NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Di Ujung Lorong

Hari operasi kedua semakin dekat. Ketegangan menyelimuti ruang rawat seperti kabut tebal yang dingin. Ria, yang biasanya tampak tenang menghadapi rasa sakit, kali ini tidak bisa menyembunyikan getaran di tangannya setiap kali melihat perawat menyiapkan peralatan medis di sekitarnya.

Namun, ada hal lain yang lebih menghancurkan mental Ria daripada rasa takut akan pisau bedah: cermin.

Pagi itu, saat ia mencoba menyisir rambutnya yang kusam, gumpalan besar helai hitam tertinggal di sisir. Tidak hanya satu atau dua, tapi segenggam penuh. Ria tertegun, menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Di beberapa bagian kepalanya, kulit putihnya mulai terlihat jelas. Rambutnya yang dulu indah, yang selalu ia rawat sebagai satu-satunya hal yang membuatnya merasa cantik, kini meninggalkannya.

Ria melempar sisir itu ke lantai dan menutupi wajahnya dengan tangan, terisak tanpa suara. Ria merasa tidak percaya diri.

Pintu terbuka pelan. Arya masuk membawa buket bunga segar, namun langkahnya terhenti melihat Ria yang bahunya terguncang hebat. Ia segera menghampiri, berlutut di samping kursi roda Ria.

"Ria? Ada apa? Apa yang sakit?" Arya bertanya dengan nada panik yang nyata.

Ria menggeleng, lalu menunjuk ke arah sisir di lantai dan helaian rambut yang berserakan. "Lihat aku, Mas... aku terlihat mengerikan. Aku akan botak. Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri," tangisnya pecah. "Kau bilang ingin mencintaiku, tapi bagaimana kau bisa mencintai makhluk asing yang hampir mati dan tidak punya rambut seperti ini?"

Arya terdiam sejenak. Ia mengambil sisir itu, lalu memunguti helai rambut Ria satu per satu dengan gerakan yang sangat hormat, seolah ia sedang mengumpulkan butiran emas.

Ia kemudian berdiri dan memutar kursi roda Ria agar menghadapnya. Arya menangkup wajah Ria, ibu jarinya menghapus air mata yang membasahi pipi pucat istrinya.

"Kau ingat apa yang kau katakan di bukit waktu itu?" bisik Arya lembut. "Kau ingin diingat sebagai manusia, bukan sebagai pasien. Bagiku, kau adalah manusia paling berani yang pernah kutemui. Rambut ini... ini hanya hiasan yang sedang menyerah karena tubuhmu sedang fokus berjuang untuk hidup."

Arya mencium puncak kepala Ria, tepat di bagian yang mulai menipis. "Meskipun kau kehilangan setiap helai rambutmu, kau tidak akan pernah kehilangan tempatmu di mataku. Jika kau merasa tidak percaya diri, aku akan membelikan mu syal sutra tercantik di dunia, atau aku sendiri yang akan mencukur rambutku agar kita sama."

Ria menatap mata Arya, mencari jejak kebohongan atau rasa iba yang merendahkan. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni—sebuah tatapan yang memuja, bukan mengasihani.

"Operasi besok akan berjalan lancar, Ria. Aku sudah berbicara dengan tim dokter. Mereka yang terbaik, dan aku akan berdiri tepat di depan pintu itu sampai kau keluar," Arya menggenggam tangan Ria, memberikan kekuatan melalui kehangatan telapak tangannya. "Jangan takut pada apa yang hilang dari fisikmu. Fokuslah pada detak jantungmu yang masih ingin bersamaku."

Ria terdiam, rasa takutnya sedikit mereda digantikan oleh perasaan hangat yang asing di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.

Keesokan paginya, sebelum tim medis membawanya ke ruang operasi, Arya membisikkan sesuatu di telinganya. "Selesaikan perjuanganmu di dalam sana, Ria. Aku akan menunggumu untuk menagih sisa 'waktu' yang kau janjikan."

Ria mengangguk pelan saat pintu ruang operasi mulai tertutup, membawa secercah harapan di tengah badai yang belum usai.

