'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur
Zahra bingung menerima perhatian Zafran selama tiga hari ini. Zafran sungguh ugal-ugalan dalam memperhatikannya semenjak pria itu mengungkapkan perasaannya. Dan itu terjadi di kantor maupun di luar.
Zafran selalu memberikan sebuket bunga yang berbeda setiap harinya di dalam ruangan Zahra kemudian disusul dengan berbagai makanan ringan.
Di hari keempat ini Zahra menemukan bunga lili diatas meja kerjanya. Ia ambil buket tersebut dan menciumnya.
"Aku sangat menyukai bunga. Seperti namaku yang berarti bunga. Apa Tuan Zafran tau tentang itu ?" Zahra bicara dengan dirinya sendiri.
Ia tidak tau harus berbuat apa. Apa ini tidak terlalu cepat jika ia membuka hati untuk kisah yang baru.
Zahra bertanya-tanya dalam hati. Kemana cinta untuk Aditya yang ia tau begitu besarnya. Kemana perginya kesedihan yang ia rasa saat palu pengadilan terdengar.
"Apa aku sudah ikhlas ?" tanyanya dengan senyum merekah.
"Terima kasih, Ya Allah engkau sembuhkan hatiku dengan cepat. Akhirnya aku merasakan keikhlasan yang belum pernah ku rasakan. Berilah kesembuhan hati untuk Zafirah juga," doa Zahra menadahkan kedua tangannya.
Pintu ruangan Zahra diketuk dari luar sesaat setelah ia berdoa. Dan muncullah seorang OB membawa paperbag seperti biasanya.
"Ari, bawa saja untuk kamu. Saya sedang puasa," kata Zahra memberikan makanan ringan pemberian Zafran.
"Ah tidak Mbak Zahra, saya tidak berani. Ini kan dari Pak Bos langsung," kata OB tersebut merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Saya nanti yang bilang. Dimakan ya jangan dibuang," kata Zahra meyakinkan.
"Yasudah kalau Mbak Zahra sendiri yang menyuruh. Terima kasih banyak ya, Mbak" ujar Ari dengan senyumnya kemudian keluar dari ruangan Zahra.
Zahra hanya tersenyum. Nanti ia akan menjelaskan pada Zafran sekalian mengatakan agar Zafran berhenti menerornya dengan perhatian yang membuat dirinya malu pada rekan-rekan nya yang lain.
..
"Tuan, ini laporan yang anda minta" Zahra meletakkan dua map tebal di hadapan Zafran.
Zafran tidak menyentuh map tersebut. Ia malah sibuk memandangi wajah Zahra yang semakin hari semakin cantik di matanya.
"Tuan, jaga pandangan " tegur Zahra merasa risih. Dan akhirnya Zafran benar-benar melempar pandangannya kearah lain.
"Maaf, saya tidak sengaja. Kamu terlihat cantik makanya saya.."
"Tuan, tolong jangan katakan hal seperti itu. Itu tidak pantas," Zahra memotong ucapan Zafran yang lama-kelamaan semakin aneh saja.
Zafran tertawa kecil. Ia juga merutuki dirinya sendiri. Kenapa tidak bisa menjaga sikapnya pada Zahra.
"Iya maafkan saya, ya. Nanti malam mau makan malam berdua dengan saya ?"
Mata Zahra melotot mendengar ajak Zafran. Apa katanya ? berdua saja.
"Oh kamu tidak mau ya. Bagaimana kalau kita makan rame-rame di rumah kamu bersama kedua orang tua kamu. Biar Zafirah yang masak. Nanti saya ajak Elio," kata Zafran dengan senyum yang terlihat menyebalkan bagi Zahra.
"Tuan Zafran, untuk apa anda ke rumah saya ?" tanya Zahra tidak habis pikir. Ada saja gebrakan duda tampan ini.
"Ya saya hanya ingin mengenal calon mertua saya. Memangnya salah ?" tanya Zafran dengan wajah tanpa dosa.
Zahra menatap Zafran dengan dalam. Mencoba menafsirkan apa benar yang dikatakan oleh pria itu jika ia memang menginginkan Zahra menjadi pendampingnya. Memang tidak tanggung-tanggung, Zafran mengatakan ingin menikahi Zahra kapan saja Zahra bersedia.
