NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana mendadak terasa canggung ketika Maira keluar dari kamar mandi. Pandangannya langsung tertuju pada Hazel yang sudah terbaring di atas ranjang, mata terpejam seolah benar-benar tertidur.

Maira melangkah pelan, lalu berbaring di sisi ranjang yang lain. Tidak ada lagi canda atau godaan seperti sebelumnya. Kali ini ia memilih diam. Setelah kejadian tadi, entah kenapa ia masih merasa jantungnya berdebar sendiri.

Ia memunggungi Hazel dan menarik selimut hingga menutup tubuhnya sampai ke leher. Ingatan tentang momen canggung itu kembali terlintas, membuatnya bergidik pelan tanpa sadar. Maira memejamkan mata, berusaha memaksa pikirannya tenang.

Malam ini, tanpa perdebatan dan tanpa godaan, mereka akhirnya sama-sama terlelap.

***

Keesokan paginya, mata Hazel membulat tak percaya. Tubuhnya menegang, nyaris tak bisa bergerak. Maira memeluknya erat dari samping, wajah wanita itu bersandar di lehernya. Napas Maira yang hangat menyentuh kulitnya, membuat jakun Hazel naik turun menahan gugup.

Belum sempat ia menyingkir, Hazel merasakan sesuatu yang jauh lebih membuatnya panik. Tangan Maira, yang jelas masih terlelap, bergerak tanpa arah dan tanpa sadar menyusup ke dalam celananya.

“Ini apa, sih… panjang dan keras,” gumam Maira lirih, matanya masih terpejam. Tangannya bahkan bergerak naik turun, seolah sedang memastikan apa yang disentuhnya.

“Maira…” tegur Hazel dengan suara berat dan tertahan.

“Hmmm… masih pagi,” jawab Maira malas, sama sekali belum membuka mata.

“Tangan kamu,” ujar Hazel lagi, lebih tegas.

“Kenapa tangan saya?” balas Maira sambil mengerjap pelan.

“Kamu—” suara Hazel meninggi tanpa sengaja.

Maira langsung membuka matanya. “Hah? Pak Hazel?” Wajahnya tampak bingung, seperti baru sadar di mana ia berada.

“Ngapain Anda di atas tempat tidur saya?” ucapnya refleks, lalu mendadak terdiam.

Pandangan Maira turun ke tangannya sendiri. Seketika wajahnya memucat. Ia buru-buru menarik tangannya keluar dan langsung duduk tegak.

“Tangan?” gumamnya pelan.

“Astaga… saya nggak sengaja!”

Maira menatap tangannya sendiri dengan ekspresi frustrasi, lalu mendadak tertawa kecil.

“Hahaha… ya ampun, bisa-bisanya.”

Sementara itu, wajah Hazel sudah merah padam. Napasnya terdengar berat dan tersengal.

“Anda kenapa? Lagi naik, ya?” goda Maira spontan.

Hazel mendengus kesal dan langsung bangkit menuju kamar mandi tanpa menoleh.

“Diam kamu!”

Maira justru tertawa makin lepas.

“Tapi tadi udah tegang, kok! Kalau Anda susah, biar saya bantu!Saya sangat handal loh!”

“Kamu diam gak!” suara Hazel terdengar dari balik pintu kamar mandi.

Tak lama kemudian, Hazel keluar setelah mandi. Rambutnya masih setengah kering, tetesan air masih membasahi pelipisnya. Maira yang sejak tadi memperhatikan, mendekat dengan senyum jahil.

“Pasti lega, ya?” godanya lagi.

"Sia-sia dong kecebongnya dibuang. Padahal itu pasti bibit unggul!"

“Maira...,” kata Hazel tegas tak ingin bercanda.

Maira tertawa terbahak.

“Sekarang saya sudah percaya, ternyata itu barang nggak layu dan hidup.”

Hazel hanya menghela napas panjang, memilih mengabaikannya, sementara Maira masih terkekeh puas dengan godaannya sendiri.

***

“Saya ada pekerjaan bertemu klien lagi. Kamu mau ikut?” tanya Hazel sambil menyeruput kopi di hadapannya. Pagi ini mereka sarapan berhadapan, suasana hotel terasa tenang.

“Hmmm, nggak deh. Saya mau jalan-jalan saja di dekat pantai,” tolak Maira santai. Dari raut wajahnya, Hazel bisa menebak wanita itu sudah punya rencana sendiri.

“Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati. Ada apa-apa langsung hubungi saya,” ucap Hazel sambil berdiri, merapikan jam tangannya.

“Oh iya,” Hazel berhenti sejenak lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.

“Pakai ini kalau kamu butuh.”

“PIN-nya?” tanya Maira tanpa sungkan, langsung mengambil kartu itu.

“271139.”

“Thanks,” ucap Maira senang. Hazel hanya mengangguk singkat sebelum akhirnya melangkah pergi.

Setelah Hazel meninggalkan kamar, Maira segera membuka koper dan mulai memilih baju. Ia mengeluarkan beberapa potong pakaian, menimbang-nimbang sambil berkaca.

“Ini dress kayaknya cocok, deh. Biar kayak bule-bule,” gumamnya sambil tersenyum puas.

Ia memilih dress selutut dengan satu tali di pundak. Tak lupa topi pantai berwarna krem ia kenakan agar tampilannya terlihat lebih estetik.

Dari hotel, Maira berjalan menyusuri pantai seorang diri. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya, suara ombak berkejaran dengan langkah kakinya di atas pasir.

Sesekali ia berhenti, menatap laut lepas dengan perasaan ringan. Maira lalu duduk di tepi pantai, menikmati segelas kelapa muda yang segar. Matanya terpejam sejenak, membiarkan pikirannya kosong.

“Kalau kayak gini mah, aku betah,” ucapnya pada diri sendiri sambil tersenyum.

“Tentu kamu akan betah, sayang. Apalagi bersama aku.”

Suara seorang pria terdengar tepat di belakangnya.

Maira refleks berbalik. Jantungnya berdegup kencang. Kelapa muda di tangannya terlepas dan jatuh ke pasir.

Di hadapannya, Pak Vincent berdiri dengan senyum menyeringai, menatapnya tanpa berkedip.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!