HAZEL SETEVIANO sangat mencintai pria yang di jodohkan dengannya RONAlDO ALEXANDER, karan rasa cintanya pada Ronald sangat besar, Hazel selalu bersikap posesive, dia akan marah jika ada wanita yang mendekati Ronald, hingga bertambah hari Ronald semakin di buat muak dengan sikap Hazel yang menurutnya sangat cemburuan, bahkan Hazel juga selalu bersikap sinis pada LUNA MAHENDRA yang jelas jelas sudah bersahabat dengan Ronald sejak duduk di bangku SMP, karna Hazel merasa kalau Luna sudah merebut perhatian Ronald darinya.
Dan suatu hari tibalah acara peresmian pertunangan Hazel dan Ronald yang di gelar di hotel mewah, dan malam itu senyum Hazel terus mengembang, tapi senyum itu lenyap seketika saat Ronald membatalkan pertunangannya di depan para tamu undangan.
Hazel yang merasakan sakit di hatinya dia hanya bisa menangis dan berlari keluar dari hotel, dan naasnya saat menyebrangi jalan raya, sebuah truk
menghantam tubuhnya hingga terpental ke sisi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Semenjak Ronald kembali ke Inggris tiga bulan yang lalu, Hazel selalu menyibukkan dirinya di perusahaan, dia juga kerap beberapa kali menginap di perusahaan jika sedang lembur. Sedangkan Rahel dia juga sudah mulai kembali fokus pada karirnya sebagai desainer, Rahel juga sering di undang ke luar negri untuk menjadi juri di ajang fashion, bahkan sudah dua minggu ini Rahel berada di Australia.
Di perusahaan Stiven Group terlihat Hazel duduk di kursi kerjanya, pandangannya fokus pada layar laptop, jarinya yang lentik bergerak mengetik di atas layar keyboard dengan sangat cepat dan teliti.
Tok
Tok
Tok
''Masuk,,!!''
Ceklek
Martin masuk sembari membawa beberpa berkas ke hadapan Hazel.
''Nona Muda, ini ada beberap berkas yang perlu tanda tangan anda'' ucap Martin meletakkan berkas yang di bawanya di atas meja.
Tanpa membaca kembali berkasnya, Hazel langsung saja membubuhkan tanda tangannnya, dia sudah sangat percaya pada Martin, seperti yang di lakukan oleh mendiang Ayahnya.
Melihat Nona Mudanya sudah selesai membubuhkan tandatangan, Martin menyodorkan kertas undangan ke hadapan Nona Mudanya.
''Nona Muda, ini ada undangan dari perusahaan Angkasa Crop'' ucap Martin.
Hazel men membukanya lalu membacanya. ''Acara ulang tahun''
''Benar Nona, perusahaan Angkasa Crop mengadakan pesta peringatan hari jadinya, presdir mereka sangat berharap kehadiran anda'' ucap Martin.
Hazel menganggukkan kepalanya, tapi di fikirannya dia merasa seperti agak familiar dengan nama perusahaan Angkasa Crop itu.
''Baiklah, akan aku usahakan hadir, sekalian aku mau jenguk kedua mertuaku'' tukas Hazel.
Karna kebetulan perusahaan Angkasa Crop terletak di kota Lacosta.
Beberapa hari kemudian, Hazel pergi ke kota Lacosta untuk menghadiri undangan dari perusahaan Angkasa Crop, Hazel tiba di kota Lacosta jam satu siang, dan dia langsung menuju ke rumah mertuanya lebih dulu karna undangannya masih nanti jam tujuh malam, begitu juga dengan Martin dia selalu mengikuti kemanapun Nona Mudanya pergi.
''Sayang, kenapa enggak bilang kalau mau ke sini?, Ibu bisa buatin makanan kesukaan kamu'' ucap Ibu Ronald sembari menggenggam tangan menantunya.
Hazel tersenyum. ''Maaf Bu, Hazel memang sengaja enggak bilang, sebenarnya Hazel mau menghadiri acara ulang tahun perusahaan Angkasa Crop, jadi sekalian Hazel mampir'' ucap Hazel.
