NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pagi-pagi keesokan harinya.

Sebuah kapal udara bertenaga jet raksasa berangkat dari Kota Merapi, berlayar dengan kecepatan luar biasa menuju gugusan pegunungan di selatan. Setelah dua jam perjalanan, kapal udara itu akhirnya mendarat di kaki lereng pegunungan tepat sebelum tengah hari.

Di dek kapal, ratusan pendekar berkumpul. Mereka terutama berasal dari Kota Merapi, sementara sisanya adalah putra dan putri muda dari berbagai perguruan kecil yang datang untuk mengasah ilmu. Mereka saling berbincang dengan penuh semangat. Tanpa kecuali, wajah mereka memancarkan antusiasme karena hari ini adalah acara besar tiga bulanan: Musim Berburu Siluman.

“Musim berburu ini, aku akan membantai cukup banyak siluman serigala untuk membalaskan dendam kematian saudara-saudaraku dulu!”

“Tuan muda ini akan membunuh seratus siluman untuk meningkatkan gengsi Padepokan Pedang Bintang-ku!”

“Aku akan membasmi semua siluman dan membuat rakyat tentram, aku akan penuhi sumpahku!”

“Aku ingin kaya raya!!!”

Semua orang menatap penuh semangat ke arah hutan pegunungan yang membentang puluhan ribu mil di hadapan mereka, tampak seperti naga raksasa yang sedang tertidur lelap. Mereka sudah tidak sabar untuk menyerbu masuk.

“Harap tenang!”

Sebuah suara nyaring yang berwibawa, diperkuat dengan tenaga dalam, terdengar dari anjungan kapal. Ratusan pendekar itu seketika diam dan menoleh. Mereka melihat seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya, Bupati Surya, berdiri gagah melawan angin dengan tangan di belakang punggung.

Di belakangnya berdiri Ratna Menur, Langgeng Sakti, dan belasan pengawal kadipaten yang perkasa. Bupati Surya mengelus janggutnya sambil memberikan instruksi kepada para pendekar di dek.

“Mengenai Musim Berburu ini, saya hanya akan menyampaikan dua poin utama.”

“Dua poin ini sangat krusial, camkan baik-baik!”

Beliau mengangkat satu jari.

“Poin pertama, bangsa siluman adalah musuh kemanusiaan kita. Apa pun alasan kalian ikut serta, kalian semua harus bersatu padu dan tidak boleh bercerai-berai.”

Beliau mengangkat jari kedua.

“Poin kedua, siluman itu ganas dan licik. Jika melihatnya, jangan ragu: bunuh atau lari.”

Beliau mengangkat jari ketiga.

“Tambahan pula, mungkin beberapa dari kalian akan jadi kaya mendadak dalam perburuan ini, tapi ingat harta hanya titipan. Kalian dilarang mengincar milik orang lain, dilarang merampok jarahan rekan sendiri, dan haram hukumnya saling membunuh.”

Beliau mengangkat jari keempat.

“Poin yang paling penting, belakangan ini saya menerima laporan bahwa ada sarang tentara siluman yang bersembunyi di dalam hutan ini dengan niat yang mencurigakan. Jika ada yang bisa menemukannya, Kadipaten akan memberikan hadiah yang sangat besar.”

Beliau menjulurkan kelima jarinya.

“Satu hal terakhir, Musim Berburu berlangsung selama lima hari. Setelah itu, kapal udara akan kembali ke Kota Merapi. Kami tidak akan menunggu siapa pun yang terlambat.”

Beliau menjulurkan tangannya yang lain dan mengangkat jari telunjuk lagi.

Para pendekar: “……”

Bupati Surya tiba-tiba menunjuk ke arah hutan pegunungan, suaranya menggelegar:

“Musim Berburu, DIMULAI!”

Prok, prok, prok!!!

Begitu komando diberikan, ratusan pendekar langsung melompat turun dari kapal udara seperti macan lapar yang mendidih darahnya. Dalam sekejap, mereka semua sudah menyerbu masuk ke dalam rimbunnya hutan.

Langgeng Sakti juga sudah bersiap turun. Namun, dia melihat Ratna Menur sedang menggerakkan tangannya di udara seolah sedang mengelus sesuatu yang tak kasat mata. Langgeng menghampirinya dengan penasaran.

“Menur, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Langgeng sambil tersenyum.

Ratna Menur tidak menyahut. Dia sedang berkonsentrasi membaca buku harian gaib di depannya.

[7 Maret, Cuaca Cerah.]

[Hari ini, Naningsih terlihat seksi seperti biasanya, benar-benar memanjakan mataku.]

[Tapi kenapa ya tiba-tiba dia mencubit pinggangku berkali-kali?]

[Hampir saja aku tertawa. Ini benar-benar tidak ada di naskah aslinya!]

[Apa si perawan tua ini lagi 'sensitif' ya?]

[Ah sudahlah, lagipula dia—]

Lho? Ratna Menur terkejut. Isi buku harian itu tiba-tiba menghilang sesaat, lalu muncul kembali.

[Tadi aku kaget setengah mati. Naningsih tiba-tiba masuk ke kamarku dan tanya aku lagi apa.]

[Dia tidak tahu kalau aku sedang mandi? Kan dia sendiri yang siapkan air hangatnya. Apa dia sengaja masuk mau melihatku mandi?]

[Pasti itu! Dia kan tidak bisa melihat aku lagi nulis diary! Berarti sistem keamanan buku ini mantap banget.]

[Nanti kalau aku lagi kesal sama si perawan tua itu, aku tulis makian tepat di depan mukanya saja, haha.]

Naningsih (di tempat lain): “Coba saja kalau berani.”

Ratna Menur: ….. “Kekanak-kanakan.”

[Tapi ya sudahlah, Naningsih tidak akan merusak plot aslinya selama dia sudah ganti baju dan dandan.]

[Nah, alur utama hari ini adalah Musim Berburu.]

[Meskipun aku kemarin akting dipukuli Langgeng sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur...]

[Tapi menurut naskah, sebagai penjahat, aku tetap harus ikut Musim Berburu pakai kursi roda.]

[Sialan, gimana caranya aku lawan siluman di atas kursi roda?]

[Maju pakai tekel meluncur? Bodoh banget rasanya.]

“Haha.”

Melihat curhatan itu, Ratna Menur tidak tahan untuk tidak tertawa keras.

“Menur, kamu terlihat cantik sekali saat tersenyum,” puji Langgeng Sakti tulus.

Ratna hanya membalas singkat, “Terima kasih,” lalu menahan senyumnya dan lanjut membaca. Dia merasa melihat Jaka menggerutu di buku harian itu cukup menghibur.

[Mau bagaimana lagi, soalnya si 'anjing polos' Ratna Menur juga ikut Musim Berburu.]

[Sebagai pemuja rahasianya, aku harus tetap akting menjilat di depannya nanti sambil menangis-menangis.]

[Ugh, rasanya seperti mau menangis di kuburan sendiri.]

Brak!

Ratna Menur tiba-tiba menghentakkan kakinya ke lantai kapal hingga kayunya retak seperti sarang laba-laba. Langgeng Sakti sampai kaget.

“Menur, kamu kenapa?”

Langgeng bingung melihat Ratna yang baru saja tersenyum tiba-tiba meledak amarahnya dalam sekejap.

“Tidak apa-apa!” sahut Ratna ketus. Jangan marah... tarik napas... tenang, batinnya mencoba mengontrol emosi, lalu lanjut membaca ke bawah.

[Sekarang perburuan sudah mulai, kan?]

[Peranku hari ini tidak banyak. Cuma perlu berlutut dan menjilat Ratna Menur di tengah hutan sambil nangis-nangis mohon supaya dia jangan putusin aku.]

[Hasilnya pasti ditolak. Aku bakal maksa, terus si Langgeng Sakti muncul jadi pahlawan.]

[Terus aku berantem sama Langgeng, tapi ujung-ujungnya aku dihajar habis-habisan dan kabur kayak anjing kejepit.]

[Yah, kira-kira begitu jadwal manggungku hari ini.]

Tinggi di atas awan, sebuah kapal udara pribadi kecil meluncur cepat menuju arah pegunungan yang sama. Kapal ini adalah versi mewah milik Padepokan Tanpa Beban. Di dalamnya hanya ada Jaka Utama dan Naningsih.

Naningsih berada di ruang kendali, sementara Jaka berada di kamarnya yang mewah, sedang mandi sambil menulis di buku harian.

“Kira-kira hadiah apa ya hari ini?” gumam Jaka menutup bukunya.

[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]

[Wibawa +1]

[Pesona Wajah +1]

[Hadiah diperoleh: Raga Penawar Segala Racun.]

[Deskripsi hadiah: Tubuh Tuan mengandung kekuatan pemurni racun.]

[ Saat terkena racun, otomatis memadatkan racun tersebut jadi 'Pil Racun'.]

[ Bisa mengeluarkan Pil Racun kapan saja untuk memicu Ledakan Racun.]

[ Bisa menyerap racun dari luar secara aktif.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!