NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_1

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha Rayna Diah Ayu Putri Utama Rusdiantoro binti Darujati Rusdiantoro ‘alal mahril madzkuur hallan, "

Ucapan itu meluncur mulus dari bibir Narendra Admawijaya, satu tarikan napas, tanpa ragu.

“Bagaimana para saksi, sah?”

“Sah.”

“Alhamdulillahirabbil ‘alamin.”

Air mataku luruh bersamaan dengan lantunan doa yang dipanjatkan penghulu. Dadaku bergemuruh, bukan hanya oleh haru—melainkan oleh perasaan lega yang nyaris tak bisa kujelaskan. Seolah ada belenggu panjang yang akhirnya terlepas dari jiwaku.

Bayangan dua tahun lalu kembali menyergap. Saat aku mengenakan gaun pengantin, namun perempuan lainlah yang duduk di samping lelaki yang seharusnya menjadi suamiku. Hari ketika dunia runtuh, dan aku kehilangan diriku sendiri. Trauma itu menyeretku ke ruang terapi, obat-obatan, dan malam-malam panjang penuh tangis.

“Sayang, kamu sudah sah menjadi istri sekarang. Selamat ya, Nak.”

Usapan lembut tangan mamah di pundakku menarikku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh, matanya berkaca-kaca namun senyumnya hangat.

“Kita turun, yuk. Kamu sudah ditunggu di bawah.”

Mamah dan Mbak Fatma menggandeng tanganku, menuntunku menuruni tangga menuju ruang tengah tempat akad tadi berlangsung.

Begitu langkah kakiku menyentuh anak tangga pertama, semua pasang mata tertuju padaku. Ada yang tersenyum, ada yang terpana, ada pula yang berbisik tanpa rasa bersalah.

Wajar, hiburku dalam hati. Pengantin memang pusat perhatian.

Namun aku tahu—sebagian dari tatapan itu bukan sekadar kagum.

Mas Raka berdiri di anak tangga terakhir, menyambutku. Wajah tegangnya pagi tadi kini melunak. Dialah yang menggantikan almarhum papah menjadi waliku hari ini.

“Mari,” katanya pelan. “Mas antar ke suamimu.”

**Deg.**

Jantungku berdenyut keras. Baru saat itulah aku sadar—aku belum benar-benar melihat wajah lelaki yang kini sah menjadi suamiku.

Mataku menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti pada sosok pria yang duduk di hadapan penghulu. Jasnya senada dengan gaun yang kupakai.

Tubuh atletis. Rahang tegas. Kulit kuning langsat. Sorot mata tajam dengan alis tebal yang memberi kesan dingin dan berjarak. Ia tinggi—jelas lebih tinggi dariku.

Otakku otomatis memberi penilaian, seolah itu caranya bertahan.

“Dek, kendalikan dirimu,” bisik Mas Raka, menggenggam tanganku lebih erat. “Narendra sudah menunggumu.” lanjutnya

Kami melangkah mendekat.

“Alhamdulillah, Sayang. Sekarang kamu resmi menjadi menantu Mamah,” ujar seorang perempuan anggun di sampingnya. Dari nada suaranya, aku tahu—itulah ibunya.

“Ayo, cium punggung tangan suamimu.”

Kini kami berdiri saling berhadapan. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. Aku tak bisa membaca apa pun dari sana.

Saat tanganku menyentuh tangannya—

Dingin. Entah karena grogi, atau memang begitulah dirinya.

Aku menunduk, mencium punggung tangannya dengan takzim. Aku belum mengenalnya, namun aku memilih menghormatinya. Aku ridho. Meski harus melewati drama tujuh hari tujuh malam sebelum akhirnya menyerah dan menerima perjodohan ini.

Telapak tangan besarnya tiba-tiba menyentuh kepalaku.

“Allahumma inni as’aluka min khairihaa wa khairimaa jabaltahaa ‘alaih…"

Doanya lirih, tartil, dan sungguh-sungguh.

Air mataku kembali jatuh.

Mungkin Mas Raka benar. Mungkin dia adalah laki-laki terbaik pilihan Allah untuk ku

Bagaimana tidak? Saat banyak lelaki mundur karena label “Gila” yang melekat padaku, dia tetap datang—dan menikahiku.

“Dia sudah halal bagimu,” ucap Mas Raka. “Kamu boleh membuka cadarnya sekarang.”

