Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 2
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Kenan yang gemetar dan sangat panik karena melihat seorang yang tadi di tabrak nya.
Luka nya sangat parah, padahal ia menyetir tidak begitu kencang, tetapi memang Kenan melamun membayangkan wajah Arumi sampai akhirnya dirinya tidak sadar jika itu berbahaya untuk orang lain maupun dirinya sendiri.
Jimmy berusaha menenangkan Kenan yang sangat frustasi terlihat sahabat nya itu menatap tangannya yang penuh dengan darah si korban yang saat ini tengah di tangani banyak dokter.
"Berapapun biayanya aku akan membayarnya," panik Kenan.
"Tenanglah, dokter sedang menangani nya kau jangan panik lebih baik kau segera bersihkan dirimu lalu pulang bersiap ke hotel. Aku akan bicara pada dokter dan pihak rumah sakit agar merahasiakan kejadian ini," terang Jimmy.
"Tapi, Jim,"
"Tidak ada tapi-tapi tenangkan dirimu aku yang akan urus semuanya di sini," Kenan menurut ia langsung menuju toilet untuk membersihkan diri sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di sisi lain tepatnya di kamar Hotel, Tiara berusaha menghubungi putranya karena dari semenjak ia pergi tak satupun telepon nya itu dijawab oleh Kenan.
Arsyad dan Riana sudah sangat pusing melihat Tiara yang sedari tadi tidak bisa diam sambil memegangi ponselnya.
"Bisakah mami diam? kepalaku sakit rasanya melihat mami yang mondar mandir terus," protes Riana.
Tiara menduduki sofa yang berada di kamar Hotel khusus keluarga,"Bagaimana mami bisa diam kakak mu itu loh dari tadi susah dihubungi," kesal Tiara.
"Memangnya dia akan datang mih, aku tidak yakin," balas Arsyad.
Putra nya itu tidak terlalu suka dengan acara keluarga sedari dulu ia memilih pergi ke luar dibandingkan datang.
"Nyonya, acara sudah akan dimulai dan Tuan Kenan sudah berada di sana," ujar manager hotel.
Mereka pun saling pandang tidak percaya,"Tunggu apalagi mih, ayo kita kesana," ajak Riana yang lebih dulu melangkah keluar.
Dengan cepat kedua orang tua nya menyusul sang putri dan bergegas ke tempat acara. Hingga mereka sampai di acara dan sangat terkejut karena putranya mau tampil dan berbicara di depan orang banyak.
"Pih, tolong cubit Mami,"
Arsyad menurutinya,"Pelan-pelan dong pih, sakit tau," Tiara meringis seraya mengusap pipinya yang sedikit memerah.
"Salah lagi," keluh Arsyad.
Sepanjang Kenan bicara semua pandang mata fokus pada pria yang akan menjadi pewaris keluarga Dirgantara. Mereka terlihat kagum terlebih lagi para wanita di sana yang terlihat cari perhatian dan salah tingkah bahkan ada yang sengaja menggoda agar di lihat oleh Kenan.
Namun, hanya satu yang tertuju di penglihatan pria itu siapa lagi kalau bukan Arumi yang sedang mempersiapkan segalanya dan hanya Anita yang menyadari pandangan Kenan yang selalu mengarah pada Arumi walaupun ia sangat sibuk bersama Arumi.
Tepuk tangan yang sangat meriah mengakhiri pidato Kenan lalu ia bergegas turun menghampiri kedua orang tua nya dan juga sang adik.
"Tante," panggil seorang gadis cantik berkulit putih dan style rambut yang cantik juga menghampiri Tiara, seketika Kenan merubah ekspresi wajahnya menatap datar wanita itu.
"Hei, sayang kamu baru datang," sambut Tiara yang langsung memeluk gadis pilihan nya itu siapa lagi kalau bukan Helen.
"Wah, akan ada perjodohan lanjutan kayaknya nih," bisik Riana pada sang kakak.
"Diam kau!" kesal Kenan.
Helen menatap Kenan dengan senyuman manis nya walaupun balasan pria itu sangat dingin, tetapi ia tetap menghampiri Kenan dan berusaha mengajaknya mengobrol.
"Bagaimana kabarmu," tanya Helen basa-basi.
"Baik ... Mih aku ada urusan sebentar," pamit Kenan.
"Hey, kamu mau ke mana? Ajak lah Helen makan dulu dia sudah menunggu kamu lama loh. Lagian urusan apa sih luangkan waktu untuk Helen biar kalian makin dekat,"
Kenan mendengar itu tersenyum acuh dan merasa sangat jengkel pada Tiara yang tidak ada menyerahnya ingin dirinya berjodoh dengan Helen.
"Jangan dengarkan mami, Helen. Maaf aku tidak bisa menikah dengan mu karena aku sudah punya calon sendiri ... Permisi!"
Degh
"Kenan ... Apa yang kau katakan, hah! Kenan ... Tunggu mami," Tiara berteriak ingin menahan Kenan pergi, tetapi Arsyad melarangnya.
"Helen, Kenan hanya bercanda kau tau kan anak itu seperti apa," bujuk Tiara.
"Gak apa-apa Tante,"
Sedikit bahkan Helen sangat kecewa, dia merasa memang Kenan tidak pernah tertarik padanya. Hanya saja rasa cinta dan kasih sayang nya pada pria itu membuat Helen sangat berharap bahwa suatu saat nanti Kenan akan membalas cinta nya.
