NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Drama di Pagi Hari

Hah! Siapa sangka, tidur bisa mengakibatkan jiwamu bertransmigrasi ke raga yang lain. Beda dunia pula.

Kanaya pikir kejadian semalam hanyalah mimpi. Namun saat dirinya terbangun dan masih berada di tempat semula, perempuan itu sadar. Bahwa dirinya sudah mengalami transmigrasi jiwa.

"Buat apa kupikirkan, di sini tidak ada malaikat maut yang akan menghabisi diriku. Yang perlu aku ingat adalah, jangan melakukan hal konyol seperti bu-nuh diri. Hanya itu." monolog Kanaya yang sejatinya hanya untuk menenangkan diri.

Mengoleskan pelembab bibir, perempuan itu berdecak kagum melihat bagaimana cantiknya wajah barunya melalui pantulan cermin.

"Andai di dunia sebelumnya wajahku secantik ini, pasti Zayn Malik akan tergila-gila padaku." sang figuran terkekeh menyadari pemikiran absurd-nya.

Tapi tunggu--- apakah alur cerita sudah dimulai? Yang Kanaya ingat, cerita dimulai saat Kalendra mengalami insiden pembegalan. Saat laki-laki itu tengah terkapar tak berdaya di tengah jalanan sepi, datanglah sang malaikat penyelamat yaitu Zana Damara.

Memesan taxi, Zana mengantar Kalendra pulang. Dan--- sebagai bentuk balas budi, Kalendra memperkerjakan Zana yang memang membutuhkan uang saat itu.

Mulai dari situlah mereka sering menghabiskan waktu bersama dan benih-benih cinta mulai tumbuh.

Sangat klise dan picisan.

Mendengus tak minat, Kanaya mengibaskan rambutnya untuk membangun kepercayaan diri. "Satu lagi yang harus kau ingat, Kanaya. Jangan dekati Kalendra. Bersikap biasa seperti kau dan laki-laki itu tidak memiliki hubungan apa-apa."

"Kau mengenalnya hanya sebatas sesama manusia. Hanya itu."

Melirik ke arah ranjang, Kanaya tersenyum sinis saat melihat punggung laki-laki yang masih tertidur lelap.

"Dasar tidak punya pendirian. Bukankah dia mengatakan tidak tertarik dan tidak akan pernah menyentuh Kanaya? Tapi lihatlah kejadian semalam. Dia hampir saja merenggut kesucian perempuan yang katanya tidak membuatnya tertarik."

Begitulah laki-laki, gampang tersulut oleh rasa yang dinamakan naf-su.

"Tapi, kenapa dia tidak keluar kamar setelah aku pingsan?"

Setahunya, Kanaya dan Kalendra itu pisah kamar. Bahkan, nantinya ada satu adegan di mana Kalendra membawa Zana ke kamarnya semalaman penuh. Dalam kata lain, mereka tidur bersama. Coba bayangka, apa yang dilakukan oleh dua orang berlawanan jenis di dalam satu kamar? Main ludo begitu?

"Ck, kalau sampai kedua tokoh utama itu memang melakukan hubungan in-tim, aku sendiri yang akan meminta cerai." hei! Catat ini baik-baik. Kanaya tidak suka barang bekas.

Selesai mengurusi penampilannya, Kanaya hendak keluar kamar untuk sarapan. Tapi, suara bariton yang terdengar serak berhasil menghentikan pergerakannya.

"Mau kemana kau."

Kanaya berbalik, menatap Kalendra yang ternyata sudah terbangun. Entah sejak kapan laki-laki itu membuka matanya.

"Menurutmu?

Kanaya menghembuskan nafas jengah. "Kau tidak lihat aku memegang handle pintu?"

Kenapa Kalendra harus bertanya sesuatu yang jawabannya sudah ada di depan mata? Bukankah laki-laki itu benci berbasa-basi?

Tanpa menunggu balasan, Kanaya buru-buru meninggalkan kamar. Dirinya juga tidak ingin berlama-lama berduaan dengan protagonis itu.

Menyisakan Kalendra sendirian yang menatap rumit bekas tempat istrinya berdiri.

.

.

"Buatkan aku kopi."

Lagi-lagi Kanaya menghela nafas jengah. Kegiatan memakan waffle-nya terhenti. Kalendra kembali menganggu waktu tenangnya. Tiba-tiba saja laki-laki itu duduk di seberangnya dan dengan seenak jidat memerintahnya.

"Bik! Kalendra mau kopi---

"Aku menyuruhmu, kenapa malah memanggil pembantu?" sela Kalendra cepat yang membuat Kanaya menatap laki-laki itu tak terima.

"Kau tidak lihat aku sedang sarapan?"

"Kau lupa aku suamimu? Salah satu kewajiban istri adalah patuh pada suaminya."

Enteng sekali sang protagonis berbicara. Bahkan tak mempedulikan tatapan potres yang Kanaya layangkan.

"Sejak kapan kau menganggapku sebagai istri?"

"Cepat! Setelah ini aku ada rapat." abai Kalendra yang malah fokus dengan iPadnya. Sindiran sang istri sama sekali tidak bekerja.

Kesal, Kanaya meletakkan alat makan-nya kasar, tak ayal perempuan itu menurut dan pergi ke dapur untuk merealisasikan perintah dari sang suami.

Baru sehari bertransmigrasi dan dia sudah dijadikan pembantu.

Tak membutuhkan waktu lama, Kanaya kembali dengan secangkir kopi hitam yang uapnya masih sedikit mengepul. Tersenyum manis, ia letakkan cangkir itu tepat di depan Kalendra.

"Silahkan diminum Tuan. Istrimu ini membuatnya dengan penuh rasa cinta." ujarnya dengan menekankan kata istri.

Samar, Kalendra mendengus. Ia ambil cangkir itu dan menyesapnnya sedikit, hingga---

Byurrr! 

Laki-laki itu menyemburkan kopi itu hingga mengotori meja depannya.

Kalendra menatap Kanaya tajam. "Kau sengaja, hah?!"

"Se--sengaja apa?" balas perempuan itu pura-pura tidak mengerti.

"Kopi ini sangat asin, Kanaya. Apa kau tidak bisa membedakan antara gula dan garam?!"

"Asin? Wah, benarkah? Menurutmu lebih enak kopi asin atau manis?"

"Kanaya." geram Kalendra.

"Apa?" Kanaya berdecak.

"Aku sudah mematuhi perintahmu dengan membuat kopi. Sekarang apa lagi salahku?"

Lama Kalendra diam, sampai akhirnya laki-laki itu terkekeh sinis. "Ohh, sekarang aku paham."

Kalendra berdiri. Berjalan mendekati Kanaya yang membuat sang target gelagapan. Saat figuran itu ingin menghindar, Kalendra sudah terlebih dahulu mengunci pergerakannya dengan menahan pinggang sang perempuan.

Kanaya mati kutu. Apalagi saat Kalendra mengapit dagunya dan memaksanya untuk menatap raut dingin sang suami.

"Ini trik barumu, heh?" ucap Kalendra bernada rendah, namun sarat akan makna.

"Tri--trik apa maksudmu?"

Kanaya menggeliat, mencoba melepaskan diri. Tapi semakin dia bergerak, Kalendra semakin erat mencengkram pinggangnya.

"Setelah tidak berhasil menggodaku, sekarang kau beralih menarik perhatianku dengan cara seperti ini?"

"Ap--apa?!" kedua mata Kanaya membola tak terima.

"Kau terlalu bekerja keras, Kanaya."

"Kalendra, kau---kau salah paham. Aku tidak----

"Dan kinerjamu ini harus kuberi apresiasi."

Awalnya Kanaya bingung saat Kalendra kembali meneguk kopi asin buatannya, tidak setelah protagonis itu dengan gesit menubrukkan bibirnya pada bibir Kanaya. Memindahkan air kopi bercampur garam itu kepada Kanaya.

Seketika rasa asin memblokade mulut Kanaya. Perempuan itu ingin memberontak, Kalendra yang tahu niatnya gegas menekan tengkuk sang istri dan memaksanya menelan minuman sialan itu.

Selesai dengan niatnya, dia melepaskan cekalannya dari tubuh Kanaya yang sudah lemas. Istrinya terbatuk kecil, dan itu membuat Kalendra menarik satu sudut bibirnya merasa sangat puas.

"Bagaimana? Kau suka dengan apresiasi dariku?"

Kanaya menatap Kalendra nyalang. "Kau!!"

"Awas saja, akan ku laporkan kau atas tuduhan pelecehan!"

Sontak Kalendra mengudarakan tawanya. "Ya, lakukan saja. Kita lihat, apa mereka akan menerima aduan-mu itu atau tidak."

"Kau---

Kanaya kehilangan kata-kata. Ck, kapan pemeran utama wanita akan muncul. Kumohon segera muncul sehingga Kalendra brengsek ini akan segera menceraikanku.

Istri Kalendra itu menatap suaminya penuh permusuhan. Hal itu tak berlangsung lama saat kemudian dia bersedekap dada dengan mengulas senyum sinis.

"Oh, apakah sekarang Tuan Kalendra sedang menjilat ludahnya sendiri?"

Kening Kalendra mengernyit tak paham dengan ucapan Kanaya.

"Siapa ya, yang dulu mengatakan tidak akan tertarik."

"Seseorang juga pernah mengatakan padaku, dia tidak akan pernah menyentuhku."

Ekpresi Kanaya berubah penasaran yang dibuat-buat. Berbanding terbalik dengan wajah Kalendra yang memerah.

Apa laki-laki ini marah? 

Dengan keberanian yang tersisa, Kanaya menyentuh dada bidang Kalendra yang terlapisi kemeja putih.

"Apa...kau tahu siapa orang itu?" tanya Kanaya dengan suara yang dilembut-lembutkan.

Kalendra diam. Namun matanya tak lepas dari wajah sang istri yang berniat menggoda.

"Kalendra, aku bertanya padamu. Kenapa kau tidak menjawab?"

"Entah." jawab Kalendra yang mulai tidak fokus oleh sentuhan Kanaya. Hingga---

Byurr.

Kanaya menyiram kemeja sang suami menggunakan sisa kopi asin itu. Sontak Kalendra mendelik tak percaya. Kemejanya basah dengan bercak hitam yang begitu kentara.

"Kanaya!!" suara Kalendra menggelegar di seantero ruangan, disusul tawa Kanaya yang puas karena berhasil balas dendam.

"Hahaha!! Rasakan itu!"

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!