NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebenarnya Peduli

Seminggu setelah Anggun kembali ke rumah besar Pradipta, suasana rumah itu berubah menjadi hening yang canggung. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi hinaan, namun belum ada tawa lepas di antara mereka.

Anggun menepati janjinya untuk berubah. Ia tidak lagi menuntut dilayani. Sebaliknya, ia sering terlihat di dapur, membantu mbok Sumi memotong sayuran atau menyapu halaman, hal-hal yang dulu baginya adalah pekerjaan rendahan.

Putri sering tidur di rumah ayahnya sekarang, karena usia kandungannya yang sudah tidak mungkin lagi ditinggal sendirian di rumah.

Pagi itu, Putri berjalan pelan memasuki dapur dengan perutnya yang semakin besar. Napasnya sedikit terengah karena beban kandungannya.

"Pagi, Ma," sapa Putri hangat.

Anggun yang sedang mengaduk bubur di panci tersentak sedikit. Ia menoleh sekilas, tidak berani menatap mata Putri terlalu lama.

"Pagi," jawab Anggun singkat, suaranya datar dan pelan. Ia kembali fokus pada pancinya, seolah bubur itu adalah hal paling menarik di dunia.

Putri tidak menyerah. Ia berjalan mendekat, berdiri di samping ibu tirinya.

"Wangi banget buburnya, Ma. Rian pasti suka," puji Putri. Ia mencoba meraih sendok sayur yang tergeletak di meja. "Biar Putri bantu siapin mangkuknya ya..."

"Jangan!" cegah Anggun refleks, sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.

Putri terkejut, menarik tangannya kembali.

Anggun buru-buru menunduk, wajahnya pias. "Maksud saya... kamu duduk saja. Perutmu semakin besar, Put. Nanti kesenggol panci panas, biar saya yang kerjakan. Kamu... kamu tamu kehormatan di sini."

Kalimat "kamu tamu kehormatan" terdengar menyakitkan di telinga Putri. Itu menegaskan garis batas yang Anggun buat.

Anggun menganggap dirinya pembantu yang menumpang, dan Putri adalah majikan yang harus dijauhi agar tidak ternoda.

"Ma..." Putri memberanikan diri menyentuh lengan Anggun pelan. "Putri bukan tamu, Putri anak Mama. Dan ini rumah Mama juga."

Tubuh Anggun menegang saat kulitnya bersentuhan dengan Putri. Ia tidak menepis, tapi ia juga tidak membalas sentuhan itu, ia mematung kaku.

"Saya belum bisa, Put," bisik Anggun, suaranya bergetar menahan gejolak batin. "Setiap kali saya lihat kamu... saya ingat dosa saya. Saya ingat tamparan saya di pipi kamu. Saya ingat racun yang hampir kamu minum."

Anggun perlahan melepaskan tangan Putri dari lengannya, lalu mundur selangkah menjaga jarak aman.

"Saya tidak benci kamu. Demi Tuhan, tidak lagi," lanjut Anggun dengan mata berkaca-kaca yang menatap lantai. "Tapi saya malu. Saya jijik sama diri saya sendiri. Jadi tolong... jangan terlalu baik sama saya. Itu justru bikin saya makin merasa jahat."

Putri menatap sosok rapuh di depannya dengan hati pilu. Ia mengerti, memaafkan orang lain itu mudah, tapi memaafkan diri sendiri adalah perang yang paling sulit.

"Putri ngerti, Ma. Putri bakal tunggu sampai Mama siap," ucap Putri lembut, "tapi Putri nggak akan berhenti berusaha deketin Mama. Karena cucu di perut ini butuh Omanya."

Anggun hanya mengangguk kaku, lalu berbalik badan pura-pura sibuk mencuci piring agar Putri tidak melihat air matanya yang jatuh.

Sore harinya, Devan pulang kantor lebih awal. Ia menemukan Putri sedang duduk di teras belakang, melamun menatap Anggun yang sedang menyiram tanaman di kejauhan.

Devan duduk di samping istrinya, mengecup keningnya. "Lagi liatin apa, Hem? Mama Anggun?"

Putri mengangguk. "Kasihan mama, Mas. Dia kayak menghukum dirinya sendiri. Dia nggak mau makan bareng kita di meja utama, dia pilih makan di dapur sama Rian. Dia nggak mau aku sentuh."

Devan menghela napas, merangkul bahu Putri. "Biarlah waktu yang ngobatin, Put. Luka dia itu luka ego. Butuh waktu buat dia nerima, kalau dia diampuni sama orang yang dulu dia injek. Yang penting dia nggak jahat lagi sama kamu."

Tiba-tiba, Putri meringis pelan sambil memegang perut bawahnya. "Aduh..."

