Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Berdiri di atas panggung, Syerly kembali menyanyikan beberapa lagu. Suaranya mengalir ringan, membuat suasana bar semakin hidup. Ivan tak henti-hentinya berteriak memberi semangat, sementara Gio disampingnya hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol temannya itu.
Felix lebih tenang daripada kedua temannya, tapi tatapan lembutnya tidak dapat mengkhianatinya.
Dimatanya hanya ada satu orang yang didalam hatinya, yaitu Syerly dengan senyum lembut dan suaranya yang semakin memikat hatinya.
Syerly turun dari panggung disambut dengan dengan senyum bahagia dari teman-teman Felix.
Felix menarik tubuh Syerly untuk duduk didekatnya.
Ivan mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Ayo kita rayakan kebahagiaan teman kita, dengan minum sampai mabuk!"
Felix, Syerly dan Gio mengangkat gelas mereka. Dentingan gelas itu adalah pembukaan dari pesta mereka malam itu.
Musik terus mengalun tanpa jeda, lampu-lampu redup berwarna-warni berputar, membuat suasana semakin lepas kendali. Ivan dan Gio menari dengan gerakan konyol, tertawa terbahak-bahak, sesekali menggoda Felix yang terus memeluk pinggang Syerly.
Syerly tertawa kecil, membiarkan dirinya larut. Di dalam pelukan Felix, ia ikut menari dengan bahagia.
Malam itu mereka merasa bebas. Meski gerakan mereka konyol tapi tawa mereka tidak pernah pudar.
Mereka berempat akhirnya keluar dari bar dengan langkah goyah. Udara malam menyambut wajah-wajah yang memerah oleh tawa yang belum mereda.
Ivan berjalan paling depan, tertawa keras tanpa alasan jelas, sesekali hampir tersandung lalu diselamatkan Gio yang menggeleng pasrah sambil menarik kerah jaketnya.
Gio sendiri tampak sedikit lebih sadar, meski matanya sayu dan kepalanya terasa berat.
Felix berjalan di samping Syerly, lengannya melingkar di bahu gadis itu dengan protektif.
Syerly bersandar padanya, langkahnya ringan namun goyah, senyum malas tak lepas dari wajahnya. Sesekali ia tertawa kecil karena candaan Ivan.
"Sudah sangat lama aku tidak sebahagia ini." Teriak Ivan.
Felix dan Syerly tertawa ketika melihat Gio yang terhuyung-huyung memegangi Ivan yang tidak bisa berhenti bergerak itu.
"Aku juga tidak ingin pulang." Teriak Syerly.
Ia menoleh kearah Felix.
"Seharusnya kita tinggal lebih lama dan bersenang-senang." Katanya sedikit merajuk.
Felix mendesah pelan.
"Kau mabuk. Syer." Katanya pelan.
"Kau harus pulang!"
"Tapi aku masih ingin bersenang-senang." Kata Syerly belum menyerah.
"Besok aku juga, tidak ada kelas."
Felix tersenyum tenang.
"Tapi kami besok ada ujian." Jawabnya.
Akhirnya Syerly menyerah.
"Baiklah." Katanya mendesah pelan.
"Kalau begitu aku akan pulang dulu."
Syerly menoleh kearah Ivan dan Gio.
"Sampai jumpa." Katanya.
Lalu Syerly berjalan dengan goyah.
"Tunggu, Syer." Panggil Felix dari belakang.
Felix menarik Syerly dan memeluknya dari belakang.
Nafas Felix menyentuh lehernya dan sedikit menggelitiknya.
Syerly tertawa pelan, yang membuat Felix tidak dapat menahan untuk mencium pipinya.
"Aku akan mengantarmu." Kata Felix dengan suara rendah.
Syerly tersenyum kecil, membiarkan Felix terus menempel dan menghujaninya dengan ciuman ringan.
Mereka berdua seolah tidak perduli dengan pandangan orang-orang disekitar.
Bahkan ivan dan Gio sampai tidak bisa berkata apa-apa. Saat melihat Felix yang bermesrahan dipinggir jalan.
Felix menoleh kearah Gio.
"Tolong bawakan mobilku." Katanya memberikan kunci mobilnya.
Felix melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa, teman-teman."
Lalu ia berjalan pergi dengan senyum lebar, bersama Syerly dipelukannya.
Ivan dan Gio menatap kepergian mereka tanpa berkedip.
Sampai akhirnya Gio menghelai nafas tanpa daya sambil menatap kunci ditangannya.
Gio menoleh kearah Ivan yang masih menatap punggung Felix dan Syerly yang semakin menjauh.
Dengan kilatan licik, Gio tersenyum kecil.
Tiba-tiba ia menarik tubuh Ivan dengan kedua lengan yang menggantung pada lehernya.
"Van..." panggil Gio pelan, tatapannya berubah lembut.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Tanpa peringatan Gio mendekatkan wajahnya kearah Ivan, seolah-olah ingin menciumnya.
"He...." Ivan dengan cepat menghindarinya.
"Apa kau gila?"
