“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35
Selesai makan, Alisha menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dan membiarkan tangannya digenggam oleh Albiru. “Kamu gak mau cerita apa yang dilakukan sama Gavin sama kamu selama sebulan ini ke aku?” Alisha menoleh pada suaminya itu.
“Hm buat apa?”
“Aku perlu tau apa yang pernah dia lakukan sama istri aku.”
“Kami gak pernah berbuat serong kok, aku juga jaga diri, sumpah Bi.”
“Bukan itu sayang, kalau soal menjaga diri, aku percaya sama kamu. Yang aku pertanyakan, apa yang sudah dia lakukan sampai kamu seperti ini.” Alisha yang awalnya tidak mau menceritakan apa-apa akhirnya buka suara, dia menjelaskan detail apa yang telah Gavin lakukan padanya hingga dirinya sampai keguguran.
“Setiap hari dia mukulin aku, aku bahkan makan di lantai dan cuma dikasih sekali sehari. Aku dipukuli kalau gak mau dengerin dia dan terkadang dia emosi tiba-tiba saat liat aku.” Albiru menggeram dengan rahang yang sudah mengeras sempurna.
Dia merangkul Alisha dalam pelukannya hingga membuat Alisha nyaman, dia membiarkan istrinya itu menangis hingga rasa sesaknya lepas. “Aku akan membalas perlakuannya itu, Sha.”
“Gak usah, lagian kalian udah musuhan dari lama. Jangan menambah beban lagi, Bi, udah cukup balas-balasan begini. Aku cuma mau hidup tenang tanpa dendam.”
“Sayang. Kalau orang seperti Gavin dimaafkan begitu saja. Yang ada dia akan semakin menjadi dan malah menyusun rencana yang bukan-bukan untuk kita, ada baiknya orang begitu dikirimkan ke Tuhan biar dia jera.”
“Tapi Albi...”
“Itu biar menjadi urusanku, yang perlu kamu pikirkan adalah bagaimana kamu bisa sembuh dan kita bisa kembali ke Indonesia dengan cepat.”
“Udah ya, jangan bikin keributan lagi Bi. Aku capek hidup dalam dendam dan sakit hati orang lain terus yang mana berujung pada kerusakan rumah tangga kita sendiri.” Albiru mengelus pelan pipi Alisha.
“Sha, kita memang selalu menghindari yang namanya permusuhan tapi kalau musuh itu datang sendiri tanpa diundang, ya harus kita hadapi. Gak selalu kata maaf itu menyelesaikan semuanya.” Cukup lama mereka berdebat hingga akhirnya Alisha mengalah dan tidak lagi mau mengatur pembalasan yang telah direncanakan oleh suaminya itu. Apa yang dilalui Alisha sudah cukup tragis bagi Albiru dan dia tidak akan tinggal diam begitu saja.
***
Dafrina menatap tajam pria yang terikat saat ini di kamar yang telah disediakan oleh Albiru. Pria itu tidak tampak menyerah sama sekali dan malah semakin menantang mereka yang ada di sana. Gavin terus berontak dan mengumpat perlakuan Albiru terhadap dirinya sehingga membuat Dafrina muak lalu mengambil alat sentrum dan menempelkannya pada Gavin sehingga pria itu melemah dan tidak lagi mengeluarkan kata-kata.
“Aku muak sekali mendengar ocehanmu itu, Gavin. Kau sangat tidak tau malu. Sudahlah membawa kabur istri orang, mau menjadikan milikmu sesuka hati dan menyiksa dia juga. Kau ini setan atau binatang?” sengit Dafrina.
“Kau tidak perlu ikut campur Dafrina. Harusnya kau senang saat aku mengambil Alisha dari Albiru, jadi kalian bisa bersama lagi. Bukankah dia mantan yang sangat kau sayangi,” balas Gavin dengan kepala yang dia usahakan untuk tegak.
“Dengar ya, aku memang pernah menyakiti Alisha tapi tidak sampai sepertimu. Aku tidak mau dianggap terlalu tidak manusiawi hanya untuk memiliki seorang mantan. Kebaikan Alisha sudah sangat cukup untuk menyadarkan aku bahwa kasih sayang dalam sebuah hubungan sangat diperlukan. Aku tidak mau mengambil langkah yang salah seperti kau ini, mengerti.” Gavin memberikan tawa sarkas pada Dafrina yang membuat Dafrina kembali menyentrumkan alat itu pada Gavin.
