Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Alyssa menyilangkan kedua lengannya di depan dada sambil berdiri di ambang pintu dapur. Pandangannya tertuju pada Niko, putra mereka, yang sedang menggenggam selembar kertas bergambar sebuah keluarga yang sedang piknik bersama. Dengan langkah kecil dan penuh harap, anak itu berjalan mendekati ayahnya, Junior, suami Alyssa, untuk menyerahkan gambar tersebut.
Alyssa menahan napas, menunggu reaksi suaminya. Ia berharap Junior akan tersenyum. Ia berharap pria itu mau menerimanya. Hatinya akan terasa begitu hangat jika itu terjadi, bukan hanya untuknya, tapi juga untuk Niko.
Perhatian dari suaminya adalah hal yang sangat berarti.
"Daddy, aku membuat ini untuk Daddy," ujar Niko pelan sambil mengulurkan kertas itu ke arah Junior. "Semoga Daddy suka." Senyum lebar menghiasi wajah kecilnya, penuh antusias menanti apresiasi dari sang ayah.
Junior akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Niko, lalu beralih ke kertas di tangan anak itu. Alisnya langsung berkerut. Jantung Alyssa seakan berhenti berdetak. Tubuhnya refleks menegang.
"Apa-apaan sampah ini? Pergi! Aku tidak butuh itu!" bentak Junior kasar. Ia menepis kertas itu hingga terlempar ke bawah meja.
Alyssa tersentak. Ia berlari saat melihat Junior mendorong Niko menjauh. Anak lima tahun itu terhuyung ke belakang. Dengan sigap, Alyssa menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh ke lantai.
"Tolong berhenti mendekatiku! Supaya kalian tidak terluka seperti ini!" ujar Junior dengan nada dingin dan penuh tekanan.
Wajah Alyssa menegang. Keningnya berkerut dalam-dalam. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja dilakukan dan dikatakan suaminya pada anak mereka.
Ia masih memeluk Niko erat di dadanya. "Junior, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mendorong anakmu sendiri? Dia hanya ingin memberikan gambarnya dan membuatmu bangga! Lihat betapa indah hasil karyanya! Setidaknya hargai usaha itu!"
Sebagai seorang ibu, hatinya hancur melihat usaha anaknya diabaikan begitu saja. Niko mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Saat Alyssa menunduk menatap anaknya, kelembutan dan kepedihan memenuhi dadanya. Tangannya gemetar ketika melihat Niko mengambil kembali gambar itu dari bawah meja, gambar keluarga yang ia buat dengan penuh cinta.
Dengan pensil warna miliknya, Niko menggambar sebuah keluarga utuh. Di sana ada pesan kecil, harapan polos agar ayahnya mau menerima dia dan ibunya, agar mereka bisa menjadi keluarga yang lengkap.
Karena anak itu hanya ingin memiliki keluarga yang utuh, seperti teman-temannya di luar sana.
"Diam!" kaki kursi berdecit saat Junior berdiri. "Berhenti menggunakan anakmu untuk mendekatiku."
"Apa maksudmu? Aku tidak menggunakan anak kita!"
Tatapan Junior penuh kejengkelan. Tiba-tiba ia meraih lengan Alyssa dengan kasar, menariknya hingga berdiri dan membuatnya terlepas dari Niko.
Sakit.
Ia tidak menjerit, tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa perih akibat genggaman kuat itu, seolah Junior mencurahkan seluruh tenaganya pada lengannya.
Junior menariknya semakin dekat, mencengkeram kedua lengannya. Jarak mereka tinggal sejengkal, nyaris membuat bibir mereka bersentuhan.
"Anak itu tidak akan pernah menjadi anakku! Hanya Kairo anakku! Dia saja! Bukan anak hasil kesalahan itu!" teriak Junior sambil menunjuk Niko yang masih terduduk di lantai, terisak pelan.
Niko merasa usahanya sia-sia. Ayahnya bahkan tidak mau menerima gambarnya. Padahal, di usia lima tahun, ia sudah mampu menggambar dengan sangat baik.
Niko memang gemar menonton video dan menirukannya. Bahkan sejak usia tiga tahun, ia sudah bisa memegang pensil dengan benar.
