Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di ruang tamu yang hangat, aroma apel segar yang sedang dikupas oleh Ratri memenuhi ruangan.
Suara riuh rendah dari televisi yang menayangkan kartun menjadi latar belakang percakapan yang mulai bergeser ke arah serius.
Alex dan Alexandria duduk anteng di karpet bulu, mata mereka terpaku pada layar, seolah memberikan ruang bagi para orang dewasa untuk bicara.
Ratri meletakkan pisau kecilnya, matanya melirik ke arah si kembar sebelum kembali menatap Swari dengan intensitas yang dalam.
Ada pertanyaan yang selama enam tahun ini menyumbat dadanya, sebuah tanya yang takut ia ucapkan namun harus ia ketahui jawabannya.
"Swari..." suara Ratri merendah, hampir berbisik agar tidak terdengar oleh anak-anak.
Swari langsung mendongakkan kepalanya saat mendengarkan suara kakaknya.
"Mbak tidak bermaksud mengungkit luka lama, tapi melihat wajah Alex yang begitu kuat. Apa mereka anak dari pelaku malam itu?"
Tangan Swari yang sedang memegang cangkir teh mendadak kaku.
Ia menarik napas panjang, menatap punggung kedua anaknya dengan tatapan yang penuh perlindungan.
"Iya, Mbak. Secara biologis, mungkin iya. Tapi bagiku, mereka adalah anakku. Hanya anakku. Mereka bukan anak lelaki itu, siapa pun dia. Aku tidak pernah menganggap mereka sebagai sisa dari tragedi, tapi sebagai alasan kenapa aku masih bernapas sampai hari ini."
Ratri merasa dadanya sesak saat mendengar jawaban dari Swari.
Ia merasa bangga sekaligus pedih melihat ketegaran adiknya.
Sementara Navy yang sedari tadi menyimak sambil menyandarkan punggung di kursi, berdeham pelan untuk mencairkan suasana.
"Swari, Mbakmu benar. Mereka anak-anak yang luar biasa. Dan karena kamu sudah kembali, Mas tidak ingin kamu sendirian lagi," ucap Navy tegas.
"Sekarang kamu sukses jadi konsultan interior di Kanada. Kebetulan, perusahaan properti milik Mas sedang butuh tenaga ahli untuk proyek apartemen baru di pusat kota. Mas ingin kamu bergabung di kantor Mas."
Swari menoleh ke arah kakak iparnya, matanya membelalak kecil.
"Bekerja di perusahaan Mas Navy? Apa itu tidak merepotkan, Mas? Aku baru saja sampai, dan aku tidak ingin orang-orang kantor berpikir aku masuk karena jalur keluarga."
Mendengar keraguan itu, Ratri yang gemas langsung meletakkan piring berisi potongan apel, lalu menjangkau hidung Swari dan mencubitnya pelan, persis seperti yang sering ia lakukan saat mereka masih kecil.
"Aduh, Mbak!" ringis Swari sambil tertawa kecil.
"Masih saja keras kepala," goda Ratri.
"Tidak ada yang merepotkan, Swari. Kamu itu punya bakat. Justru Mas Navy yang beruntung bisa merekrut konsultan internasional sepertimu tanpa harus bayar mahal dengan dollar!"
Navy tertawa kecil sambil tersenyum tipis ke arah mereka berdua.
"Benar kata Mbakmu. Anggap saja ini caraku untuk menjagamu dan anak-anak agar tetap dalam jangkauan mataku. Lagipula, Mas sudah menyiapkan posisi yang sesuai dengan kompetensimu."
Swari terdiam sejenak, menatap kedua anaknya yang kini tertawa karena adegan lucu di televisi.
Ia merasa, mungkin inilah saatnya ia benar-benar menjejakkan kaki kembali di tanah kelahirannya.
"Terima kasih, Mas, Mbak. Sebenarnya aku sudah membeli sebuah rumah di daerah Jakarta Selatan lewat agen properti bulan lalu. Mungkin besok kami akan mulai pindah ke sana," ujar Swari.
"Sudah beli rumah? Cepat sekali kamu bergerak, Dik."
"Aku ingin anak-anak punya tempat yang menetap sejak awal kami tiba di sini, Mbak. Aku juga sudah mendaftarkan mereka ke sekolah." ucap Swari sambil menikmati apelnya.
Kemudian Navy bangkit dari kursinya dengan senyum kebapakan yang tulus.
Ia menatap si kembar yang sedang asyik menonton, lalu mendekat dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana.
"Alex, Alexandria," panggil Navy hangat. Kedua bocah itu menoleh serempak.
"Kalian suka es krim yang ada cokelat batang di atasnya tidak? Di depan kompleks ada toko es krim yang sangat enak. Mau Pakde antar?"
Mata Alex langsung berbinar, sementara Alexandria menatap ibunya meminta izin.
Setelah Swari mengangguk, kedua anak itu bersorak kegirangan.
