tetap tidak akan memberikan nafkah setelah bercerai dengannya. Bukankah dia bilang bisa menghidupi dirinya sendiri?" Dia tersenyum sinis. "Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu bertanggung jawab padanya."
Sementara itu, Abiyan segera bergegas kembali ke kafe, setelah memastikan Naraya baik-baik saja, tidak terjadi sesuatu padanya.
"Darimana kamu, Abiyan?" Tyo menyambutnya dengan tatapan dingin.
"Bukan urusanmu," jawab Abiyan. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Pak Joni.
Tyo menatapnya dengan pandangan iri yang tak bisa disembunyikan. Dia mengepalkan tangan kanannya dan meninju telapak tangan kirinya, meluapkan emosi yang meledak di dadanya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk...!" Terdengar suara Pak Joni mempersilakan masuk dari dalam.
Abiyan segera masuk, membungkukkan sedikit badannya lalu berdiri di depan Pak Joni, menyatukan kedua tangannya di depan.
"Maafkan saya sedikit terlambat, Pak," ucap Abiyan. Kepalanya tertunduk dalam.
"Alasannya?" tanya Pak Joni singkat, sembari menatap Abiyan dengan tatapan menyelidik.
"Tadi...Naraya dalam masalah. Jadi saya memastikan dia baik-baik saja." Abiyan mengangkat kepalanya, menatap Pak Joni dengan jujur. "Saya tahu ini tidak profesional, Pak. Saya siap menerima konsekuensinya."
Pak Joni terdiam sambil menatap Abiyan dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Abiyan, saya tahu kamu karyawan yang bertanggung jawab dan selalu memberikan yang terbaik untuk kafe ini..." ucapnya dengan serius.
"Tapi, kamu juga harus ingat, profesionalitas itu penting. Kita semua punya masalah pribadi, tapi kita tidak bisa membiarkan masalah itu mengganggu pekerjaan kita," lanjutnya, membuat Abiyan semakin gugup dan merasa bersalah.
"Saya mengerti, Pak," jawab Abiyan lirih.
"Saya tidak akan memberikan kamu sanksi kali ini. Tapi, saya harap kamu tidak akan mengulanginya lagi. Lain kali, usahakan untuk memberitahu saya atau Tyo jika kamu berhalangan hadir atau terlambat. Jangan menghilang begitu saja tanpa kabar." Pak Joni mengingatkan.
Abiyan mengangguk cepat. "Baik, Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya menyesal.
"Sekarang, segera mulai pekerjaanmu. Saya tidak mau pelanggan komplain hanya karena keterlambatan kamu," perintah Pak Joni.
"Baik, Pak. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Abiyan, membungkuk hormat, lalu berbalik keluar dari ruangan Pak Joni.
Setelah Abiyan keluar, Pak Joni menggelengkan kepalanya pelan. Abiyan adalah pemuda yang baik dan jujur. Dia bisa merasakan bahwa mungkin Abiyan memiliki perasaan khusus terhadap Naraya.
Selesai dari ruangan Pak Joni, Abiyan menghela napas lega, lalu kembali ke area barista. Tyo langsung menghampirinya dengan tatapan menyelidik.
"Habis ngapain loe di ruangan Pak Joni? Nggak mungkin kan, cuma minta maaf karena telat?" tanya Tyo dengan nada sinis.
Abiyan berusaha tenang. "Bukan urusan, loe," jawabnya singkat. Dia jengah dengan sikap Tyo yang seolah ingin tahu semua urusannya.
Tyo mendengus kesal. "Sok misterius sih, loe! Belagu banget, mentang-mentang disayang Pak Joni!" gumamnya, tetapi masih bisa didengar oleh Abiyan.
Namun, Abiyan mengabaikannya dan lebih memilih fokus pada pekerjaannya, melayani pelanggan dengan baik.
.
Naraya tiba di kontrakannya. Ia menghela napas sejenak, mencoba menenangkan diri, lalu mengambil air dan meminumnya perlahan.
"Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan baru dan pindah dari sini," gumamnya dalam hati.
Pertemuannya dengan Farid, suaminya, membuatnya merasa tidak aman. "Tapi aku harus cari kerja di mana lagi? Dan pindah ke mana?"
"Lagi pula, apa ada yang mau menerima karyawan yang sedang hamil sepertiku ini?" pikirnya, merasa putus asa.
Tiba-tiba, perutnya berdenyut nyeri. Ia langsung memegangnya dan merasakan perutnya sedikit mengeras.
"Ada apa, Nak? Tolong, jangan menyulitkan ibu, ya," bisiknya pelan. Airmatanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Ya Tuhan, kuatkan hamba dalam menghadapi cobaan-Mu ini," ratap Naraya lirih sambil mengusap lembut perutnya yang berdenyut.
.
.
.
Keesokan harinya, Naraya bekerja seperti biasa, meski pikirannya masih kalut dengan segala permasalahan yang membelit hidupnya.
"Terima kasih, silakan datang kembali," ucapnya tersenyum ramah kepada para pelanggan.
Tiba-tiba, bel pintu kafe berdering, menandakan ada pelanggan baru yang datang. Naraya mengangkat wajahnya. Seorang wanita anggun berdiri di ambang pintu, dengan senyum lembut yang... sangat familiar. Wajahnya, tatapannya, bahkan caranya tersenyum.
Naraya terpaku di tempatnya, tak mampu berkata apa-apa. Kedatangan wanita itu seolah menghipnotis dirinya. Dadanya berdebar kencang, perasaannya bercampur aduk. Siapakah dia?
.
.
.
Maaf, ya. Gaes 🙏
Kemarin moms gak up, karena anuuu... Semoga kalian masih tetap setia menanti kelanjutannya... Please jangan kabur.
Dukungan kalian sangat berarti buat moms. 🫶🫰
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....