Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana awal Arjuna!
Pagi di kota terasa terlalu cepat bagi Arjuna. Alarm berbunyi, matahari masih belum naik, tapi kepalanya sudah penuh rencana. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai, masih teringat suara Jingga semalam terdengar lirih, capek, dan penuh tanya.
“Kenapa selalu aku yang disembunyikan?”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Arjuna berdiri, berjalan ke jendela kamarnya, lalu menarik tirai. Kota sudah ramai. Orang-orang berangkat kerja, hidup seperti biasa. Seolah tidak ada seorang gadis di desa yang sedang mencoba memahami kenapa ayahnya menghapus keberadaannya dari dunia.
Dan di situlah Arjuna mengambil keputusan.
Bukan keputusan impulsif. Bukan juga karena emosi semata. Tapi karena ia sadar, kalau ingin melindungi Jingga, ia harus berdiri di tempat yang tepat.
Ia harus punya kekuasaan.
Pukul tujuh pagi, Arjuna sudah duduk rapi di ruang makan. Ibu Nadira menyajikan sarapan sederhana roti panggang dan teh hangat. Nayya duduk di seberang, sibuk menggambar sesuatu di buku sketsanya.
Ibu melirik Arjuna yang terlihat lebih serius dari biasanya. “Kamu kelihatan nggak tidur nyenyak.”
Arjuna tersenyum kecil. “Iya, Bu. Banyak yang aku pikirin.”
Nayya menoleh cepat. “Pasti tentang Ka Jingga?”
Arjuna terbatuk. “Nayya…”
“Kenapa? Aku kan udah tau,” jawab Nayya santai. “Lagipula,Abang nggak pernah mikir sekeras ini buat hal lain.”
Ibu Nadira menaruh cangkirnya pelan. “Ada apa, Juna?”
Arjuna menarik napas panjang. “Bu… tawaran Ibu soal perusahaan… aku mau nerima.”
Ruangan langsung hening.
Nayya berhenti menggambar. Ibu Nadira menatap Arjuna tanpa berkedip.
“Kamu yakin?” tanya Ibu, suaranya tetap lembut tapi jelas.
“Iya,” jawab Arjuna mantap. “Aku yakin.”
Nayya langsung berdiri. “Serius?! Jadi Abang bakal jadi CEO?!” teriaknya.
“Pelan-pelan, Nay,” kata Ibu sambil tersenyum tipis, lalu kembali menatap Arjuna. “Ibu senang kamu mau mempertimbangkannya. Tapi Ibu perlu tahu… alasan kamu.”
Arjuna tidak langsung menjawab. Ia memutar cangkir tehnya pelan, lalu berkata, “Aku mau tahu kebenaran, Bu.”
Ibu Nadira mengernyit. “Kebenaran tentang apa?”
“Tentang keluarga Pak Rian Mahardika.”
Nama itu membuat alis Ibu Nadira sedikit terangkat.
“Dan tentang anak perempuannya,” lanjut Arjuna.
Nayya langsung menutup mulut. “Oh.”
Ibu Nadira terdiam beberapa detik sebelum berkata pelan, “Jadi…apa yang sudah kamu tahu.”
“Sebagian,” jawab Arjuna. “Dan aku nggak bisa pura-pura nggak tahu, Bu.”
Ia menatap ibunya lurus-lurus. “Jingga… anak itu disembunyikan. Dihapus dari cerita keluarga. Aku nggak terima.”
"Jingga.." Ucap Ibu Nadira terkejut.
"Ternyata Jingga anak kandung Pak.Mahardika."
Ibu Nadira menghela napas panjang. “Dunia bisnis memang sering kejam, Juna. Banyak orang menyembunyikan hal-hal yang dianggap merugikan citra.”
“Jingga bukan aib,” kata Arjuna cepat. “Dia manusia. Anak kandung.”
Nayya mengangguk setuju. “Iya. Kalau punya kaka perempuan sebaik Ka Jingga, aku malah bangga.”
Ibu Nadira tersenyum kecil pada Nayya, lalu kembali menatap Arjuna. “Kamu mau masuk ke perusahaan untuk Jingga?”
“Iya,” jawab Arjuna tanpa ragu. “Aku mau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Aku mau tahu kenapa Jingga diperlakukan seperti itu. Dan kalau bisa…”
Ia menelan ludah.
“Aku mau balikin hak Jingga.”
Ruangan kembali sunyi.
Ibu Nadira berdiri, berjalan ke arah jendela. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Kamu tahu risikonya, kan?”
“Aku tahu,” jawab Arjuna. “Aku bakal masuk ke lingkungan yang penuh kepentingan. Orang-orang yang mungkin nggak suka aku mengusik masa lalu.”
“Dan kamu tetap mau?”
“Iya.”
Ibu Nadira menoleh. Tatapannya penuh kebanggaan.
“Kamu benar-benar mirip ayahmu,” ucapnya pelan. “Bukan karena jabatan. Tapi karena hatinya.”
Dua hari kemudian, Arjuna resmi masuk ke kantor pusat perusahaan milik Ibu Nadira. Gedung tinggi dengan kaca berkilau itu kini menjadi medan barunya. Bukan lagi ruang kelas, bukan lagi desa yang tenang tapi dunia penuh angka, data, dan politik diam-diam.
Ia mulai dari hal kecil.Mempelajari struktur perusahaan.Mengenal para manajer lama.Mengamati siapa saja yang sering berhubungan dengan perusahaan Rian Mahardika
Dan dari situ, ia mulai melihat pola.
