Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Musnahnya Sekte Awan Biru!
***
Suasana di dalam desa Mingxien sangat tegang, dan udara terasa sangat berat menekan paru-paru mereka yang ada disana.
Keempat Panatua Inti Sekte Awan Biru masih terpaku, namun dua orang Panatua yang merasa sombong akan kekuatan mereka, melangkah maju ke depan secara bersamaan.
"Hey, wanita! Kamu itu terlalu banyak bicara, tahu?!" ujar salah satu Panatua sombong berjanggut abu-abu, dengan nada meremehkan.
"Kamu benar! Dia pikir, karena sebuah 'ancaman' kosong, kami akan mundur?" sambung Panatur bermata licik disampingnya.
Dua Panatua yang ada di belakang mereka langsung menjauh, saat mendengar ucapan penuh provokasi itu.
"Kita menjauh saja dari mereka berdua, jangan mencari mati ..." bisik Panatua yang otaknya lebih cerdas.
"Aku ikut kamu saja ... bukan aku takut, tapi aku masih ingin hidup!" sahut rekannya, setuju.
"Panatua Liu ... Panatua Qian ... jangan memprovokasi! Nyawa kita hanya satu, jangan sampai terbuang dengan sia-sia!" peringat salah satu Panatua dibelakang mereka.
"Tsk! Diam saja kalau kalian takut! Aku hanya ingin melihat, sejauh mana kekuatan wanita desa ini, sampai dia bisa bicara sombong begitu!" sahut Panatua Liu sambil mendengus kesal.
Anlian memutar malas kedua bola matanya, saat melihat kedua Panatua sombong itu.
"Kalian berdua benar-benar memilih kematian rupanya ... Baiklah, saya akan bergerak dengan cepat!" ujar Anlian, sambil meregangkan otot-ototnya.
"Mingye, mundur! Jaga Yuexin dan bocil itu dengan baik! Ibu akan menghadapi mereka!" perintah Anlian dengan nada tegas.
"Yaoyao! Lindungi mereka! Dan yang lain, lindungi penduduk desa kita!" lanjut Anlian memberi perintah.
"Baik, Penguasa!"
Mingye terlihat sedikit khawatir, raut wajahnya mengeras.
"Ibu ...!!! Hati-hati!"
Yuexin refleks memeluk bocil itu dengan erat, matanya dipenuhi kekhawatiran.
"Kak Xinxin ... meleka mau belantem, ya?" tanya bocil itu dengan wajah polos.
Yuexin menundukkan kepalanya, untuk melihat wajah bocil itu.
"Haissh! Bukan berantem, mereka hanya ingin adu kekuatan saja ..." sahut Yuexin menjelaskan.
"Oh, begitu ..."
Kedua Panatua Inti itu berhadapan dengan Anlian, mereka langsung menghunus pedang spiritual mereka ke arah Anlian.
Energi Qi meledak, dan sebuah cahaya berwarna biru tua keluar dari dalam pedang tersebut.
BOOOM!
"FORMASI AWAN SPIRITUAL GANDA!" teriak Panatua Qian dengan suara lantang.
Dua bilah bayangan pedang, terbang menyilang di udara, memutar dengan cepat, dan menekan ruang kosong di sekitar Anlian.
"Berlutut dan akui kesalahanmu, wanita desa sia-lan! Jika tidak, maka kami akan menghabisimu!" teriak Panatua Liu dengan wajah sombong.
Namun Anlian tidak bergerak sedikitpun ...
Dia hanya mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi, dan ...
CRACK!
Tanah disekitar Anlian langsung retak, membentuk sebuah pola lingkaran formasi.
"Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apakah kalian tidak pernah mendengar pepatah yang mengatakan 'Jangan Pernah Mengusik Singa Betina yang Sedang Tidur' ya?" ujar Anlian dengan nada dingin.
"Karena kalian sudah berani mengusik 'sarangku', maka bersiaplah untuk ... Mati!" lanjut Anlian dengan tatapan berbahaya.
Sistem T2: [Mode Ashura Pembunuh ON! Nona bersiaplah untuk menerima energi semesta yang dahsyat!]
Suara T2 bergema di benak Anlian, membuat Anlian semakin terlihat menakutkan diluar.
"Apa-apaan ini?! Kekuatan apa yang dia miliki?!" gumam Panatua Qian dengan wajah terkejut.
"Ini bukan tekanan Spiritual Qi! Tidak ad lonjakan energi Qi dari dalam tubuhnya! Ya, Tuhan ... Kekuatan aneh apa ini?!" sahut Panatua Liu sambil membeliakkan matanya.
Anlian berjalan perlahan ke arah mereka.
"Kalian benar! Saya tidak menggunakan Spiritual Qi, karena saya memang tidak memilikinya ... hehehehe." ujar Anlian sambil terkekeh menakutkan.
"Ini adalah niat membunuh Ashura Neraka level atas! Hahahahaha!"
Setelah tertawa, sosok Anlian tiba-tiba menghilang dalam sekejap.
SLAB!
Kedua Panatua itu langsung panik, saat sosok Anlian menghilang dari hadapan mereka berdua.
"Hey, dimana dia?!"
Tidak lama kemudian ...
BUGH!
Siku tangan Anlian langsung menghantam dada Panatua Liu dari arah samping, dengan kekuatan penuh.
"AARRRGHH—"
Tubuh Panatua Liu terhempas ke atas tanah dengan kencang, lalu dia memuntahkan seteguk darah dari dalam mulutnya.
"PUUFFF—"
Saat Anlian ingin menghabisi Panatua Liu, terdengar teriakan Panatua Qian dari arah belakang.
"HENTIKAN WANITA DESA SIA-LAN!!"
Setelah itu, Panatua Qian mengayunkan pedangnya ke arah Anlian.
SWOSSH!
GRABB!
"A--apaaaa???!!!"
Bola mata Panatua Qian nyaris keluar dari tempatnya, saat melihat ujung pedangnya ditangkap dengan kedua jari begitu.
"Eh, pedang spiritual ini ternyata bagus juga ya? Namun sayang, dia berada ditangan orang yang otaknya hanya seperempat ..." ujar Anlian dengan nada sarkas.
Dan—
CTAK!
Bilah pedang itu langsung patah menjadi dua, dipatahkan begitu saja oleh Anlian dengan wajah tanpa ekspresi.
Setelah itu, Anlian memukul mundur Panatua Qian dengan tenaga dalam miliknya.
BUGH!
"ARRGHH!"
Panatua Qian terpental ke arah belakang dengan tulang bahu yang patah.
Dan dalam sekali gerakan, Anlian menghabisi nyawa kedua Panatua sombong itu dengan cepat.
CRACK! ... CRACK!
Anlian memelintir leher mereka dengan cepat, sehingga mereka sekarang sedang antri di depan Paviliun Neraka Dewa Yamma.
Melihat keganasan Anlian, kedua Panatua yang tidak ikutan itu langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
Anlian berdiri tegak di tengah alun-alun desa, pakaian hitamnya berkibar pelan, sehingga sosoknya seperti seorang Dewi Kematian yang turun dari Neraka.
Lalu dia menatap kedua Panatua yang tersisa dengan tatapan tajam.
"Kalian hidup untuk menyampaikan sebuah pesan ..." ujar Anlian dengan nada dingin.
"Pe--pesan apa itu?" tanya salah satu Panatua dengan suara bergetar.
"Sampaikan kepada Panatua Utama Sekte Awan Biru kalian, jika malam ini ... Ashura Neraka akan datang berkunjung!" ujar Anlian dengan wajah datar.
Kedua Panatua itu terbeliak, saat mendengar nama Ashura Neraka dari mulut Anlian.
Mereka sudah mendengar tentang sepak terjang kelompok ini di Ibukota Kekaisaran.
Dan, wanita ini ...
Dia mengenal kelompok Ashura Neraka yang kejam itu?
Mereka benar-benar salah mencari lawan!
"Untuk apa mengirim kelompok itu datang ke Sekte kami? Dua orang itu sudah mati ditangan Anda, apakah Anda belum puas?" tanya salah satu Panatua dengan wajah ketakutan.
Namun, Anlian tidak menjawabnya ...
Dia membalikkan tubuhnya, dan berjalan menghampiri anak-anaknya.
"Yaoyao, cari Shen Luo dan berikan perintah 'Ulti-Satu' kepadanya, agar bergerak malam ini!" perintah Anlian kepada Yaoyao.
"Perintah diterima!"
Dibelakang mereka, kedua Panatua yang masih hidup itu tercengang, saat mendengar perintah Anlian kepada pelayan disampingnya.
"Apaa??!! Ulti-Satu??"
"Perintah untuk Shen Luo-Sang Jenderal Pedang Ashura Neraka?!"
"Jangan-jangan ... Dia ..."
Setelah saling tatap dengan temannya, kedua Panatua itu segera pergi dari sana, sambil membawa kedua mayat rekannya.
WUSSH!
♨
Malam itu juga, Shen Luo memimpin Ashura Neraka untuk meratakan Sekte Awan Biru dengan cepat.
Dia berdiri di depan dua puluh orang anggota AN, dengan mengenakan jubah berwarna merah gelap.
"Kalian semua, dengarkan perintah! Hancurkan sampai bersih Sekte Awan Biru ini!" ujar Shen Luo dengan suara lantang.
"Perintah diterima! Ashura Neraka siap bertugas!" jawab mereka serempak.
Setelah itu, para Ashura Neraka muncul satu-persatu dari dalam kegelapan.
Tugas mereka adalah membantai dengan bersih, dan menghancurkan dengan rapi, agar nama Sekte Awan Biru hilang dari catatan sejarah Dinasti Zhang.
Salah satu Panatua Utama bergegas mengaktifkan sebuah segel formasi kuno, sebelum dia ikut bertarung diluar sana.
"Tolong, jangan bunuh kami! Kami mengaku salah, oke?!"
"Arrrghhh! TIDAAAAKKK!!!"
"Jangan bunuh ... jangan bunuh saya!"
Suara-suara itu terputus satu demi satu, bersama dengan hilangnya nyawa mereka dari dunia ini.
Para Ashura Neraka tidak memberi ampun kepada siapapun targetnya, jika perintah 'Ulti-Satu' sudah turun, maka pemusnahan masal harus segera dituntaskan.
BOOM!
CRASH!
DHUAAR!
Dalam waktu kurang dari satu batang dupa panjang, Sekte Awan Biru sudah rata dengan tanah.
Semuanya musnah tanpa sisa ...
Namun setelah semuanya selesai, tiba-tiba—
"Ugh ...!"
Shen Luo terlihat terhuyung di udara.
Ternyata dia terkena serangan formasi kuno, yang sebelumnya diaktifkan oleh salah satu Panatua Utama.
"Tuan S!!!" teriak salah satu anggota Ashura Neraka, sambil menopang tubuh Shen Luo yang lemah.
Shen Luo langsung menutup matanya, darah hitam terlihat menetes dari sela bibirnya yang pucat.
"Aku tidak apa-apa ... Ayo, pulang! Aku ingin beristirahat ..." ujar Shen Luo dengan suara pelan.
"Hanya terluka sedikit ... yang penting Nyonya dan anak-anak sudah aman sekarang ..."
Setelah ucapannya jatuh, mereka langsung hilang ditelan gelapnya malam.
♨
Sementara itu di dalam kediaman Duxi, Anlian mendapat laporan jika Shen Luo terluka.
Dia langsung memberikan ramuan level 8, agar semua organ dalam Shen Luo yang terluka, kembali sembuh seperti semula.
Bagi kelompok Ashura Neraka, tidak masalah terluka saat bekerja, karena ada ramuan penyembuh ajaib buatan Penguasa mereka.
Setelah mengurus Shen Luo, Anlian menatap si bocil yang sudah bersih itu.
Dia duduk di atas sebuah ranjang kecil milik Yuexin sebelumnya, sambil mengayunkan kaki mungilnya.
"Ibu Kak Xinxin ... aku sudah belsih dan halum ..." ujarnya dengan wajah tersenyum.
Anlian tersenyum hangat, sambil mengusap kepala kecil itu dengan lembut.
"Bagus sekali! Ternyata kamu adalah anak yang sangat patuh, ya?" puji Anlian.
Yuexin duduk disamping anak itu dengan wajah cemas.
"Ibu, apakah analisa yang aku bilang tadi itu benar? Apakah bocah ini sangat berbahaya?" tanya Yuexin dengan suara berbisik.
Anlian menggelengkan kepalanya perlahan.
"Dia adalah awal baru untuk takdir kita, Xinxin ... bukan sesuatu yang berbahaya, jika kita dapat mengarahkannya ke arah yang tepat," jawab Anlian.
Mingye bersandar pada palang pintu, dengan kedua tangan yang melipat di depan dadanya.
"Ibu ... dia membutuhkan sebuah nama sekarang ..." ujar Mingye mengingatkan Anlian.
Bocah itu mengalihkan tatapannya ke arah Mingye.
"Apa itu nama, Kakak besal?" tanya bocah itu.
Anlian menjelaskannya dengan sabar.
"Nama adalah sebuah 'Jangkar Takdir' untuk manusia. Saat nama sudah ditentukan, maka langit akan menentukan jalan takdir manusia itu dari awal sampai akhir ..." jawab Anlian.
Bocah itu terdiam sejenak, seolah-olah dia sedang memikirkan hal tersebut dengan keras.
"Kalau benal begitu, maka aku mau nama yang bagus, agal bisa menjaga Kak Xinxin!" ujar bocah itu dengan wajah serius.
Yuexin terdiam dan Anlian menatap bocah itu lekat-lekat, saat mendengar ucapannya.
"Apakah kamu tahu arti dari kata 'menjaga' itu?" tanya Yuexin.
"Tahu ... itu altinya tidak membialkan olang lain nakal telhadap Kak Xinxin ..." jawab bocah itu dengan percaya diri.
Anlian langsung tertawa, saat mendengar jawaban bocah itu.
"Baiklah ... baiklah! Sekarang kamu bisa panggil aku 'Ibu', sama seperti Kak Mingye dan Kak Xinxin, oke? Dan nama kamu sekarang adalah ... Duxi Lingyuan ..." ujar Anlian, sambil mengelus kepala lembut kepala bocah itu.
"Ling ... Yuan??" beo bocah itu dengan wajah bingung.
"Ya, Lingyuan! Ling artinya jiwa murni, dan Yuan adalah asal ..." ujar Anlian.
"Jadi nama 'Lingyuan' artinya sebuah jiwa tanpa noda, yang menjadi awal dari segalanya ..." lanjut Anlian menjelaskan.
Lingyuan langsung tersenyum sangat lebar, saat mendengar penjelasan itu.
"Wah, telima kasih, Ibu! Nama aku, bagus sekali!" seru Lingyuan dengan mata berbinar.
"Dan mulai sekalang ... aku juga bagian dari desa Mingxien!" lanjut Lingyuan dengan wajah serius.
Anlian mengusap kepala anak itu dengan penuh kelembutan.
"Dan selama Ibu masih hidup ... tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menyentuh kalian bertiga ..." ujar Anlian dengan nada tegas.
Malam itu terasa hangat di dalam kediaman Duxi.
Sementara itu diluar, angin malam berdesir pelan ...
Membawa sebuah berita, jika malam ini ... Takdir Lingyuan mulai bergerak sesuai alur kisahnya di kemudian hari nanti.
♨♨♨
Note: Ilustrasi gambar di setiap bab hanyalah pemanis cerita, jadi maafkan kalau ada yang tidak nyambung, oke?😁✌🏻.
Terima kasih,
Aurora79.
jgn lupa ninja hatori...nobita..
suneo...gian...chibi marukochan 😂
dendam membara 😂