kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Sang Penguasa
Matahari belum juga menampakkan diri, namun suasana di dalam kamar mewah Ratu Layla terasa begitu menyesakkan. Sejak ia terjaga dari mimpi buruk yang mengerikan itu, rasa kantuk seolah telah sirna dari pelupuk matanya. Sang Ratu, yang biasanya tidur dengan keangkuhan yang tenang, kini hanya bisa mondar-mandir di atas permadani sutra yang menghiasi lantai kamarnya. Langkah kakinya yang sunyi namun berirama cepat mencerminkan kekacauan pikiran yang sedang ia alami. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan tangan-tangan kurus rakyatnya yang mencoba menimbunnya dengan tanah kembali muncul, membuat jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Lampu-lampu minyak yang tergantung di dinding kamarnya mulai meredup, namun Layla tidak berniat memanggil pelayan untuk mengisinya kembali. Ia merasa bahwa dalam kegelapan yang remang-remang itu, ia bisa lebih leluasa menyembunyikan kerapuhan yang tiba-tiba muncul. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah alun-alun istana. Di sana, ia melihat bayang-bayang penjaga Centaur yang berdiri tegak, namun keberadaan mereka tidak lagi memberinya rasa aman yang sama seperti dulu. Pikirannya terus berputar pada getaran asing di hatinya saat melihat para budak di gudang penyimpanan. Rasa kasihan yang sempat melintas itu ia anggap sebagai sebuah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri, sebuah kelemahan yang harus segera dimusnahkan.
"Aku adalah penguasa Atlas," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau namun penuh penekanan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mimpi itu hanyalah akibat dari kelelahan fisik atau pengaruh ramuan dari Penyihir Serbuk. Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin kuat perasaan gelisah itu mencengkeramnya. Ia merasa seolah-olah kursi tahtanya mulai bergoyang, bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena pemberontakan yang terjadi di dalam batinnya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan perasaan ini terus tumbuh; ia harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masihlah Ratu yang kejam dan tak tersentuh.
Hingga fajar mulai menyingsing dan warna langit berubah menjadi kemerahan, Layla tidak kunjung merebahkan tubuhnya. Ia terus berjalan dari satu sudut kamar ke sudut lainnya, menyentuh benda-benda berharga yang ada di sana namun tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Cahaya pagi yang mulai masuk melalui celah-celah jendela bukannya menenangkan, malah semakin memperjelas wajahnya yang pucat dan mata yang tampak lelah. Namun, di balik kelelahan itu, sebuah tekad jahat kembali mengkristal. Ia memutuskan bahwa cara terbaik untuk menghilangkan rasa takut dan rasa kasihan yang mengganggunya adalah dengan kembali melakukan penindasan yang lebih besar.
Ratu Layla keluar dari kamarnya dengan wajah yang kaku. Ia tidak lagi tampak seperti wanita yang baru saja mengalami ketakutan hebat di malam hari, melainkan kembali menjadi sosok penguasa yang dingin. Ia segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Panglima Delta ke ruang audiensi pribadi. Tidak lama kemudian, sang Panglima muncul dengan baju zirah peraknya yang mengkilap, berlutut dengan penuh hormat di hadapan sang Ratu. Di samping tahta, Penyihir Petir berdiri diam, mengamati suasana dengan tatapan yang tajam, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari aura sang Ratu pagi ini.
"Delta," suara Ratu Layla bergema di ruangan yang luas itu, terdengar lebih tajam dari biasanya. "Aku tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini. Gudang penyimpanan di belakang istana itu... isinya mulai berkurang dan tidak lagi memberikan tantangan bagiku. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang besar." Panglima Delta mendongak, menunggu instruksi selanjutnya dengan patuh. Ia menyadari bahwa suasana hati Ratu sedang tidak stabil, dan setiap perintahnya hari ini akan menjadi titah yang tidak boleh dibantah sedikit pun.
