Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Fatamorgana di Gurun Emas
Jika Laut Aer'thos adalah mimpi buruk yang basah dan dingin, maka Gurun Emas adalah neraka yang kering dan memanggang.
Valerius merasa darah naganya mendidih di bawah kulit. Matahari di sini tidak sopan; ia menggantung tepat di atas kepala seperti mata raksasa yang mencoba melelehkan siapa pun yang berani melintas. Zirah hitam Valerius menyerap panas dengan efisiensi yang menyiksa, memaksanya untuk melepaskan sebagian besar pelindung tubuhnya dan hanya mengenakan tunik linen tipis yang basah oleh keringat.
"Siapa pun yang menamai tempat ini 'Gurun Emas' adalah pembohong," gerutu Valerius, menyeka keringat yang menetes ke matanya. "Seharusnya ini dinamai 'Oven Raksasa'."
Aethela, yang berjalan di samping kudanya (kuda-kuda itu terlalu lelah untuk ditunggangi di pasir lunak), tampak sedikit lebih baik. Jubah putih yang ia kenakan memantulkan sinar matahari, dan sihir bulannya memberikan aura pendingin alami di sekelilingnya.
"Berhenti mengeluh, Naga Api," goda Aethela, menyodorkan kantong air kulit. "Kupikir kau suka panas?"
"Aku suka api, Aethel. Api itu murni. Api itu terkendali," Valerius menerima air itu dan meneguknya rakus. "Panas ini... ini menindas. Dan pasir ini... masuk ke tempat-tempat yang tidak seharusnya."
Sudah dua hari mereka berjalan mengikuti peta bintang, namun pemandangan di depan mereka tidak pernah berubah. Bukit pasir demi bukit pasir. Jejak kaki mereka di belakang langsung terhapus oleh angin, menghilangkan rasa kemajuan.
Tiba-tiba, Valerius melihat sesuatu di cakrawala. Sebuah kota dengan menara-menara emas yang berkilauan dan pepohonan hijau yang rimbun. Air terjun tampak mengalir dari dinding kota itu.
"Lihat!" Valerius menunjuk. "Markas mereka! Kita sampai!"
Valerius mempercepat langkahnya, menarik kekang kudanya. Harapan membuncah di dadanya. Air dingin. Tempat berteduh. Sekutu.
Namun, saat ia berlari mendekat, kota itu bergetar seperti gelombang panas.
"Valerius, tunggu!" teriak Aethela.
Terlambat. Valerius menerjang masuk ke "gerbang kota", hanya untuk mendapati dirinya menabrak gundukan pasir panas. Kota itu lenyap. Menara emas, air terjun, pepohonan... semuanya hilang, menyisakan hamparan gurun kosong yang menyengat.
Ia jatuh berlutut, memukul pasir dengan tinjunya. "Sialan! Ilusi lagi!" Ini adalah kali kesepuluh hari ini. Pikirannya mulai retak. Rasa haus dan panas membuatnya kehilangan kemampuan membedakan realitas.
Aethela menyusul Valerius, berlutut di sampingnya dan meletakkan tangan dinginnya di tengkuk suaminya yang terbakar matahari.
"Fatamorgana," kata Aethela lembut. "Nomad Gurun adalah pengendali cahaya dan ilusi. Mereka menggunakan keinginan terbesarmu untuk menjebakmu. Kau ingin air dan tempat berteduh, jadi itulah yang kau lihat."
"Bagaimana kita bisa menemukan mereka jika mereka tidak ada di mana-mana?" tanya Valerius dengan suara parau, matanya yang emas tampak merah karena iritasi debu.
"Kita tidak mencari dengan mata," Aethela berdiri, menutup matanya.
Di tengah terik matahari yang menyilaukan ini, ia mencari kebalikannya. Ia mencari bayangan.
Di gurun ini, matahari berada di mana-mana. Namun, benda fisik yang nyata pasti memiliki bayangan yang konsisten. Ilusi tidak memilikinya.
Aethela membuka matanya. Ia memindai cakrawala. Semua bukit pasir tampak sama, kecuali satu gundukan di kejauhan yang bayangannya jatuh sedikit berbeda—terlalu tajam, terlalu gelap.
"Di sana," tunjuk Aethela. "Itu bukan bukit pasir. Itu kamuflase."
"Kau yakin?" Valerius berdiri, memicingkan mata.
