NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rute yang Dipersempit

Kusuma baru menyadari rutenya berubah ketika tubuhnya yang lebih dulu protes.

Bukan lewat pemberitahuan. Bukan lewat pesan resmi. Tapi lewat rasa pegal yang datang lebih cepat dari biasanya, lewat jam istirahat yang tiba-tiba terasa sempit, dan lewat jarak yang tidak lagi bisa ia taklukkan dengan kebiasaan lama.

Pagi itu ia berangkat sebelum matahari benar-benar naik. Helm menutup kepalanya, jaket tipis melekat di badan, dan motor touring kesayangannya menyala dengan dengung yang sudah ia hafal di luar kepala. Jalanan masih setengah kosong. Udara dingin menggigit, tapi Kusuma menyukainya. Di jam seperti ini, dunia belum sempat menuntut apa-apa.

Ia membuka aplikasi pengiriman. Daftar rute muncul seperti biasa… ikon-ikon kecil berjejer, alamat, estimasi waktu, dan catatan singkat. Kusuma tidak langsung berangkat. Ia membaca pelan. Ada yang terasa aneh.

Rute hari ini lebih panjang, tapi bayaran tidak berubah. Beberapa titik pengantaran yang biasanya bisa ia satukan kini terpisah. Sistem menyusunnya seolah ia baru pertama kali mengenal wilayah ini.

“Lagi,” gumamnya.

Ia menekan ikon bantuan, membaca catatan kecil di bawah daftar: Penyesuaian rute untuk optimalisasi layanan.

Optimalisasi.

Kata itu kembali muncul. Kusuma tidak tahu dari mana asalnya, tapi belakangan ia sering menemukannya di banyak tempat… di layar, di spanduk, di penjelasan singkat yang tidak mengundang pertanyaan.

Ia menutup aplikasi, menghela napas, lalu berangkat.

Beberapa kilometer pertama terasa biasa saja. Jalanan kota perlahan padat. Lampu merah lebih sering memotong laju. Kusuma menghindari jalur utama, memilih jalan-jalan kecil yang sudah ia kenal sejak lama. Ia hafal tikungan, polisi tidur, dan lubang aspal di rute-rute itu. Tubuhnya bergerak otomatis.

Namun ketika ia mendekati titik pengantaran ketiga, aplikasi berbunyi pendek.

Rute Anda telah diperbarui.

Kusuma melirik layar. Jalur yang ia ambil kini berubah warna, abu-abu. Jalur baru muncul, memutar lebih jauh.

Ia menepi.

Motor berhenti di pinggir jalan sempit. Kusuma membuka helm, menyeka keringat yang belum sempat jatuh. Ia membaca ulang petunjuk rute. Jalur lama yang ia pilih tidak lagi direkomendasikan.

“Kenapa?” gumamnya, setengah kesal.

Tidak ada penjelasan. Hanya tombol ikuti rute.

Ia menatap jalan di depannya, jalan yang sudah ia lewati ratusan kali. Aman. Cepat. Efisien. Tapi sekarang, sistem tidak lagi mengakuinya.

Kusuma memasang helm kembali dan berbelok mengikuti rute baru.

Perubahan itu kecil. Beberapa menit lebih lama. Beberapa lampu merah tambahan. Tapi tubuhnya mulai merasakannya. Otot punggung menegang. Konsentrasi terpecah. Waktu makan siang yang biasanya longgar kini terasa terjepit.

Di titik pengantaran keempat, seorang pelanggan menegurnya.

“Mas, biasanya cepet, ya?”

Kusuma tersenyum kaku. “Lagi ada penyesuaian rute, Pak.”

“Penyesuaian?” Pelanggan itu mengangkat alis. “Oh. Ya sudah.”

Kalimat itu ringan. Tapi Kusuma merasakan sesuatu yang menusuk: ia yang berubah, bukan sistem… setidaknya di mata orang lain.

Menjelang siang, notifikasi lain masuk.

Performa Anda hari ini berada di bawah rata-rata.

Kusuma berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Ia duduk di motor, menatap layar, lalu menutup aplikasi tanpa membaca detail. Ia tahu apa isinya. Grafik. Persentase. Perbandingan.

Ia tidak bodoh. Ia tahu sistem selalu butuh tolok ukur. Tapi yang membuatnya muak adalah satu hal sederhana: tolok ukur itu terus bergerak, dan tubuhnya dipaksa mengejar tanpa pernah diberi waktu menyesuaikan diri.

