NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, seolah ikut terbakar oleh rasa lelah yang menggerogoti tubuh Amara Lathifa. Gadis kelas 12 IPA itu melangkah gontai memasuki gerbang rumahnya. Tas ranselnya terasa dua kali lebih berat setelah dihantam simulasi ujian fisika di tempat les. Fokusnya hanya satu: kasur empuk dan segelas air es.

Karena terlalu fokus pada langkah kakinya, Ifa tidak menyadari ada sebuah motor besar terparkir di depan teras. Dan ia juga tidak melihat sosok tinggi yang sedang berdiri membelakanginya, tepat di depan pintu masuk.

Bruk!

"Aduh!" Ifa memekik saat keningnya menghantam sesuatu yang keras—bukan pintu, melainkan punggung seseorang yang dilapisi jaket kulit hitam.

Aroma tembakau bercampur parfum maskulin yang tajam langsung menyeruak ke indra penciumannya. Sosok itu berbalik perlahan. Ifa mendongak, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki itu memiliki tatapan mata yang tajam, rahang tegas dengan sedikit luka gores di sudut bibir, dan rambut yang berantakan namun disengaja.

"Jalan pakai mata, Bocah," suara berat itu terdengar dingin.

Ifa tertegun, lalu buru-buru memundurkan langkah. "Ma-maaf. Lagian Kakak ngapain berdiri di depan pintu kayak patung?"

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Ifa dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan yang membuat Ifa merasa tidak nyaman. Belum sempat Ifa bertanya lebih lanjut, pintu rumah terbuka.

"Eh, udah sampai, Nick? Masuk, masuk," sapa Ryan, kakak laki-laki Ifa yang merupakan mahasiswa Teknik tingkat dua.

Lelaki bernama Nick itu hanya mengangguk singkat. Saat ia melangkah melewati Ifa, ia menyempatkan diri untuk menyeringai tipis—sebuah seringaian yang terlihat berbahaya sekaligus mengejek. Ifa memelototkan matanya, merasa harga dirinya sedikit terusik oleh tamu abangnya yang tampak seperti berandalan itu.

"Siapa sih, Bang? Serem banget," gumam Ifa ketus sebelum menyelinap masuk dan langsung menuju kamarnya di lantai dua.

Setengah jam kemudian, Ifa sudah berganti pakaian dengan kaos rumahan longgar dan celana pendek. Haus yang tertunda membuatnya harus turun ke dapur. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah. Ia melihat Ryan sedang sibuk memakai jaket dan mencari kunci motornya, sementara Nick duduk bersandar di sofa tunggal dengan kaki menyilang, tampak sangat santai seolah itu rumahnya sendiri.

"Ifa! Kebetulan kamu turun," panggil Ryan.

Ifa menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. "Apa, Bang?"

"Abang harus ke kampus sebentar, ada dokumen organisasi yang ketinggalan dan harus dikumpul malam ini. Kamu temenin Nick dulu di sini ya? Kasihan dia nunggu sendirian," ujar Ryan tanpa dosa.

Mata Ifa membelalak. "Hah? Urusannya sama aku apa, Bang? Nggak mau! Aku capek mau tidur!"

"Cuma sebentar, Fa. Cuma lima belas menit. Gak sopan ninggalin tamu sendirian. Ya? Nanti Abang beliin martabak sepulang dari kampus," bujuk Ryan sambil terburu-buru menuju pintu depan.

"Bang! Tapi—"

Blam!

Pintu tertutup. Ryan sudah menghilang.

Sekarang, suasana rumah menjadi sunyi senyap. Hanya ada Ifa yang berdiri kaku di dekat tangga dan Nick yang masih duduk tenang di sofa. Ifa merasa merinding. Ia tahu Nick adalah senior abangnya di jurusan Teknik—mahasiswa tingkat tiga yang terkenal dengan reputasi "red flag" di lingkungan kampus: hobi balapan, sering terlibat perkelahian, dan kabarnya sering gonta-ganti perempuan.

Ifa mencoba mengabaikan keberadaan pria itu. Ia berjalan cepat menuju dapur, menuangkan air es ke gelas, dan meminumnya dengan rakus. Namun, ia bisa merasakan sepasang mata mengawasinya dari kejauhan.

"Gak mau nemenin gue?" suara Nick memecah keheningan.

Ifa berbalik, masih memegang gelasnya. "Kak Nick kan tamu Bang Ryan, bukan tamu aku. Lagian Kak Nick bisa main HP kan?"

Nick terkekeh rendah. Ia berdiri, membuat Ifa refleks mundur hingga punggungnya menempel pada meja dapur. Pria itu melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Langkah sepatunya terdengar mengintimidasi di atas lantai keramik.

"Abang lo bilang lo harus nemenin gue. Itu namanya mandat," ucap Nick. Kini ia berdiri tepat di depan meja bar dapur, hanya terhalang sekat tipis dengan Ifa.

"Mandat dari mana..." gumam Ifa berani-berani takut. "Kakak mahasiswa tingkat tiga kan? Harusnya sibuk tugas, bukannya malah nongkrong di rumah orang sore-sore begini."

Nick menumpukan kedua tangannya di meja, condong ke depan sehingga wajah mereka hanya terpaut jarak beberapa puluh sentimeter. "Gue butuh hiburan. Dan kayaknya, ngisengin adeknya Ryan jauh lebih seru daripada ngerjain kalkulus."

Ifa bisa melihat dengan jelas bekas luka di sudut bibir Nick. "Jangan dekat-dekat! Aku panggilin tetangga ya kalau Kakak macam-macam!"

Nick malah tertawa. Tawa yang tidak terdengar ramah, melainkan penuh provokasi. "Galak juga ya, Ifa? Nama lo Lathifa kan? Artinya 'lembut'. Tapi kok aslinya kayak kucing garong?"

"Bukan urusan Kakak!" Ifa mencoba melewati Nick untuk kembali ke kamar, tapi Nick dengan cepat menghalangi jalan Ifa dengan lengannya yang kekar.

"Duduk di situ," perintah Nick, menunjuk sofa di ruang tengah. "Temenin gue ngobrol sampai Ryan balik. Atau... gue bakal bilang ke abang lo kalau lo gak sopan sama tamu."

Ifa menggeram kesal. "Kakak tuh bener-bener red flag ya. Persis kayak kata orang-orang."

Nick menaikkan sebelah alisnya, seringaiannya makin lebar. "Oh, jadi gue terkenal ya di telinga lo? Baguslah. Setidaknya lo tahu kalau lo gak seharusnya cari masalah sama gue, Bocah."

Ifa terpaksa duduk di sofa seberang Nick dengan tangan terlipat di dada dan wajah cemberut. Ia tidak tahu bahwa sore itu adalah awal dari hubungan rumit yang akan menjungkirbalikkan dunianya yang tenang sebagai siswi kelas 12. Nick bukan sekadar teman abangnya; dia adalah gangguan yang tidak akan pernah bisa Ifa hindari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!