Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 15 Harga Penjagaan**
Malam itu, Defit tidak memejamkan mata.
Ia duduk di kursi kayu tua, menatap lantai yang memantulkan bayangan lampu minyak. Setiap detik terasa seperti jarum yang perlahan menusuk pikirannya. Segel di dadanya tidak berdenyut justru itulah yang membuatnya takut. Keheningan itu bukan damai, melainkan menunggu.
Maya tidur gelisah di ranjang. Ia mengigau pelan, menyebut nama Defit seperti jangkar terakhir di tengah mimpi buruk.
Defit berdiri, mendekat, menyibakkan rambut Maya dari keningnya. “Aku di sini,” bisiknya, meski tahu ia tidak mendengar.
Kalau kau ingin menjaganya, suara itu muncul lagi, tenang dan dingin, kau harus belajar membayar.
Defit mengatupkan rahang. “Bayar apa?”
Dirimu.
Subuh datang bersama jeritan.
Bukan jeritan manusia lebih seperti udara yang terkoyak. Defit berlari keluar rumah, Maya menyusul dengan napas terengah. Di ujung jalan, seorang lelaki tua Pak Samin terjatuh, tubuhnya kejang. Tanah di sekelilingnya bergetar pelan, seperti jantung raksasa yang berdebar.
Orang-orang berkerumun, panik.
“Kami tidak menyentuh apa pun!” teriak seseorang. “Tiba-tiba saja…”
Defit berlutut di samping Pak Samin. Wajah lelaki itu pucat, matanya terbelalak, seolah melihat sesuatu tepat di atas Defit.
“Dia memanggilmu,” bisik kepala desa, suaranya pecah. “Dalam kejangnya… dia menyebut namamu.”
Defit menutup mata.
Ia merasakan panggilan itu lebih kuat dari sebelumnya. Jika ia menahan seperti kemarin, retakan akan bertambah. Jika ia membiarkan… darah akan menjawab.
“Apa yang kau minta?” tanya Defit dalam hati.
Jawaban datang cepat.
Satu jam dari hidupmu. Setiap kali kau menjaga, kami mengambil waktu. Sedikit demi sedikit.
Defit tersentak. “Apa maksudmu?”
Kelelahan yang tak pulih. Umur yang memendek. Ingatan yang memudar. Kau memilih: nyawa mereka atau waktumu.
Maya menggenggam bahunya. “Defit… tolong.”
Defit membuka mata. Tatapannya jatuh pada Maya ketakutan di wajahnya, harap yang rapuh. Ia tahu, menolak hari ini berarti membuka pintu untuk tragedi yang lebih besar.
“Aku setuju,” bisiknya.
Hangat menyambar dadanya. Bukan sakit lebih seperti sesuatu dicabut perlahan.
Defit meletakkan tangannya di dada Pak Samin. Ia menahan amarah, menahan takut, dan membiarkan cinta memimpin. Tanah berhenti bergetar. Pak Samin terbatuk keras, lalu menarik napas panjang.
Orang-orang bersorak lirih lega bercampur tak percaya.
Defit terhuyung.
Maya memeluknya. “Kamu kenapa?”
Defit ingin menjawab, tapi kata-kata itu tercekat. Kepalanya berdenyut, dan untuk sepersekian detik, ia lupa nama jalan tempat ia berdiri. Lupa itu kembali seketika cukup untuk membuatnya ngeri.
Harga pertama, bisik suara itu. Satu jam.
Siang hari terasa lebih berat.
Defit berjalan seperti membawa beban tak terlihat. Setiap langkah memakan tenaga lebih dari seharusnya. Ratna mendekat, matanya basah.
“Kami berutang padamu,” katanya lirih. “Apa pun yang kami katakan dulu… aku”
Defit mengangkat tangan. “Hentikan. Jagalah Maya. Itu saja.”
Ratna mengangguk, menangis tanpa suara.
Malamnya, Defit duduk di teras bersama Maya. Angin berhembus pelan, namun dinginnya menembus tulang.
“Kamu menyembunyikan sesuatu,” kata Maya pelan. “Aku merasakannya.”
Defit menatap langit. “Kalau suatu hari aku terlihat lebih lelah dari biasanya… jangan marah.”
Maya menoleh cepat. “Kenapa?”
Defit tersenyum kecil senyum yang lahir dari keberanian dan takut yang bercampur. “Karena aku memilih menjagamu.”
Air mata Maya jatuh. Ia memeluk Defit erat. “Aku tidak mau keselamatan yang dibayar dengan hidupmu.”
Defit menutup mata, memeluk balik. “Aku mau dunia yang masih memberimu pagi.”
Di cermin teras, bayangan itu muncul wajahnya tidak puas, tidak senang.
“Pilihanmu memperlambat kami,” katanya. “Tapi setiap penjagaan membuatmu semakin dekat.”
Defit menatapnya tenang. “Kalau waktuku adalah harga aku akan memastikan harganya layak.”
Bayangan itu menghilang.
Di bawah desa, gerbang setengah terbuka berdenyut pelan bukan karena amarah, melainkan karena lapar yang ditunda.
terus menarik ceritanya 👍