"Percaya padaku," kata Aethela. Ia mengangkat tangannya, memanggil First Flame. Tapi kali ini, ia tidak menggunakannya sebagai api, melainkan sebagai suar cahaya murni.
Sebuah pilar cahaya perak menembak ke langit dari tangan Aethela, membelah fatamorgana yang menyelimuti area itu.
Seketika, ilusi di depan mereka pecah seperti kaca.
Bukit pasir itu lenyap, digantikan oleh ribuan tenda berwarna-warni yang tersembunyi di dalam lembah cekungan. Orang-orang bersenjata pedang lengkung (scimitar) dan mengenakan jubah yang menyatu dengan warna pasir sudah berdiri dalam formasi tempur, mengarahkan panah ke arah mereka.
Mereka telah berjalan tepat ke tengah-tengah kamp Nomad.
Keterkejutan di wajah para prajurit Nomad itu memuaskan ego Valerius yang terluka. Mereka pikir sihir ilusi mereka sempurna, sampai seorang Ratu dari Utara memecahkannya.
Seorang pria dengan sorban biru indigo dan wajah yang tertutup kain, kecuali matanya yang bercelak hitam, maju ke depan. Dia menunggangi seekor kadal gurun raksasa (Sand Drake) yang tidak bersayap namun berkaki enam.
"Kalian memiliki mata yang tajam untuk orang asing," kata pria itu. Suaranya halus seperti pasir yang mengalir, namun memiliki ketajaman badai. "Aku adalah Qadir, Penjaga Fatamorgana. Mengapa kalian mengganggu kesunyian kami?"
"Kami datang untuk menawarkan badai," jawab Valerius, suaranya kembali menemukan kekuatannya. "Aku Valerius Nightshade, Raja Obsidiana. Dan ini Aethela, Ratuku. Kami tahu Solaria telah membendung Sungai Kehidupan di utara gurun ini."
Qadir terdiam. Isu air adalah topik sensitif.
"Solaria mengklaim air itu milik mereka," kata Qadir pahit. "Oasis kami mengering. Ternak kami mati. Tapi melawan mereka? Pasukan Matahari memiliki Sun Mirrors yang membakar siapa pun yang mendekati bendungan."
"Kami memiliki sesuatu yang lebih panas dari cermin mereka," kata Valerius. Ia melangkah maju, membiarkan sedikit api naganya keluar dari napasnya, cukup untuk membuat pasir di bawah kakinya mengkristal menjadi kaca. "Dan kami memiliki armada laut yang bisa menyerang bendungan dari pesisir, serta mesin pengepung yang bisa menghancurkan betonnya."
Qadir turun dari tunggangannya. Ia berjalan mengelilingi Aethela, menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Penyihir Bulan," gumam Qadir. "Legenda kami mengatakan bahwa Bintang Malam adalah penunjuk jalan bagi yang tersesat. Kau memecahkan ilusi kami bukan dengan kekuatan, tapi dengan kebenaran."
Qadir berhenti di depan Aethela. "Tapi kami adalah bangsa yang bebas. Kami tidak berlutut pada Raja atau Ratu. Apa untungnya bagi kami bergabung dalam perang kalian? Jika kami mati, gurun ini akan menjadi kuburan massal."
Aethela menatap mata Qadir. "Kami tidak meminta kalian berlutut. Kami meminta kalian bergerak. Pasukan Solaria bergantung pada formasi ketat dan disiplin kaku. Mereka tidak tahu cara bertarung melawan musuh yang tidak bisa dipegang."
Aethela mengambil segenggam pasir, membiarkannya lolos dari sela-sela jarinya.
"Kalian adalah pasirnya, Qadir. Kami butuh kalian untuk menjadi gangguan, penyusup, dan fatamorgana yang menghancurkan mental pasukan mereka sebelum pedang kami menyentuh mereka. Sebagai gantinya... saat bendungan itu hancur, air akan mengalir kembali ke sini. Dan kami akan mengakui kedaulatan Gurun Emas sebagai tanah yang tak boleh dijamah oleh kerajaan mana pun."
Qadir menatap pasir yang jatuh dari tangan Aethela.
"Tanah yang berdaulat..." bisik Qadir. Itu adalah impian leluhurnya selama berabad-abad.
Qadir membuka kain penutup wajahnya, memperlihatkan wajah yang penuh tato geometris kuno. Dia tersenyum.
