Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
Bab 27
"Tante nggak pa-pa..?" tanya Silvia cemas.
"Tiba-tiba kepala tante sakit, kenapa ya.. " jawab Bu Irma sambil memegangi kepalanya.
Bu Irma merasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya, entah mengapa seketika ia merasakan sakit di bagian kepalanya.
Silvia yang melihat hal itu. Langsung mengangkat sebelah bibirnya sesaat. Lalu kembali terlihat panik dan cemas.
"Mungkin tante terlalu kecape'an. Ayo! Silvia bantu duduk di sofa." Silvia pun membantu Bu Irma berdiri dan mendudukannya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Ia mengangkat kaki Bu Irma dan menyangga kepalanya dengan bantal sofa, agar rasa sakitnya bisa berkurang.
"Bagaimana Tan, Apa sudah lebih baik?" tanyanya setelah ia membantu Bu Irma lalu duduk di sampingnya.
Bu Irma terdiam sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan sambil sesekali tangannya memijat pelan pangkal hidungnya.
"Iya. Terimakasih Vi."
Bu Irma akhir-akhir ini selalu merasa kalau kepalanya terasa sakit dan berat. Setelah itu ia akan tertidur dalam waktu yang lumayan lama. Apakah karena ia terlalu kelelahan, pikirnya.
Di tengah kondisi Bu Irma yang sedang kesakitan. Ia tidak sadar apa-apa kecuali merasakan kepalanya yang terasa di tusuk tusuk, setelah itu. Tergantikan dengan rasa melayang seperti sangat tenang sekali.
"Oh iya, Tan. Silvia sudah tidak punya uang untuk bulan ini. Mana gajiannya masih lama lagi, bagaimana kalau Tante transfer saja uang untuk Via?"
Silvia terdiam sejenak untuk menunggu respon Bu Irma, perlahan senyuman kecil muncul di kedua sisi bibirnya.
"Lewat M-banking saja. Nanti Via ambilkan ponsel tante ya" Silvia tak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia lalu bergegas mengambil ponsel milik Bu Irma yang tergeletak di atas meja.
Dengan menggunakan sidik jari Bu Irma yang tengah merasakan sakit. Silvia dengan liciknya berhasil membuka kunci ponsel tersebut. Dengan cepat Silvia mencari aplikasi Mobile banking, lalu ia pun segera mengetikkan jumlah transferan ke nomer rekeningnya.
"Ini Tan. Coba ketik sandinya dan langsung kirim cepat ya" Silvia menuntun tangan Bu Irma supaya cepat mengetikkan isi ponselnya sesuai keinginan Silvia. Tidak tanggung-tanggung, Silvia mengetik nominal yang tinggi. Sekitar 100 juta rupiah yang langsung terkirim ke nomor rekeningnya.
//Ting.
Bunyi notifikasi di ponsel Silvia.
Uang senilai 100 juta rupiah sudah masuk ke saldo banknya.
"Makasih ya Tante. Kalau begitu, aku pulang dulu ya, sampai bertemu besok." Silvia pun kembali menaruh ponsel Bu Irma, tak lupa ia menghapus semua riwayat yang ada di ponsel Bu Irma.
Setelah itu, ia melenggang pergi keluar dari ruangan. Cepat-cepat ia membereskan barang-barangnya lalu bersiap untuk pulang. Rasanya ia sangat tidak sabar untuk segera berbelanja di Mall, sudah beberapa bulan ia tidak bersenang-senang. Ia ingin membeli semua barang mahal yang sangat ia inginkan.
Silvia langsung saja meninggalkan Bu Irma yang terbaring tak berdaya di atas sofa. Ia juga tidak perduli dengan keadaannya, yang Silvia pikirkan hanya, tentang kesenangannya saja.
.
.
Tak terasa. Waktu telah menunjukan pukul 10 malam, Rio yang tengah tertidur di apartemen nya di kejutkan dengan suara dering di ponselnya.
Dengan mata masih mengantuk, ia mengambil ponsel yang berada di samping ranjangnya.
"Halo" sapa Rio setengah mengantuk.
"Halo Pak. Saya Suprie sopirnya nyonya," jawab seseorang di sebrang sana.
"Oh. Ada apa Pak Suprie malam-malam telepon saya?" tanya Rio, yang masih rebahan di kasur empuknya.
"Nyonya. Pak! Nyonya belum turun kantor, sejak tadi sore. Sekarang saya dan Security sudah berada di depan ruangan nyonya. Tapi tidak berani masuk. Setelah kami ketuk pun, tidak ada jawaban dari dalam." serunya. Dengan nada panik
"Oh, yah. Saya kira sudah pulang. Tunggu saya ya Pak, saya segera kesana" Rio yang tadinya mengantuk pun, langsung segar karena merasa cemas akan atasannya itu. Ia bergegas memakai jaket lalu menyambar kunci mobilnya. Rio langsung saja menaiki kendaraannya dan melaju cepat menuju kantor.
Di tengah perjalanan, Rio tak henti-hentinya menghubungi nomor atasannya itu. Tapi ponselnya selalu saja memanggil.
15 menit kemudian, Rio akhirnya sampai di parkiran kantor. Ia memarkirkan mobilnya dengan asal, lalu bergegas keluar mobil. Rio berlari menuju lift, dan menekan angka paling atas menuju ruangan CEO berada.
Terlihat dari jauh Pak Suprie dan Security sedang menunggunya di depan pintu ruangan, Rio pun berlari menghampiri mereka yang sedang melihat ke arahnya.
"Bagaimana Pak, apakah Ibu sudah bisa di hubungi?" Cecar Rio tergesa sambil mengatur nafasnya karena habis berlari.
Pak Suprie menggelengkan kepalanya, ia sesekali melirik pintu masuk kantor dengan tatapan ragu-ragu.
"Belum mas Rio, kami belum berani masuk." Ungkap Pak Suprie dan Security pun turut mengangguk sambil melihat ke arah Rio.
"Baiklah. Ayo kita coba masuk.." Rio mulai membuka pintu ruangan Bu Irma, beruntungnya pintu itu tidak terkunci, jadi mereka bisa masuk dengan mudah.
Rio melangkah masuk di ikuti oleh dua orang lainnya di belakangnya, ia melangkah perlahan sambil memperhatikan suasana di dalam ruangan. Disana tampak gelap. Seperti tidak ada aktifitas apapun meja kerja pun terlihat kosong. Tetapi saat di dekati lagi, terlihat Bu Irma tengah terbaring di atas sofa. Buru-buru Rio dan yang lain, menghampirinya.
"Bu.. Bangun. Kenapa Ibu tertidur di kantor?" ucap Rio sambil menyentuh tangan Bu Irma pelan.
Kedua kelopak mata dari wanita tersebut perlahan terbuka, Ibu Irma yang baru tersadar itu mencoba mendudukkan dirinya.
Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum perlahan sorot matanya melihat banyak orang yang sedang mengerumuninya.
"Kenapa saya berada disini?.. kenapa kalian ada di ruangan saya?" tanya Bu Irma sambil mengusap keningnya yang masih terasa pusing.
"Ibu belum keluar kantor sejak tadi sore, sekarang sudah jam sepuluh malam... kami sangat khawatir jika Ibu kenapa-kenapa" ujar Pak Suprie.
"Saya tidak mengingatnya... setahu saya, tadi sore saya sempat berbincang dengan Silvia, tetapi setelah itu saya merasakan sakit di bagian kepala dan entah mengapa saya bisa tertidur disini..." ungkap Bu Irma.
"Tapi Ibu tidak apa-apa? Apa perlu saya antar ke dokter?" Tanya Rio kepada Bu Irma.
Ibu Irma terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis sambil menggeleng kecil.
"Sepertinya tidak usah... Saya tidak apa-apa, antarkan saja saya pulang"
Rio mengangguk, ia selalu paham betul dengan apapun yang selalu Ibu Irma butuhkan. Dan Rio mengerti jika saat ini Bu Irma hanya perlu Beristirahat.
"Baik bu."
Rio pun membantu Bu Irma keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobil, dilanjutkan juga dengan membawa tas Bu Irma dan ponselnya yang hampir tertinggal di atas meja Bu Irma.
Sesudah memastikan Bu Irma Masuk ke dalam mobil, Rio akhirnya ikut masuk dan duduk di kursi pemudi.
Rio memasukkan kunci ke dalam ignition, memutarnya, dan mesin mobil langsung hidup.
Dengan suara lembut pada pedal gas, mobil mulai bergerak maju, meninggalkan gedung kantor tersebut.
*Bersambung...*