Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab *35
"Pergi! Aku sudah tidak ingin melihat wajah mu lagi."
"Ain. Tidak. Jangan usir aku." Rain berucap disertai tangisan. Tangannya kini sedang memeluk erat betis Aina. "Jangan usir aku. Ku mohon. Jangan tinggalkan aku."
Aina yang sudah tidak ingin diganggu langsung mengutak-atik ponsel untuk menghubungi penjaga. Saat itulah, si kakak yang sedang keluar pun akhirnya kembali.
"Ain. Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?"
"Kak Avin."
"Ada apa ini? Kalian! Kenapa mengganggu adikku lagi ha? Apa yang kamu mau sekarang?" Kesal Avin sambil mencengkram kerah baju Rain.
"Kakak. Aku hanya ingin ada di sisi adikmu saja. Aku tidak pernah berniat mengganggu dia sedikitpun. Ku mohon, berikan aku kesempatan." Rain berucap dengan nada penuh harap.
"Gila kamu ya? Jangan panggil aku kakak. Aku bukan kakak mu."
"Pergi!" Avin mendorong Rain agar bisa menjauh dari adiknya. "Jangan pernah dekati adikku lagi. Jika tidak, aku pasti akan buat kamu menyesal."
Rain tidak gentar sedikitpun. Dia kembali mendekat, tapi Avin malah langsung mendorongnya hingga pria itu terjatuh ke lantai.
"Tuan muda." Dion cemas bukan kepalang.
Saat Dion ingin bicara, Rain langsung menahannya. Dengan wajah yang tidak menyimpan rasa kesal sedikitpun akan perlakuan Avin padanya barusan, Rain berusaha untuk bangun.
Saat itulah, sakit maag yang dia derita sebelumnya terasa semakin kuat menggerogoti perutnya. Sakitnya seperti sudah menusuk tulang belakangnya pula sekarang.
Susah payah Rain bangun dari jatuhnya. Meski Dion membantu, tapi tetap saja, rasa sakit membuatnya sangat susah untuk berdiri.
"Tuan muda."
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas." Rain mengalihkan pandangannya ke arah Aina. "Ain. Sungguh, aku sangat ingin ada di dekatmu. Meskipun kamu tidak pernah mau memaafkan aku, tapi izinkan aku tetap bisa dekat dengan mu. Aku rela melakukan apapun yang kamu inginkan. Sekalipun kau ingin aku jadi pelayan mu, aku mau."
Belum sempat Aina menjawab, Rain yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit, langsung terjatuh ke lantai. "Tuan muda." Panik Dion semakin menjadi-jadi.
"Nona. Kasihanilah tuan muda saya. Dia sudah menunggu anda sangat lama. Tolong, jangan siksa dia lagi, Nona."
"Di-- Dion."
Perlahan, kesadaran Rain menghilang. Tangannya yang ingin menyentuh Aina langsung terjatuh ke bawah. Kepanikan Dion pun semakin besar. Dengan cepat, Dion menghubungi Rika agar bisa naik ke atas untuk memeriksa kondisi tuan muda mereka.
"Nona. Berikan tuan muda saya sedikit saja kesempatan. Saat ini, tuan muda sedang sakit. Kondisinya tidak pernah membaik sejak lima tahun yang lalu. Tuan muda kami-- "
Ucapan Dion tiba-tiba terputus karena kedatangan Rika. "Tuan muda. Mas Dion. Apa yang sedang terjadi?"
Seketika, langkah Rika tiba-tiba melambat ketika ia melihat wajah yang sangat tidak asing dalam ingatannya. Dia menatap Ain dengan tatapan lekat.
"Aina." Rika berucap lirih.
"Dokter Rika, tolong periksa kondisi tuan muda sekarang. Tuan muda pingsan."
"Ah, baik."
"Nona. Apakah kamu sama sekali tidak akan membiarkan tuan muda masuk? Nona, berikan sedikit saja rasa kemanusiaan untuk kami. Saya mohon," ucap Dion dengan penuh harap.
"Kamu jangan-- "
"Kak. Jangan dilanjutkan."
"Baiklah. Bawa dia masuk ke dalam."
"Aina."
"Kak. Aku tidak ingin jadi manusia yang kejam. Dia bisa masuk agar dokter bisa memeriksanya dengan baik."
"Heh ... baiklah jika itu yang kamu katakan. Apapun yang kamu pikirkan, kakak tahu itu adalah keputusan yang paling baik. Karena kakak yakin, kamu tahu apa yang terbaik buat kamu, Ain."
Aina tersenyum manis. "Terima kasih banyak, kak."
"Bawalah dia masuk ke dalam."
"Baik, nona. Terima kasih banyak."
Merekapun memindahkan Rain ke kamar Avin. Mana mungkin Avin rela pria itu ditempatkan di kamar adiknya. Kesal hatinya masih ada. Meskipun pria itu terlihat tidak menyebalkan. Tapi, rasa marahnya tidak pernah menghilang. Karena dia tahu, adiknya hampir saja tiada gara-gara ulah pria itu.
....
Selesai Rain diperiksa oleh Rika, dokter muda itu langsung keluar. Niatnya, dia akan bertemu dengan Ain untuk bicara beberapa patah kata.
Ketika dia keluar dari kamar tersebut, dia langsung menemukan Ain yang duduk di sofa ruangan tengah apartemen mewah milik wanita itu.
Perlahan, Rika mendekat. Lalu, bibirnya dia paksa untuk berucap meski terasa agak kaku.
"Ai-- Aina."
Sontak, Ain menoleh. Dia langsung bangun dari duduknya. "Rika. Apa kabar?"
"Aina. Jadi, ini beneran kamu?"
Ain langsung mengangkat kedua bahunya.
"Iya, seperti kamu kamu lihat. Ini aku, Rika."
Senyum canggung Rika langsung terlihat.
"Ya Tuhan. Lebih dari lima tahun aku tidak pernah melihat dirimu. Setelah melihat, kamu malah berubah terlalu banyak."
"Apa yang berubah, Rika? Aku, biasa saja."
"Ah, sampai lupa. Ayo duduk! Tunggu, mau aku buatkan minuman apa?"
"Tidak perlu, Ain. Kamu tidak perlu repot-repot. Di sini sudah ada air putih. Aku minum yang ini saja."
"Mama." Suara Rafka malah langsung mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Iya, sayang?"
"Papa nanya, mau makan apa nanti? Masak sendiri, atau di belikan saja?"
Suara anak yang terdengar dari dalam ponsel langsung membuat Rika terpaku. Ternyata, sebelum dia menyapa Ain, wanita sudah sedang melakukan panggilan dengan anaknya.
"Papa mana?" Tanya Ain pada anaknya.
"Ada di samping Rafka sekarang, Ma."
"Ah, kalau begitu, katakan sama papa, beli makanan saja. Mama tidak mood buat masak."
"Baiklah, Ain." Marvin langsung menjawab. "Kami akan segera kembali. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan sampai ada masalah sedikitpun dengan kamu. Jika tidak, kedepannya, kakak gak akan biarkan kamu sendiri lagi. Kakak gak akan dengarkan apa yang kamu katakan lagi."
"Ya ampun, kak. Iya. Jangan rewel. Aku akan baik-baik saja. Ya sudah, kamu jalan-jalan dulu sama Rafka. Aku tutup panggilannya sekarang."
"Hm. Ingat! Jangan lupa usir mereka jika pria itu sudah sadar. Jangan biarkan aku yang melakukannya."
"Kak Avin. Hm .... "