Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nightshade
CHAPTER 5
Tempat yang sunyi jauh dari keramaian kota.
Di sanalah berdiri sebuah rumah besar yang dikenal sebagai Kediaman Nightshade.
Setelah kejadian dramatis itu, Shun dan rombongannya tiba di depan rumah besar tersebut. Setelah Juichi memarkir mobilnya di garasi, mereka semua masuk ke dalam.
Suasana di dalam rumah terasa sepi. Mereka berjalan menuju bagian belakang, menaiki tangga, dan akhirnya tiba di ruangan yang mereka tuju.
Tok... tok...
Juichi mengetuk pintu, membukanya, dan masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu, seseorang sedang menunggu. Dia adalah...
"Yo, Boss," sapa Juichi dengan santai. "Misi selesai. Bocah yang kau inginkan sudah kami dapatkan."
"Yo, Juichi. Terima kasih sudah bersusah payah menjalankan misi ini," jawab Boss sambil tersenyum.
Boss menatap Shun dengan tatapan intens, lalu memanggilnya dan menyuruhnya duduk di sofa yang telah disiapkan.
Shun duduk dengan canggung, lalu berkata dengan gugup, "H-halo... Namaku Shunsuke. Salam kenal, panggil saja Shun!" Ia menundukkan kepalanya.
Boss tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Jangan terlalu kaku begitu."
"Namaku Mochizuki Kai. Orang-orang memanggilku Boss. Mau tahu kenapa?" Kai menyilangkan tangannya di depan dada. "Karena aku pemimpin Nightshade! Hahaha!" Ia tertawa lagi.
Lelucon yang tidak lucu itu entah bagaimana membuat Shun merasa sedikit lebih tenang.
Namun, Shun masih penasaran mengapa ia diselamatkan.
Saat Shun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, Kai menjawab dengan sorot mata tajam.
"Karena kau memiliki Ten dua warna."
Ten.
Kata itu lagi. Kali ini, Shun yakin bahwa Ten memang benar-benar ada. Kejadian dalam pertarungan itu telah membuktikan bahwa energi berwarna yang ia lihat adalah Ten.
Shun sendiri memiliki Ten, tetapi ia masih bingung dengan istilah "dua warna". Apa maksudnya?
"Yahh... Kau pasti sudah melihatnya, energi yang berwarna itu, kan?" tanya Kai.
"Eh... Iya, aku sudah melihatnya," jawab Shun.
"Baiklah, biar kujelaskan," Kai memejamkan matanya.
Kai menjelaskan bahwa Ten adalah energi yang bisa didapatkan melalui kerja keras dan kemauan yang kuat.
Namun, ada satu jenis Ten yang lebih berbahaya, yaitu Ten yang didapatkan dari emosi yang meluap-luap.
Shun, yang saat di pengadilan menahan amarah yang sangat besar, tanpa sadar telah membangkitkan energi dua warna.
Hitam dan merah. Warna yang dulunya dimiliki oleh seorang legenda 200 tahun lalu.
Kai juga menjelaskan bahwa Ten dapat digunakan untuk mengubah benda atau senjata yang cocok dengan penggunanya.
Benda atau senjata yang diubah akan memiliki penampilan yang menawan dan kegunaan yang berlimpah.
Kai memberikan contoh mobil Juichi, yang berubah menjadi kendaraan futuristik dengan kemampuan kamuflase dan persenjataan canggih. Ia juga mencontohkan sniper mainan Fin, yang bisa berubah menjadi senapan sungguhan dengan kecepatan proyektil yang luar biasa.
"Jadi begitu... Paham?" tanya Kai sambil tersenyum.
"Mmm... Aku paham. Tapi, kalau dua warna itu bagaimana?"
"Kau akan mendapatkan jawabannya setelah kulatih nanti," jawab Kai sambil mengedipkan sebelah mata.
Kai menawarkan diri untuk melatih Shun.
Tanpa pikir panjang, Shun langsung menerima tawaran itu. Tekadnya sudah bulat untuk menjadi kuat dan mencari pembunuh orang tuanya yang sebenarnya.
Setelah itu, mereka semua berpisah dan pergi ke kamar masing-masing.
Yuzuriha ditugaskan untuk mengantar Shun ke kamarnya.
Shun sedikit terkejut. "Kamar... Yuzu, apa semua anggota tinggal di sini?"
"Iya... Shuchan juga akan tinggal di sini," jawab Yuzuriha.
"Anggota yang lain ke mana?" tanya Shun.
"Ohhh... Kalau itu, mereka ada di ruang pesta."
Tiba-tiba, Shun teringat sesuatu. Ia tidak memiliki baju ganti.
Saat ini, Shun masih mengenakan pakaian tahanan yang sama sejak ia masuk penjara.
Mereka tiba di kamar Shun. Ternyata, kamarnya bersebelahan dengan kamar Neir. Di sebelah kamar Neir ada kamar Fin, dan di sebelahnya lagi ada kamar Yuzuriha.
Yuzuriha kembali ke kamarnya sendiri.
Saat Shun membuka kamarnya, ia melihat ruangan yang terbilang biasa, tetapi sudah dilengkapi dengan tempat tidur, kamar mandi, dan lemari pakaian.
Saat membuka lemari pakaian, ia mendapati bahwa isinya kosong. Shun terpikir untuk diam-diam pergi ke desanya, pulang ke rumah, dan mengambil barang-barangnya.
Keesokan paginya.
Shun bangun seperti biasa.
Setelah bangun, Shun mandi dan mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat Edo, yang biasa dipanggil Emon.
Emon menepuk bahu Shun. "Saatnya latihan, Shun."
"Tidak makan dulu?" tanya Shun.
Mereka berdua pergi ke dapur untuk makan. Di dapur, mereka bertemu dengan seorang pria bernama Yano, koki di Kediaman Nightshade.
Shun dan Emon memesan makanan mereka.
Saat itu, Yano mengeluarkan energi berwarna oranye. Spatula plastik yang ia pegang berubah menjadi spatula besi futuristik.
"Keren ya... yang namanya Ten itu," ucap Shun sambil menatap Yano.
"Tentu saja. Hanya sedikit orang yang bisa membangkitkannya," ucap Emon sambil melihat ke atas.
Makanan mereka selesai dibuat, dan mereka pun menyantapnya dengan lahap.
Setelah selesai makan, Shun dan Emon pergi ke ruang latihan, yang letaknya tidak terlalu jauh dari dapur.
Saat tiba di depan ruang latihan, Shun sedikit terkejut. Pintunya sangat modern dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari anggota.
Pintu terbuka, dan saat masuk ke dalam, Shun semakin terkejut. Tempat latihan ini sangat luas. Bahkan ada hutan dan air terjun di dalamnya.
Di dalam sana, hanya ada satu orang yang menunggu. Ya, dia adalah Kai.
Emon keluar dari ruangan karena tidak ingin mengganggu latihan Shun.
Shun mendekati Kai. "Hari ini latihannya apa, Boss?"
"Hari ini, ya..." Kai berpikir sejenak. "Sepertinya kita akan berlatih dari dasarnya dulu."
"Pertama, kau harus bisa merasakan aliran Ten di dalam tubuhmu," ucap Kai sambil mengambil posisi kuda-kuda. "Kedua, rasakan Ten itu dan keluarkan."
Energi berwarna hitam Kai keluar dengan dahsyat.
"Ketiga, stabilkan Ten itu dan buat agar mengelilingi tubuhmu. Tapi ini harus dilakukan dengan cepat, ya."
Shun mencoba mengikuti instruksi Kai. Ia mengambil posisi kuda-kuda.
Pertama, merasakan aliran Ten. Shun cukup cepat untuk merasakan aliran tersebut.
