NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Rencana Kabur

"Sepertinya tujuan kita akan segera tercapai."

Perempuan dengan dress selutut tanpa lengan itu menenggak minuman berwarna putih jernih hingga tandas. Dia sedikit mengernyitkan keningnya sesaat setelah meminum minuman beralkohol itu.

"Kau tahu? Dia datang ke mansion utama dan meminta hal yang amat dilarang."

Lawan bicaranya yang mendengarkan merasa tertarik. Ia benahi surai sang perempuan yang berada di pangkuannya itu.

"Oh ya? Apa itu?"

Stella--, perempuan itu terkekeh kecil. Setelahnya dia kecup sekilas leher laki-laki yang tengah memangkunya.

"Perceraian."

Ellard sempat terdiam mendengar berita yang Stella sampaikan sebelum kemudian ia menyunggingkan satu sudut bibirnya.

"Kabar yang sangat bagus, Stella."

"Aku tidak sabar mereka segera bercerai, maka dengan itu apa yang kita tuju akan segera terwujud." ujar Stella yang telah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ellard.

"Tentu. Kita akan segera mendapatkan apa yang kita inginkan." balas laki-laki itu yang mengelus punggung kecil Stella. Tangan nakalnya mulai menelusup masuk dan mencari sesuatu yang menjadi favoritnya.

"Ellard, bolehkah aku serakah?" Stella tidak mengindahkan pergerakan laki-laki yang tengah memangkunya. Sepertinya perempuan itu sudah terpengaruhi oleh alkohol.

Sejak dulu kau sudah serakah Stella. "Tentu saja. Kau boleh melakukannya."

"Aku ingin mereka semua hancur. Karena mereka aku kehilangan seseorang yang paling aku cintai. Aku kehilangan kebahagianku." mata Stella berkilat dipenuhi rasa benci.

"Maka hancurkan mereka."

"Darahku rasanya mendidih melihat mereka tertawa setelah menghancurkan kebahagianku, Ellard.

.

.

 "Tuan, Nyonya sudah menerima paket yang anda kirim."

Informasi itu cukup membuat Sean merasa puas. Jangan percaya jika Sean benar-benar akan menjauhi Alissa. Itu tidak mungkin. Sean tidak akan pernah mau.

Namun kini biarlah dia memberikan Alissa sedikit ruang, bersama dengan suatu hal yang harus ia pastikan di sini.

Langkah tegas laki-laki itu menyusuri lorong yang sepi. Karena memang hanya orang tertentu saja yang bisa mengakses tempat ini. Diikuti dengan Ben di belakangnya, suami Alissa itu memasuki sebuah ruangan dengan tulisan 'Privat Room' pada pintu yang terbuat dari kaca.

Salah satu orang yang berada di ruangan itu terkejut melihat kedatangan Sean. Sedangkan yang lainnya hanya menatap malas. Berbanding terbalik dengan tatapan Sean yang sedingin kutub utara.

"Tumben sekali kau menyambangi tempat kecilku ini?" laki-laki yang duduk pada kursi kebesarannya mengibaskan tangan. Membuat gesture mengusir pada perempuan yang tengah merapihkan pakaiannya.

"Aku butuh bantuanmu."

"Wow!" Brian menganga takjub mendengarnya. "Seorang Sean Balrick meminta orang rendahan sepertiku?" sambungnya berdecak tak percaya.

Sean memutar bola matanya malas. Ia ingin duduk di sofa, namun urung ketika melihat sebagian tempat duduk itu yang basah. Sontak saja dia memandang Brian tajam.

"Kau menjijikan!" ejeknya dengan wajah tanpa ekspresinya itu.

Sang empu hanya menyengir tanpa merasa berdosa. Ia jilat bibirnya nakal. "Oh, ayolah. Aku hanya ingin mencari suasana baru."

Sean mendengus, lalu duduk pada salah satu kursi gaming yang memang terdapat banyak di sana.

"Selidiki kecelakaan di yang terjadi tujuh belas tahun silam."

"Kecelakaan yang mana?" Brian menatap teman karibnya itu jengah. Banyak kecelakaan yang terjadi pada tahun yang Sean sebutkan.

Sean melirik asistennya. Seolah mengerti arti lirikan itu, Ben serahkan map merah yang sedari tadi ia bawa kepada Brian.

"Ini kan...kecelakaan yang melibatkan orangtuamu." gumam Brian setelah membaca sekilas isi map itu.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin menyelidikinya?"

"Itu bukan urusanmu. Yang harus kau lakukan hanyalah menyelidiki kasus ini sedetail-detailnya. Aku ingin laporannya besok."