Ia teringat Doli… cara bicaranya tentang bahasa yang rapi, tentang mekanisme yang tampak netral. Waktu itu Kusuma tidak terlalu peduli. Semua terdengar terlalu jauh dari hidupnya yang konkret. Tapi sekarang, ia merasakan sendiri bagaimana bahasa seperti optimalisasi dan penyesuaian menjelma menjadi rute yang memanjang dan waktu istirahat yang dipersempit.

Sore hari, Kusuma menyelesaikan pengantaran terakhir dengan napas berat. Tangannya sedikit gemetar ketika mematikan mesin motor. Ia duduk di trotoar, melepas helm, dan membiarkan keringat mengalir tanpa diseka.

Ponselnya bergetar. Pesan dari grup Random.

Doli:

Ada yang mulai ngerasa ruang geraknya berubah?

Kusuma membaca pesan itu dua kali. Ia mengetik, berhenti, menghapus, lalu mengetik ulang.

Kusuma:

Bukan berubah.

Dipersempit.

Pelan-pelan.

Pesan terkirim.

Ia menyandarkan punggung ke tembok, menatap langit yang mulai berubah warna. Jalanan di depannya tetap ramai. Orang-orang lewat, sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang tampak terganggu.

Dan Kusuma menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak: selama perubahan itu tidak menimbulkan keributan, ia akan terus dianggap wajar.

Ia berdiri perlahan, menyalakan motor, dan melaju pulang. Di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar, sederhana tapi mengganggu:

…kalau rute bisa diubah tanpa aku setujui, berapa lama sebelum tubuhku sendiri dianggap tidak efisien?

Malam datang tanpa seremoni.

Kusuma tiba di tempat singgahannya dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya. Ia memarkir motor di sudut halaman, mematikan mesin, lalu duduk di atas jok beberapa detik lebih lama. Dengung mesin yang mereda meninggalkan sunyi yang mendadak. Ia menurunkan helm, meletakkannya di tanah, lalu memijat tengkuknya pelan.

Rute hari ini bukan yang terpanjang dalam hidupnya. Ia pernah menempuh jarak lebih jauh, medan lebih buruk, cuaca lebih kejam. Tapi ada perbedaan yang membuat kelelahan ini terasa lain: ia tidak memilihnya.

Di kamar sempit berlantai keramik dingin, Kusuma merebahkan diri tanpa mandi. Ponselnya ia letakkan di samping bantal, layar menghadap ke atas. Notifikasi masih berdatangan… ringkasan performa, rekomendasi jam kerja tambahan, dan satu pesan yang dibingkai dengan bahasa ramah:

Ingin meningkatkan penghasilan Anda hari ini? Aktifkan mode prioritas.

Kusuma membaca kalimat itu berulang kali. Mode prioritas berarti satu hal sederhana: rute lebih padat, waktu lebih sempit, toleransi kesalahan lebih kecil. Tubuhnya akan diminta lebih, dengan imbalan yang dijanjikan di akhir, imbalan yang tidak pernah benar-benar pasti.

Ia mengunci layar.

Pikirannya melayang ke jalan-jalan kecil yang kini tak lagi direkomendasikan. Jalan yang dulu memberinya rasa menguasai wilayah, kini dianggap tidak efisien. Kusuma mengerti logika itu. Jalan kecil sulit dipetakan, sulit diawasi, sulit diprediksi. Sistem menyukai garis lurus.

Ia bangkit, mandi singkat, lalu duduk di lantai sambil menyeruput air putih. Bahunya terasa kaku. Jari-jarinya pegal. Ia membuka Random lagi, membaca ulang pesan Doli tentang ruang gerak. Ada rasa lega singkat… bukan karena solusi, melainkan karena diakui.

Tak lama kemudian, pesan masuk dari Yanto.

Yanto:

Kalau rute lo berubah,

itu bukan soal efisiensi.

Itu soal kendali.

Kusuma tersenyum tipis. Ia tidak selalu sepakat dengan Yanto, tapi kalimat itu terasa tepat.

Ia membalas singkat.

Kusuma:

Kendali selalu dibungkus alasan.

Yang bikin capek itu bungkusnya.

Beberapa menit berlalu. Wawan ikut masuk percakapan, dengan nada yang lebih berhati-hati.

Wawan:

Hati-hati, Sum.

Jangan maksain badan.

Kusuma menatap pesan itu lama. Jangan maksain badan terdengar sederhana, tapi ia tahu pilihan itu tidak sesederhana kelihatannya. Mengendurkan laju berarti turun peringkat. Turun peringkat berarti rute makin tidak ramah. Lingkaran itu rapi dan nyaris tak terlihat.

