melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sesuatu yang sangat besar yang belum siap
Keterlambatan yang Fatal
Elice—yang biasanya dingin dan tak peduli pada siapa pun—kini berdiri menghadapi kenyataan pahit.
Sebuah ancaman yang bukan hanya mengguncang Kerajaan Vantier, tetapi berpotensi mengguncang seluruh dunia sihir.
Nama itu kembali muncul.
Kai.
Penyihir kegelapan yang seharusnya tak pernah bebas lagi.
Elice menunduk.
Tubuhnya terasa berat, tatapannya kosong.
“Kita… telat,” ucapnya lirih, nada suaranya mengandung kekhawatiran yang jarang sekali terdengar.
Seraphina mengepalkan tangannya.
“Ini gawat,” katanya pelan.
“Kita mau tak mau harus mengalahkannya… untuk kedua kalinya.”
Daziel hanya menggenggam tangannya erat-erat, tak sanggup berkata apa pun.
Sementara Violet, Julian, Vermila, dan Nerissa terdiam—mereka semua tahu satu hal yang sama.
Lawan mereka bukan musuh biasa.
Ignavia tiba-tiba berteriak, suaranya menggema di lorong penjara.
“KEPARAT!!”
“Kita telat lagi… dan lagi!!”
Tak ada yang menyahut.
Aula Tinggi High Magnus
Di gedung pusat High Magnus.
seorang pria berambut gelap dengan sorot mata ungu tenang.
Pakaian putih nya sangat sangat bersih.
Dialah Adam Zapata, pemimpin agung High Magnus generasi sekarang.
Meski usianya tak jauh berbeda dari Elice, pengalamannya tak perlu diragukan.
Dengan suara lembut, ia berkata,
“Elice, Seraphina, Vermila, Ignavia, Nerissa, Julian, Daziel, Violet…”
“Kalian gagal menghentikan langkah kaki mereka.”
Tak ada kemarahan.
Tak ada nada menyalahkan.
Elice langsung menunduk dan berlutut.
“Tuan Adam… maafkan kami,” ucapnya dengan hormat.
“Kami gagal menghentikannya.”
Julian melangkah maju sambil membenahi kacamatanya.
“Aku sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan,” katanya serius.
“Tapi aku tak menyangka HEPTA ORDER bergerak secepat itu. Pertahanan Penjara Kelas 13… seolah tak berarti apa-apa di mata mereka, bahkan pasukan elit whiliante kalah.”
Adam tersenyum tipis.
“Tak apa,” katanya lembut.
“Kalian sudah melakukan yang terbaik.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kalian ingat, bukan? Dua tahun lalu—saat kalian baru bergabung dengan High Magnus Divisi 1.”
“Yang mengalahkan Kai bukan aku."
Adam menepuk tongkatnya pelan ke lantai.
“Itu kalian.”
“Jadi jangan menyalahkan diri sendiri,” lanjutnya.
“Kesedihan tak akan menghentikan bencana yang akan datang.”
Markas Rahasia – Proyek Kegelapan
Di sebuah ruangan luas yang gelap, Kai berjalan pelan.
Jubah hitamnya menyapu lantai, wajahnya kosong—tanpa ekspresi, tanpa emosi.
Di belakangnya, tujuh sosok mengikuti.
HEPTA ORDER.
Kai berhenti sejenak.
“Desmor,” katanya datar.
“Aku tak menyangka kau membentuk pasukanmu sendiri. Biasanya kau enggan bekerja sama.”
Desmor menggaruk lehernya kasar.
“Sudah, jangan banyak yapping, ayah tua,” balasnya dingin.
“Mana senjata tempur yang kau janjikan?”
Kai berjalan pelan.
“Sabar,” ujarnya.
“Tak lama lagi. Alat tempur kita… Septagon, akan segera siap.”
Nevalia mendecak kesal.
“Cih,” katanya dingin.
“Jadi aku mengorbankan sayap kertas peledakku demi menyelamatkan seseorang tanpa wajah ini?”
“Karena kau, aku tak bisa terbang lagi.”
Zhuang menimpali sambil memasukkan tangan ke saku.
“Jadi kau yang harus kami selamatkan?”
“Apa gunanya kau bagi kami?”
Kai berhenti melangkah.
Ia tak menoleh ke arah kedua nya.
Jari telunjuknya ada di atas dagu nya seolah olah itu adalah tempat bibir.
“Zhuang. Nevalia,” katanya pelan.
“Kalian tak tahu apa pun tentang aku.”
Ia menoleh sedikit ke arah kedua nya.
“Tapi aku tahu banyak tentang kalian.”
“Sebelum pertarunganku melawan para High Magnus mengalahkanku,” lanjut Kai,
“aku sudah memulai proyek perang ini.”
Senjata yang Akan Mengguncang Dunia
Mereka memasuki sebuah ruangan raksasa.
Luas.
Gelap.
Dan di tengahnya—
Sebuah makhluk kolosal berbentuk naga berkepala tujuh, belum sepenuhnya aktif.
Scarlet berseru dengan mata berbinar.
“Waaah~”
“Itu naga, ya? Apa kami boleh memberi perintah?”
Kai menoleh padanya.
“Tentu saja bisa scarlet,"jawabnya singkat.
“Tapi akses penuh hanya untuk dua orang.”
“Diriku… dan Desmor,maaf ya kau tak bisa memberi perintah.”
Scarlet mengembungkan pipinya dengan kesal.
"hmmm, kau sangat pelit."kata nya dengan kesal
Ia berbalik.
“Sekarang ayo keluar,” lanjut Kai.
“Biarkan senjata kita tidur… sampai waktunya tiba.”
Mereka berjalan meninggalkan ruangan itu.
Freon menoleh sekilas ke arah naga berkepala tujuh tersebut.
Sudut bibirnya terangkat sedikit—senyum kecil yang nyaris tak terlihat.