''Oh, kebetulan kami juga dapat undangan, nanti kita pergi bareng saja, gimana?'' tawar Ibu Ronald. Yang di angguki oleh Hazel.
''Boleh Bu''
''Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu gih sana, di kamar suamimu'' ucap Ibu Ronald.
''Iya Bu''
Hazel langsung naik ke lantai dua dimana kamar Ronald berada.
Dan kini di ruang tengah itu hanya ada Ibu Ronald dan juga Martin yang sedang meneguk teh yang baru di sajikan oleh pelayan.
''Martin''
''Iya Nyonya'' sahut Martin langsung beranjak berdiri, membuat Ibu Ronald tersenyum.
''Kamu juga istirahat dulu, itu kamar tamu, kamu bisa istirahat di sana'' tukas Ibu Ronald menunjuk ke arah kamar tamu yang terletak tepat di depan ruang tengah.
''Baik Nyonya''
Martin langsung bangkit dan melangkah ke arah kamar tamu dan masuk ke dalam.
Sedangkan di kamar milik Ronald, sejak mengulang kembali kehidupaannya, ini kali pertamanya Hazel menginjakkan kakinya di kamar milik Ronald, bahkan sekarang statusnya bukan sebagai calon istri lagi melainkan sebagai istrinya.
''Hem,, ternyata luas juga kamarnya'' gumam Hazel, tapi kamarnya di mansion keluarga Stiven masih jauh lebih luas dari kamar milik Ronald.
Lalu Hazel merebahkan badannya di atas ranjang, dia berencana setelah menghadiri acara ulang tahun Angkasa Corp, Hazel akan menginap di rumah yang di belikan oleh Ronald sebagai hadiah pertunangan waktu itu, karna sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi rumah itu.
Hazel iseng mengambil beberapa foto dirinya menggunakan ponselnya, dengan beground beberapa piala penghargaan milik Ronald, yang tertata rapi di atas rak di pojok kamar, setelah itu dia mengirimnya pada Ronald.
Tidak butuh waktu lama, langsung terdengar suara dering panggilan vidio dari Ronald.
''Sayang, kamu sedang di Lacosta?'' tanya Ronald to the point.
''Iya''
Hazel terkekeh melihat wajah masam Ronald memenuhi layar ponselnya. ''Kenapa masam begitu?''
''Enggak papa'' jawab Ronald. ''Sayang, bagaimana kabar kamu?'' tanya Ronald.
''Seperti yang Kak Ronald lihat, aku baik baik saja, dan tentunya aku tambah cantik'' jawab Hazel dengan berexpresi manja.
''Beruntungnya aku punya istri seperti kamu'' sahut Ronald dan keduanya sama sama tertawa.
''Kapan mulai risetnya Kak?'' tanya Hazel.
''Minggu depan''
''Pasti setelah ini sibuk ya'' ucap Hazel.
Ronald tersenyum menatap expresi cemberut Hazel yang memenuhi layar ponselnya. ''Akan aku usahakan meluangkan waktuku untuk istriku yang cantik ini''
Hazel langsung mengembangkan senyumnya, walaupun sibuk dengan studynya, suaminya tidak pernah sekalipun tidak menghubunginya, jika memang sedang tidak ada waktu senggang, suaminya akan mengabarinya melalui pesan atau voice note.
''Ya sudah, aku mau istirahat dulu'' ucap Hazel.
''Ok, by Sayang''
''By suamiku'' balas Hazel, lalu keduanya sama sama mematikan panggilan vidionya.
Jam tujuh malam Hazel sudah berdandan rapi, dia memakai gaun berwarna gold dengan rambut bagian atas di ikat, dan bagian bawah di biarkan di gerai, Hazel juga memakai pita di bagian rambut yang di ikatnya sebagai aksesoris agar terlihat lebih cantik dan anggun.
Di lantai bawah Sean, Ibu Ronald dan Martin sudah siap, mereka bertiga di buat terpesona saat melihat Hazel yang sedang melangkah menuruni anak tangga.