Alyssa tidak terima. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Junior, meski napasnya sesak dan tubuhnya gemetar. "Niko bukan kesalahan!" suaranya bergetar, seolah hatinya terkoyak demi anaknya. "Dia anak kita! Kita sama-sama menciptakannya saat kita saling mencintai! Jadi bagaimana mungkin aku membohongimu? Kalau dia bukan anakmu, untuk apa aku memaksakannya padamu?"
Ia menghapus air mata di pipinya dengan cepat. Ia akan terus membela anaknya, karena ia tahu, Niko adalah darah daging Junior.
Tak mungkin ia hamil oleh pria lain. Hanya suaminya yang pernah menyentuh tubuhnya. Ia mencintai Junior sepenuh hati dan rela berkorban apa pun demi pria itu.
Rasa takut menjalar saat Junior mencengkeram dagunya. Tatapannya penuh keraguan dan kemarahan. Alyssa melihat luka di mata suaminya dan ia membencinya. Ia membenci melihat pria yang ia cintai terluka seperti itu.
Selama bertahun-tahun, mata Junior tak pernah berubah. Selalu ada amarah, sakit, dan kesedihan setiap kali menatapnya.
"Aku bukan ayahnya, Alyssa. Kamu tahu itu. Aku juga tahu," suara Junior bergetar, bibir bawahnya bergetar saat ia berusaha menahan emosi.
Matanya berkaca-kaca. Alyssa tahu, suaminya hampir menangis.
"Kamulah ayahnya. Ayah Niko," ucap Alyssa lembut namun tegas.
"Ayahnya pria lain. Aku ingat betul kamu berakhir di ranjang pria lain! Aku yang pertama, tapi ada pria kedua dan dia ayah anakmu! Sahabatmu sendiri, Alyssa!" mata Junior menyala penuh amarah. "Lalu kamu ingin aku percaya padamu? Jangan paksa aku, atau aku bisa saja melukai anak itu!" teriaknya. "Aku sudah lama menahan diri. Kalau bukan karena dia masih anak-anak--"
Junior melepaskannya dengan kasar. Alyssa jatuh terduduk, lututnya lemas. Kini ia dan Niko sama-sama menangis di lantai.
Dadanya terasa sesak. Setiap kali ia menangis, napasnya selalu ikut terhimpit.
"Kalian berdua, menjauhlah dariku! Tidak ada yang akan berubah! Jangan berharap semuanya kembali seperti dulu, Alyssa. Kamu menghancurkan segalanya, kepercayaanku dan cintaku. Semuanya kamu bakar demi pria yang sejak awal membuatku cemburu. Memang benar, sahabat bisa menghancurkan hubungan."
Alyssa tak mampu menjawab lagi. Ia hanya menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia marah pada dirinya sendiri dan juga pada Junior. Marah karena anaknya ikut terluka, dan marah karena Junior tak pernah memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran di balik fitnah itu.
Ia merangkak mendekati Niko dan memeluknya erat. Wajahnya ia tekan ke kepala anaknya.
Niko terisak di dadanya, masih memeluk gambar hadiah untuk ayahnya. Hati Alyssa remuk.
"Sudah, sayang," bisiknya lembut sambil mengelus kepala anak itu.
"Mommy, kamu tidak apa-apa?" tanya Niko cemas sambil mengusap wajah ibunya dengan tangan kecilnya.
Sentuhan itu sedikit meredakan sesak di dada Alyssa.
"Iya, sayang. Kalau kamu? Ada yang sakit?" tanyanya sambil memeriksa tubuh Niko.
"Aku baik-baik saja, Mommy. Maaf… kalau aku tidak mendekati Daddy, Mommy tidak akan disakiti," tangis Niko menyalahkan dirinya sendiri.
Alyssa menggeleng kuat. "Tidak, sayang. Kamu tidak salah. Kamu bukan kesalahan. Daddy dan Mommy saling mencintai saat kamu ada. Suatu hari Daddy akan menerima kamu."
Niko menempelkan pipinya ke dada ibunya.
Alyssa menatap kosong ke depan, penuh tekad. Ia tidak akan menyerah. Niko adalah anak Junior. Dan ia akan membuktikan kebenaran itu, demi hak anaknya memiliki seorang ayah, dan demi membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Ia akan berjuang sampai akhir.