Operasi kedua berlangsung selama delapan jam yang menyiksa. Bagi Arya, setiap detiknya terasa seperti satu tahun. Ia tidak duduk, tidak makan, dan hampir tidak berkedip setiap kali pintu otomatis ruang operasi terbuka sedikit. Ia terus menatap lampu indikator merah yang seolah-olah sedang menyedot seluruh energi hidupnya.

Ketika lampu itu akhirnya mati dan berubah menjadi hijau, dr. Gunawan keluar dengan langkah gontai. Tanpa menunggu dokter itu membuka masker, Arya sudah menerjangnya.

"Bagaimana?" tanya Arya, suaranya nyaris hilang.

Gunawan tersenyum tipis di balik kelelahannya. "Dia pejuang yang luar biasa, Arya. Kita berhasil mengangkat jaringan yang bermasalah dan melakukan transplantasi sumsum tulang tahap awal. Sekarang, semuanya kembali pada masa pemulihan. Tapi, kondisinya jauh lebih stabil daripada operasi pertama."

Arya luruh ke lantai, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Ia menangis, tapi kali ini bukan karena keputusasaan. Itu adalah tangis syukur yang paling dalam yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Dua hari kemudian, Ria akhirnya terbangun dari pengaruh anestesi. Ruang rawatnya kini telah berubah. Arya telah menyulap kamar rumah sakit itu menjadi tempat yang sangat nyaman. Tidak ada lagi cermin yang terbuka; Arya menutupinya dengan kain sutra berwarna lembut agar Ria tidak merasa tertekan dengan penampilannya.

Saat Ria membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah Arya yang sedang duduk di sampingnya, sedang memegang sebuah alat pencukur rambut listrik yang masih baru.

Ria mencoba meraba kepalanya yang kini dibungkus perban tipis. "Mas..." suaranya masih sangat lemah.

Arya tersenyum sangat manis, jenis senyum yang belum pernah Ria lihat selama dua tahun pernikahan mereka. "Kau sudah bangun, Pahlawanku?"

Ria menatap alat di tangan Arya dengan bingung. "Apa yang... kau lakukan?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arya menyalakan alat itu. Suara dengungan halus memenuhi ruangan. Di depan mata Ria yang terbelalak, Arya mulai mencukur rambutnya sendiri. Potongan rambut hitam pendek milik Arya jatuh ke lantai satu demi satu.

"Mas! Apa yang kau lakukan? Berhenti!" seru Ria, mencoba menggapai tangan Arya namun tubuhnya masih terlalu lemah.

Arya terus mencukur hingga kepalanya hampir plontos, menyisakan rambut yang sangat tipis, persis seperti kondisi rambut Ria saat ini. Setelah selesai, ia meletakkan alat itu dan mengambil sebuah kain sutra biru muda yang sangat cantik dari meja.

"Sekarang kita sama," bisik Arya sambil mendekat dan melilitkan kain sutra itu ke kepala Ria dengan sangat lembut, membentuk turban yang elegan. "Kau tidak perlu merasa malu atau sendirian. Jika kau botak, aku juga botak. Jika kau sakit, aku juga sakit."

Ria terpaku. Ia melihat pria di depannya—pria yang dulu sangat menjaga image dan penampilannya sebagai CEO ternama—kini rela membuang mahkotanya hanya demi membuat istrinya merasa nyaman. Dinding es yang selama ini menyelimuti hati Ria retak seketika.

"Kenapa kau melakukan ini, Mas?" tanya Ria dengan air mata yang mulai mengalir.

Arya menggenggam tangan Ria, mencium punggung tangannya dengan khidmat. "Karena aku baru menyadari, bahwa mencintai seseorang bukan hanya tentang melindunginya, tapi tentang menemaninya di titik terendahnya. Aku tidak ingin kau merasa seperti makhluk asing. Bagiku, kau adalah wanita tercantik, dengan atau tanpa rambut."

Untuk pertama kalinya, Ria tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Arya menggenggamnya erat. Di tengah ruangan sunyi itu, sebuah ikatan baru mulai terjalin—bukan lagi karena kontrak atau keterpaksaan, melainkan karena sebuah pengorbanan yang tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!