"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat tambahan
Kiara berjalan memutari Kaisar. Sekarang dia berdiri tepat di belakang kaisar yang sedang duduk sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Lalu dengan perlahan dan tangan sedikit gemetar, Kiara menyentuh kepala Kaisar lalu mulai memijatnya secara perlahan. Di mulai dari belakang kepala lalu memutar ke bagian pelipis dan keningnya.
Pijatan lembut itu nyatanya membuat Kaisar merasa relax. Dia bahkan menghela napas karena merasa nyaman dengan pijatan Kiara.
"Ternyata kamu pintar memijat," gumam Kaisar.
"Saya tiap hari memijat ayah Saya, jadi mungkin Saya sudah layak mendapatkan sertifikat sebagai tukang pijat profesional," ucap Kiara mencoba mencairkan suasana dengan bercanda.
Dan candaannya berhasil membuat Kaisar terkekeh, "Tukang pijat profesional tanpa plus-plus," ucap Kaisar memperjelas.
"Ya, tentu saja!" jawab Kiara.
"Tapi kalau kita sudah menikah, mungkin akan kupertimbangkan untuk merasakan pijatanmu dengan plus plus," celoteh Kaisar.
Kiara terdiam sejenak, tangannya bahkan terhenti di udara karena ucapan Kaisar.
"Kenapa berhenti?" tanya Kaisar yang sedikit merasa kehilangan sentuhan jari Kiara di kening dan pelipisnya.
"Ah? ti-tidak apa-apa," ucap Kiara gugup tapi juga kesal, ingin rasanya Kiara menambah kekuatan pijatannya supaya kepala Kaisar makin pening.
"Kau masih merasa aneh dengan pembicaraan ini? bukankah kau sendiri yang meminta kita untuk menikah? kenapa jadi aku yang merasa akulah di sini yang menginginkan pernikahan ini?" ucap Kaisar sambil membuka matanya yang dari tadi terpejam. Dia menatap Kiara yang wajahnya berada tepat di atasnya.
"Eh? ehm.. tidak, saya hanya sedikit malu saja. Karena itu pembicaraan yang jarang Saya lakukan... Saya hanya belum terbiasa saja..." ucap Kiara lirih dengan wajah merona.
Menggemaskan. Kaisar melipat bibirnya lalu kembali memejamkan matanya.
"Ya, kau masih bisa membatalkannya, aku tak masalah karena kita belum memulainya sama sekali."
"Ti-tidak, Pak! tidak ada batal!" ucap Kiara dengan cepat. Batal? enak saja! kau sudah menciumku dua kali!
Kaisar menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan mata tapi sambil berpikir, jika Kiara terus begini, bisa-bisa pernikahan palsu mereka akan hancur dalam beberapa bulan saja. Padahal Kaisar mulai menikmati semua ini. Hidupnya beberapa hari ini terasa lebih berwarna berkat kehadiran Kiara. Jadi ini tidak bisa dibiarkan. Kaisar harus memikirkan cara, agar Kiara tak bisa mengajukan pembatalan pernikahan sebelum waktunya, dan dia bisa menikmati sandiwara ini lebih lama.
"Sudah cukup Kia, terima kasih," ucap Kaisar sambil meraih jemari Kiara agar menghentikan pijatannya.
"Duduklah, ada yang mau aku katakan," ucap Kaisar sambil menegakkan badanya. Rasa pusing di kepalanya sudah sepenuhnya menghilang, membuat kaisar merasa senang dan juga lega.
"Pusingku berkurang, kamu memang hebat Kia. Terima kasih," ucap Kaisar dengan tulus. "benarkah kamu berlatih memijat secara otodidak? kamu belum pernah ikut kursus sebelumnya?" tanya Kaisar yang masih takjub karena kepalanya sekarang terasa sangat ringan.
Kiara tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya. "Ayah Saya sedang sakit, dan dia tidak bisa bergerak dan hanya berdiam diri di atas ranjang. Jadi Saya harus selalu memberikan pijatan agar tubuhnya tak terlalu sakit karena terus berbaring," ucap Kiara sambil menundukkan kepalanya.
Kaisar terdiam. Ada hal baru lagi yang dia ketahui mengenai kehidupan Kiara, dan tentu saja membuat Kaisar makin penasaran.
"Maaf, kalau boleh tau, Ayahmu sakit apa?"
"Beliau terkena stroke dan bagian tubuh sebelah kanannya lumpuh. Jadi ayah terus berbaring di ranjang," Kiara tampak berusaha keras menutupi semburat kesedihan di wajahnya. Dia tak mau merasa di kasihani oleh seorang Kaisar.
"Apakah ayahmu masih menjalani perawatan?" tanya Kaisar yang tampak serius setelah mendengar ucapan Kiara.