'Usia saya sudah tiga puluh lima tahun. Sudah bukan usia bermain-main dengan cinta lagi. Jika kamu bersedia, saya ingin segera menikahi kamu Zahra. Kita bisa pacaran setelah menikah,' ucapan Zafran selalu terngiang-ngiang di telinga Zahra selama tiga hari ini.
Tapi Zahra masih ragu. Zafran memang baik. Tapi itu hanyalah sebagian kecil dari yang terlihat. Dan Zahra tidak mau mengulang masa lalu yang pahit dalam sebuah pernikahan.
Zahra berpikir keras. Saat ini Zafran masih belum tau statusnya yang sudah pernah menikah. Dalam hati Zahra meyakinkan dirinya sendiri agar segera memberitahu Zahran. Jika memang Zafran menolaknya, maka ia harusnya mengerti isi hati Zafran dan begitu sebaliknya.
"Ada sesuatu yang belum anda ketahui tentang saya, Tuan" ucap Zahra dengan menautkan kedua tangannya seolah-olah apa yang akan dikatakannya itu adalah sebuah kesalahan.
"Ayo kemari. Duduklah agar kamu lebih santai," Zafran mengajak Zahra duduk di sofa. Ia duduk lebih dulu di sofa single dan membiarkan Zahra duduk di kursi panjang agar lebih leluasa.
"Sebenarnya saya sudah pernah menikah. Dan enam bulan yang lalu saya bercerai. Jadi, saat ini status saya adalah janda," kata Zahra menunduk dengan memainkan ujung kemejanya. Ia tidak mampu untuk sekedar menatap Zafran. Apa yang diucapkannya seperti sebuah pengakuan dosa yang membuatnya gentar.
"Memangnya kenapa ?" tanya Zafran. Zahra mencoba mengangkat pandangannya. Melihat kearah Zafran. Tidak ada ekspresi terkejut sama sekali.
"Anda tidak terkejut ?" pertanyaan konyol Zahra membuat Zafran tertawa.
"Kenapa terkejut ? tidak ada yang salah dengan status janda. Asalkan saat ini kamu sendiri, saya tidak takut mendekati kamu," ujar Zafran penuh keyakinan.
Setelah bicara cukup lama, Zahra pamit keluar. Bicara dengan Zafran membuatnya panas dingin. Ada saja yang ditanyakan oleh pria itu. Entah mengapa Zahra merasakan dadanya berdebar keras tidak seperti biasanya.
"Aku tidak mungkin suka sama Tuan Zafran kan ?" Zahra bertanya tentang perasaannya sendiri.
..
Sangat sulit bagi Zahra untuk mengambil keputusan. Ia akhirnya menceritakan hal tersebut pada Papa Yusuf dan Mama Febi. Kedua orang tua Zahra menerbitkan senyum kecil di bibir masing-masing. Mereka bersyukur Zahra bisa membuka hati pada laki-laki lain.
"Bagaimana menurut Mama dan Papa ?" tanya Zahra diakhir ceritanya.
"Kalau sekarang Papa tidak bisa menilai. Kapan-kapan kamu undang lah dia makan malam bersama kami. Nanti Papa bisa mengamati sekaligus mengenalnya," kata Papa Yusuf.
"Kalau kamu sendiri sudah ada rasa belum sama dia ?" tanya Mama Febi dengan senyum yang menggoda Zahra hingga membuat Zahra tersipu malu. Melihat reaksi Zahra, kedua orang tuanya tertawa dan mereka memeluk Zahra.
Perceraian memang menyakitkan bagi sebagian orang. Terlepas mereka melakukan kesalahan atau tidak. Namun bercerai karena sebuah perselingkuhan benar-benar meninggalkan trauma yang sulit hilang.
"Mama senang kamu bisa menyembuhkan hati kamu dengan cepat," kata Mama Febi membelai rambut Zahra yang terurai panjang.
Zahra hanya tersenyum. Ia pun tidak menyangka bisa lepas dari bayang-bayang Aditya dengan cepat.
..
Jangan lupa di subscribe ya..
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