"Mereka bilang Naga itu serakah dan menghancurkan. Tapi kalian datang menawarkan air dan kebebasan." Qadir mengulurkan tangannya. "Kami, The Sandwalkers, akan menjadi hantu bagi pasukan Solaria. Mereka tidak akan melihat kami datang, sampai pisau kami ada di leher mereka."
Malam itu, gurun berubah drastis. Suhu turun hingga membekukan tulang, ironi yang menggelikan bagi Valerius. Namun, di dalam tenda utama Qadir, suasana hangat oleh kopi rempah dan diskusi strategi.
Peta dunia terhampar di meja rendah.
Valerius menempatkan bidak-bidak pasukannya.
Utara: Legiun Terbuang & Naga (Pasukan Kejut).
Laut: Armada Elf Laut (Blokade & Serangan Pesisir).
Timur: Iron Witches (Artileri Berat).
Selatan: Nomad Gurun (Gerilya & Infiltrasi).
Mereka telah mengepung Solaria dari segala arah.
Enam bulan lalu, dia hanyalah pangeran terasing di benteng batu yang dingin. Sekarang, dia memimpin aliansi terbesar dalam sejarah benua ini. Dan semua itu karena wanita yang duduk di sampingnya, sedang menyesap kopi dengan tenang seolah dia tidak baru saja merekayasa perang dunia.
Valerius meremas tangan Aethela di bawah meja.
Kita siap, kirim Valerius lewat pikiran.
Belum, balas Aethela. Matanya menatap titik pusat di peta: Ibu Kota Solaria, Helios. Kita punya pasukan. Tapi kita belum punya cara untuk masuk ke 'Menara Penyesalan' tanpa memicu pembantaian massal terhadap sandera.
"Ibumu," bisik Valerius.
"Aku punya rencana untuk itu," kata Aethela, meletakkan cangkirnya. Wajahnya keras, namun matanya sedih. "Tapi itu mengharuskanku melakukan sesuatu yang akan membuatmu marah."
"Apa itu?" Valerius menegang.
"Aku harus membiarkan diriku tertangkap."
Keheningan di tenda itu memekakkan telinga. Valerius menatapnya seolah ia baru saja mengatakan ingin bunuh diri.
"Tidak," kata Valerius tegas. "Sama sekali tidak. Kita tidak akan mengulang kejadian di Obsidiana. Kau tidak akan menyerahkan dirimu pada Raja Sol."
"Itu satu-satunya cara, Valerius!" Aethela bersikeras. "Menara Penyesalan dilindungi oleh Sun Barrier yang tidak bisa ditembus dari luar. Bahkan oleh Naga, bahkan oleh Mesin Besi. Satu-satunya cara untuk mematikannya adalah dari dalam."
"Dan kau pikir ayahmu tidak akan membunuhmu begitu kau masuk?"
"Dia tidak akan membunuhku," Aethela menyentuh dadanya, tempat Api Pertama bersemayam. "Dia menginginkan ini. Selama aku membawa Api ini, dia akan membiarkanku hidup sampai dia menemukan cara untuk mengekstraknya. Itu memberiku waktu."
Valerius berdiri, mondar-mandir di dalam tenda sempit itu seperti binatang buas yang terkurung. Ia tahu Aethela benar secara strategis. Tapi hatinya berteriak menolak.
"Jika aku membiarkanmu pergi..." suara Valerius bergetar. "Berapa lama aku punya waktu sebelum mereka menyakitimu?"
"Tiga hari," jawab Aethela. "Tiga hari setelah aku 'tertangkap' di perbatasan. Kau harus membawa pasukan gabungan ke gerbang Helios tepat pada hari ketiga. Saat aku mematikan perisai dari dalam... itulah sinyalmu untuk membakar segalanya."
Valerius berhenti berjalan. Ia berlutut di depan Aethela, membenamkan wajahnya di pangkuan istrinya.
"Tiga hari," gumam Valerius. "Jika pada detik pertama hari keempat kau tidak keluar... aku akan meratakan Helios hingga tidak ada satu batu pun yang berdiri di atas batu lain."
Aethela membelai rambut hitam Valerius. "Aku tahu. Itulah kenapa aku berani pergi."
Rencana terakhir telah ditetapkan. Ini adalah pertaruhan terbesar mereka. Aethela akan menjadi Kuda Troya, masuk ke dalam perut naga (atau dalam hal ini, perut matahari), sementara Valerius akan menjadi badai yang menunggu di luar gerbang.
Perang ini akan berakhir di tempat semuanya bermula: di rumah masa kecil Aethela.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...