“Jangan mendebatku lagi, Gavin. Lebih baik kau pikirkan nasibmu setelah ini karena Alisha pasti sudah mengatakan semua perlakuanmu pada Albiru. Seperti biasa, kau akan selalu kalah telak dari Albiru baik dari segi apapun.” Dafrina menggenggam kerah baju Gavin lalu mendorongnya sedikit dan pergi dari sana. Albiru memang sengaja membawa Dafrina untuk ikut mencari Alisha karena wanita itu yang paling cemas ketika Alisha menghilang, apalagi setelah dia mendengar bahwa Alisha dibawa oleh Gavin. Secara, saat menjadi kekasih Albiru dulu, Dafrina cukup mengenal Gavin sebagai rival berbahaya bagi Albiru, Dafrina tidak ingin sepupunya menderita di tangan pria gila itu.
Pagi harinya, Dafrina dan Albiru bergantian menjaga Alisha di rumah sakit. Dafrina sampai di sana dan membawakan sarapan kesukaan Alisha hasil dari buatannya sendiri.
Dafrina memeluk erat Alisha dan mengusap lembut wajah memar sepupunya itu. “Kamu udah baikan Sha?” tanya Dafrina prihatin.
“Aku baik kok, Dafrina. Makasih udah mau ikut mencari aku ya,” ucap Alisha dengan air mata perlahan jatuh, Dafrina mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
“Aku tau kalau hari-hari kamu pasti sangat berat bersama pria stres itu. Bunda sama ayah kamu sampai gak selera makan dan gak bisa tidur mikirin kamu Sha.”
“Semalam Albi udah bantu aku buat videocall sama mereka kok. Benar yang kamu bilang, mereka ampe kepikiran banget sama aku.”
“Makanya, kamu harus cepat sembuh biar kita bisa pulang ke Indonesia. Oke.” Alisha mengangguk, dia merasa dimanja oleh seorang kakak perempuan. Dafrina membawa Alisha dalam pelukannya, semenjak diberi maaf oleh sepupunya itu, hidup Dafrina jadi berubah dan diliputi kasih sayang. Dia bahagia berada di tengah keluarga Alisha dan bertekad untuk bisa melindungi Alisha bagaimana pun caranya.
Albiru mendekati mereka berdua lalu menggenggam tangan Alisha yang sudah hangat sekarang. “Aku keluar nyari makanan sama cemilan buat kamu dulu ya sayang. Dafrina akan nemenin kamu selama aku gak ada dan beberapa anak buah kita berjaga di luar.”
“Gak lama kan Bi?”
“Gak kok sayang, cuma bentar doang.”
“Ya udah, kamu hati-hati.” Albiru mengecup kening istrinya tersebut. Lalu menoleh pada Dafrina. “Aku keluar dulu, tolong jagain Alisha dengan baik.”
“Oke Albi, kamu tenang aja. Serahkan Alisha padaku.” Albiru tersenyum singkat lalu keluar dari ruang rawat istrinya. Tujuannya jelas kali ini, yaitu pergi menemui Gavin untuk memberikan pria itu pelajaran karena sudah menyiksa istrinya seperti binatang tak berharga.
Albiru memacu mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang dipenuhi oleh salju. Cuaca di luar sangat dingin sehingga mengharuskan Albiru mengenakan pakaian tebal untuk menuju ke apartemen yang sengaja dia sewa untuk menyekap Gavin.
Sementara di rumah sakit, Alisha dan Dafrina tak hentinya berbincang ringan bahkan mereka saling melempar candaan. Dafrina membuat Alisha nyaman dengan kehadiran dirinya, Alisha juga menerima Dafrina dengan baik dan mereka sekarang layaknya saudara kandung yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama.
“Mending kamu makan dulu ya, ntar magh kamu kambuh kalau telat makan.” Dafrina mengambilkan makanan yang sudah dia buatkan untuk Alisha lalu menaruhnya di piring. Dia duduk di tepi ranjang dan menyuapi Alisha seperti seorang kakak menyuapi adiknya.
“Aku senang deh, Dafrina. Akhirnya aku bisa merasakan yang namanya punya saudara dan kita bisa sedekat ini,” ungkap Alisha dengan mulut yang masih penuh makanan.
“Telan dulu, nanti kamu keselek.” Mereka kembali tertawa.