Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam ditepi pantai
Zee menatap hamparan laut dengan ditemani gelap malam. Tatapannya lurus menatap laut lepas, namun pikirannya berkelana entah kemana.
"Butuh teman cerita? ". Zee menoleh saat seseorang duduk di sampingnya. Zee tersenyum kecil menatap sosok di sampingnya.
Zee sengaja menjauh dari yang lain. Bahkan saat Maya mengajaknya berkeliling ia menolak dan memilih tempat ini dengan harapan tak ada yang menemukannya. Namun sepertinya ia memang tidak pandai bersembunyi.
" Aku berpengalaman untuk urusan percintaan Zee, kamu bisa mempercayai aku dan meminta saran apapun padaku". Sosok yang tak lain adalah Bara tengah duduk disamping Zee sambil menepuk dada nya dengan sombong.
Bara melihat semua, berdasar pengalamannya yang bisa dibilang mumpuni dalam hal percintaan. Bara yakin ada kisah dibalik sikap Zee pada sosok lelaki yang belum ia tahu namanya itu.
Bahkan sekali melihat saja Bara sudah bisa menilai jika si lelaki menyimpan rasa pada Zee. Ia lelaki dan tahu pasti akan arti tatapan lelaki itu.
"Siapa dia Zee? ". Tanya Bara pada akhirnya. Ia sudah sangat penasaran. Lima tahun lebih mengenal Zee, tak sekalipun ia lihat Zee dekat dengan laki-laki kecuali Maya. Maya adalah pengecualian tentunya.
" Dia siapa pak? ". Zee menjawab pertanyaan Bara dengan sebuah pertanyaan
"Ohh.. ayolah Zee. Kamu tahu betul siapa yang aku maksudkan". Bara menatap intens wajah Zee. Yang ditatap hanya menghela nafas panjang tanpa berniat menjawab.
" Baiklah.. baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku hanya akan diam disini dan menemanimu melamun saja". Putus Bara akhirnya, namun pada kenyataannya lelaki itu tetaplah seorang playboy. Melihat gadis-gadis cantik membuatnya goyah.
"Aaahh.. sulit sekali diam. Aku tidak bisa ternyata diam begini. Telpon aku jika kamu butuh nasehat soal percintaan, mengerti? ". Bara mengusak pucuk kepala Zee penuh sayang seperti memperlakukan seorang anak kecil.
Zee terkekeh pelan saat melihat Bara berlari menghampiri segerombolan wanita dengan pakaian yang cukup minim. Ya, Bara tetaplah Bara. Mana bisa lelaki itu melihat wanita cantik dan mengacuhkan nya.
Bara sempat berbalik dan melambaikan tangannya pada Zee yang juga membalas lambaian tangannya. Zee kembali menghela nafas panjang.
Zee kembali memfokuskan matanya menatap hamparan laut malam yang tetap terlihat indah meskipun gelap.
Zee tersentak saat seseorang kembali duduk disamping nya. Ia buru-buru menoleh untuk melihat siapa kini yang duduk di sampingnya.
Mata Zee mengerjap melihat sosok yang kini duduk di sampingnya itu. Bagaimana tidak, seorang yang sudah mampu mengusik hatinya yang telah lama mati.
" P-pak Ben.. " Seru Zee menatap lelaki bule tampan yang duduk tenang di sampingnya.
Ben menoleh menatap Zee, kemudian ia menyodorkan sebotol minuman rasa jeruk pada Zee dan diterima oleh Zee dengan senang hati karena sejujurnya ia memang haus.
"Sepertinya disini tempat yang sunyi. Aku butuh tempat sunyi, disana terlalu berisik". Zee kembali mengerjapkan matanya, terlihat lucu dimata Ben hingga tanpa sadar lelaki itu menyunggingkan senyum tipis yang mampu membuat Zee terpaku sesaat.
" Boleh aku menumpang duduk disini? ". Tanya Ben karena sejak tadi Zee diam saja. Ini rekor untuk nya, berbicara panjang lebar pada seseorang yang tidak dekat dengannya.
" Tentu saja boleh pak. Ini tempat umum.. " sahut Zee akhirnya. Ia kembali menatap lautan, rasanya tak sanggup jika harus menatap keindahan disamping nya. Ia takut berharap dan memiliki perasaan lebih yang tidak boleh ia miliki.
Zee melirik Ben yang ternyata juga tengah menatap hamparan laut lepas di depan sana. Tampilan Ben malam ini benarbenar berbeda dari Ben yang biasanya. Jika biasanya tubuh lelaki itu dibalut setelan formal, malam ini Ben tampil beda dengan memakai celana pendek berwarna putih dan kaos putih yang dibalut dengan kemeja pantai. Terlihat cocok dan semakin membuat Ben mempesona.
"Aku mau menanyakan sesuatu padamu".
" Kamu mengenal micin? Maksudku Sasa". Ben membuka percakapan, sejak sore tadi sudah ia tahan. Namun rasa penasaran terus mengganggu nya.
"Micin? "
"Ya, anak kak Mei.. " Sahut Ben yang kini menoleh menatap Zee yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Kak Mei? ". Beo Zee mengikuti ucapan Ben.
Zee berpikir sejenak, kemudian sedikit memekik sambil menutup mulutnya. ia menatap Ben dengan mata melebar.