Terlebih Martin dia sampai tidak bisa berkedip melihat kecantikan Nona Mudanya, di balik balutan gaun berwarna gold yang di kenakannya.
"Nona, kecantikan anda bertambah kali kali lipat, saat memakai gaun seperti ini" batin Martin, tapi dia buru buru menundukkan kepalanya saat tak sengaja bersitatap dengan Nona Mudanya.
Bukan takut atau apapun itu, Martin hanya ingin menjaga dirinya lebih tepatnya mengontrol perasaannya pada Nona Mudanya, yang sampai detik ini masih tersimpan rapat di hatinya.
''Ayah, Ibu, ayo'' sapa Hazel.
"Paman, aku ingin satu mobil sama Ayah dan Ibu, apa Paman sendirian tidak keberatan?" tanya Hazel.
"Tidak masalah Nona" jawab Martin cepat.
Dan seperti yang di katakan oleh Hazel, saat ini Hazel duduk di jok belakang bersama Ibu mertuanya, dan Ayah mertuanya duduk di jok depan bersama supir, sedangkan Martin dia naik mobil milik mendiang Tuannya yang memang sudah ada di kota Lacosta, sejak Nona Mudanya dulu memutuskan kuliah di Lacosta.
Martin lebih dulu tiba di lokasi acara, sedangkan mobil yang membawa Hazel dan kedua mertuanya masih berhenti untuk mengisi bahan bakar.
''Nona Muda, anda dimana?'' tanya Martin melalui sambungan telfon, karna tadi merasa dirinya ada di belakang mobil yang di tumpangi oleh Nona Mudanya, tapi kenapa mobil Nona Mudanya belum sampai di lokasi.
''Paman, kami masih di jalan, habis isi bahan bakar, Paman masuk duluan saja, nanti aku masuk sama Ayah dan Ibu'' tukas Hazel dari balik telfon.
''Oh, baik Nona''
Setelah sambungan telfon terputus, Martin langsung bergegas masuk ke dalam lobi hotel tempat lokasi acara di selenggarakan, dan kehadiran Martin sebagai asisten khusus presdir Steven Group tentu membuat salah satu petugas buru buru menghubungi atasan mereka, karna tadi pemilik acara sudah berpesan jika orang dari Steven Group datang harus segera menghubungi dirinya.
Martin segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dua, dimana lokasi acara di selenggarakan, dan saat tiba di lantai dua Martin langsung menuju ke aula yang di jadikan tempat acara, kedatangannya langsung di sambut dengan ramah oleh pemilik acara.
''Tuan Martin selamat datang'' sapa si pemilik acara dengan ramah sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan
Martin membalasnya. ''Terimakasih Tuan, maaf Presdir kami mungkin datang agak telat'' ucap Martin.
Pria itu langsung tersenyum senang. ''Tidak masalah Tuan, beliau berkenan datang, saya sudah sangat berterimakasih''
Martin hanya menganggukkan kepalanya.
Lima belas menit berlalu, Martin mulai sedikit khawatir karna Nona Mudanya belum juga muncul di lokasi acara, tapi selang beberapa saat kemudian Martin mendapat telfon dari Nona Mudanya.
''Nona Muda, anda ,,,,'' belum sempat melanjutkan ucapannya, Hazel sudah menyelanya dengan nada yang terdengar sedang kesal.
''Paman cepat turun ke bawah, jemput aku''
Tut.
ikutn sdih...pdhl hazel lg bhgia,tp ada aja ujian dlm hdp....mga ayhnya hazel baik2 aja...
stlh kmrn klah sm hazel,skrng pun klh sm clara...abs ni d jmin bpknya kenzo lngsng ngsih rstu.....
kirain luna udh wras,taunya msih gila...
stlh d tndang sm ronald,skrng ngarep sm kenzo....emng ga tau malu....😫😫😫
Bhgianya kl jd hazel.....d syang clon suami,smp udhd siapin rmh buat msa dpn plus krtu jg....
luna kn ppb...😝😝