Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pemangsa di Balik Bayangan
Malam itu, hutan di perbatasan kediaman Murid Dalam diselimuti kabut yang lebih pekat dari biasanya. Boqin Tianzun sengaja berjalan keluar dari paviliunnya dengan langkah yang tampak lemah dan ceroboh, memancing siapa pun yang sedang mengintai di balik rimbunnya bambu hitam.
Benar saja, tiga bayangan melesat mengikuti dari belakang. Salah satunya adalah orang suruhan Song Yi, seorang murid bernama Guan Feng yang berada di peringkat 120. Guan Feng dikenal karena kekejamannya dan kemampuannya menggunakan belati beracun.
"Bodoh sekali. Dia benar-benar berjalan ke arah hutan sendirian di tengah malam." bisik Guan Feng dengan seringai haus darah.
Boqin Tianzun berhenti di sebuah kliring kecil yang dikelilingi pohon-pohon tua yang mati. Ia berbalik perlahan, menatap tiga sosok yang muncul dari kegelapan.
"Song Yi benar-benar tidak sabar," ucap Boqin datar. "Dan dia mengirim seorang pemalas peringkat 120 untuk melakukan tugas kotornya?"
Guan Feng tertawa sinis, menghunuskan belati hijaunya yang berkilau karena racun. "Mulutmu lebih tajam dari pedangmu, Nak. Tapi di sini, tidak akan ada yang mendengar jeritanmu. Setelah aku memotong urat nadimu, aku akan membawa kepalamu pada Song Yi."
"Begitu ya," Boqin menyentuh gagang Pedang Pemecah Fajar. "Kalau begitu, mari kita mulai."
Guan Feng melesat dengan kecepatan tinggi, bayangannya tampak berlipat ganda karena teknik gerak tipunya. Namun, di mata Boqin, gerakan itu hanyalah sirkus amatir.
Boqin melepaskan tekanan Qi-nya secara mendadak. Udara di kliring itu seolah membeku. Sebelum Guan Feng sempat mendaratkan serangan, Boqin sudah berada di belakangnya.
Slash!
Bukan pedang yang ia gunakan, melainkan dua jari yang dialiri Qi tajam. Jari itu memotong tendon di kedua kaki Guan Feng dalam satu sapuan.
"AAAGH!" Guan Feng tersungkur, darah menyembur membasahi tanah. Dua rekannya yang lain mencoba menyerang, namun Boqin bergerak seperti malaikat maut.
Tanpa belas kasihan, Boqin menghujamkan pedangnya ke dada salah satu murid, lalu memutar bilahnya hingga jantung orang itu hancur. Murid ketiga mencoba lari, namun Boqin melemparkan belati milik Guan Feng yang jatuh, menembus tengkuk murid itu hingga ia terpaku ke pohon.
Kini tersisa Guan Feng yang mengerang kesakitan, menatap Boqin dengan mata yang penuh teror. "K-kau... kau bukan manusia! Kau menyembunyikan kekuatanmu!"
Boqin mendekat, menginjak luka di kaki Guan Feng. "Aku butuh kau melakukan satu hal sebelum kau mati. Tuliskan surat pengakuan bahwa Song Yi yang menyuruhmu mencuri sumber daya penting dari gudang sekte dan membunuhku untuk menutupi jejaknya."
"T-tidak akan! Aku..."
Boqin mematahkan satu jari Guan Feng dengan tenang. "Aku punya sepanjang malam. Kau ingin mati dengan cepat, atau ingin aku menguliti wajahmu perlahan?"
Dengan gemetar dan penuh keputusasaan, Guan Feng menuliskan surat itu dengan darahnya sendiri di atas sobekan jubahnya. Setelah selesai, Boqin menatap surat itu dengan puas, lalu tanpa ragu, ia memenggal kepala Guan Feng.
Pagi harinya, sekte digemparkan oleh penemuan mayat Guan Feng dan dua murid lainnya di pinggiran hutan. Boqin Tianzun muncul di Aula Penegak Hukum dengan tubuh yang "berdarah-darah" (darah milik para penyerangnya) dan wajah yang tampak sangat trauma.
Ia menyerahkan surat pengakuan Guan Feng kepada Tetua Penegak Hukum.
"Mereka mencoba merampok jatah sumber daya bulanan yang baru saja diberikan Ayah kepadaku, Tetua," ucap Boqin dengan suara yang bergetar dibuat-buat. "Mereka bilang Song Yi yang memerintahkannya karena dia iri dengan kenaikan statusku."
Sekte Giok sangat ketat soal pencurian sumber daya antar murid, terutama jika itu melibatkan anak dari Pemimpin Sekte. Boqin Ming, yang mendengar laporan ini, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Song Yi—pion yang ia anggap tidak berguna.
Hasilnya pun mutlak. Song Yi tidak hanya dihukum cambuk seratus kali dan dibuang ke penjara bawah tanah, tetapi seluruh aset dan sumber daya kultivasi milik Song Yi dan Guan Feng—termasuk ribuan Batu Qi dan tanaman obat langka—disita dan diberikan kepada Boqin Tianzun sebagai kompensasi atas penderitaannya.
Di dalam kediamannya yang sunyi, Boqin Tianzun duduk di depan tumpukan kotak sumber daya yang melimpah. Tidak ada lagi raut trauma di wajahnya. Hanya ada senyum dingin yang licik.
"Terima kasih atas sumbangannya, Song Yi," bisik Boqin sambil membuka botol berisi pil penguat meridian. "Dengan semua ini, satu bulan untuk mencapai seratus besar adalah hal yang terlalu mudah. Aku akan menyembuhkanmu secepat mungkin, Sua Mei."
Boqin mulai menelan pil-pil itu, membiarkan energi panas membakar tubuhnya. Ia telah berhasil mengubah serangan musuh menjadi bahan bakar untuk kenaikan kekuatannya. Di papan catur ini, setiap lawan yang datang hanyalah kepingan yang ia makan satu per satu.