" P-pak Ben.. om nya micin? Maksud aku Sasa.. " Tanya Zee pelan. Dan Ben menganggukkan kepalanya. Sasa sudah berkali-kali bercerita tentang om kesayangannya, bu Sandra pun kerap menceritakan anak bule nya yang ternyata adalah Ben.
Pantas saja setiap Zee melihat oma Sandra, ia seperti tidak asing dengan wajah dan mata itu. Rupanya ini jawabannya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Dari mana kalian saling mengenal? Sepertinya kalian juga akrab. Kau juga mengenal mami? ". Rentetan pertanyaan akhirnya Ben utarakan guna mengobati rasa penasaran nya.
Cukup lama Zee terdiam, ia masih terkejut dengan kenyataan yang ada di depan nya saat ini. Apakah benar dunia memang hanya selebar daun kelor? Pikir Zee.
Ben kembali bertanya karena Zee justru melamun. Ia mengulangi pertanyaannya dan akhirnya mengalirlah cerita awal dirinya bisa mengenal Sasa dan juga Mei serta Sandra.
" Begitu pak Ben ceritanya.. ". Zee mengakhiri ceritanya. Ben hanya mengangguk kan kepalanya saja.
Kini keduanya kembali saling diam, entah memikirkan apa. Namun inilah yang Ben butuhkan. Ketenangan. Karena sejak tadi telinganya terasa berdengung mendengarkan mami dan juga keponakan serta kakaknya terus bercerita tentang hal yang bahkan Ben tak pahami. Entah bagaimana papi dan kakak iparnya itu bisa tahan.
" Kenapa mereka bisa tahan mendengar suara para perempuan itu". Gumam Ben sambil bergidik, berada dekat sesaat dengan tiga wanita sekaligus benar-benar membuat telinganya terasa panas.
"Ya, apa pak Ben? ". Tanya Zee karena mendengar Ben menggerutu.
"Apa? Apa memangnya? ". Ben balik bertanya dengan alis berkerut.
" Saya kira bapak berbicara sesuatu.. " Keduanya saling menatap, namun sesaat kemudian mereka mengalihkan pandangan matanya.
Dari jarak yang masih lumayan jauh, terlihat dua orang perempuan beda generasi tengah berjalan bersisian. Mereka tengah mencari seseorang yang menghilang tiba-tiba,
"Dasar bule tengik. Antek-antek penjajah".
" Ibunya sedang bicara malah di tinggal pergi, nanti aku akan mengutuk bule tengik itu biar hilang kenarsisannya". Sumpah serapah keluar dari mulut wanita bule.
"Kan oma juga bule". Sahut Sasa yang berjalan disamping sang oma.
" Kamu juga keturunan bule". Balas oma membuat Sasa merotasikan bola matanya.
"Itu om Ben disana oma.. " Seru Sasa saat melihat punggung Ben. Gadis cilik itu sangat hafal apa yang tadi dikenakan oleh om nya.
Oma menyipitkan matanya, menajamkan matanya pula untuk melihat. Jarak mereka masih cukup jauh saat ini.
Tepat saat Sasa akan berteriak memanggil Ben, oma membekap mulut cucunya itu hingga membuat Sasa meronta.
"Ssstt.. diem! ". Perintah oma pada sang cucu.
" Oma gimana sih, katanya tadi nyariin om Ben. Udah ketemu malah nggak boleh di panggil". Sungut Sasa menatap galak sang oma.
"Liat baik-baik, om bule mu itu sedang dengan siapa". Oma menunjuk gadis yang duduk di samping Ben.
" Memang siapa itu? ". Tanya Sasa membuat oma berdecak kesal.
" Lihat baik-baik. Buka mata lebar-lebar Sasa.. " Perintah oma pada sang cucu yang menurut saja perintah oma nya.
"Kak Zee!! ". Seru Sasa yang kembali membuat oma membekap mulut cucunya.
" Jangan kenceng-kenceng, nanti mereka denger". Oma tersenyum penuh misteri. Akankah kedepan lebih mudah menjadikan Zee manantunya?
"Bagus dong oma, tadi kan om Leon juga nyariin kak Zee". Sasa yang masih kecil belum mengerti niat terselubung dari oma nya.
" Memangnya kamu tidak mau punya tante seperti Zee? ". Tanya oma memancing.
" Memang apa hubungannya dengan om Ben? Aku nggak ngerti maksud oma". Wajah Sasa terlihat kebingungan
"Tidak usah dimengerti. Kamu masih terlalu kecil". Tatapan oma lurus pada dua sosok manusia yang duduk berdampingan.
" Oma aneh deh.. " Sasa bergidik melihat oma nya senyum-senyum sendiri.
"Sudah ayo. Kita kembali saja untuk makan malam". Oma menarik Sasa menjauh dari Ben dan Zee. Membiarkan dua anak manusia itu mengobrol.
Sasa yang masih tak mengerti apa yang dipikirkan sang oma hanya diam mengikuti keinginan sang nenek saja. Daripada dirinya kena omel juga nantinya.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Udah micin nurut aja sama oma ya.. nanti oma tantrum kalo Sasa ngga nurut🤣...
...Jangan lupa ritualnya sayang, like komennya kencengin lagi yaaa🙏👍🫰...
...Happy reading semua🫰 saranghae readers kuuu🫰🫰💋💋💋🥰❤🥰😘😍❤😘😍🌹🌹...