Kiara mengangguk, "Satu bulan sekali, Saya pasti membawa ayah untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit."
"Kau sangat hebat, Kia. Aku bangga padamu," ucap Kaisar dengan tulus.
"Te-terima kasih, Pak." Kiara semakin merasa malu karena di puji Kaisar. baru kali ini ada seseorang memuji apa yang dia lakukan. Dan itu terasa sangat menyenangkan.
"Lalu bagaimana dengan Ibu mu?"
"Ibu Saya meninggal saat Saya masih duduk di bangku SMP," jawab Kiara. Dulu mungkin Kiara akan sedih dan bahkan menangis jika dia di beri pertanyaan tentang sang Ibu, namun sekarang dia sudah tak merasakan apa-apa lagi, seolah-olah pikirannya sudah penuh dengan usahanya menyembuhkan ayahnya yang sekarang masih berada di sisinya walaupun sedang sakit.
"Berarti kalian hidup berdua saja?" tanya Kaisar. Dia masih mencoba mencari tahu.
"Tidak, beberapa tahun setelah Ibu meninggal, ayah menikah lagi. Dan sekarang kami tinggal berempat, dengan ibu tiri dan anaknya yang lebih muda dari saya."
"Yang sekarang jadi pacarnya Fero?" lanjut Kaisar.
Kiara membola, "Bapak tau?"
Kaisar mengangguk sambil kembali menyandarkan bahunya di sandaran sofa. "Saya tau, maksud kamu yang sebenarnya meminta pernikahan ini. Kamu ingin balas dendam pada Fero dan adik tirimu itu, kan?"
Kiara menggigit bibir bawahnya. Gugup sekaligus malu, karena niat terselubungnya sudah di ketahui oleh Kaisar.
"Saya nggak masalah jika di jadikan alat untuk pembalasan dendammu, tapi Saya juga punya syarat," ucap Kaisar.
"Bu-bukankah syaratnya adalah... tiga kali sehari di weekend dan satu kali sehari di hari kerja?" ucap Kiara lirih dengan wajah merona malu.
Kaisar tersenyum, bukan senyum tipis yang biasa dia tunjukkan, namun senyum lebar hingga gigi putih dan rapihnya nampak dan membuatnya terlihat benar-benar sangat tampan.
"Itu memang syarat yang wajib kamu penuhi selama menjalani pernikahan ini, tapi ada satu lagi syarat yang lainnya."
"A-apa itu?"
Kaisar menatap Kiara yang tampak semakin gugup. "Kau tahu kan, Aku adalah orang yang sangat sibuk, hampir tak punya waktu untuk diri sendiri apalagi untuk beristirahat. Bagiku waktu adalah uang. Dan Aku tidak mau membuang-buang waktu aku demi keinginanmu untuk balas dendam, lakukan lah apa yang kamu mau dan aku akan melakukan apa yang aku mau. Tapi, sebelum waktu perjanjian benar-benar berakhir, Aku tidak mau ada pembatalan pernikahan pernikahan yang sudah kita lakukan, karena yang pasti akan merusak citra ku yang sudah kubangun selama ini."
Kiara masih diam dan memperhatikan Kaisar, belum sepenuhnya mengerti apa maksud dari pembicaraan ini.
"Jadi, sebelum masa kontrak selesai, ada syarat yang harus kamu taati. Pertama kamu tidak boleh meminta perceraian, yang kedua selama menjalani pernikahan dengan ku, kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun! kamu harus bisa menjaga nama baik ku. Dan jika semua syarat di langgar, kamu harus membayar denda sebesar 5 milyar padaku."
Kiara membola, "Li-lima Milyar!"
"Ya," Kaisar mengangguk beberapa kali, "Kalau kamu tak setuju, kita bisa membatalkan semuanya sekarang, mumpung belum terlanjur," Kaisar mengambil map coklat dan menyerahkan kembali kepada Kiara.
"Li-lima milyar? u-uang dari mana?" gumam Kiara ketakutan.
"Kamu tidk perlu memikirkan uang lima milyar itu! bukankah kamu tak perlu mengeluarkannya jika kamu tak melanggar kontrak? atau kamu ada keinginan melanggar kontrak sebelum waktunya? atau mungkin setelah dendam kamu terpuaskan, kamu mau langsung meminta cerai?"
"Ti-tidak, Saya tidak akan melanggar kontrak!" ucap Kiara dengan tegas.
"Berarti kita sudah sepakat?" tanya Kaisar sambil menatap Kiara dan menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Kiara. Dia mengulurkan tangannya pada Kiara, menunggu tangan Kiara membalasnya untuk men-sahkan persyaratan ini.
"Sepakat!" ucap Kiara mantap sambil menjabat tangan Kaisar.
"Perfect!" ucap Kaisar senang karena taktiknya berjalan lancar.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