Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Terlalu Besar
Meja makan keluarga Mariano panjang dan berat—bukan hanya karena kayu solidnya, tetapi karena suasana yang menggantung di atasnya. Carmela duduk di ujung kanan, punggungnya tegak, kedua tangan saling menggenggam di pangkuan.
Ia datang tepat waktu.
Itu saja sudah cukup membuat beberapa pasang mata menilainya lebih lama.
Matteo duduk di kursi utama. Tenang. Diam. Seolah keberadaan orang lain hanyalah latar belakang yang bisa diabaikan. Di sebelah kirinya duduk seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan rahang tegas—Don Salvatore Mariano, ayah Matteo. Aura kekuasaan melekat padanya tanpa perlu diperlihatkan.
“Jadi ini perempuan itu.”
Suara Don Salvatore memecah keheningan. Tatapannya lurus ke arah Carmela, tanpa usaha untuk terdengar ramah.
Carmela menunduk sedikit. “Selamat malam, Tuan.”
“Tidak perlu terlalu sopan,” balasnya. “Aku ingin tahu apakah kau cukup kuat.”
Matteo tidak menyela.
Dan itu membuat Carmela sadar—malam ini, ia harus berdiri sendiri.
“Aku tidak tahu definisi kuat menurut Anda,” kata Carmela pelan tapi jelas. “Tapi aku terbiasa bertahan.”
Beberapa kursi bergeser. Seseorang terkekeh pelan.
Don Salvatore menyipitkan mata. “Jawaban yang aman.”
“Jawaban yang jujur,” timpal Carmela.
Untuk sesaat, ruangan itu sunyi.
Matteo meliriknya. Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat Carmela tahu—ia baru saja melangkah ke wilayah berbahaya.
Makan malam berlangsung dalam percakapan setengah formal, setengah penuh sindiran. Para paman, sepupu, dan figur-figur yang Carmela tidak tahu posisinya membicarakan bisnis dengan kode-kode yang tidak ia pahami. Kata-kata seperti pengiriman, wilayah, dan kesepakatan terdengar seperti obrolan biasa—padahal nada mereka mengisyaratkan lebih dari itu.
Carmela makan perlahan. Tidak banyak bicara.
Ia belajar cepat: mendengar lebih penting daripada bereaksi.
“Matteo,” kata seorang pria berambut abu-abu, “keputusanmu ini cukup… mengejutkan.”
“Keputusan selalu mengejutkan orang yang tidak dilibatkan,” jawab Matteo dingin.
Pria itu tersenyum tipis. “Kau yakin dia tidak akan menjadi kelemahan?”
Garpu Carmela berhenti sejenak.
Matteo meletakkan alat makannya dengan tenang. “Kelemahan hanya ada jika kita mengizinkannya.”
Tatapan mereka beradu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Carmela merasa… dilindungi. Bukan secara emosional. Tapi strategis.
Itu jauh lebih berbahaya.
Setelah makan malam, Carmela berpamitan lebih dulu. Ia berjalan menyusuri lorong panjang, berusaha mengatur napas. Rumah ini bukan hanya besar—ia penuh mata.
Di balik salah satu pintu terbuka, ia mendengar suara pelan.
“…dia terlalu polos.”
“Ada kemungkinan dia hanya topeng.”
“Matteo tidak pernah membuat keputusan tanpa alasan.”
Carmela melangkah pergi sebelum ketahuan. Dadanya terasa sesak.
Ia bukan sekadar istri.
Ia variabel.
Keesokan paginya, Carmela bangun dengan perasaan asing—bukan takut, bukan nyaman. Campuran keduanya. Ia turun ke taman belakang, mencari udara segar. Di sana, Matteo berdiri dengan ponsel di tangan, berbicara pelan namun tegas.
“Tidak. Belum sekarang… Ya, aku mengerti risikonya.”
Ia mematikan panggilan saat melihat Carmela.
“Kau bangun lebih pagi,” katanya.
“Aku tidak terbiasa tidur lama,” jawab Carmela.
Matteo mengangguk. “Kebiasaan yang berguna.”
Ia menatap taman sebentar, lalu berkata, “Apa yang kau dengar tadi malam?”
Carmela menegang. “Tidak banyak. Dan tidak semuanya kumengerti.”
“Itu jawaban yang tepat,” kata Matteo. “Di rumah ini, tahu terlalu banyak bisa berbahaya.”
Carmela menatapnya. “Lalu kenapa kau membawaku ke sini?”
Matteo berpaling, menatapnya langsung. “Karena aku butuh seseorang yang tidak berasal dari dunia ini.”
“Sebagai apa?” tanya Carmela.
Matteo diam sejenak. Lalu menjawab jujur.
“Sebagai penyeimbang.”
Kata itu terasa berat.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa,” kata Carmela.
“Aku juga tidak tahu,” balas Matteo. “Tapi kita akan mencari tahu bersama.”
Itu bukan janji manis. Itu pernyataan perang yang halus.
Di kamar, Carmela duduk di tepi ranjang. Dunia lamanya terasa sangat jauh. Dunia barunya… belum memberi nama padanya.
Tapi satu hal mulai jelas:
Nama Mariano bukan perlindungan.
Ia adalah beban.
Dan kini, beban itu ada di pundaknya.