Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 4_Gadis di Balik Tirai Usang
Marco mendengarkan dengan seksama, baginya narasi hidup Anya terdengar seperti dongeng dari planet lain.
Di dunia Marco, hidup adalah tentang perebutan kekuasaan, pengkhianatan dan kemewahan yang dibayar dengan darah.
Dia tidak pernah membayangkan ada orang yang harus berjuang hanya untuk sekadar memiliki atap di atas kepala mereka.
"Kau tidak punya pacar? Atau teman yang bisa menjagamu?" tanya Marco lagi.
Anya tertawa kecil, suara tanyanya terdengar seperti lonceng kecil yang jernih.
"Pacar? Siapa yang mau pacaran dengan gadis yang pulang kerja jam sebelas malam dengan bau kopi dan asap knalpot? Teman ada beberapa, tapi mereka juga punya perjuangan masing-masing. Di sini kalau kita tidak bisa jaga diri sendiri kita akan habis." ucapnya dengan begitu jujur sekali.
Marco memperhatikan tangan Anya saat gadis itu meletakkan mangkuk kosong.
Tangan itu kecil, tapi kulitnya kasar di beberapa bagian karena deterjen dan air panas.
Ada bekas luka bakar kecil di pergelangan tangannya karena mungkin terkena mesin pembuat kopi atau setrika.
Bagi Marco, luka-luka kecil itu terasa lebih menyakitkan untuk dilihat daripada luka tembak di perutnya sendiri.
Tiba-tiba pintu kayu rumah Anya diketuk dengan keras membuat Anya dan Marco terkejut.
Duk! Duk! Duk!
Anya tersentak, wajahnya langsung berubah cemas saja, ia sampai lupa bahwa ada sebuah masalah yang belum dia selesaikan.
"Aduh itu pasti Bu Ratna," bisiknya panik.
"Siapa Bu Ratna?" tanya Marco, suaranya kembali dingin dan waspada.
Tangannya secara refleks meraba sisi sofanya, mencari senjata yang sebenarnya sudah disita oleh Anya semalam.
"Ibu kos ku, aku... aku nunggak dua minggu," jawab Anya pelan dan wajahnya memerah karena malu mengatakan hal itu.
Anya berdiri dan membuka pintu sedikit saja, di sana berdiri seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga dan wajah yang terlihat sangat galak.
"Anya! Mana uangnya? Kamu janji kemarin sore mau bayar!" suara Bu Ratna melengking dan masuk ke dalam ruangan kecil itu dan membuat telinga Marco berdenging.
"Maaf bu... saya kemarin ada lembur mendadak dan uangnya belum keluar, boleh saya minta waktu dua hari lagi? Saya janji akan melunasi semuanya," mohon Anya dengan suara bergetar.
"Dua hari lagi, dua hari lagi! Kamu pikir saya makan pakai janji? Kalau besok belum ada, kamu angkut barang-barangmu sekarang juga! Banyak orang lain yang mau sewa kamar ini!" bentak Bu Ratna sebelum akhirnya pergi dengan menghentakkan kaki.
Anya menutup pintu perlahan, dia bersandar di balik pintu, menarik napas panjang untuk menahan tangisnya.
Dia lupa bahwa ada pria asing di rumahnya yang sedang menyaksikan kehinaannya.
Marco hanya memperhatikan dari sofa, di dalam kepalanya dia merasa sangat terhina.
Bukan karena bentakan wanita itu, tapi karena dia adalah seorang Marco Valerius yang memiliki aset miliaran dolar tapi harus melihat wanita yang telah menyelamatkan nyawanya dihina karena uang yang nilainya bahkan tidak cukup untuk membeli satu cerutu mahalnya.
"Berapa banyak kau berutang padanya?" tanya Marco datar.
Anya menghapus sudut matanya dengan cepat dan berbalik menghadap ke arah Marco, dia tidak boleh terlihat lemah di mata orang lain.
"Ah tidak apa-apa cuma satu juta rupiah, aku pasti bisa mengaturnya, jangan dipikirkan." jawab Anya dengan berusaha terlihat santai.
Satu juta rupiah? Hal itu Marco ingin tertawa, tapi luka di perutnya membuatnya hanya bisa mendesis.
Harga nyawa seorang pemimpin The Iron Fang ternyata hanya setara dengan satu juta rupiah di mata takdir.
"Kemarilah." perintah Marco.
Anya mendekat dengan ragu dan Marco meraih tangan Anya dan menariknya dengan lembut agar gadis itu duduk di pinggir sofa.
"Dengarkan aku Anya," kata Marco menatap langsung ke mata gadis itu.
"Mulai detik ini masalahmu adalah masalahku, kau sudah menyelamatkan nyawaku dan itu artinya kau berada di bawah perlindunganku." serunya dengan tegas dan tak terbantahkan.
Anya menggeleng. "Kamu tidak perlu melakukan itu, kamu sedang terluka Marco dan kamu harus fokus pada pemulihan mu sendiri." ucap Anya.
"Kau pikir aku hanya seorang pria malang yang ditembak di gang?" Marco tersenyum miring.
"Anya, kau tidak tahu siapa yang kau bawa masuk ke rumahmu tapi itu tidak masalah, yang perlu kau tahu adalah aku tidak akan membiarkan siapa pun membentakmu lagi." tuturnya.
Anya hanya terdiam, merasa ada aura yang sangat kuat memancar dari pria ini.
Meskipun Marco hanya duduk di sofa butut dengan baju yang compang-camping, cara dia bicara membuatnya terlihat seperti seorang raja yang sedang duduk di singgasana.
"Sekarang aku butuh ponsel." kata Marco.
"Ponselmu pinjamkan padaku sebentar."
Anya memberikan ponsel lamanya yang layarnya retak Marco menatap benda itu dengan dahi berkerut, seolah-olah dia sedang memegang artefak dari zaman batu.
Dia menekan sebuah nomor yang sudah dia hafal di luar kepalanya yaitu orang kepercayaannya yang pasti sedang kalang kabut mencari keberadaannya.
"Ini aku." kata Marco saat telepon diangkat.
Suaranya berubah menjadi sangat dingin, penuh otoritas yang tak terbantahkan.
"Aku masih hidup dan jangan tanya di mana, aku ingin kau menyiapkan unit pembersihan. Tidak jangan kirim siapa pun dulu, aku ingin akun bank bayanganku diaktifkan kembali. Kirimkan sejumlah dana ke nomor rekening yang akan ku kirimkan lewat SMS dan satu lagi... cari tahu siapa yang menyewa gedung di Jalan Tambora nomor 14 karena aku ingin pemiliknya menghilang." perintahnya dengan tegas dan berwibawa.
Anya mendengarkan percakapan itu dengan mata terbelalak, dia tidak mengerti semua istilah yang diucapkan Marco, tapi dia mengerti satu hal yaitu pria ini sedang merencanakan sesuatu yang besar.
Setelah menutup telepon, Marco mengembalikan ponsel itu pada Anya.
"Dalam satu jam utangmu akan lunas dan dalam dua jam, wanita tadi tidak akan berani menatap matamu lagi." kata Marco tenang.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kamu akan menyakiti Bu Ratna!" Anya mulai panik.
"Menyakitinya? Tidak itu terlalu kotor," jawab Marco sambil memejamkan mata, merasa lelah setelah bicara cukup panjang.
"Aku hanya 'membeli' ketenangannya, sekarang biarkan aku istirahat sebentar dan Anya... jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini tanpaku." ucapnya.
Anya berdiri terpaku di tengah ruangan, dia merasa dunianya yang selama ini hanya berkisar tentang kopi dan tagihan listrik, tiba-tiba ditarik masuk ke dalam pusaran air yang sangat dalam dan gelap.
Dia menatap Marco yang kini memejamkan mata kembali, hatinya begitu takut dan gusar kenapa dia bisa sampai berada di posisi sekarang ini.
Pria ini adalah badai dan Anya baru saja membuka pintunya lebar-lebar untuk membiarkan badai itu masuk.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