"Kau ini kebiasaan! Aku ingin tenggat waktu diperlambat." Brian malas lembur. Dia ingin bekerja dengan santai.

"Dua belas jam, laporanmu sudah harus jadi."

Kalimat itu berhasil membuat Brian menatap Sean jengkel. "Fine! Besok laporannya akan selesai."

Sean tersenyum miring. Merasa puas dengan keputusan Brian. Laki-laki itu merasa tidak sabar. Kata-kata Stella tempo lalu benar-benar mengusiknya.

Apakah benar kecelakaan itu ada sangkut pautnya dengan kebenaran identitas Stella. Perempuan yang selama ini ia anggap sebagai adik. Seharusnya Sean Memikirkan kejanggalan ini sejak dulu. Mengingat dia dan Stella sempat terpisahkan dan baru bertemu saat mereka sama-sama masih berusia anak-anak.

 "Jika aku mengatakan bahwa aku bukanlah adik kandungmu. Apa kau akan tetap bersamaku?"

Selama ini Sean terlalu bodoh karena mengabaikan hal sebesar ini.

.

.

Alissa menatap liotin berbandul batu ruby di tangannya dengan penuh rasa penasaran. Siapa gerangan yang mengirimkan liontin cantik ini.

Tidak ada nama sang pengirim. Hanya ada secarik kertas bertuliskan:

 'Mecintaimu adalah gairah untukku.'

"Ini bukan dari musuh kan?" Alissa sedikit merasa was-was. Tapi siapa jika benar memang dari musuh. Musuhnya hanya Sean. Dan tidak mungkin laki-laki itu yang mengiromkannya, mengingat ucapannya minggu lalu.

"Jika itu keinginanmu, baiklah Alissa. Aku...akan menjauh darimu."

Mengingatnya entah mengapa membuat Alissa merasa sebal. Dalam hatinya selalu berteriak tidak terima.

Katanya cinta, namun pada akhirnya dia tetap menjauh. Bukankah jika cinta seharusnya diperjuangkan?!

Tapi itu keinginanmu, Alissa. Kau yang meminta Sean untuk menjauh darimu. Lalu kenapa sekarang kau protes dengan tidak adanya dia di dekatmu. Dan seperti biasa. Logikanya selalu menentang isi hatinya.

"Kau!" dengan ekspresi kesalnya Alissa menunjuk perutnya yang sedikit membucit.

"Berhenti merindukan ayah breng-sekmu itu!" katanya menjadikan kehamilannya sebagai alasan.

"Dia tidak menyayangi kita. Laki-laki sia-lan itu tidak menginginkan kita. Jadi stop memikirkanya!"

Jika saja anaknya ini sudah lahir. Akan Alissa cubit pipi gembulnya sampai memerah.

"Jika..jika merindukan dia jangan mengajakku. Jangan menyiksaku dengan perasaan ini..." nada kesal Alissa menurun. Menjadi lirihan yang hampir tak terdengar.

Pada akhirnya, perempuan itu melengkungkan bibirnya. Ia peluk perutnya sendiri sedih.

"Kangen wangi parfum Sean..." katanya yang hampir menyerupai rengekan.

Katakan dia perempuan plin plan. Ejek Alissa sebagai perempuan tak berpendirian. Hina kalian sesuka kalian. Tapi Alissa bisa apa, ketika hatinya sudah bersuara.

Perempuan hamil itu mengambil ponsel yang tergeletak di meja rias. Ia pandangi nomor kontak bernama Baji-ngan Balrick itu. Hatinya memberontak ingin medialnya namun rasa gengsi yang bersemayam di otaknya lebih besar.

Nanti dia berpikir, aku sudah luluh lagi...

"Ck, apa yang aku pikirkan!" Alissa meletakan kembali ponselnya kasar.

"Alissa sadarlah! Seharusnya kau bersiap-siap kabur karena kematianmu tinggal---

Oh, shit! Kenapa Alissa bisa melupakan hal sepenting ini! Usia kandungannya sudah memasuki bulan ketiga. Itu artinya...satu bulan lagi menjelang penyiksaan Sean akan berlangsung.

Alissa sontak menyentuh perutnya berniat melindungi. Lalu ia lirik liotin berbandul batu ruby itu dengan pikirannya yang berkecamuk.

Jika dijual pasti mahal. Persetan dengan siapa yang mengirimkaya. Alissa akan menjual liontin itu untuk bekalnya melarikan diri.

Jika bercerai dari laki-laki itu tidak bisa, maka satu-satunya cara lepas dari Sean adalah pergi sejauh-jauhnya.

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!