NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DI BALIK PINTU KAMAR

"Putra." Kata Salma sesaat langkah mereka telah cukup jauh dari lobi.

Putra perlahan melonggarkan genggamannya, seolah berat untuk membiarkan jemari Salma terlepas. "Maaf, Bu," Gumamnya pelan, tersirat rasa bersalah yang tak terucapkan.

​Salma menggeleng lemah. Guratan lelah di wajahnya sedikit melunak saat menatap pemuda di depannya. "Ibu yang justru berterima kasih sama kamu, Putra."

​Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu yang tampak dingin. Salma menunduk, menatap bergantian antara kunci di tangannya dan papan nomor yang tertempel di daun pintu. Keduanya identik. "Ini kamarnya," Ucapnya hampir berbisik, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Putra.

​"Ibu mau aku temani ke dalam?" Tawar Putra cepat. Ada nada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

​Lagi, Salma menggeleng. "Tidak usah. Kamu tunggu di sini saja."

​"Tapi, Bu..."

​Kalimat Putra menggantung di udara. Salma sudah memantapkan hati. Dengan kaki yang gemetar hebat, ia mulai melangkah menuju pintu tujuannya. Empat nol lima. Nomor itu seolah menghakimi, memanggilnya untuk menyambut luka yang lebih parah lagi.

​Semenara, dari kejauhan, Putra hanya bisa mematung. Matanya tidak lepas dari sosok Salma, memastikan setiap gerak-geriknya tetap stabil meski ia tahu wanita itu sedang berjuang hebat melawan ketakutannya sendiri.

​Salma pun kemudian berhenti tepat di depan pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang tersisa. Tangannya yang gemetar memasukkan kunci ke lubangnya.

​Krek.

​Suara mekanisme kunci yang terbuka itu terdengar begitu nyaring di koridor yang sepi. Pintu berayun terbuka lebar, menyingkap apa yang ada di dalamnya. Begitu Salma melangkah masuk, tanpa pengetahuannya, Putra melangkah sedikit lebih dekat, mengintip dari ambang pintu.

Salma semakin melangkah masuk ke dalam. Udara di dalam ruangan itu terasa berat oleh aroma parfum yang asing—manis, menyengat, dan menyesakkan. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari pemandangan yang seketika menghancurkan seluruh dunianya.

​Di atas ranjang berantakan itu, Erwin, suaminya yang selama ini ia puja, tampak berbaring tanpa sehelai benang pun. Sedangkan, di sampingnya, meringkuk dalam dekapan yang seharusnya milik Salma, itu adalah Manda. Di tengah perbincangan yang hangat dan romantis...

​"Mas..." Suara Salma tercekat, namun cukup terdengar dan memecah keheningan.

​Erwin menggeliat, kelopak matanya membulat besar. Begitu sosok Salma tertangkap oleh indra mereka, Manda segera menutup tubuhnya dengan selimut lalu berlari cepat menuju kamar mandi.

​Salma merasa seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga hancur. Kakinya melemas, dan ia harus berpegangan pada pinggiran meja untuk tetap berdiri. Air mata yang sedari tadi tumpah, kini jatuh semakin deras, membasahi pipinya yang pucat.

​"KAMU SELINGKUH, MAS!" Teriak Salma. Suaranya melengking tinggi, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Tega-teganya kamu... di sini? Dengan perempuan itu?!"

​Di balik bayang-bayang pintu, Putra terpaku. Ia menyaksikan kehancuran Salma dengan rahang mengeras. Ada kemarahan yang membuncah melihat air mata wanita itu, namun ia tetap diam, membiarkan kebenaran yang pahit itu menelan mereka semua.

Erwin bangkit dari tepi tempat tidur, jemarinya meraih piyama tidur dan mengenakannya asal. Wajahnya sempat menunjukkan gurat terkejut saat melihat Salma berdiri mematung di ambang pintu, namun keterkejutan itu segera menguap, digantikan oleh sorot mata dingin yang datar.

​Tanpa rasa sesal yang berarti, Erwin melangkah mendekat. Langkahnya santai, seolah pengkhianatan yang baru saja tertangkap basah ini hanyalah sebuah kesalahan kecil yang lumrah.

​"Aku minta maaf," Ucap Erwin enteng, suaranya terdengar hampa. "Tapi aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Kamu sudah lihat sendiri. Aku mencintai Manda."

​Kalimat itu menghujam jantung Salma lebih tajam dari sembilu. "Aku ini istri kamu, Mas! Tega kamu!" Jerit Salma dengan suara bergetar.

​Bagi Erwin, pernikahan ini hanyalah pelarian. Ia menikahi Salma demi mengobati luka lama saat ditinggal Manda ke luar negeri—sebuah upaya paksa untuk melupakan yang justru gagal total. Salma hanyalah perban bagi luka yang tak kunjung kering, dan sekarang, ia dengan sengaja merobek perban itu tanpa ampun.

​"Aku kira..." Salma terisak, air matanya luruh membasahi pipi yang memucat. "Aku kira kamu laki-laki terakhir yang bisa menyembuhkan luka masa laluku. Aku percaya kamu bisa membantuku lupa pada rasa sakit itu. Tapi ternyata... kamu justru lebih jahat dari mereka semua!"

Salma menangis, luka. Sesak. ​Rasa kecewa itu kemudian meledak menjadi kemarahan yang perlahan liar. Salma yang biasanya lembut kini berubah frustasi. Dengan tangan gemetar, ia mulai menyambar apa saja yang ada di dekatnya—vas bunga, bingkai foto, hingga pajangan di atas meja rias—lalu melemparkannya ke sembarang arah. Suara benda pecah bersahutan dengan isak tangisnya yang memilukan. Ia hancur, dikhianati oleh sosok yang ia anggap sebagai rumah.