"Kumpulkan seluruh budak yang masih tersisa di gudang bawah tanah sekarang juga," perintah Layla dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Aku ingin melihat mereka berbaris di depanku. Aku ingin mereka tahu bahwa hidup dan mati mereka hanya bergantung pada satu jentikan jariku. Tapi itu saja tidak cukup. Kita butuh pasokan baru, jiwa-jiwa baru yang belum mengenal apa itu keputusasaan total." Ratu Layla bangkit dari tahtanya, melangkah mendekati Delta. Ada kilatan amarah yang dipaksakan di matanya, seolah-olah ia sedang mencoba menutupi rasa takut yang masih bersarang di dalam dadanya.
Panglima Delta mengangguk paham. "Hamba laksanakan, Yang Mulia. Apakah ada instruksi khusus mengenai distribusi atau penggunaan mereka setelah dikumpulkan?" tanyanya dengan suara berat. Ratu Layla hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Cukup kumpulkan mereka. Biarkan mereka merasakan ketakutan di bawah sinar matahari setelah sekian lama berada di kegelapan. Setelah itu, aku memiliki tugas yang lebih penting untukmu dan pasukanmu. Kita akan memperluas kekuasaan Atlas ke wilayah yang belum pernah tersentuh oleh kaki-kaki Centaur kita." Dengan isyarat tangan, Layla membubarkan Delta, sementara ia sendiri berdiri tegak, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruknya dengan rencana penghancuran yang baru.
Panglima Delta segera meninggalkan ruang audiensi dan melangkah menuju area pelatihan utama Kerajaan Atlas. Sepatu bot logamnya berdentang keras di atas lantai batu, menciptakan suara yang memicu kewaspadaan bagi setiap prajurit yang ia lalui. Tujuannya adalah barak pasukan khusus dan ruang pelatihan Centaur serta Minotaur. Di sana, suasana selalu dipenuhi dengan bau keringat dan suara benturan senjata. Bagi Delta, tempat ini adalah rumah yang sesungguhnya, tempat di mana kekuatan fisik adalah satu-satunya hukum yang diakui. Ia berhenti di tengah lapangan pelatihan dan memberikan isyarat kepada para komandannya untuk mengumpulkan pasukan.
"Dengarkan!" teriak Delta, suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan latihan. "Ratu Layla telah memberikan titah. Kita akan melakukan ekspedisi ke negeri seberang. Aku memanggil seluruh unit Centaur tercepat dan pasukan Minotaur terkuat untuk segera bersiap. Kita tidak akan melakukan patroli biasa; kita akan menjemput paksa masa depan kerajaan ini." Mendengar perintah tersebut, pasukan Centaur yang setengah manusia dan setengah kuda mulai meringkik penuh semangat, sementara para Minotaur yang bertubuh raksasa menghantamkan kapak besar mereka ke tanah sebagai tanda kesiapan.
Delta masuk ke dalam ruang strategi dan mulai memetakan pergerakan. Ia memilih unit-unit terbaik yang memiliki reputasi paling kejam dalam pertempuran. Baginya, tugas ini bukan hanya tentang memuaskan keinginan Ratu, tetapi juga tentang membuktikan bahwa militer Atlas tetap tidak terkalahkan. Di sudut ruangan, beberapa Griffon yang sedang beristirahat mulai mengepakkan sayap mereka yang perkasa, namun Delta memutuskan untuk membiarkan mereka tetap di istana sebagai penjaga udara untuk sementara waktu. Fokus utama serangan kali ini adalah kekuatan darat yang masif untuk memastikan penangkapan budak berjalan efektif.
Setelah semua persiapan selesai, pasukan besar itu mulai bergerak keluar dari gerbang belakang istana. Ratusan Centaur berlari dalam formasi yang rapi, diikuti oleh derap langkah berat para Minotaur yang masing-masing membawa rantai besi panjang. Mereka bergerak menuju pelabuhan rahasia untuk menyeberangi perbatasan menuju negeri seberang yang telah ditargetkan. Panglima Delta memimpin di barisan paling depan, matanya menatap lurus ke depan dengan keyakinan yang dingin. Di dalam benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana wajah-wajah ketakutan penduduk di negeri seberang saat melihat kegelapan yang dibawa oleh pasukan Atlas mendekat ke arah mereka.