Nama Mahardika muncul berkali-kali. Kerja sama lama. Proyek bersama. Investasi silang.
“Pantesan,” gumam Arjuna di ruang kerjanya.
Siangnya, Arjuna memanggil salah satu staf senior bagian arsip.
“Bu Rina,” kata Arjuna santai, “saya mau minta data kerja sama lama kita dengan Mahardika Group.”
Bu Rina tampak ragu. “Untuk keperluan apa, Pak?”
“Evaluasi,” jawab Arjuna ringan. “Saya mau tahu sejarahnya.”
Bu Rina mengangguk. “Baik, Pak.”
Beberapa jam kemudian, berkas-berkas itu ada di meja Arjuna.
Dan di sanalah ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Ada beberapa dokumen lama yang menyebutkan “tunjangan keluarga” tapi hanya tercatat satu anak.
Davin.
Tidak ada nama Jingga.
Tidak ada anak perempuan.
Seolah ia tidak pernah ada.
“Keji,” gumam Arjuna pelan.
Malamnya, Arjuna menelepon Jingga.Pada sambungan pertama telpon langsung terangkat.
“Jingga,” katanya lembut.
“Kak?” suara Jingga terdengar cerah,tapi Arjuna bisa menangkap lelah yang disembunyikan.
"Belum tidur?" Tanya Arjuna
"Aku belum ngantuk.Kaka sendiri kenapa belum tidur? Kaka pasti cape kan seharian kerja."
"Cape aku hilang dengar suara kamu."
Tanpa Arjuna tau,di ujung telpon sana gadis cantik yang sedang bersandar pada headboard sedang tersipu malu.
"Kaka.."Lirih Jingga membuat Arjuna terkekeh.
"Sayang..." panggil Arjuna lembut.
"Iya ka."
Terdengar helaan nafas Arjuna di balik telponnya.
“Aku mau cerita. Tapi kamu harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan takut duluan.”
Jingga tertawa kecil. “Aku udah sering takut. Tapi… aku dengerin.”
Arjuna tersenyum. “Aku nerima tawaran Ibu buat masuk perusahaan.”
Jingga terdiam. “Kenapa?”
“Karena aku mau tahu semuanya,” jawab Arjuna. “Tentang kamu. Tentang ayah kamu. Tentang kenapa kamu dihapus.”
Hening beberapa detik.
“Kak…” suara Jingga melembut. “Aku nggak mau Kakak capek gara-gara aku.”
“Aku nggak capek,” jawab Arjuna tegas tapi hangat. “Aku yang memilih.”
Jingga menarik napas. “Kalau Kakak masuk ke dunia mereka… apa Kakak akan berubah?”
Arjuna tersenyum. “Kalau aku berubah,kamu yang boleh marahin aku.”
Jingga tertawa kecil. “Janji?”
“Janji sayang.” Ucap Arjuna mantap.
"Sayang.." Panggil Arjuna kembali.
"Iya Ka."
"Bertahanlah.Tidak akan lama lagi.!" Ucap Arjuna membuat Jingga bergeming.
°°°
Hari-hari berikutnya, Arjuna semakin dalam masuk ke dunia itu. Ia mulai menghadiri rapat-rapat penting. Mulai mengenal orang-orang yang dulu sering duduk satu meja dengan Rian Mahardika.
Dan dari percakapan santai, dari candaan ringan, perlahan fakta-fakta kecil muncul.
“Anak perempuan itu… dulu sebenarnya pintar,” kata seseorang , tidak sadar Arjuna sedang mendengar.
“Sayang ibunya meninggal.”
“Ayahnya nikah lagi, terus ya… dibuang secara halus.”
Arjuna mencatat semuanya. Tidak di kertas tapi di otaknya.
Ia tahu, Jingga tidak hanya disembunyikan.
Ia disingkirkan dengan sengaja.
Sementara itu, di desa, Jingga duduk di teras rumah Kake Arga, memandangi langit sore. Ia memegang kamera kecil pemberian Arjuna, memotret cahaya yang jatuh di dedaunan.
Kake Arga menatapnya dari kursi goyang. “Kamu kelihatan sering melamun.”
Jingga tersenyum tipis. “Iya, Kek.”
“Kamu mikirin Arjuna?”
Jingga tersipu. “Iya… sama hidup aku juga.”
Kake Arga mengangguk pelan. “Hidup memang kadang suka muter jauh sebelum akhirnya balik ke tempat yang seharusnya.”
Jingga menatap Kake Arga. “Kake…kalau suatu hari aku harus ke kota… Kake marah nggak?”
Kake Arga tersenyum hangat. “Kalau itu untuk kebenaran dan masa depan kamu, Kake justru bangga.”
Jingga menatap Kake Arga dalam,matanya berkaca-kaca.Hatinya berkecambuk antara iya atau tidak.
°°°°
Di kota, Arjuna berdiri di depan kaca ruang kerjanya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri bukan lagi hanya dosen, tapi seseorang yang sedang bersiap masuk ke pertarungan yang tidak adil.
“Jingga,” gumamnya. “Aku nggak janji ini bakal mudah.”
Ia mengepalkan tangan.
“Tapi aku janji… aku bakal berdiri di depan kamu. Bukan di belakang.”
Dan di saat itu, Arjuna tahu ini bukan lagi soal cinta saja.
Ini soal keadilan.
Soal seorang gadis yang berhak diakui.
Soal mengembalikan posisi yang sejak awal memang milik Jingga.
"Aku janji sayang,seberat apapun jalannya.Aku akan kembalikan posisimu"
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga