Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Heyra
Alex mengendarai motornya di sepanjang jalanan menuju apartemennya. Roda duanya membelah jalanan lenglang menuju jalanan alternatif yang sering dilewatinya. Sedetik laju motornya ia pelankan, samar-samar netranya melihat sebuah mobil di pinggiran pembatas jalan yang terletak tidak jauh darinya. Alex, membuka sedikit kaca helmnya matanya terbelalak menyadari jika mobil itu milik Heyra.
"Heyra!"
Secepat kilat motor itu melesat ke arah mobil Mercedes-Benz merah yang terletak di tepi pembatas jalan. Alex, segera menepikan motornya ia turun dari motor itu dan berlari ke arah mobil.
"Heyra!"
"Heyra!"
"Heyra, kau baik-baik saja?"
"Heyra, buka pintunya Heyra!"
Alex, masih bisa melihat Heyra di dalam sana. Akan tetapi Heyra tidak dalam keadaan sadar. Alex, merogoh ponselnya yang langsung menghubungi ambulance. Karena yang harus dilakukannya adalah membawa Heyra ke rumah sakit. Alex, pun tidak lupa mengabari Karla, tentang keadaan Heyra sekarang.
"Alex, apa kau sudah menemukannya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?"
"Aku sudah menemukannya, sepertinya Heyra mengalami kecelakaan. Ambulance akan segera datang, kamu tunggu saja di rumah sakit X."
"Ok, baiklah."
Karla menutup sambungan teleponnya. Alex, masih diam di depan mobil Heyra, tatapannya terlihat sendu dan mengandung arti lain. Entah, penyesalan atau takut kehilangan. Alex, berpikir jika Heyra berakhir seperti ini karena mengetahui pernikahannya.
Alex, akan merasa bersalah jika karena itu.
"Heyra, Heyra, kamu harus kuat ... harus." Tanpa sadar setitik butiran bening menetes disudut matanya. Alex segera berlari menghampiri mobil ambulance yang baru saja tiba.
Kecemasannya begitu jelas, ia terus mengikuti Heyra, yang baru saja dinaikan ke atas brankar. Netranya tidak berhenti yang terus menatap wajah pucat mantan tunangannya itu. Tangannya terus menggenggam tidak melepaskan.
"Heyra, bangun Heyra!"
Brankar yang membawa tubuh Heyra sudah masuk ke dalam ambulance. Alex, hanya diam mematung ketika mobil itu pergi bersama dengan suara sirine yang semakin sayup terdengar. Tidak berselang lama kesadarannya pulih, Alex langsung kembali menuju motornya, menaikinya, dan melaju mengikuti mobil ambulance.
Sementara di sisi lain, Essa menunggu dengan cemas kepulangan Alex. Gadis itu. Terus saja duduk menunggu di ruang tamu, sambil menggenggam ponselnya yang berharap akan ada panggilan masuk dari Alex.
Pukul 02.00 Alex, masih belum juga menghubunginya. Essa, duduk dengan cemas yang terus menatap pintu. Bahkan gadis itu sudah tidak peduli lagi dengan ujiannya, fokusnya saat ini teralihkan kepada Alex.
"Hanya karena wanita itu dia tidak mengabariku sama sekali. Menyebalkan," umpatnya menghempaskan ponsel ke arah sofa.
Essa, terus mondar-mandir tak jelas, bahkan gadis itu tidak tertidur lagi sampai pagi. Jam menunjukkan pukul 05.00 matanya sudah menghitam seperti panda, wajah pucat yang begitu lemas.
Essa, melihat kembali layar ponselnya berharap Alex menghubunginya tapi tidak. Pria itu sama sekali tidak menghubunginya, dan tidak pulang.
Essa merasa kecewa, sangat kecewa. Tapi apa yang harus dia lakukan? Tidak ada.
"Bahkan sampai pagi ini dia belum juga menghubungiku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Heyra?"
"Pokoknya aku harus mengirim chat untuknya."
Sebelum membersihkan tubuh, Essa menulis pesan singkat untuk Alex. Walau singkat tapi terdengar menumpahkan rasa kecewanya.
[ Sepenting itukah Heyra, untukmu. Sampai kamu tidak mengabariku, dan meninggalkanku sendiri]
[Aku kesal, aku marah dan muak dengan semua ini. Cepat kembali, jika kau benar-benar menganggap ku ini istrimu]
Essa mengembuskan nafas berat, tubuhnya dilempar ke atas ranjang. Essa kembali tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar.
Ting
Satu notifikasi pesan. Essa, segera bangkit dari ranjang yang tidak sabar melihat si pengirim pesan. Wajahnya kembali muram dengan bibir yang mencebik. Essa pikir Alex, membalas pesannya tapi nyatanya itu obrolan dari grup sekolahnya.
[Pagi beb] ~ Micha
[Morning All] ~Eva
[ Semangat 💪 hari ini ujian terakhir. ]
[ Essa, apa kau sudah bangun? Kenapa tidak menyahut kita] .
[ Dia pasti masih tidur, yang berada dipelukan suaminya, haha ...] ~ Micha
^^^[Ck, kalian semua berisik] ~ Essa^^^
Essa, melemparkan ponselnya ke atas kasur. Lalu ia beranjak untuk membersihkan diri. Dia tidak harus terlena dengan semua ini, Essa harus fokus pada ujiannya yang sudah pasti menentukan masa depannya.
Essa, meraih handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk dari Alex.
Lima menit sudah berlalu Essa, keluar dalam keadaan rambut dan tubuh yang basah. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Essa berjalan menuju lemari untuk mengambil seragamnya. Hanya hitungan menit pakaian itu sudah melekat di tubuhnya.
Essa, berjalan ke arah meja rias. Walau hatinya sedang gundah gelisah seorang pelajar tidak boleh melupakan satu hal penting yaitu penampilannya. Essa, sedikit memberi polesan untuk pipinya yang imut, juga memberi sedikit aksesoris di kepalanya.
"Sudah selesai," ucapnya yang terus menatap diri dalam cermin. "Aku harus lebih cantik dari Heyra. Wanita itu ... harus segera, hus ... hus ... dari kehidupanku." Essa menggerakkan tangan seolah sedang mengusir seseorang.
Ia beranjak dari meja riasnya, berniat untuk mengambil tas tapi ia malah terhenyak. Seketika matanya membola menatap arah jarum jam dinding di depannya.
"Oh, tidak. Aku terlambat."
Essa, segera mengambil tas ranselnya, lalu berlari meninggalkan kamar. Tetapi dia melupakan ponselnya ia harus kembali untuk mengambilnya. Ya, hanya mengambilnya tanpa melihat riwayat panggilan telepon.
***
Rumah Sakit
Semua orang kumpul di sana. Kecelakaan yang Heyra alami tidak lama langsung diketahui banyak media. Tentu saja, karena posisi Heyra sebagai public figure semua orang pasti mencari tahu kehidupannya.
Namun, belum ada kepastian yang menyebabkan kecelakaan tunggal itu. Dan keadaan Heyra saat ini masih belum sadarkan diri.
Alex masih setia berada di disisinya, dan entah sejak kapan ia tertidur di samping Heyra.
Perlahan Alex mengerjap—membuka matanya pelan. Sedetik matanya kembali terpejam sesaat merasa kekakuan pada punggung lehernya. Satu tangannya bergerak untuk menyentuh punggung lehernya, tertidur di atas kursi semalaman sungguh membuat tubuhnya remuk.
Alex, membenarkan posisi duduknya lantas meregangkan otot-otot tangannya. Ia membuka kaca mata yang dipakainya hanya untuk membersihkan sisa-sisa kotoran di sela-sela kelopak matanya, setelahnya Alex kembali memakai kaca matanya.
Hal pertama ia cari bukanlah Heyra, atau ingin tahu keadaan Heyra. Tapi yang ingin dia cari adalah ponselnya, di mana ponselnya. Alex, tidak begitu mengingat di mana ia meletakkan benda itu saat terakhir kali.
"Pak Alex," panggil Karla tiba-tiba.
Alex, segera menoleh. "Bu Karla. Apa aku ketiduran semalaman di sini?"
"Ya, kamu tertidur dan kamu selalu berada di sisi Heyra."
Alex, menoleh pada Heyra yang masih berbaring.
"Terima kasih Alex, karena kamu peduli padanya. Kau sudah menjaganya. Karena aku tidak bisa melakukan itu karena harus meladeni semua pertanyaan dari awak media. Kecelakaannya sudah diketahui semua orang. Dan kini di bawah mereka semua menunggu update terbaru dari Heyra."
Alex hanya menanggapi pernyataan itu dengan wajah datarnya. Ia memang mencemaskan Heyra, tapi bukan berarti Alex tidak mengingat Essa. Dia baru ingat jika belum mengabari istrinya.
"Ini jam berapa, ya," ucapnya celingukan mencari benda bulat yang dipenuhi angka yang selalu terpajang di dinding. "Ponselku di mana ponselku."
"Kau mencari ini?" tanya Karla menjungjung ponsel milik Alex. "Maaf aku tidak bermaksud mengambilnya, aku tidak tahu ini punyamu aku hanya menemukannya di bawah," terang Karla, tapi Alex sepertinya tidak peduli.
"Terima kasih Bu Karla, maaf aku harus pulang. Jika ada perkembangan dari Heyra tolong beritahu."
"Ya, tentu. Karena Heyra membutuhkanmu," ucap Karla dengan senyum penuh arti.
"Baiklah aku pergi."
Alex, berjalan meninggalkan ruangan VIP, berjalan keluar dari kamar itu sambil membuka layar ponselnya.
"Huh."
Alex mengembuskan nafasnya berat, ia merasa kecewa karena tidak ada satu pesan pun dari Essa. Dengan sedih ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu pergi jauh dari ruangan itu, berjalan keluar dari rumah sakit.
lanjut thor smgt 💪😍
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.