Aku reflek menahan nafas. Aku tidak bercadar sehari-hari, ini murni ide mamah dan Mbak Fatma. Katanya, untuk kejutan.

Perlahan Narendra membuka ikatan cadarku. Wajah kami begitu dekat. Aku bisa mendengar helaan napasnya—dan entah kenapa, dadaku berdesir.

Cadarku terlepas. Pupil matanya membesar sesaat.

“Dia tidak seperti orang gila.”

“Kalau aku tahu dia masih secantik ini, pasti aku tetap maju menikahinya.”

Bisikan-bisikan itu menusuk telingaku. Tidak malu, tidak berempati. semua tamu mendadak menjadi komentator dan juri handal.

Aku menelan ludah. masih betah menunduk, suara-suara sumbang masih terdengar meski samar. tubuhku kembali bergetar tanpa bisa ku kendalikan, aku bisa merasakan telapak tangan ku yang begitu dingin dan mati rasa.

"Tak apa, kamu hebat sudah sejauh ini Rayna, " bisik ku pada diri sendiri. afirmasi positif sangat diperlukan oleh orang-orang sepertiku

Kami berdiri di pelaminan. Pernikahan ini digelar di halaman belakang rumahku. lahan golf mini yang kini disulap menjadi taman bak negeri dongeng. Dua WO terbaik mengerjakannya. acara yang sebenarnya disepakati privat dan sederhana. namun sepertinya sederhana versi mamah dan mertua ku berbeda dari manusia pada umumnya.

Tamu tak banyak. Sekitar dua ratus orang. Keluarga inti dan rekan bisnis terdekat saja. tak ada satupun teman ku yang ku undang, tapi ada beberapa teman Narendra yang datang. aku sempat melihat mereka bercengkrama sebentar tadi.

Narendra menaruh ponselnya saat seorang tamu naik ke pelaminan, tapi layarnya belum sempat mati. Mataku menangkap pesan itu meski tak terlalu jelas karena layarnya yang gelap.

Jangan menyakiti dirimu. Atau aku akan jadi manusia paling sakit di bumi. Sabar… setelah acara selesai aku akan menemuimu ❤️

Senyum getir terlukis di bibirku. Jadi begini rasanya. Lepas dari satu belenggu, hanya untuk masuk ke belenggu lain.

"Apa yang kamu harapkan, Rayna? Lelaki yang mau menikahimu tanpa pernah bertemu, ditambah reputasi kegilaanmu—dan kamu berharap dia sepenuhnya ikhlas?" cela ku pada diri sendiri. Aku merasa kasihan pada diriku sendiri.

“Selamat ya, Mbak.” Dua pria berdiri di hadapan ku dan Naren

“Nama saya Bayu.”

“Kalau saya Bagas. Kami ini bank tempat suami Mbak menyimpan aib,” katanya santai.

“Kalau butuh bocoran, hubungi kami. Info valid, terpercaya, dan sudah approve sama doktif," Bayu tertawa terbahak.

“Sialan lo,” hardik Narendra.

“Mau pergi sekarang atau gue batalin investasi di perusahaan kalian?” wajah Naren terlihat malas menanggapi dua manusia yang mengaku sahabatnya ini

“semua yang kenal dia sepakat, suami Mbak ini keturunan Firaun,” cicit Bayu masih dengan tampang cengar cengirnya

“Kalau dia macam-macam, setelin suara tokek di youtube aja mbak. dijamin dia langsung taubatan nasuha,” tambah Bagas yang langsung dengan gelak tawa Bayu

“Iya, Mas,” jawabku datar.

“Nanti saya pelihara tokek di toples buat persediaan.” jawab ku sekenanya. Narendra langsung mendelik menatapku.

Sunyi.

Bagas dan Bayu pergi, meninggalkan kami di atas pelaminan. Narendra kembali sibuk dengan ponselnya.

Mungkin dia sudah tak sabar.

Bukan pada istrinya—

melainkan pada perempuan lain yang menunggunya di balik layar.

panggilan mertuaku berulang kali untuk memperingati sang putra untuk meletakkan ponselnya, Naren menurut namun saat suara notifikasi berbunyi tangannya secepat kilas menyambar ponselnya lagi. aku hanya memandang adegan itu dengan jengah dan lelah.

Dua tahun lalu aku gagal menjadi istri.

Hari ini aku resmi menjadi istri, namun tetap saja ditinggalkan.

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!