Kedua, mengeluarkan Ten. Shun mencoba melepaskannya, dan BOOM! Ia berhasil mengeluarkan energi berwarna hitam dan merah yang meluap-luap dari tubuhnya.
Ketiga, menstabilkan Ten. Shun mencoba menstabilkan energinya. Delapan detik.
Kai langsung memukul wajah Shun, dengan maksud menghentikan energi Shun yang meluap-luap itu.
"A-aduh..." Shun memegangi pipinya. "K-kenapa, Boss? Apa ada yang salah?" Ia menggosok pipinya.
"Iya. Jika sampai 10 detik tidak stabil, tubuhmu akan hancur dari dalam," ucap Kai sambil tersenyum khas.
"H-hancur?" Shun terkejut.
Kai menjelaskan bahwa untuk menstabilkan Ten, Shun harus berkonsentrasi penuh. Ia harus membayangkan ombak yang dahsyat kembali menjadi tenang.
Shun mengulangi latihannya.
Pertama berhasil, kedua berhasil, dan ketiga...
Shun mencoba membayangkan ombak yang dahsyat dan berkonsentrasi agar ombak itu menjadi tenang. Namun, Shun kembali gagal dan dipukul oleh Kai.
Ia terus mencoba. Lagi, lagi, dan lagi. Semua usaha Shun selalu gagal. Ia tidak menyangka bahwa hanya dengan menstabilkan Ten, ia akan mengalami kesulitan yang luar biasa.
Bahkan, Shun sempat terpikir untuk menyerah saja. "Apa aku menyerah saja ya..."
Saat memikirkan hal itu, Shun teringat ucapan Yuzuriha kemarin.
Shun kembali melanjutkan latihannya dan membuang jauh-jauh pikiran negatif itu.
Ia hanya berpikir positif, seperti: Aku akan memancing bersama paman kalau sudah bisa menggunakan Ten.
Shun mencoba memotivasi dirinya sendiri dengan mengingat kenangan indah yang membekas di pikirannya, kenangan bersama keluarga, paman, dan orang yang ia cintai dulu, yaitu Sayu.
Dan...
Setelah mengulang latihan sebanyak 67 kali, dan dipukul sebanyak 67 kali...
Dengan muka yang bonyok, Shun akhirnya berhasil menstabilkan Ten-nya. Ten yang berwarna hitam dan merah itu terlihat menakjubkan saat sudah tenang.
Kai bertepuk tangan. "Hebat sekali... Tidak kusangka kau bisa menstabilkan Ten dalam waktu yang terbilang cepat."
"Eh... Apa itu bagus?" tanya Shun.
"Hahaha... Tentu saja. Biasanya orang lain membutuhkan waktu 3 hari, kalau tidak 5 hari, untuk menstabilkan Ten," ucap Kai sambil tersenyum. "Yahh... sepertinya ada dorongan yang kuat dalam dirimu... Karena sebenarnya, untuk menghentikan energi yang meluap-luap, kau tidak perlu dipukul. Cukup tarik napas saja." Kai tertawa terbahak-bahak.
"Itu bukan lelucon, tahu!" Wajah Shun menunjukkan bahwa ia ingin membalas pukulan Kai.
Kai menyuruh Shun untuk beristirahat karena sejak pagi hingga siang, ia terus berlatih tanpa henti.
Saat Shun hendak keluar dari ruang latihan, Juichi masuk.
Karena ada Juichi di sana, Shun ingin meminta Juichi untuk mengantarnya ke desanya, karena ia ingin mengambil beberapa barang.
Namun, Juichi menolak karena Shun baru saja melarikan diri dari hukuman. Jika ada orang lain yang melihat mereka, ia khawatir nama Shun akan semakin tercemar.
Alih-alih menyerah, Shun memohon dengan sangat. Ia berjanji akan berhati-hati agar tidak ketahuan, karena ada satu barang yang sangat berharga di rumahnya.
Kai juga meminta Juichi untuk membantu Shun.
Juichi akhirnya setuju, dengan syarat mereka akan berangkat pada malam hari.