Keesokan paginya, Kusuma bangun dengan nyeri yang belum sepenuhnya hilang. Ia menyalakan motor, memeriksa aplikasi. Rute hari ini kembali berubah. Beberapa titik yang kemarin memutar kini dipisah lebih jauh. Bayaran tetap.

Ia menarik napas panjang, lalu berangkat.

Di tengah perjalanan, hujan turun tipis. Aspal mengilap. Lampu kendaraan memantul. Kusuma mengikuti rute yang ditentukan, meski nalurinya berkata ada jalan lebih cepat. Ia melewati jalan besar yang padat, berhenti lebih sering, dan merasakan waktu tergerus.

Di satu titik, aplikasi berbunyi lagi.

Performa Anda stabil. Pertahankan.

Stabil.

Kata itu membuatnya berhenti di bawah jembatan layang. Ia mematikan mesin, menatap layar ponsel, lalu menutupnya. Stabil berarti ia patuh. Stabil berarti ia mengikuti. Stabil berarti tubuhnya menyesuaikan diri dengan garis yang ditarik orang lain.

Ia membuka tas kecil di jok belakang, mengeluarkan sarung tangan, memakainya lebih rapat. Tangannya gemetar ringan… entah karena dingin atau karena marah yang tertahan.

Di kepala Kusuma, satu keputusan kecil mulai terbentuk. Bukan keputusan besar yang heroik. Bukan pembangkangan terang-terangan. Hanya sebuah penyimpangan mikro.

Ia menyalakan mesin dan, di persimpangan berikutnya, mengambil jalur yang tidak direkomendasikan.

Aplikasi segera bereaksi.

Anda menyimpang dari rute. Ikuti petunjuk untuk kembali.

Kusuma tidak kembali. Ia melaju di jalan kecil yang ia kenal. Aspal bergelombang. Pohon-pohon menutup sebagian pandangan. Ia menahan laju, waspada, tapi merasakan sesuatu yang lama tak ia rasakan: kendali atas gerak.

Ponsel berbunyi lagi.

Peringatan: penyimpangan berulang dapat memengaruhi performa Anda.

Kusuma berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin, dan untuk pertama kalinya hari itu, tersenyum tipis. Bukan senyum puas. Lebih seperti pengakuan diam-diam pada dirinya sendiri.

“Pengaruhi aja,” gumamnya.

Ia menyelesaikan pengantaran dengan terlambat beberapa menit. Pelanggan mengeluh singkat. Kusuma meminta maaf, nada suaranya datar. Di layar, peringkatnya turun satu tingkat. Tidak dramatis. Tidak menggemparkan.

Sore hari, pesan masuk.

Untuk membantu Anda meningkatkan performa, jadwal Anda akan disesuaikan.

Kusuma membaca itu sambil duduk di trotoar. Ia menatap lalu lintas yang mengalir, hujan yang kembali turun, dan orang-orang yang bergerak cepat dengan tujuan masing-masing. Ia menyadari sesuatu yang pahit tapi jernih: setiap penyimpangan akan dibalas dengan pengetatan.

Namun ada hal lain yang tak bisa ia abaikan… setiap kepatuhan juga dibalas dengan tuntutan berikutnya.

Ia membuka Random, mengetik tanpa banyak berpikir.

Kusuma:

Gue coba ambil jalan sendiri.

Peringkat turun.

Tapi badan gue lebih napas.

Tidak ada jawaban cepat. Tapi Kusuma tidak membutuhkannya.

Malam itu, di kamar, ia menuliskan rute-rute lama di secarik kertas. Bukan peta resmi. Hanya catatan pribadi… jalan pintas, jam sepi, titik rawan. Ia melipat kertas itu dan menyelipkannya ke dalam dompet, dekat kartu identitas.

Ia tahu catatan itu tidak akan mengubah sistem. Tapi catatan itu mengubah posisinya terhadap sistem.

Sebelum tidur, Kusuma mematikan ponsel. Tidak lama. Hanya beberapa jam. Cukup untuk merasakan sunyi tanpa notifikasi.

Di gelap kamar, ia memejamkan mata dan membiarkan nyeri mereda perlahan. Besok, rute akan kembali berubah. Peringkat bisa turun lagi. Tekanan tidak akan hilang.

Namun satu hal sudah jelas baginya kini: selama ia masih bisa memilih jalan, ia belum sepenuhnya dipersempit.

Dan pilihan kecil itu, mengambil jalan yang tidak direkomendasikan, menjadi awal dari konsekuensi yang ia tahu tidak akan berhenti di tubuhnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!