***
Di sebuah ruangan semua karyawan hotel, restoran pun di kumpulkan atas perintah Kenan. Saat ini Jimmy sudah berada di ruang tersebut menunggu Kenan datang.
Yang ditunggu akhirnya tiba ia pun langsung duduk di kursi kebesaran nya dan semua karyawannya menyambut nya dengan sangat hormat.
"Langsung saja saya mengumpulkan kalian hanya ingin mengenal kalian bertatap muka dan melihat siapa saja yang sudah sepenuh hati berkerja di sini. Untuk itu sebagai bentuk rasa terimakasih saya hari ini kalian akan mendapatkan bonus,"
Semua karyawan sangat senang terkecuali Arumi yang saat ini sangat gelisah karena tidak biasanya Natan tidak memberi pesan atau sekedar menghubungi nya walaupun Natan juga sangat sibuk.
Atensi Kenan mengarah pada Arumi yang sedari tadi ia perhatikan,"Kau kenapa? Apa tidak merasa senang," tanya Kenan yang mana membuat semuanya terdiam.
"Ada apa, Arumi. Kenapa kau terlihat gelisah?" tanya Anita.
"Tidak, aku tidak apa-apa," bohongnya.
Dreett
Dreett
"Permisi, pak saya izin menerima telepon," pamit Arumi pada Kenan.
"Angkat saja tidak apa-apa tidak perlu pergi karena saya belum selesai," Arumi yang merasa tidak enak pun langsung mematikan panggilan telepon di ponselnya membuat Kenan menatap bingung pada Arumi.
Namun ponselnya pun berdering kembali, entah kenapa itu membuat Kenan sangat penasaran dan tanpa sadar ia berdiri menghampiri Arumi membuat Jimmy bahkan semua karyawan lainnya ikut terkejut.
Bahkan mereka lebih terkejut lagi saat melihat Kenan merebut ponsel Arumi dan langsung menerima telepon tersebut.
Sedangkan Arumi, wanita itu terdiam menatap Kenan yang dengan lancang mengambil ponselnya dan langsung berbicara pada orang yang menelepon itu.
"Ya, katakan ini sia ..."
"Akhirnya kau mengangkat juga Nona, saya dari pihak rumah sakit mau mengabarkan jika suami nona kecelakaan dan berada di rumah sakit Cempaka. Bisakah anda datang kesini? Kondisi pasien sangat kritis,"
Degh
Jantung Kenan seakan berhenti mendengar kata rumah sakit dan mengingat kembali kecelakaan yang baru saja menimpanya.
"Ada apa pak? Siapa yang menelepon? Kenapa kau terlihat sangat terkejut," tanya Arumi yang langsung mengambil kembali ponselnya, tetapi sambungan telepon pun sudah terputus.
"Cempaka," lirih Kenan.
"Apa? Cempaka? Bukan kah itu rumah sakit," Kenan mengangguk lalu Tiara bertanya kembali pada bosnya itu.
"Pihak rumah sakit mengabari jika suami mu kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis," ujar Kenan dengan suara pelan.
"APA? KAU BERCANDA KAN PAK?!" teriak Arumi.
"Pelan kan nada bicaramu dan jaga batasan mu pada pak Kenan," tegur manager.
"Maaf,"
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," Kenan langsung menarik tangan Arumi di saksikan semua orang yang berada di ruangan itu bahkan ada yang berbisik dan berbicara tidak enak membuat Jimmy kesal.
"Sedang apa kalian? Jangan bergosip yang tidak-tidak begitulah pak Kenan dia sangat tidak tega melihat orang yang sedang mengalami musibah," jelas Jimmy dan langsung meninggalkan ruangan itu menyusul Kenan untuk mencegahnya membawa Arumi karena di bawah banyak sekali Wartawan.
"Tunggu, Kenan!" panggil Jimmy.
"Ada apa? Aku sedang buru-buru," balas Kenan yang melangkah kembali masih memegangi tangan Arumi.
"Lepasin dia, apa kau mau ada gosip di luaran sana, hah. Di bawah banyak wartawan apa kau tidak sadar itu!" seru Jimmy.
"Pak Jimmy benar, saya izin ke rumah sakit sendiri saja pak," pamit Arumi tapi lagi-lagi Kenan ingin mengejarnya.
Dengan cepat juga Jimmy menarik Kenan dan menghalangi ia mengejar Arumi,"Kau ... Kenapa menghalangiku!" kesal Kenan.
"Apa kau tidak berpikir Kenan, kalau kau ke rumah sakit ..." Jimmy berhenti sejenak dan langsung membawa Kenan ke ruangan kerjanya di hotel itu.
Braak
Pintu di tutup sangat keras membuat Kenan sedikit terkejut,"Dasar bodoh kau Kenan, apa kau tidak merasa takut jika kau ikut Arumi ke rumah sakit, hah!" pekik Jimmy.
"Apa maksud mu!" seru Kenan.
"Maksudku orang yang kau tabrak tadi itu suaminya Arumi apa kau tidak mengerti atau memang ... Akhhh Kenan kau itu kenapa jadi bodoh seperti ini!"
"Apa?" lirih Kenan.
*
* Bersambung.