NovelToon NovelToon
Elizabeth Vale

Elizabeth Vale

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Action / Cinta Terlarang / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.

Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EV — BAB 17

TERLALU MENYAKITKAN

Nama itu jatuh di udara seperti peluru.

“Aku ingin tahu siapa Vale?”

Detik berikutnya, Luis berhenti. Ciumannya terputus kasar. Tangannya yang semula menahan leher Elizabeth membeku, lalu perlahan turun—bukan untuk melepaskan, melainkan untuk menampar.

Plak!

Kepala Elizabeth terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, tapi ia tidak menjerit.

“Apa yang kau katakan?” suara Luis berubah. Rendah. Retak. Berbahaya.

Elizabeth terengah, namun matanya menatapnya lurus dengan napas yang naik turun. “Aku melihat fotonya,” ucapnya pelan, sengaja. “Di ruangan tengah lorong. Pria itu. Siapa dia?”

Luis mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya terekspos. “Jangan sebut nama itu.”

“Vale,” ulang Elizabeth lirih. Sengaja.

Brugh! Tinju itu datang tanpa peringatan.

Pukulan pertama membuatnya terjatuh ke sisi ranjang. Yang kedua menghantam bahunya. Yang ketiga mengenai rusuknya hingga napasnya pecah menjadi isak tertahan. Ia membuka mulutnya saat sesak memenuhi dadanya ketika rusuknya tertinju.

Namun Elizabeth tertawa kecil—rapuh, hampir tak terdengar. “Begini caramu mencintai?” gumamnya dengan darah tipis di sudut bibir. “Memukul… agar merasa berkuasa?”

“Apa?” Pria itu menoleh dan berbalik kembali menatap istrinya. Melihat suaminya, Eliza tersenyum menahan tangis yang menyakitinya. “Apa Vale adalah kelemahan mu?”

“SHUT YOUR FUCKING MOUTH (TUTUP MULUT MU) ” Luis menariknya kembali, membantingnya ke kasur hingga

Elizabeth meringis, tapi matanya tetap terbuka. Tidak memohon.

“Aku tidak ingin kau menyentuhku,” katanya terputus-putus. “Aku tidak ingin tubuhku… dekat denganmu.”

Luis menjambaknya sampai Eliza mendongak. “Jangan membuatku kejam padamu.”

“Aku takut padamu!” teriak Elizabeth, akhirnya. Suaranya pecah, tapi tegas. “Setiap kali kau mendekat, aku hanya ingin menghilang. Aku lebih memilih kau memukulku daripada menyentuhku!”

Luis membeku.

Untuk pertama kalinya, tinjunya tidak turun dan jambakan di rambut Eliza mulai kendor.

Elizabeth terengah di bawahnya, rambut kusut, pipi memar, mata merah—namun tatapannya jujur dan kosong.

“Kau monster,” bisiknya. “Dan aku istrimu… yang terjebak di sangkar emas.”

Keheningan jatuh berat di antara mereka.

Napas Luis kasar. Matanya gelap, bergejolak—antara amarah, penghinaan, dan sesuatu yang lebih berbahaya: terluka.

“Kau berani mengatakan itu… sambil menyebut namanya?” suaranya bergetar rendah. “Apa yang kau pikirkan tentang pria sialan itu huh?”

Elizabeth tersenyum pahit.

“Ya. Karena hanya nama itu yang membuatmu berhenti menjadi suamiku… dan kembali menjadi iblis.”

Luis mundur satu langkah.

Lalu dua. Seolah ruang itu tiba-tiba terlalu sempit baginya. Ia menyeringai kecil tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut istrinya.

“Kau tidak tahu apa yang kau bangunkan,” katanya dingin. “Dan kau akan menyesal.”

Pria itu melangkah menjauh bukan keluar dari kamar, melainkan mengambil sebuah tongkat yang besi yang tertempel di dinding sebagai aksesoris indah.

Melihat itu Eliza mulai mundur di atas ranjangnya, seolah-olah dia berpikir akan hancur malam ini.

“Kau bilang tidak ingin ku sentuh, maka aku tidak akan menyentuhmu. Biarkan benda ini yang menyentuh tubuhmu.” kata Luis yang sungguh membuat Eliza tak bisa memikirkan untuk kabur.

“Kau yang akan menyesalinya Luis. Aku akan memberitahukan semua perilaku mu.”

“Really? Kepada siapa?” pria itu menyeringai kecil, menekankan ujung tongkat tadi ke dada istrinya.

Elizabeth meringis sakit mencoba menepiskan tongkat itu, tapi Luis lebih kuat darinya. Hingga pria itu melepaskan nya dan melingkis kedua lengan kemeja putihnya.

Melawan Luis bukanlah hal yang bagus. Eliza faham akan hal itu, namun kini... Dia harus bisa melawan jika tidak ingin hancur lebur.

Tongkat besi itu berkilat samar di bawah cahaya lampu kamar.

Elizabeth menelan ludah. Punggungnya menekan sandaran ranjang, napasnya tersengal, namun matanya tidak lagi mencari jalan keluar. Ia tahu, tak ada pintu yang benar-benar terbuka di rumah ini.

Luis melangkah mendekat, perlahan, seolah sedang menikmati tiap detik ketakutannya.

“Lihat dirimu,” katanya dingin. “Masih berani menantangku… bahkan saat tubuhmu gemetar.”

“Aku tidak menantang,” suara Elizabeth serak. “Aku hanya tidak ingin menjadi milikmu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada hinaan.

Luis mengangkat tongkat itu sedikit. “Kau sudah milikku.”

“Tidak.” Elizabeth menggeleng lemah. “Tubuhku mungkin di sini. Tapi aku tidak.”

BRUAKK!! Detik berikutnya, tongkat itu menghantam sisi ranjang—bukan tubuhnya. Bunyi logam membentur kayu menggema, membuat Elizabeth tersentak, dan membuat barang-barang di atas meja ikut rusak serta berserakan di mana-mana.

Luis menahan diri. Tangannya gemetar.

Bukan karena ragu. Tapi karena amarah yang terlalu penuh.

“Kau pikir menyebut namanya akan menyelamatkanmu?” bisiknya. “Kau pikir Vale akan datang seperti pahlawan? Kau salah besar.”

Elizabeth tersenyum tipis, getir. “Tidak.”

Luis terdiam.

“Aku hanya tahu,” lanjutnya pelan, “setiap kali aku menyebut namanya… kau kehilangan kendali. Dan itu satu-satunya saat aku merasa… sedikit lebih aman.”

Itu membuat Luis benar-benar terpukul.

Bukan secara fisik.

Tapi di tempat yang lebih dalam.

Matanya menggelap, rahangnya mengeras, lalu ia tertawa pendek—kering, tanpa humor.

“Kau menggunakan iblis untuk melawan iblis,” gumamnya. “Bodoh… tapi berani.”

Ia menurunkan tongkat itu perlahan.

Bukan karena iba.

Melainkan karena sesuatu di wajah Elizabeth—keteguhan rapuh itu—telah berubah menjadi luka yang tidak bisa ia hancurkan lebih jauh malam ini.

“Dengarkan aku baik-baik,” katanya rendah. “Jika suatu hari Vale benar-benar muncul di hadapanmu…” Ia mendekat, menunduk sejajar dengan wajahnya. “…kau akan berharap aku yang membunuhmu lebih dulu.”

Elizabeth menatapnya tanpa air mata.

“Aku sudah berharap mati… sejak menjadi istrimu.”

Luis berdiri tegak. Hening turun di kamar itu, berat dan pekat. “Tapi sayangnya aku tidak setuju!”

Pria itu kembali mengayunkan tongkat tersebut dan memukulkannya ke wajah Eliza, lalu ke tubuhnya berulang kali, sehingga wanita itu kesakitan dan meringkuk untuk melakukan pertahanan diri. “TATAP AKU ELIZA! BIARKAN AKU MELIHAT WAJAHMU!”

Wanita itu seketika ditarik oleh Luis hingga akhirnya Eliza berdiri di lantai dan saling berhadapan dengan Luis.

Terlihat mata api Luis dan mata kesakitan Eliza.

Bukannya merasa bersalah, Luis malah terkekeh kecil menatap wajah cantik istrinya yang penuh darah dan tubuh lemah yang penuh luka memar. “Kau terlihat cantik!” ucapnya penuh kesenangan.

Bibir Eliza gemetar, menahan tangis.

“I hate you. (Aku membencimu), Luis Holloway.”

Seketika Luis langsung memukul wajah Eliza dengan tangan kosong sampai wanita itu terjatuh di lantai dalam posisi tersungkur.

“Kau membuatku harus mengotori tanganku dengan darah Taylor lagi.” kata Luis yang seketika tangis Eliza terhenti saat ia mendengar kata <>.

Pria itu menginjak punggung Eliza, menekannya dengan mata gelapnya. “Aku seharusnya tidak ingin memberitahumu. Tapi aku suka melihatmu terluka...” Ujar Luis yang masih menatapnya hingga kedua tangan Eliza terkepal menahan sesak ketika tubuhnya semakin menyatu dengan lantai tatkala Luis menginjak punggungnya lebih dalam.

“Tidak ada lagi Taylor. Mereka sudah tewas sejak kau pergi dari rumah itu. Itu adalah kesenangan yang lebih besar. Dan kau adalah satu-satunya dari Taylor yang harus aku pertahankan!” Kata Luis sembari tersenyum puas dengan mata merah berair hingga suara kekehan kecil.

1
Kinara Widya
apa yang akan terjadi selanjutnya...semoga setelah ini Vale bisa mencintai Eliza ...lanjut kak
Four.: yaaa semoga saja 😌/Grimace/
total 1 replies
Tiara Bella
what aku kaget Thor..... kirain Vale gk tertarik sm Eliza ko twnya dah dikokop aja🤭😍....
Tiara Bella: yahhh Vale ko km gitu sh kan kasian Eliza.....
total 2 replies
Rosita Ros
sangat bagus
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Almun
aku jadi bingung,sebenarnya mereka ini korban dari vale.atau dua dua nya korban🤔🤔
Almun: nahh ini nihh,kira kira siapa ya yg bikin .ereka salah paham dan musuhan kayak sekarang🤭🤔🤔
total 2 replies
sleepyhead
jadi kemeja hitamnya sdh digantikan dgn jubah tidurnya yah, atau mgkn karena udara terlalu dingin Vale memakai keduanya 🥰
sleepyhead: mhihiiiii siap
total 4 replies
sleepyhead
Psikopat handsome
sleepyhead: waakkkkkk
total 4 replies
sleepyhead
Sambil diselipin scene cameo saat 🐌 Garry berjalan 🤭
sleepyhead: wkwkwkk
total 2 replies
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ ) sedih gua tor
Four.: jangan nangis nanti kelihatan orang, malu
total 1 replies
sleepyhead
Ketika kelembutan mengalahkan kekerasan dan logika juga keberanian bisa mengalahkan kekuatan yang tak terkendali...
its too little to late Dude..
Four.: aku mau jadikan Luis menjadi pria baik /Chuckle//Slight/
total 3 replies
vnablu
apakah nanti tuan Vale akan emm adalah dengan Eliza.. ngambil kesempatan dalam kesempitan nih tuan Vale 🤭🤭..
Four.: yaaa mungkin aja /Bye-Bye/
total 1 replies
vnablu
hobii banget ni orang nguping 😄😄 kalo nggak nguping jiwa kepo nya meronta" hahahaha
Four.: kalau GK ada dia sepi lohh /Grin/
total 1 replies
sagi🏹
thor kenapa gak di bikin jadi tangguh aja si Elizabeth thor kan dia juga berasal dari keluarga bangsawan thor
Four.: eak... eak... /Applaud/
total 5 replies
Tiara Bella
apa mwnya Vale ini ke Eliza ya....
Four.: ada dehhhh
total 1 replies
Almun
vale pliss.ya kaget lah lizaa🤧🤭
Four.: jadi dag--dig-dug sendiri
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak...
Four.: wokehhh 👍
total 1 replies
sleepyhead
Dan pesan terakhir Ibunya, ( ⚈̥̥̥̥̥́⌢⚈̥̥̥̥̥̀) nyesek gua tor
Four.: Kata-kata ibu selalu ada pesan yang mendalam lohh 🤧/Sweat/
total 1 replies
sleepyhead
Cili ini Lambe turah versi Birmingham yah😅
Four.: ho, oh
total 1 replies
sleepyhead
exactly, karma is a myth...
Four.: yeah... you're right.
total 1 replies
sleepyhead
she's just nit into you, dumbass..!
Four.: ho,oh
total 5 replies
sleepyhead
Hell yeah 🤣👏👏
sleepyhead: wakakkkk
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!