"Ayo, Pakde! Aku mau yang rasa cokelat!" seru Alex sambil menyambar tangan Navy.
"Hati-hati ya, Mas. Jangan sampai mereka terlalu banyak makan gula," pesan Swari yang hanya dibalas lambaian tangan santai oleh Navy saat membawa kedua keponakannya keluar rumah.
Setelah suasana rumah kembali tenang, Ratri menarik napas panjang.
Ia menatap Swari dalam-dalam, lalu menggandeng tangan adiknya itu.
"Ayo ikut Mbak ke kamar. Kita bicara sebagai perempuan."
Di dalam kamar yang sejuk, Ratri duduk bersila di atas ranjang, sementara Swari duduk di tepi tempat tidur.
Kamar ini masih terasa sama, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak Swari rasakan.
"Sekarang ceritakan pelan-pelan pada Mbk. Sebenarnya apa yang terjadi setelah kamu menghilang malam itu? Di jembatan itu?"
Swari menunduk, memainkan jemarinya. "Malam itu aku merasa duniaku sudah kiamat, Mbak. Di hari Mas Pradutha pergi, aku malah mengalami hal yang paling hina. Aku tidak sanggup membawa noda itu, jadi aku pergi ke jembatan. Aku ingin mengakhiri hidupku di sungai."
Ratri memejamkan mata, membayangkan betapa hancurnya adiknya saat itu.
"Lalu ada seorang lelaki yang menarikku. Dia yang menghentikan aku melompat," lanjut Swari.
"Namanya Baskara. Dia pria yang aneh, Mbak. Dia sangat dingin, sangat berkuasa. Tapi entah kenapa, malam itu juga dia malah membawaku masuk ke jet pribadinya dan terbang ke Kanada. Aku sendiri masih bertanya-tanya sampai sekarang, kenapa dia melakukan itu."
Ratri terdiam sejenak, mencerna cerita yang terdengar seperti plot film itu.
Ia menatap wajah Swari yang kini jauh lebih cantik dan matang.
Sebuah senyum nakal tiba-tiba muncul di sudut bibir Ratri.
"Jangan-jangan, Dia itu sebenarnya suka sama kamu sejak pandangan pertama, Swari. Dia tidak mau kamu mati karena dia ingin memilikimu." ucap Ratri sambil menyenggol bahu adiknya.
Swari langsung mendengus dan memutar bola matanya.
"Ishhh, Mbak! Pikiran Mbak kejauhan. Suka dari mana? Dia itu menyeramkan. Seharusnya kalau dia orang baik, dia bawa aku ke kantor polisi atau ke rumah sakit untuk divisum, bukan diculik ke Kanada!"
Ratri tertawa terbahak-bahak mendengar protes adiknya.
"Ya siapa tahu dia punya cara sendiri untuk menyelamatkan 'putri' yang sedang malang. Tapi Swari, selama enam tahun di sana, apa dia tidak pernah menghubungi atau mencarimu?"
"Aku kabur darinya begitu sampai di bandara Kanada. Aku tidak mau berhutang budi pada pria asing yang mencurigakan. Aku menghilang di Toronto tanpa jejak. Jadi kurasa, dia juga sudah melupakan aku."
Swari tidak menceritakan bahwa beberapa jam lalu ia baru saja melihat Baskara di bandara.
Ia tidak ingin membuat kakaknya khawatir berlebihan.
Ratri berhenti tertawa, ia mengusap pipi Swari dengan sayang.
"Apapun alasannya, Mbak bersyukur pria bernama Baskara itu ada di sana malam itu. Karena kalau tidak, Mbak tidak akan pernah melihat kamu dan si kembar hari ini."
Swari tersenyum getir, teringat wajah Alex yang mungkin sangat mirip dengan seseorang yang masih menjadi misteri baginya.
Sementara itu di tempat lain dimana suasana di kamar mandi apartemen penthouse itu begitu sunyi, hanya deru air dari shower yang menghantam lantai marmer dengan irama yang monoton.
Uap air panas memenuhi ruangan, namun tak mampu mencairkan kedinginan yang membeku di sorot mata Baskara.
Ia menyandarkan kedua telapak tangannya ke dinding keramik, membiarkan air mengguyur kepalanya.
“MMMMPPHH...!!!”
Suara rintihan tertahan itu kembali bergema di telinganya.
Suara yang selama enam tahun ini menjadi hantu dalam tidurnya.
Baskara memejamkan mata erat-erat, namun bayangan itu justru semakin jelas dimana aroma melati yang bercampur dengan rasa takut, jemari wanita itu yang mencengkeram sprei, dan bagaimana tubuh mungil itu gemetar di bawah kendali obat yang merenggut kesadarannya sore itu.
Baskara mematikan kran air dengan sentakan kasar.
Ia mengambil handuk, melilitkannya di pinggang, dan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta.
"Siapa kamu sebenarnya?" gumamnya rendah.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor