Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Kisah
Di sudut lain kota Jakarta, di sebuah kamar kos yang sempit dan remang-remang, Ayub sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel besar. Wajahnya tampak lebih kurus, matanya cekung karena kurang tidur. Keputusannya sudah bulat: ia akan pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah malam ini.
Ia tidak sanggup lagi berada di Jakarta. Setiap sudut kota ini mengingatkannya pada aroma kayu manis dari toko kue Livia. Setiap kali ia memejamkan mata, ia teringat tatapan jijik Livia di rumah sakit yang menganggapnya orang asing.
"Mungkin ini memang takdirnya, Mbak," gumam Ayub pada selembar foto Livia yang tersisa di dompetnya. "Melihatmu selamat dan kembali ke pelukan suamimu, meskipun itu menyakitkan bagiku, setidaknya kamu aman."
Ayub menyampirkan tasnya, melangkah menuju pintu. Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah panggilan masuk.
Nama di layarnya membuat napas Ayub terhenti. Livia.
Dengan tangan gemetar, Ayub menekan tombol hijau. Ia ragu, apakah ini Livia yang akan memaki-makinya lagi? Atau ini Attar yang memintanya menjauh?
"Ha... halo?" suara Ayub nyaris hilang.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan, namun sangat familiar bagi indra pendengaran Ayub.
"Ayub..." suara itu lembut, penuh penyesalan, dan sangat sadar. "Ayub, ini aku... Livia-mu."
Dunia Ayub seolah berhenti berputar. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu, air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. "Mbak? Mbak Livia sudah ingat?"
"Maafkan aku, Ayub... maafkan aku sudah melupakanmu," tangis Livia pecah di seberang telepon. "Tolong jangan pergi. Aku ada di rumah Attar... jemput aku, Ayub. Bawa aku pergi dari sini. Aku ingin pulang... ke apartemen."
Ayub tidak menunggu kalimat kedua. Ia melempar tas ranselnya ke lantai, menyambar kunci motor dengan semangat yang kembali membara. Masa lalu yang berdarah dan kebohongan Attar mungkin telah menghancurkan banyak hal, namun cinta tulus pemuda itu ternyata menjadi satu-satunya kompas yang menuntun Livia kembali pulang.
Di kediaman Attar, Livia berdiri di depan cermin, menghapus air matanya. Ia menatap pantulan dirinya; wanita yang telah melewati api, pengkhianatan, dan amnesia. Di luar sana, suara motor Ayub mulai terdengar mendekat di kejauhan, membelah kesunyian malam Jakarta yang penuh drama.
****
Deru mesin motor Ayub berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman Attar. Suaranya membelah kesunyian malam yang mencekam, seolah menjadi lonceng peringatan bahwa sandiwara ini telah mencapai babak akhirnya. Ayub turun dengan langkah tergesa, helmnya masih menggantung di lengan, sementara dadanya naik turun oleh debaran jantung yang tak keruan.
Di dalam ruang tengah yang luas, cahaya lampu kristal yang mewah terasa dingin dan menyakitkan. Livia berdiri di dekat jendela, membelakangi Attar. Bahunya berguncang pelan karena isak tangis yang berusaha ia redam. Di atas meja jati, map biru berisi surat cerai itu terbuka lebar, seperti luka lama yang dipaksa menganga kembali.
"Liv, aku mohon... dengarkan aku sekali saja," suara Attar parau, penuh dengan keputusasaan yang merayap. Ia berdiri beberapa meter di belakang Livia, tidak berani mendekat karena aura penolakan yang begitu kuat dari wanita itu.
Livia berbalik perlahan. Matanya merah dan sembap, namun sorot matanya kini tajam dan penuh kesadaran. "Apa lagi yang mau kamu jelaskan, Mas? Bahwa kamu mencintaiku? Cinta macam apa yang dibangun di atas kebohongan saat aku sedang tidak berdaya? Kamu memanfaatkan lubang di ingatanku untuk memuaskan egomu!"
"Aku hanya ingin melindungimu dari rasa sakit!" bela Attar, suaranya naik satu nada.
"Rasa sakit itu adalah bagian dari diriku, Attar! Kamu tidak punya hak untuk menghapusnya!" Livia menunjuk ke arah pintu. "Saat aku berada di tengah api itu, namamu tidak ada dalam benakku. Aku mengingat seseorang yang mempertaruhkan nyawanya tanpa pernah menuntut apa-apa dariku. Dan kamu membiarkanku menghina orang itu di depan wajahmu!"
Tepat saat itu, pintu depan diketuk dengan keras. Ayub masuk tanpa menunggu izin, wajahnya dipenuhi keringat dan kecemasan yang mendalam. Begitu matanya menangkap sosok Livia yang berdiri tegak dengan penuh kesadaran, Ayub mematung.
"Mbak Livia..." bisiknya.
Livia tidak menunggu lama. Ia berlari kecil menyeberangi ruangan dan langsung menghambur ke pelukan Ayub. Ia membenamkan wajahnya di dada pemuda itu, menghirup aroma keringat dan jaket kulit yang selama ini menjadi penawar traumanya. Ayub mendekapnya erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Livia akan menguap kembali menjadi ingatan yang hilang.
****
Attar menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ia melihat bagaimana tangan Livia mencengkeram kemeja Ayub, sebuah keintiman dan ketergantungan yang tidak pernah ia dapatkan lagi sejak pengkhianatannya dengan Sheila dimulai. Di sana, di antara pelukan dua orang itu, Attar menyadari bahwa ia benar-benar telah menjadi orang asing.
Ia menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa berat seolah paru-parunya dipenuhi timah. "Cukup," ucap Attar lirih.
Livia dan Ayub menoleh. Attar berdiri dengan bahu yang merosot, ego dan kesombongannya telah luruh sepenuhnya. "Kamu benar, Liv. Aku tidak pernah berubah. Aku selalu mencoba membangun istana di atas pasir yang rapuh. Aku meminta maaf... untuk semua kebohongan ini, dan untuk semua luka yang aku bawa sejak pertama kali kita bertemu."
Attar menatap Ayub. Ada rasa cemburu yang sempat berkilat, namun segera digantikan oleh rasa hormat yang enggan. "Jaga dia, Ayub. Kamu melakukan apa yang tidak pernah sanggup aku lakukan: mencintainya tanpa syarat."
Attar berjalan menuju meja, mengambil kunci mobilnya. "Aku akan kembali ke Sydney besok pagi. Penerbanganku jam sembilan. Rumah ini... aku akan menyerahkannya pada agen properti. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Livia. Tidak akan pernah lagi."
Livia menatap mantan suaminya itu. Rasa marahnya perlahan surut, digantikan oleh rasa iba yang dingin. "Selamat tinggal, Mas Attar. Semoga di sana kamu menemukan kedamaian yang tidak bisa kamu temukan di sini."
Attar tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar dari rumahnya sendiri, meninggalkan segala kemewahan dan kenangan pahit yang selama ini membelenggunya. Saat mobilnya menderu menjauh, sebuah babak panjang penuh darah dan air mata dalam hidup Attar Pangestu resmi ditutup.
****
Malam itu juga, Ayub membawa Livia kembali ke apartemennya yang kini terasa lebih hangat meskipun beberapa sudutnya masih menyisakan trauma. Mereka duduk di balkon kecil, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkerlap-kerlip seperti permata yang berserakan.
Livia menyandarkan kepalanya di bahu Ayub. "Terima kasih sudah tidak menyerah padaku, Ayub. Maafkan aku atas kata-kata kasarku di rumah sakit."
Ayub tersenyum, mengecup puncak kepala Livia dengan lembut. "Mbak tidak perlu minta maaf. Yang penting Mbak sudah kembali. Itu lebih dari cukup buatku."
Ayub kemudian menarik napas dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang lebih besar daripada saat ia menembus api. Ia meraih tangan Livia, menggenggamnya dengan jemari yang kokoh.
"Mbak... aku tahu aku masih mahasiswa. Aku tahu aku belum punya perusahaan besar seperti Mas Attar atau toko kue yang mewah sekarang," suara Ayub terdengar serius dan tulus. "Tapi tahun depan aku lulus. Aku sudah mulai magang di pusat pelatihan atlet dan aku akan bekerja keras."
Ayub menatap langsung ke netra Livia yang bening. "Begitu aku mendapatkan gaji pertamaku sebagai pelatih profesional, aku tidak ingin kita hanya seperti ini. Aku ingin datang ke orang tuamu. Aku ingin melamarmu secara resmi. Aku ingin membangun rumah yang isinya bukan cuma kebohongan atau kemewahan, tapi ketenangan."
Air mata haru mengalir di pipi Livia. Ia mengangguk pelan, sebuah anggukan yang penuh dengan keyakinan. "Aku akan menunggumu, Ayub. Tidak peduli berapa lama, aku akan menunggumu."
Di kejauhan, angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa sisa-sisa bau abu dari toko yang terbakar, namun juga membawa aroma harapan yang baru tumbuh. Sheila telah tiada, Attar telah pergi, dan trauma telah mulai memudar.
Livia menatap langit hitam yang luas. Ia tahu perjalanan pemulihannya masih panjang, namun dengan tangan Ayub yang mendekapnya, ia tidak lagi takut pada kegelapan. Ia telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya—bukan di dalam gedung mewah, melainkan di dalam hati seorang pemuda yang mencintainya dengan cara yang paling sederhana namun paling luar biasa.
Jakarta malam itu menjadi saksi bahwa setelah badai yang menghancurkan segalanya, fajar akan selalu datang membawa kesempatan untuk mencintai lagi.
TAMAT.