Devan langsung panik. "Kenapa? Kontraksi?"

"Nggak... cuma kram dikit. Si Adek nendang kenceng banget." Putri terkekeh pelan, menenangkan suaminya yang paranoid.

Di kejauhan, Anggun yang mendengar rintihan Putri langsung menjatuhkan selang airnya. Naluri keibuannya muncul seketika. Ia berlari kecil mendekat, wajahnya panik.

"Kenapa? Putri kenapa?" tanya Anggun dengan napas memburu, berdiri dua meter dari mereka. Ia ingin maju memegang Putri, tapi tangannya tertahan di udara, ragu.

"Nggak apa-apa kok, Ma. Cuma kaget aja," jawab Putri sambil tersenyum, senang melihat Anggun ternyata peduli.

Anggun menghela napas lega, lalu buru-buru memasang wajah datarnya lagi.

"Lain kali hati-hati. Jangan duduk di tempat angin begini, nanti masuk angin," omel Anggun kaku, lalu buru-buru berbalik pergi sebelum Putri sempat menjawab.

"Saya... saya mau lanjut nyiram tanaman," gumamnya sambil berlalu cepat.

Putri menatap punggung Anggun yang menjauh sambil tersenyum lebar pada Devan.

"Lihat kan, Mas? Mama peduli," bisik Putri senang.

Devan tersenyum, mengacak rambut pendek istrinya. "Iya. Dia cuma gengsi dan malu. Sabar ya, istriku yang paling baik hatinya."

Meski jarak itu masih ada, Putri tahu tembok es di hati Anggun mulai mencair, perlahan namun pasti. Hanya butuh satu momen besar lagi untuk meruntuhkannya sepenuhnya, dan momen itu akan segera tiba bersamaan dengan tangisan pertama bayi mereka.

**

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Di luar, langit malam sedang gelap gulita tanpa bintang, seolah sedang menahan beban air yang belum tumpah.

Di ruang kerjanya yang bernuansa kayu gelap, Devan duduk termenung. Laptopnya menyala menampilkan grafik saham, namun tatapannya kosong menembus jendela basah.

Di tangannya, ia memutar-mutar cincin pernikahannya—cincin yang dulu ia pasang dengan rasa terpaksa, namun kini menjadi benda paling berharga baginya.

Pintu ruangan terbuka pelan.

Putri masuk dengan langkah hati-hati. Tangannya menopang pinggang belakangnya yang pegal karena bobot kandungan yang semakin berat. Di tangan satunya, ia membawa segelas susu hangat.

"Mas... kok belum tidur?" tanya Putri lembut, meletakkan gelas itu di meja kerja Devan.

Devan tersentak dari lamunannya. Ia menatap istrinya, lalu buru-buru berdiri untuk memapah Putri duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.

"Harusnya aku yang tanya," ucap Devan, suaranya parau. "Kenapa kamu masih bangun? Kamu butuh istirahat, Put."

"Aku belum ngantuk, Mas." Putri menarik tangan Devan untuk duduk di sampingnya.

Devan menurut. Ia duduk, namun tidak melepaskan tatapannya dari wajah Putri. Ia menatap lekat-lekat setiap inci wajah itu. Mata yang dulu sering sembab karena tangisannya, bibir yang dulu pucat karena sakitnya, dan pipi yang dulu pernah ia biarkan ditampar oleh orang lain.

Tiba-tiba, rasa sesak menghimpit dada Devan. Rasa bersalah yang selama ini ia coba kubur dengan kebahagiaan, malam ini muncul kembali ke permukaan.

"Put..." panggil Devan lirih.

"Iya, Mas?"

Kenapa?" tanya Devan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu bisa sesabar ini sama aku? Kenapa kamu nggak pergi aja waktu aku hina kamu? Waktu aku bilang kamu cuma benalu, waktu aku biarin kamu sakit sendirian... kenapa kamu tetap di sini?"

Devan menunduk, menggenggam tangan Putri erat-erat.

"Aku monster, Put. Aku jadiin kamu tumbal buat nutupin aib Tamara. Aku jadiin kamu pelampiasan amarah aku. Harusnya kamu benci aku, harusnya kamu maki-maki aku, tapi kenapa... kenapa kamu malah senyum dan enggak sedikit pun naruh rasa sakit hati sama aku?"

Putri terdiam sejenak. Ia menatap suaminya yang rapuh. Perlahan, tangan halusnya terulur, mengusap rahang tegas Devan yang kini basah oleh air mata penyesalan.

"Mas mau tau alasannya?" tanya Putri lembut, namun matanya menerawang jauh, mengingat masa-masa kelam itu.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!