Putra yang tak lagi bisa menahan kehancuran wanita yang dicintainya itu, segera masuk ke dalam kamar. Ya. Ia tak lagi sanggup hanya berdiri diam diri menyaksikan Salma dihancurkan secara mental. Ia segera merengkuh bahu Salma, menahan tangan wanita itu agar tidak lagi menyakiti diri sendiri dengan pecahan barang.

​Putra kemudian mendongak. Sorot matanya yang penuh amarah menghujam langsung ke arah Erwin yang hanya memandang datar, hanya sedikit keterkejutan ketika pemuda yang tak asing itu datang. ​Namun, belum sempat Erwin mengeluarkan kata-katanya lagi, Putra mendekatinya. sebuah bogem mentah mendarat telak di rahangnya.

​Bugh!

​Erwin tersungkur ke arah tempat tidur, sudut bibirnya pecah. Putra berdiri dengan napas memburu, kepalan tangannya masih mengeras. "Laki-laki macam apa lo?!" Desis Putra tajam. "Salma itu terlalu berharga buat lo sakiti!"

Bugh!

Putra menendang dada Erwin hingga laki-laki itu menumpahkan darah segar dari mulutnya. ​"BANGUN LO, SETAN?!" Teriak Putra. Urat-urat di lehernya menegang, wajahnya memerah padam disulut emosi yang sudah meluap-luap.

Ia sama sekali tidak memberikan ruang bagi Erwin untuk sekadar menghirup oksigen. "BANGSAAAT, ANJIIIIING...!"

​Di sudut lain, Salma hanya bisa bersimpuh. Tubuhnya bergetar hebat, tangisnya pecah tanpa suara yang mampu keluar selain isak yang tersedat. Matanya yang sembab menyaksikan pemandangan mengerikan itu dengan tatapan kosong. Ia ingin berteriak, ingin melerai, namun ketakutan telah melumpuhkan syarafnya. Ya. ​Ia membiarkan Erwin menjadi samsak hidup bagi amukan Putra.

"Dimana jalang lo?!" Tambah Putra membaurkan pandangannya ke setiap penjuru. Sedangkan, langkahnya bergerak ke berbagai pintu, mencari Manda.

"Putra, stop!" Sergah Salma penuh permohonan. Ia menarik tangan Putra untuk berhenti. Putra, cukuuuup....!" Tambahnya dengan suara getir, lemah, hancur.

Putra mendadak terpaku. Ia berbalik memandang Salma lurus. "Aku gak akan biarin orang yang aku cinta menyakiti kamu." Katanya lantang, tanpa di sadari.

Kalimat itu membuat Salma membisu. Di tengah puing-puing kehancuran perasaannya, ia hanya bisa menyesapi setiap kata yang baru saja dilontarkan Putra.

​Di antara amarah Putra yang belum padam, ia melangkah gusar, menyusuri setiap sudut dan seisi kamar. Satu per satu pintu kamar ia buka paksa dengan sentakan kasar. Di sudut ruangan lain, Erwin masih meringkuk lemas, memegangi perutnya yang mulas akibat hantaman keras dari kepalan tangan Putra sebelumnya. Suara erangan Erwin terabaikan oleh deru napas Putra yang memburu.

​Hingga akhirnya, langkah Putra terhenti di depan sebuah pintu kayu yang terkunci rapat dari dalam. Tanpa ragu, ia memundurkan langkah, lalu menghantamkan bahunya dengan tenaga penuh.

Braaaak!

​Pintu itu ternganga. Putra melangkah masuk dan seketika tertegun di ambang pintu. Di sudut kamar mandi yang remang, ia mendapati Manda bersandar di dinding dengan tubuh gemetar, hanya terbungkus selembar selimut yang ia dekap erat-erat untuk menutupi harga dirinya.

​Putra bergeming. Matanya menatap datar ke arah Manda, namun pancaran kecewa dan amarah yang dingin memenuhi ruangan itu.

​"Berapa harga badan lo?" Tanya Putra dingin, nadanya sangat rendah dan menusuk.

"Sampai lo rela nukar semuanya buat ini?"

Mendengar itu, kemarahan Erwin memuncak. Kalimat yang dilontarkan untuk Manda terasa seperti tamparan yang membakar harga dirinya juga. Tanpa memedulikan isak tangis Salma—istrinya yang bersimpuh hancur olehnya, ia justru melangkah kasar mendekati Putra.

Dengan tangan gemetar karena amarah, Erwin mencengkeram bahu Putra, berniat menarik tubuh pemuda itu dari belakang dan memaksanya berhadapan.

​Namun, Putra jauh lebih sigap. Belum sempat Erwin memberikan serangan, Putra memutar tubuhnya dengan gerakan kilat. Hingga, sebuah hantaman keras mendarat telak di wajah Erwin. Bunyi benturan itu terdengar menyakitkan di tengah kesunyian ruangan.

​Tubuh Erwin pun limbung, kehilangan keseimbangan seketika. Untuk kedua kalinya, laki-laki itu tersungkur ke lantai, terjerembap dalam kehinaan yang sama, sementara napasnya memburu di antara rasa perih yang menjalar.

"Yang harusnya lo lindungi itu Salma! Bukan cewek murah kayak dia!" Tandas Putra, sebelum akhirnya ia menarik lengan Salma dan berlalu pergi.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!