Gio tidak menyerah, ia masih mencoba mencium Ivan.
"Sialan!" Dengan sekuat tenaga Ivan melepaskan tangan Gio dari lehernya.
Ia mundur beberapa langkah menatap Gio dengan ketakutan.
"Kau dasar mesum." Teriaknya. Ia merasakan merinding diseluruh tubuhnya.
"Malam ini, aku tidak akan mengijinkanmu menginap dirumahku."
Dengan wajah meledek dan memamerkan kunci mobil milik Felix, Gio tersenyum kecil.
"Aku tidak perduli "
Lalu dengan tenang berjalan pergi. Meninggalkan Ivan yang masih kesal. Meski akhirnya berlari mengikutinya.
Disisi lain, disebuah sudut yang tak terlihat. Dua gadis kelur dari persembunyian mereka.
"Kau lihat!" Kata Nancy pelan melirik kearah Hanna yang berdiri disampingnya.
"Sepertinya Felix dan Syerly sudah berkencan. Apa kau yakin masih ingin mengejarnya?"
Hanna mendengus dingin, tapi tatapan tajamnya tidak pernah beralih dari punggung Felix dan Syerly yang semakin menjauh.
"Semua orang juga tahu, Felix mudah bosan." Katanya pelan.
"Sebentar lagi, Felix pasti akan putus dengan Syerly."
Hanna menoleh kearah Nancy lalu senyum tipis.
"Bagaimanapun juga, aku jauh lebih baik daripada Syerly." Kata Hanna mantap dan penuh keyakinan.
---
Suara pintu terbanting keras. Bibir Felix dan Syerly terus melumat seolah tidak ingin meninggalkan satu sama lain.
Suara-suara kecapan mereka bercampur dengan desahan lembut.
Felix mendorong Felix keatas sofa, menatap wajah merah Syerly dibawahnya.
"Cantik." Pujinya lembut.
Jari-jarinya merapikan rambut tipis yang menutup pipi Syerly dengan hati-hati.
Felix menundukkan kepalanya. Menciumi leher putih Syerly.
"Aku sangat menyukaimu." Bisiknya dengan suara rendah.
"Fel..." panggil Syerly pelan.
Ia mengangkat kepala Felix. Tatapan mereka bertemu seperkian detik.
"Aku menginginkanmu."
Undangan Syerly seperti tombol kunci yang membuka gembok binatang buas didalam hati Felix.
Felix kembali mencium bibir Syerly. Ciuman panas yang membuat mereka terbakar sampai meleleh.
Ruang tamu itu penuh dengan suara-suara cinta mereka. Pakaian mereka berserakan diatas lantai.
Nafas mereka bersatu menjadi satu. Memenuhi ruangan itu.
Seolah-olah tidak puas dengan sofa kecil diruang tamu, Felix mengangkat tubuh Syerly menuju ke kamar.
Suara pintu yang tertutup keras, mengisolasi suara-suara penuh gairah didalam kamar, yang masih terus berlanjut.
---
Pagi hari, suara panggilan masuk membangunkan Syerly yang masih terlelap.
Didalam selimut tebalnya, tangannya meraih ponselnya. Syerly menyipitkan matanya untuk melihat layar ponselnya, sebelum mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo, Ayah." Katanya dengan suara serak.
"Apa kau belum bangun?" Suara laki-laki tua terdengar dari seberang sana.
Syerly membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Tadi malam aku tidur terlalu larut." Kata Syerly.
"Apa karena pekerjaan yang aku berikan membuatmu berkerja lembur?"
Pertanyaan Ayahnya membuat wajahnya tiba-tiba memanas.
"Ya."
Syerly terpaksa harus berbohong, karena tidak mungkin ia akan mengatakan kepada Ayahnya jika menghabiskan malamnya bercinta dengan Felix.
"Apa sekarang kau sudah menyelesaikannya?"
"Aku akan mengirimkannya nanti malam." Kata Syerly.
Syerly mendengar tawa puas dari Ayahnya itu.
"Baiklah." Kata Ayahnya.
Lalu nadanya berubah lembut.
"Jangan lupa meminum obatmu, sepertinya suaramu serak."
"Ya." Lalu Syerly segera menutup telponnya.
Ia memegangi wajahnya yang semakin panas. Ingatan tadi malam membuat bibirnya tersenyum lembut.
Tangan Syerly meraba sebelah tempat tidurnya.
Kosong.
Syerly dengan cepat membuka selimutnya. Dadanya tiba-tiba berdegup kencang.
Syerly melihat tempat tidur disebelahnya kosong, lalu ia segera bangun membuka pintu kamar mandi.
Kosong.
Syerly keluar kamar, mencari disetiap sudut rumahnya.
Tapi ia tidak melihat Felix.
Felix pergi...
Tidak...
Tapi Felix tidak ada...
Ketakutannya membuat tenaganya seperti terkuras.
Syerly jatuh diatas sofa, dengan gemetar tubuh yang tidak berhenti.
Sendirian dan ditinggalkan.